
Hari sudah sore, Di rumah panggung. Dina, Merasa bosan, Menonton Drakor Korea, Sendirian, Di ruang tamu. Hingga, Dia pun menyudahinya dan memilih pergi ke kamar. Ketika, Dina membuka pintu kamar, Indra pendengarannya langsung, Di sambut suara musik yang cukup keras. Tapi, terdengar merdu, musik yang berada, Di ponsel, Diyan yang tergeletak, Di atas nakas.
Jujur saja ku tak mampu
Hilangkan wajahmu di hatiku
Meski malah mengganggu
Hilangkan senyummu di mataku
Ku sadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Jujur saja ku tak mampu
Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu
Kau tak disampingku setiap waktu
Ku sadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Oh meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Oh meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
__ADS_1
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik)
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik)
Tapi cintaku yang terbaik
(Lirik Lagu Cassandra)
Dina, Tersenyum mendengar lagu merdu yang terasa menghangatkan hatinya. Seiring lagu itu, Bersenandung yang membuat jantung, Dina berdebar. Dengan, Mata ke abu-abuannya, Menatap wajah, Suaminya yang terlelap tidur, Damai, Di alam mimpi indahnya. Dina, melangkah kakinya mendekati dan Duduk, Di pinggir ranjang.
Membiarkan musik, Di ponsel, Diyan bersenandung indah yang menebarkan jantungnya.
" Mas Diyan, Aku mencintaimu " Ucap Dina pelan, Berbisik.
Diyan, Bergeliat dalam tidurnya, Hingga perlahan kelopak matanya terbuka dan Memperlihatkan mata sehitam langit malamnya yang setengah mengantuk. Dina, Tersenyum, Membalas tatapan mata, Diyan yang tengah menatapnya. Namun, Senyuman, Dina hilang, Ketika, Diyan menariknya dan memeluk, Dirinya. Dina, Merasa sedikit terkejut dan kemudian, Kembali tersenyum dalam pelukan, Diyan.
" Mas... Ini sudah sore. Lebih baik, Mas mandi dan sesudah itu, Kita belanja, Beli oleh-oleh " Kata Dina lembut, Membalas pelukan, Diyan.
" Emm baiklah. Tapi, Kita mandi sama-sama ya? " Ujar Diyan memejamkan matanya.
" Enggak mau! " Ketus Dina cepat.
" Kenapa? Aku, Mau! " Seru Diyan manja.
" Aku, enggak mau mandi "
" Harus mandi, Mas! "
" Kasih tenaga dulu dong, Biar... Suamimu, Ini semangat mandinya "
Diyan, Mengendus dan Mengecup leher, Dina. Dengan kedua tangan dinginnya yang besar itu, Bergerak nakal, Di tubuh mungil, Istrinya. sehingga, Istrinya itu, Merasakan kegelian dan sengatan listrik yang tersulutkan. Dina, Tidak menolak serangan manis dan nikmat yang, Di berikan, Suaminya. Membiarkan yang ingin, Suaminya itu, Lakukan padanya. Bahkan, Dirinya tidak sadar, Diyan begitu mudah melepas setiap helaian pakaiannya. Dina, Dan Diyan menikmati waktu bersama mereka berdua, Di atas ranjang.
" Sudah, Mas! " Seru Dina sedikit kesal sambil menjauhkan, Wajah, Suaminya dari kedua bola kembarnya yang polos.
" Kenapa? Aku, Masih ingin jadi bayi! " Ujar Diyan, Memeluk erat, Tubuh, Istrinya itu dan kembali menikmati santapan yang ada, Di hadapannya.
" Ahhh " Dina mendesak nafas berat. Suaminya, Begitu pandai Membuatnya bergairah dan bergelora. Walau, Dirinya sudah mencoba dan berusaha menahan gairah bercinta yang tersalurkan.
" Mas... Aku, Tidak tahan! " Hardik Dina, Meremas rambut hitam dan menekan kepala, Suaminya yang bermain, Di hutan yang tersimpan biji buah kenikmatannya.
" Mas Diyan! " Erang Dina yang telah mencapai puncaknya. Hingga, Diyan bisa merasakan getaran, Di lidahnya dalam liang kenikmatan yang baru, Di Nikmatinya.
Diyan, Mengakat kepalanya dari kewanitaan, Istrinya. Seringai nakal dan kesenangan tercipta, Di wajahnya. Melihat wajah merona dan bergairah, Istrinya yang juga tengah membalas tatapan mata bercintanya.
" Bagaimana, Istriku? Kita, Mandi bersama ya? Setelah itu, Temani, Aku bertemu teman, Ku. Ok?! "
Diyan, Turun dari ranjang dan langsung membawa tubuh mungil, Dina kedalam pelukannya. Tanpa, Mendengar tanggapan, Dina, Diyan Menggendong dan membawa, Dina bersamanya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
" Mas Diyan! " Teriakkan Dina Manja, Di dalam kamar mandi.
" Nikmati saja, Istriku! " Suara Diyan menyahuti teriakkan manja, Dina.
Apa yang terjadi, Di dalam kamar mandi, Sudah bisa, Di tebak bukan? Bagi seseorang yang menjalin hubungan suci, Pernikahan. Begitu manis, Indah dan penuh senyuman juga tawa dalam kesenangan, Kegembiraan, Dan kebahagiaan yang tidak terkira, Di tambah rasa cinta yang amat besar dan semakin bertambah, Di setiap waktunya. Walau, Di awal, Di selimuti rasa sakit, Kesedihan, Dan keterpaksaan. Tapi, Sekarang, Hingga masa yang akan datang, Dina dan Diyan berjanji ingin selalu bersama.
