Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Kenapa begitu sulit


__ADS_3

Diyan, Keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan wajah segar, Dia baru selesai membersihkan, Dirinya. Dengan memakai setelan piyama tidur celana panjang, Berwarna Dongker. Diyan, Sedikit terkejut melihat, Istrinya terduduk diam, Di pinggir ranjang sambil menatapnya. Bahkan, Obat dalam botol kecil yang, diberikannya tadi, Masih berada di tangan, Dina.


" Ada apa, Dina? " Tanya Diyan cemas dan Duduk, Di samping, Istrinya.


" Apa Perut, Kamu masih sangat sakit? Atau... Kita, Ke rumah sakit saja? " Kata Diyan, Sambil tangan besarnya, Mengusap lembut perut, Dina. Berharap, Bisa mengurangi rasa sakit, Dina yang sedang kedatangan tamu bulanannya.


Dina, Tidak mengatakan apa pun, Selain menggelengkan kepalanya. Dia, mendorong dirinya memeluk, Suaminya itu. Lidahnya terasa keluh, Bibirnya tertutup rapat, Sehingga Perkataan yang ingin, Di katakannya, tidak mudah keluar dari mulutnya.


" Jadi, Istriku mau apa? Katakanlah? Suamimu ini bakalan turuti kemauan, Kamu " Ujar Diyan, Sambil membalas pelukan dan tetap mengusap perut, Istrinya dengan sayang.


" Mas Diyan " Panggil Dina, Dan tidak melepaskan pelukannya.


" Iya, Dina " Jawab Diyan lembut.


" Aku... Aku, Baru tahu, Bila Mas memata-matai, Aku " Kata Dina.


Diyan, Terkejut mendengar perkataan, Istrinya. Tapi, Ketika, Dirinya ingin mengatakan sesuatu, Urung. Mendengar perkataan, Dina selanjutnya.

__ADS_1


" Tapi, Aku sangat bahagia. Mas Diyan, begitu sangat mencintai, Aku. Maaf... Seharusnya, Aku orang pertama yang menyadari perasaan, Mu, Suamiku " Jelas Dina dan Melepas pelukan kehangatan itu.


Mata ke abu-abuan, Dina berbinar, Menatap dalam mata sehitam langit malam itu, Yang seakan mampu menenggelamkan kesadarannya. Tatapan yang menatapnya dengan cinta yang amat besar. Memuja, Mendambakan, Dan menginginkan, Dirinya setiap saat, Di waktu yang ada. Seperti saat ini, Waktu terasa berhenti, Dina dan Diyan, Seakan saling membaca isi hati, Melalui binar mata sang pujaan hati.


" Aku, Mencintai, Mu, Dina. Sangat... Sangat mencintaimu, Hingga rasanya... Hidupku hampa, Nafas dan Detak jantung, Ku akan berhenti... Jika, Dirimu tidak ada, Di dekat, Ku, Dina " Lirik Diyan, Memecahkan keheningan dalam ruangan kamar, Di kesunyian dan keindahan malam.


Dina, Tidak mampu mengatakan apa pun? Lidahnya terasa keluh dan berat, mengatakan rasa cintanya yang sesungguhnya pada, Diyan. Dina, Hanya bisa mendorong, Dirinya kedalam pelukan, Diyan. Ingin rasanya, Dina menangis, Karena tidak menjawab pernyataan cinta, Pria pemilik hatinya. Tapi, Dina berusaha menahan tangisnya, Dengan memeluk erat tubuh kekar, Suaminya.


" Kenapa begitu sulit... Hanya, untuk mengatakan. Aku, Juga sangat mencintai, Mu, Mas Diyan " lirik Dina dalam hatinya.


