Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Mimpi buruk


__ADS_3

Matahari menunjukkan Dirinya, Dengan menyebarkan sinar mentari indahnya, Di kala pagi tiba. Angkasa terlihat sangat cerah, Dengan langit biru dan Awan putih, menemani hari pagi indah, Di kediaman Prabowo.


" Diyan, Kenapa sudah pulang? Bukannya, masih ada waktu dua hari lagi untuk bulan madu, Kalian Berdua? " Endra memberikan bertanya pada, Putranya itu, Yang baru saja pulang dari olahraga paginya.


Diyan, Menghela nafas kasar, Mendengar pertanyaan Sang Papa yang tiba-tiba sudah mempertanyakan itu. Sedangkan, Dirinya belum juga Istirahat, Karena rasa lelahnya berolahraga, Setelah seminggu lamanya dan Baru di lakukannya pagi ini. Tapi, Sang Papa sudah mempertanyakan hal yang tidak ingin, di dengarnya.


" Diyan, Capek, Pa. Tanya, Dina-- " Diyan menjeda perkataannya.


" Tidak! Jangan sampe, Nama Kak Kevin, Di sebut, Dina! Bisa-Bisa, Kak Kevin, Ngira, Dina merindukannya lagi! enggak akan, Aku biarkan! " Diyan berucap dalam hatinya, Dengan perasaan Posesifnya yang begitu besar terhadap, Dina.


" Diyan, Papa tanya, Kamu. Kenapa jadi, Dina di tanya? Atau! Sebenarnya... Kalian berdua, Bukan bulan madu? Tapi--- " Mendengar cecaran Sang Papa, Diyan, dengan cepat menyelanya.


" Bukan, Pa. Aku, Dan Dina, Tetap bulan madu. Bahkan, Aku dan Dina, Tetap tidur satu kamar, Kamar yang sudah, Papa pesan untuk, Aku dan Dina, Selama di Paris " Jelas Diyan.


Senyuman manis terukir, Di wajah tampan, Diyan yang sedikit basah, Karena keringat itu. Mata sehitam langit malam itu, Berbinar senang, Melihat, Istri tercintanya tiba, Di antara, Dirinya dan Papanya.


" Jika, Papa masih tidak percaya. Tanya saja, Dina " Kata Diyan.


Dina, Sedikit terkejut, Mendengar namanya tiba-tiba, Di sebut dalam perbincangan, Papa dan Suaminya itu. Mata ke abu-abuan itu, Menatap tidak senang pada wajah tampan yang terlihat tidak merasa bersalah itu. Ingin rasanya, Dina menggunakan sendok yang tengah di pegang itu, menusukkan Ke tubuh Suaminya itu, Biar tahu rasa, Karena telah membuatnya kesal dan Malu.


" Ada apa, Pa? " Tanya Dina pura-pura tidak tahu, Apa yang tengah Papa dan Suaminya, Bicarakan?


" Itu... Dina, Kalian berdua tidur... Selama bulan madu, Kamu dan Diyan, Selalu bersamakan? " Bukan, Endra yang memberikan pertanyaan pada, Dina. Tapi, Zaskia yang juga baru tiba dari dapur sambil membawa Napan yang berisikan, Kopi, Teh hijau, Dan Susu, Di letak atas meja makan. Baru menunjukkan, Dirinya dan Berdiri, Di samping, Suaminya. Mempertanyakan dengan ragu dan Malu, pada Dina.


Dina, Tersipu malu, Tidak ada yang bisa, Di katakannya. Selain sedikit menunduk kepalanya, Dan juga mengagukkan kepalanya, Sebagai jawaban dari pertanyaan yang, Mama tanyakan padanya. Tapi, Mata ke abu-abuan, Dina masih bisa menatap kesal pada, Diyan yang tersenyum menatapnya, Seakan tengah menertawakan, Dirinya.


" Awas saja! Aku, Akan menghukum, Mu nanti, Mas Diyan! " Ketus Dina dalam hatinya.


" Baguslah, Kalo begitu, Sekarang kita sarapan, Ya? Dina, Juga harus banyak makan sayur dan Buah-buahan. Diyan, Kamu juga makan sayur dan Buah-buahan, Agar Kalian berdua sehat, Bugar dan Stamina juga harus tinggi. Dengan begitu, Makhluk kecil menggemaskan hadir, Di keluarga Kita " Jelas Zaskia Antusias.


