Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Di kota Bandung


__ADS_3

Keterangan mentari telah terganti, Dengan kegelapan, Di langit malam. Namun, Di Langit malam, Tidak ada gemerlap bintang yang menghiasi Angkasa. Selain rembulan sabit yang seakan tersenyum paksa dalam kesepiannya.


Kini, Dina dan Diyan, Berada dalam mobil. Melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk kembali pulang ke Jakarta. Dengan sudah membawa cukup banyak barang bersama mereka berdua. Namun, Suara dering ponsel yang tiada hentinya Berbunyi. Membuat Diyan, Menghentikan mobilnya, Di pinggir jalan dan Langsung, Mengambil ponselnya yang berada, Di dasbor mobilnya. Kening, Diyan mengernyit, Dengan bola matanya yang sehitam langit malam itu, Menatap penuh tanya. Ketika, Mengetahui, Raditya menghubungi, Dirinya.


" Sudah Angkat saja, Mas. Mungkin penting " Ucap Dina pada, Suaminya. Ketika, Melihat nama yang tertera, Di layar ponsel, Suaminya.


" Baiklah, Aku akan angkat telpon dari, Raditya sebentar dan Kamu, Tetaplah, Di dalam mobil, Jangan kemana-mana? " Kata Diyan dan, Istrinya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Diyan, Keluar dan turun dari mobil, Dengan tidak lupa, menutup pintu mobil. Diyan, Melangkah kakinya, dan berdiri, Di depan mobilnya. Menjawab panggil, Raditya yang tiba-tiba menghubunginya. Sedangkan, Dina, Mengeluarkan ponselnya dan membuka hasil rekaman pembicaraan, Diyan dan Raditya, Yang kemarin sore. Dan Baru sekarang ada waktu untuk membuka rekamannya. Dina, Mulai mendengar rekaman suara itu, Dengan sudah mendekatkan ke daun telinga, Indra pendengarannya. Wajah, Dina berubah-ubah, Seiring suara rekaman yang Di dengar dalam ponselnya.


" Sial! Firna, Begitu ingin memiliki, Mas Diyan! Aku, Tidak akan membiarkan, Suamiku, Jatuh dalam pelukan, Mu, Firna! Lihat saja! Bagaimana, Aku menjatuhkan, Mu?! Hingga, Kamu tidak akan bisa lagi memikirkan, Mas Diyan, Di pikiran kotor, Mu itu! Awas saja, Kamu, Firna! " Hardik Dina, Di dalam hatinya. Sehingga, hanya dirinya dan Tuhan yang bisa mendengarkan suara hati dan isi pikirannya.


Dina, Sangat marah dan geram, Sesudah selesai mendengar semua rekaman suara, Di ponselnya. Namun, Dina harus menahan kemarahannya terhadap, Firna, yang sangat ingin memiliki, Suaminya dan, Dirinya tidak akan membiarkan, Firna atau pun Wanita mana pun memiliki, Diyan. Sementara, Diyan, Di Wajah tampannya yang tersirat keterkejutan dan cukup Cemas, Juga sedikit takut mendengar setiap perkataan, Raditya, Di seberang telpon. Suatu berita buruk yang tidak mungkin tidak, Diyan khawatirkan.


" Diyan, Maaf... Aku, Baru mengabari, Mu Sekarang. Karena, Aku sangat panik mencari, Firna " Terdengar lirikan suara, Raditya, Di seberang telpon yang mampu, Membuat tubuh Diyan kaku dan Membatu.


" Firna... Dia... Melarikan, Diri dari rumah dan juga Kota Bandung. Sejak kemarin, Aku selalu mencarinya dan tidak bisa mendapatkannya. Aku, Baru tahu... Jika, Firna sudah tidak lagi, Di Wilayah Kota Bandung. Firna, Sudah pergi, Yan... Aku, Tidak bisa melamarnya... Tapi, Aku akan terus mencarinya! dan... sampai sebelum, Aku mengabari, Mu. Kamu, Harus berhati-hati, Yan! Firna, Sangat terobsesi pada, Mu! "


" Yan! Diyan! Kamu, Mendengar semua perkataan, Ku kan?! "


" I..Ya, Dit. Aku, Mendengar semua yang, Kamu katakan dan Terima Kasih sudah mengabari dan memperingati, Ku. Aku, Pasti akan berhati-hati! Dan Aku, Juga akan membantu, Mu mencari keberadaan, Firna. Tapi, Kamu, Jangan terlalu mengkhawatirkan, Aku saja. Kamu, Juga harus bisa menjaga, Diri, Mu Dan Jangan karena, Firna, Kamu mala putus asa seperti ini... " Ujar Diyan, Membalas Perkataan, Raditya, Di seberang telponnya. Dengan adanya perasaan khawatir, Di hatinya pada, Temannya itu.