Namun, Dina yang selalu saja mengucapkan kata cinta dengan diam-diam dan berbisik, Tanpa mampu, Suaminya itu dengarkan. Padahal, Diyan, Suaminya sangat mengharapkan kata itu, Karena bagi, Diyan, Itulah kata terindah dari bibir manis, Istrinya, Anugerah yang sangat, Diyan harapkan. Tapi, Walau, Diyan sangat berharap, Dia juga tidak akan mau memaksa, Dina mengatakan Cinta dalam keterpaksaan. Biarlah, Waktu yang menjawabnya dan mungkin, Suatu saat, Dina mengatakan Cinta yang, Diyan harapkan.
Waktu menunjukkan Jam 16:40 Sore hari. Dina dan Diyan, Sampai, Di depan restoran, Kota Bandung. Sesudah merasa mobil terkunci dengan remote control-nya. Diyan, Mengandeng tangan lembut, Istrinya dalam genggaman tangannya. Dina, Tersenyum, Mengikuti langkah, Suaminya memasuki pintu restoran dengan sambutan hangat pelayan Wanita restoran.
Diyan, Menatap sekitar, Di dalam restoran. Hingga, Mata sehitam langit malamnya, Tertuju pada, seorang Pria yang tengah melambaikan tangan padanya, Dengan senyuman senang melihat kehadirannya.
" Di mana teman, Kamu, Mas? " Tanya Dina, Menatap wajah tampan, Diyan.
" Ayo, Ikut, Aku " Jawab Diyan, langsung menarik lembut tangan, Dina bersamanya.
Dina, Menatap kedepan, Hingga langkah terhenti dan terlihatlah seorang Pria berdiri, Di hadapannya dan Suaminya. Diyan, Tersenyum tipis yang terukir, Di wajah Dinginnya, Kepada, Temannya itu.
" Sorry, Dit. Kamu, Kelamaan nunggunya? " Kata Diyan pada temannya itu, Raditya.
" Enggak lama kok, mungkin sekitar setengah jam. Aku, Nungguin, Kamu " Jawab Raditya dengan tawa garingnya.
Dina, Tersenyum mendengar candaan, Teman, Suaminya yang terdengar garing menurutnya. Diyan, Menanggapi canda, Raditya dengan Senyuman simpul. Kemudian, Dina, Diyan dan Raditya, Duduk, Di kursi yang berbeda. Hanya saja, Dina dan Diyan, berdampingan dan langsung berhadapan dengan, Raditya.
" Yan, Ini, Kak Dina, yang pernah, Kamu cerita itukan? Terus... Mana, Istri yang, Kamu bilang kemarin malam? Katanya, Kamu akan bawa, Dia untuk tunjukkin pada, Ku? " Tanya Raditya penasaran dan tidak sabaran.
" Iya, ini, Kak Dina. Tapi, Sudah jadi, Istriku " Jawab Diyan lembut dan tersenyum cerah pada, Dina yang juga tengah menatapnya.
" Apa?! Aku, Gak salah dengarkan?! " Tukas Raditya, Dengan suara yang cukup keras. Hingga, Dirinya menjadi perhatian orang-orang yang ada, Di restoran.
" Biasa aja, Mas. Ini restoran, Bukan pasar! " Ketus salah satu Wanita pelayan restoran, Dengan Suara yang terdengar lembut. Tapi, Wajahnya terlihat tidak suka dan terganggu dengan suara, Raditya.
Raditya, Menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan sedikit menunduk kepalanya, Sebagai pertanda Mohon maafnya, Akibat gangguan darinya pada orang-orang, Di Restoran. Sedangkan, Pelayan Wanita yang berbicara pada, Raditya, pergi begitu saja, Meninggalkan meja, Dina, Diyan dan Raditya.
Suasana restoran pun kembali tenang, Orang-orang sibuk dengan makanan, Minuman dan kegiatan mereka masing-masing. Raditya, Menatap wajah, Dina dan Diyan bergantian, Juga menatap, Di jari manis, Dina dan Diyan yang terdapat cincin yang sama. Menandakan, Jika yang sebelumnya, Diyan katakan adalah benar dan nyata.
" Aku, Tidak percaya... Kamu, Menikah dengan, Kakak, Mu. Tapi, Aku bisa bilang apa lagi? Selain mengucapkan selamat atas pernikahan, Mu dan Kak Dina. Semoga bahagia selalu dan selamanya, Pokoknya Samawa aja deh! " Jelas Raditya, Tersenyum merekah.
Raditya, Tentu tahu, Dina dan Diyan tidak ada hubungan darah, Saudara angkat. Diyan dulu, Sudah pernah menceritakannya. Namun, Raditya tidak menduga, Jika Diyan akan menikahi, Kakaknya, Hingga Dina yang ternyata menjadi, Istrinya Diyan.
" Kebenaran yang luar biasa! " Seru Raditya dalam hatinya.
" Dit, Sebelum, Kita berbicara. Lebih baik makan dulu, Aku sangat lapar " Kata Diyan, Plin plan yang seketika, Raditya tertawa mendengarnya.
" Baiklah. Kita, Pesan makanan dulu. Karena, Kamu, Dan Kak Dina, Pasti kehabisan tenaga karena sudah bermain terlalu lama, Ya? " Ujar Raditya berkedip mata, Bercanda dan menggoda dengan senyuman jahilnya pada, Sepasang Suami-istri, Di hadapannya.
Dina, Tersenyum dan menunduk malu, Dengan pipi yang bersemu merah, Bagaikan kepiting rebus, Mendengar ujaran, Raditya. Diyan, merasa bahagia, Mendengar candaan temannya dan sekilas membayangkan permainannya dengan, Dina yang berakhir kelelahan dan Menanggapi canda, Raditya, Dengan senyuman saja.
...Bersambung...
__ADS_1