Dina, Merasa sangat malu dan bahagia mendengar perkataan, Sang Mama yang begitu jelas dan Lugas. Serta, Melihat sikap, Sang Mama yang begitu sangat mengharapkan, Dirinya Segera mengandung. Namun, Tiba saja, Perasaan bahagia itu, Hilang di hati kecilnya. Ketika, Sebuah pemikiran mengusik hatinya, Menimbulkan rasa takut dan Sedih.

__ADS_1


" Bagaimana... Bila, Aku tidak bisa mengandung? Dan Tidak memberikan, Mama dan Papa, Cucu? Apa...? Ah tidak! itu pasti tidak akan terjadi! " keresahan di dalam hati Dina.


" Ma! Kenapa tidak membangunkan, Rissa? " Pekik Marissa yang sedang menuruni tangga.


Suara Marrisa yang cukup keras, Mengembalikan kesadaran, Dina. Diyan, Mengajak, Dina duduk di sampingnya dan Dina, Hanya tersenyum dan menuruti saja.


" Mama, Sengaja tidak membangunkan, Kamu, Sayang. Karena, Mama tahu... Kamu, Begadang tadi malam. Jadi, Mama biarkan saja hingga, Kamu bangun dengan sendirinya " Ujar Zaskia lembut pada, Putrinya itu.


Marissa mendengus, Merasa sedikit kesal pada, Mamanya yang tidak membangunkan, Dirinya yang telah mimpi buruk. Tapi, Walau merasa kesal, Marissa tidak akan pernah melupakan kebiasaannya. Yaitu, Memeluk, Wanita yang telah mengandung, Melahirkan dan Membesarkan, Dirinya dan Kedua Kakaknya, Dengan penuh kasih sayang juga cinta yang amat besar.


" Ma, Aku tadi mimpi buruk. Aku, Bermimpi, Kak Dina meninggalkan, Kita " Bisik Marissa, Di Indra pendengaran, Zaskia. Sehingga, Tidak ada yang bisa mendengarkan perkataan, Marissa selain, Mamanya.


" Sayang... Mimpi itu, Hanya bunga tidur yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Jika, Kamu merasa takut, Karena mimpi itu... Berdoalah, Sebelum tidur, Agar mimpi buruk tidak menggangu tidur, Mu " Jelas Zaskia penuh kelembutan, Dengan senyuman hangat, Di wajahnya yang tidak muda lagi. Tapi, Zaskia masih saja, Kelihatan cantik dan menawan, Di usia tuanya.


" Sekarang... Duduklah, Dan Serapan. Tidak boleh ada pembicaraan, Saat sedang makan! " Kata Zaskia lembut dan Penuh penekanan. Ketika, Melihat, Diyan yang ingin berbicara pada, Marissa.


Mendengar perkataan, Sang Mama, Diyan mengurungkan niatnya untuk bertanya pada, Adiknya itu. Diyan, penasaran seperti apa mimpi, Marissa. Sehingga, Bisa membuat, Mamanya yang selalu terlihat baik-baik saja dan Bahagia, dengan senyuman, Di wajahnya. Kini, terlihat resah dan Gelisah, Di hadapannya.


" Jangan sampai... Mimpi buruk, Rissa, Jadi kenyataan. Aku, Tidak akan bisa membayangkan, Jika melihat hidup, Diyan hancur! Di depan mata, Ku... Aku, Harus membantu, Dina untuk cepat hamil! Itu sudah menjadi jalan satu-satunya, Agar Dina dan Diyan, Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka! " Dalam hati Zaskia.


Dina, Diyan, Endra, Zaskia, Marissa, Dan Nenek kakeknya. Serapan pagi bersama dalam kesunyian, Di temani bunyi irama sendok dan piring yang saling berdentum. Sampai waktu berlalu, Selesai sarapan, Diyan meninggalkan meja makan dan pergi masuk Ke dalam kamarnya.


Kakek, Nenek dan Marissa, Juga meninggalkan meja makan, Pergi menuju ruangan keluarga dan Menonton siaran Tv. Tinggallah, Endra, Di meja makan, Karena Dina dan Zaskia, Tengah membersihkan meja makan dan Dapur, Bersama.


" Dina " Panggil Endra, Ketika melihat, Dina telah menyelesaikan tugasnya.


" Iya, Pa " Dina, Datang mendekat pada, Papanya itu. Endra, Menghela nafas panjang, Dan tersenyum simpul. Kembali menatap wajah cantik, Putrinya yang telah menjadi menantunya.


" Melihat, Kamu dan Diyan, Telah bersatu dan Bahagia. Mungkin, Sudah saatnya, Dina mengetahui-- " Perkataan Endra terpotong, Karena suara, Zaskia yang tiba-tiba menyelanya.