Diyan, Tersenyum, Membalas pelukan, Istrinya. Baginya, Tidak masalah, Jika Dina tidak membalas pernyataan cintanya. Selagi, Dina, Wanita tercintanya selalu berada dalam pelukannya, dan Ada di dekatnya. Walau, Diyan sangat ingin mendengar kata cinta dari bibir manis, Dina. Namun, Apa daya? Diyan, Tidak akan memaksa, Karena Cintanya begitu besar hanya untuk, Dina.


Dina, Menghela nafas berat, Ada rasa sesak yang menghinggapi dadanya. Merasa marah pada, Dirinya, Karena tidak bisa mengatakan rasa cintanya pada, Diyan, Suaminya. Hingga akhirnya, Dina membaringkan, Dirinya di samping, Diyan.


" Tadi, Kamu dan Marissa, Menonton apa? " Tanya Diyan, Tiba-tiba saja. Dina, Terkejut dan Juga merasa malu, Hingga rasa sesak dan Rasa bersalah dalam hatinya hilang karena mendengar pertanyaan, Suaminya.


" Itu... Mas, Bisa melihatnya, Di laptop, Ku " Kata Dina, Sambil memberikan laptopnya pada, Diyan Dan Kemudian, Dina tidur membelakangi, Diyan.

__ADS_1


" Selamat malam, Mas Diyan " Ucap Dina, Dan memejamkan matanya, Memcoba untuk tidur menggapai mimpi indahnya.


" Emm Selamat malam, Dina " Jawab Diyan, Mengusap kepala, dan mencium kening, Istrinya dengan sayang.


Diyan, Duduk bersandar pada sandaran kepala ranjang. Membuka laptop itu, Dan menyalakannya. Terkejut, Diyan membatu, Melihat Dirinya dan Dina dalam Siaran Video itu. Diyan, Pun sadar, Dina yang menangis tadi, Bukan karena kedatangan tamu bulanan. Tapi, Karena telah menonton Siaran Video yang sekarang juga, Ditontonnya.


Suasana kamar begitu tenang, Hanya, Suara dari laptop itu saja, yang terdengar jelasnya. mengiringi waktu, Diyan dengan wajahnya yang terkadang berubah-ubah. Sedih, senang, Terkejut dan Bahagia, Bercampur dalam perasaan hatinya.


Sampai akhirnya, Malam telah larut. Diyan, Sudah selesai menonton Siaran Video itu. Kemudian, Dia pun, Meletakkan laptop itu, Di atas nakas, Samping ranjangnya. Sesudahnya, Diyan kembali lagi, Membaringkan Dirinya. Tidur memeluk erat tubuh mungil, Sang istri yang masih membelakanginya, Ke dalam pelukan kehangatan dengan satu selimut yang sama dengannya.


" Kenapa begitu sulit... memiliki hati, Mu, Dina? Aku, Sudah memiliki tubuh, Mu. Tapi... Masih ada rasa takut, Sebelum... Aku, Dapat mendengar kata Cinta itu, Di bibir manis, Mu, Istriku " Dalam hati Diyan.


Diyan, Perlahan memejamkan matanya, Dengan memeluk erat, Dina. Berharap, Di dalam mimpi indahnya, Dina ada bersamanya. Selalu dan Selamanya, Bisakah? Pikir Diyan, Hingga akhirnya, Diyan masuk ke alam mimpi indahnya.


Dina dan Diyan, Meninggalkan malam indah. Di tengah kesunyian dalam kegelapan gulita malam, Di Angkasa luas yang, Di hiasi gemerlap bintang yang cukup banyak dan Sinar rembulan purnama yang begitu indah, Di Langit biru gelap atas sana. Seakan, Semesta ikut merasakan kebahagiaan yang tengah, Dina dan Diyan rasakan dalam pernikahan mereka berdua yang, Di awal karena Terpaksa.


Tapi, Bagaimana akhirnya? Dina dan Diyan tidak bisa menebaknya. Karena, Di Masa yang akan datang, Ada seseorang dari masa lalu yang segera memasuki kehidupan pernikahan bahagia, Dina dan Diyan.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2