" Hem... Aku, Hanya ingin menyampaikan ini saja. Karena, Aku tahu... Kamu, Akan kembali pulang dan Berhati-hatilah, Yan " Kata Raditya, dalam perasaanya yang putus asa dan penuh kekhawatiran, Membayangkan setiap kemungkinan yang bisa saja. Menghancurkan pernikahan, Dina dan Diyan, Akibat ulah, Firna, Wanita yang, Di Cintanya itu, Tidak tahu pergi kemana. Hilang tanpa meninggalkan jejak atau pun sedikit petunjuk. Agar, Dirinya, Memiliki harapan untuk bisa mengetahui, Dimana keberadaan, Firna?

__ADS_1


Tut.


Sesudah sambungan telpon terputus, Diyan kembali masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, Langsung melajukan mobilnya, Dengan khawatiran, Di Pikirkannya. Dina, Yang bisa melihat kekhawatiran, Suaminya. Tidak mengatakan apa pun, Karena, Dina sudah menebak apa yang, Diyan dan Raditya, Bicarakan melalui ponsel? Pasti tentang, Firna.


" Besok, Aku harus bertemu, Gita dan meminta bantuannya. Sahabat, Ku itu, Punya banyak kenalan dan Aku, Pasti tidak kesulitan untuk Bertemu dan membuat perhitungan pada, Firna " Dina berucap, Di dalam hatinya. Membayangkan, Bagaimana reaksi, Firna. Jika, melihat sisi jahat dan liciknya yang pastinya, Menjadi hiburan semata baginya.


Sementara, Raditya yang baru saja, Memutuskan sambungan telponnya dengan, Diyan. Raditya, Mendongakkan kepalanya dan Menatap langit malam yang begitu gelap, Tanpa ada gemerlap bintang, Di Angkasa. Hanya, Rembulan sabit yang tengah tersenyum dengan sinarnya. Di tatap oleh binar mata coklatnya yang tersirat Kesedihan, Ketakutan dan Kekhawatiran. Karena keadaan yang memungkinkan sesuatu hal buruk akan terjadi yang selalu, Raditya pikirkan.


" Firna... Kamu, Ada, Dimana? Aku, Merindukan, Mu... Aku, Berharap... Kamu, Tidak akan melakukan suatu hal buruk... " Lirikan Suara, Raditya begitu pelan. Sepelan hembusan angin malam yang terasa dingin menusuk kulit hingga tulang. Namun, Tidak akan meruntuhkan keyakinan dan semangat, Raditya yang masih berusaha mencari, Firna, Di tempat yang, Dia tahu atau pernah, Di kunjungi, Firna. Namun, Dirinya, Masih juga belum bisa menemukan, Firna.


Raditya, Melangkah kakinya, Meninggalkan tempat yang ternyata, Firna tidak ada, Di sana. Namun, Tiba-tiba dan Tanpa sengaja, Seorang Wanita bertabrakan dengan, Dirinya. Tidak tahu, Di karenakan, Tubuh Wanita itu yang berat atau karena, Raditya yang tidak bisa menahan keseimbangan tubuh kekarnya. Raditya dan Wanita itu, Terjatuh, Di rerumputan yang kotor dan basah. Dengan posisi, Wanita itu, Menimpa tubuh kekar, Raditya.


Sesaat, Waktu terasa terhenti. Mata coklat terang, Wanita itu, Menatap mata coklat, Raditya yang sedikit kehitaman itu. Angin lembut yang terasa dingin, Mendukung suasana yang terkesan romantis, Di antara, Raditya dan Wanita itu.


Bahkan, Tanpa sadar, Mata coklat Raditya yang sedikit kehitaman itu. Melirik garis Wajah yang begitu dekat, Di depan, Wajahnya. Wanita itu, Memiliki binar mata coklat terang yang indah, Kulit putih yang mulus dan rambut pirang yang, Di ikat bagaikan ekor kuda. Wanita itu, Terlihat cantik dan sungguh menawan.


Wanita, yang bertabrakan dengan Raditya dengan tanpa sengaja adalah Gita. Gita, Yang ingin menemui seseorang, Di Kota Bandung. Mala, Di pertemukan dengan, Raditya dalam suasana, Di tengah malam begini.


" Dari pada terus menatap, Gue. Lebih bagus! Bantu, Gue untuk bangun " Ketus Gita, Menyadarkan, Raditya. Dengan, Menggeser tubuhnya kesamping, Dan tidak lagi menimpa, Raditya. Sehingga, Pakaian, Gita dan Raditya, Sama-sama kotor dan sedikit basah, Di rumput hijau yang sudah ternodai tanah berwarna kecoklatan.


