
" Benar... Ini adalah takdir. Mungkin... Jika, Aku tidak bertemu, Kamu, Ketika Kecil. Aku, Pasti akan berada di antara orang-orang itu. Di rendahkan, Di hina dan... ha... Aku, Bahkan bisa membayangkannya... Tapi, Aku, Bersyukur dan Bahagia, Karena Aku bertemu dengan, Mu dan kini... Kamu menjadi Suamiku dan akan tetap seperti itu " Dina, Menjeda Perkataannya, Memeluk Diyan, Dalam perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu di hatinya.
" Aku, Merasa prihatin dan juga kasihan pada, Mereka. Namun, Aku juga tidak bisa berbuat apa pun " Ucap Dina, Menatap Pelayan
" Sudahlah... Sayang. Aku, Tidak suka melihat, Mu bersedih seperti ini. Kamu, Cukup ingat. Bila, Dunia ini bulat, dan terkadang kehidupan ini, Seperti Roda yang berputar. Ada kalanya seseorang, Di atas dan Juga ada yang di bawa. Saat ini,... Papa sangat membutuhkan, Mu. Walau sebenarnya, Aku pun tidak setuju! Tapi, Demi Papa, Aku pun terpaksa dan Ku, Harap, Kevin tidak melakukan apa pun pada, Mu. Karena... Aku, Sangat mencintai, Mu, Dina " Ucap Diyan, Lembut. Mengecup, Memeluk dan Menenangkan hati istrinya itu.
" Jadi... Sekarang, Kita harus masuk. Sebelum, Dia, Tambah membuat masalah. Aku, Tidak bisa membiarkan hasil kerja keras, Papa selama ini, Hilang begitu saja " Diyan, mengingatkan, Dina, Tujuan mereka datang ke tempat ini. Karena, Perusahan yang, Endra miliki telah berada di ujung tanduk.
Seketika, kesedihan, Dina, hilang Saat itu juga. Dengan cepat, Dia mengusap air matanya yang sempat membasahi pipinya.
" Iya, Mas. Kita, Harus menemuinya, Sekarang! " Seru Dina tegas.
Diyan, pun membukakan pintu kaca yang tidak transparant itu. Sehingga, Terlihatlah Kevin yang tengah duduk di sofa hitam kecoklatan dengan langsung menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa, Dina dan Diyan, Artikan.
" Dulu, Aku yang menemukan, Mu, Dina. Tapi, Sekarang... Kamu, Yang menemukan, Diri, Ku. Hanya saja, Aku tidak menyangkah. Kamu, Menunjukkan betapa, Diyan sangat mencintai, Mu. Apakah... Aku, Benar-benar tidak bisa lagi memiliki, Mu? " Hati Kevin berucap lirik dan rasa sakit. Menatap beberapa detik lalu, Di lapisan pintu kaca itu. Dina, Dan Diyan, Berbicara, Berpelukan dan Melihat bagaimana senyuman dan tatapan dua pasang mata yang saling menginginkan dan seakan tidak ingin di pisahkan. Dirinya, Seakan tengah menonton layar lebar, Hanya saja bukan di bioskop.
__ADS_1
Tapi, Kini. Kevin, Bisa melihat lebih jelas. Wajah cantik wanita yang dulu hingga kini masih mengisi relung hati terdalamnya. Namun, Dirinya lagi dan lagi, Harus menerima kenyataan. Dina, Mengadung dan artinya, Diyan telah memilikinya. Harapan yang tersimpan, hanya angan dalam impian. Tersisa hanyalah, Penyesalan dan Kehampaan. Karena, Tidak mungkin lagi, Dirinya mengharapkan, Dina, Menjadi miliknya. Harapan pupus, Hatinya hancur. Namun, Kevin tidak menunjukan, Dirinya yang tersakiti. Dengan pandai, Dia bersikap layaknya seorang penguasa.
" Duduklah dan Kita, Akan mulai membicarakannya " Satu kalimat yang pada akhirnya, Kevin mampu katakan. Dengan tidak lagi menatap Wajah, Dina maupun, Diyan. Namun, Entah mengapa berkas yang baru saja di ambilnya dari atas meja kaca hitam, Di hadapannya. Terasa berat dalam genggamannya. Tapi, Kevin tidak menunjukannya dan bersikap sangat biasa.
Tok tok tok
" Permisi. Saya, Membawakan Jus mangga muda, Tuan... untuk Nyonya "
Dina, dan Diyan pun duduk di Sofa. Bersamaan dengan itu, Pelayan Wanita tadi, Datang dengan membawakan segelas Jus mangga muda dengan hati-hati meletakkannya di atas meja, di hadapan, Dina.
" Silahkan, Nyonya. Dan Saya, Permisi... " Kata Pelayan Wanita itu, Dengan Sopan dan membalas senyuman, Dina. Kemudian, berlalu pergi, Dengan tidak lupa menutup pintu kaca itu.
Setelah, Lama tidak bertemu. Walau, Tidak mengharapkan pertemuan ini. Dina, dan Diyan, Tidak bisa menghindari pertemuannya dengan, Kevin. Terutama, Diyan, Yang sangat tidak suka melihat, Kevin di hadapannya.
Karena, Ini menyangkut perusahaan, Endra, yang ada di ujung tanduk.
__ADS_1
Dina dan Diyan, Duduk berhadapan langsung dengan, Kevin yang hanya duduk sendiri sejak tadi di ruang sunyi tanpa suara. Tapi, Kini suara pembicaraan mereka mengisi kesunyian itu. Hanya saja, Dina dan Diyan sedikit bingung. Kevin, Bertingkah layaknya seorang mitra atau Klien penting dan sedikit pun tidak melakukan atau mengatakan apa pun hal lain selain bisnis. Seketika, Dina dan Diyan, Merasa lega dengan senyuman terukir di Wajah Mereka berdua.
Namun, Senyum di wajah, Diyan hilang. Kala, Dirinya menerima telpon darurat dari rumah sakit yang mengharuskan, Dirinya untuk datang dan menangani operasi darurat.
" Maaf, Saya tidak bisa! " Kata Diyan dan langsung mematikan ponselnya. Tanpa, Ingin mendengarkan penjelasan seseorang di seberang telpon yang sangat membutuhkan, Dirinya dan Pertolongannya.
Dina, Menatap penuh tanya pada, Suaminya itu. " Ada apa, Mas? "
" Ada operasi darurat dari rumah sakit dan Aku di minta datang untuk menanganinya. Tapikan, Aku harus menemani, Mu disini " Jawab Diyan.
Dina, Menghela nafas. Sedikit tidak percaya pada, Suaminya itu, Yang tega mengabaikan orang lain yang sangat membutuhkan pertolongannya " Mas, Pergilah. Aku, Pasti akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa pun pada, Ku "
" Tapi, Sayang... Hati, Ku tidak akan tenang. Jika, Pun, Aku pergi dan meninggalkan, Mu sendiri disini " Ujar Diyan kukuh pada, Keinginannya.
Hingga suara tegas, Kevin, Mengalihkan perhatiannya dari, Istrinya itu. " Hei! Dina, Tidak sendiri. Ada, Aku temannya disini "
__ADS_1
......Bersambung......