" Dina, Pergilah ke kamar, Mu. Diyan, Pasti membutuhkan, Mu, Sayang. Mama, Ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan, Papa " Kata Zaskia lembut dalam bentuk kalimat perintah pada, Dina.

__ADS_1


Dengan wajah bingung, Dina pergi ke kamarnya, Meninggalkan Zaskia dan Endra. Walau, Tidak bisa di pungkiri, Dina ingin tahu, Apa yang ingin, di katakan Papanya? Tapi, Dina harus menghilangkan rasa ingin tahunya dulu untuk beberapa saat. Ketika matanya tertuju pada pintu kamarnya, Teringat Dirinya harus memberikan hukuman pada, Suaminya.


Zaskia, Menghela nafas lega, Melihat, Dina sudah pergi ke kamar dan hilang dari pandangannya. Endra, Menatap heran raut wajah, Istrinya yang nampak tidak baik-baik saja.


" Ada apa, Sayang? Apa ada masalah yang tidak, Suamimu ini tahu? " Tanya Endra pada, Istrinya.


" Kita, Bicara di kamar saja " Kata Zaskia menghiraukan pertanyaan, Suaminya. Tapi , Langsung menarik tangan, Endra mengikuti langkah menuju kamar mereka.


Tidak tahu, Apa yang, Endra pikirkan? Seringai nakal terukir, Di wajah yang tidak muda itu. Tapi, Masih memperlihatkan ketampanan, Di wajahnya. Mengikuti langkah, Zaskia membawanya memasuki kamar mereka, Berdua. Zaskia, Menutup dan mengunci pintu dengan rapat, Agar tidak ada yang mendengar pembicaraan, Dirinya dengan, Endra.


" Jangan bilang... Mas, Ingin memberitahu Rahasia yang telah, kita simpan bertahun-tahun pada, Dina? " Tanya Zaskia, menatap dan berdiri, Di hadapan, Suaminya itu. Seringai, Endra hilang seketika, Mendengar pertanyaan, Istrinya itu.


" Iya, Aku memang ingin memberitahukan Rahasia itu, Pada Dina " Jawab Endra malas, Dengan duduk di pinggir Ranjang.


" Jangan Dulu, Mas. Tunggu sampai, Dina sudah mengandung dan Punya bayi dengan, Diyan " Kata Zaskia.


" Ada masalah apa, Ma? Cerita sama, Papa. Jangan buat, Papa bingung " Ujar Endra.


" Mama, Ceritakan pun, Papa tidak akan mengerti. Uda, Pokoknya jangan kasih tahu, Dina dulu " Kata Zaskia dan Kemudian, ingin berlalu pergi, Meninggalkan kamarnya. Tapi, Langkahnya terhenti, Di tahan tangan, Suaminya.


Zaskia, Menatap Suaminya yang telah menghentikan langkahnya. Tapi, Perlahan, Dia sadar, Ketika Endra menarik lembut tangannya. Hingga, Dirinya duduk di pangkuan, Suaminya itu.


" Sayang... Tadi, Aku kirain, Kamu ingin itu. Sehingga, Mengajak, Aku ke kamar, Kita. Tapi, sekarang... Aku, Menginginkannya " Bisik Endra penuh godaan, Mengendus-endus leher, Istrinya.


" Mas... ingat umur... Kita... Sudah tua " Desak Zaskia, Dengan memejamkan matanya dan Merasa sangat Malu, Ketika tubuhnya memberikan respon akan sentuhan, Suaminya.


" Sebentar saja, Bolehkan, Sayang... " Endra terus saja menggoda, Istrinya. Agar mau bermain dengannya, Permainan yang penuh kenikmatan dan berakhir dalam kelelahan.


Zaskia tidak mengatakan apa pun, Selain anggukan kepala, sebagai tanda. isyarat Dirinya, Menyetujui ajakan, Suaminya. Endra, Menyeringai nakal, Merasa sangat senang mendapatkan persetujuan, Istrinya. Jangankan yang tua, Muda saja pun, Juga sedang melakukan permainan yang penuh kenikmatan dan berakhir membuat tubuh kelelahan.


Namun, Bedanya, Diyan tengah mendapat hukuman dari, istrinya. Di Awal permainan, Diyan hanya bisa baring dengan tangan dan kakinya teringat. Dirinya, kurang puas menikmati permainan, Istrinya yang begitu bergerak agresif, di atas tubuhnya. Tidak dapat tangannya menyentuh dan melakukan apa pun, Selain diam menikmati saja. Dina, Layaknya tengah menunggangi kuda dengan gerakan lembut dan perlahan, Semakin cepat menuntaskan Gairahnya yang membara.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2