" Apa yang telah, Aku lakukan?! " Raditya, berucap dalam hatinya, Menyadari, Dirinya tanpa sadar mengagumi kecantikan, Wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengannya. Padahal masih ada, Firna, Di hatinya. Dengan langsung membawa, Dirinya bangkit dan berdiri dengan tegak.


Raditya, Berdeham, Menghilangkan kegugupan dan kecanggungan yang tiba-tiba, Di rasakannya. Gita, Merasa sangat kesal pada, Pria asing yang tidak mau membantunya berdiri. Setelah, Membuatnya terjatuh, Di rumput kotor dan basah. Sehingga, Dia pun, berdiri sendiri dan menatap, Raditya dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


" Ternyata masih ada, Pria seperti, Lo ya? Sudah membuat, Wanita cantik jatuh dan tidak mau, Membantu! Dasar! Pria, Tidak tahu sopan santun " Hardik Gita sinis.


" Jangan asal bicara! Kamu, Yang tabrak, Aku dan Untuk apa, Aku menolong, Mu?! Harusnya, Kamu meminta maaf! " Tukas Raditya, Dengan tidak senang, Kesal dan terpancing, Karena omongan Wanita, Di depannya itu. Seakan menohok hatinya.


Gita, Mendengus kesal dan geram pada, Pria, Di depannya yang baru, Di kenalnya. Tapi, Ketika, Gita ingin menyahuti Perkataan, Raditya. Suara dering Ponselnya, Membuatnya mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan, Raditya.


" Iya, Bibi. Aku, Sudah di Bandung dan... " Gita menjeda ucapannya, Pada seseorang, Di seberang telpon. Matanya, teralihkan, Menatap, Raditya yang ingin pergi meninggalkannya.


" Sebentar lagi, Aku akan sampai ke sana, Bi. Aku, Akan tutup telponnya, Ya, Bibi " Suara Gita, Begitu lembut dan sopan. Berbeda, Ketika berbicara kepada, Raditya, Pria asing yang baru, Di kenalnya. Gita, Memutuskan sambungan telponnya dan dengan cepat berlari mendekati, Pria yang masih asing baginya. Tapi, Demi bisa sampai pada tujuannya, Gita membutuhkan bantuan, Raditya.


" He! Tunggu! " Teriak Gita sambil Berlari menyusul, Raditya.


" Apa lagi?! " Kata Raditya sambil berbalik badan. Tapi, Raditya, Tidak menduga. Gita, Yang berlari dengan sepatu Tingginya, Kehilangan keseimbangannya dan jatuh, Kedalam pelukan, Raditya untuk yang kedua kalinya. Hanya saja, Raditya dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan tidak jatuh lagi, Ke tanah berlumpur.


" Seperti, Kamu sangat merindukan dekapan hangat, Pria tampan dan bertubuh kekar, Ya? " Ujar Raditya, Dengan nada sindiran yang seketika. Gita, Menarik, Dirinya dengan perasaan gugup, Kesal dan Malu. Menjauhi dan memberikan jarak dengan, Dirinya dan Pria asing, di depannya itu.


" Itu bukan urusan, Mu. Aku, Akui kali ini, Aku salah dan Aku, Minta maaf. Puas! " Kata Gita, Sedikit tulus.


" Aku, Tidak puas. Tapi, Aku juga tidak ingin terlalu lama berdebat dengan, Wanita, Di tengah malam begini. Jadi, Ada apa, Kamu mendekati, Ku? Perlu tumpangan atau bantuan? Agar, Tidak seorang pun mengatakan, Aku, Tidak punya sopan santun. Hanya, Karena tidak menolong seorang wanita, Di tengah malam " Jelas Raditya, Dengan Berbalik menyindir, Wanita, Di depannya itu. Gita, Semakin kesal saja, ingin rasanya, Mendorong dan menjatuhkan, Pria asing, Di depannya itu, Ke dalam lumpur. Namun, Demi bisa mendapatkan bantuan. Gita, meredam kekesalannya dan menghilangkan pikiran jahatnya itu.


" Tolong tunjukkan pada, Gue? Mengenai alamat ini? " Ucap Gita, Sambil memberikan secarik kertas kecil, Berwarna putih dengan berisikan tulisan huruf dan angka.


Raditya, Menerima secarik kertas kecil berwarna putih itu dan membacanya. Keningnya mengernyit, Menatap bingung dan sedikit terkejut, isi tulisan, Di dalamnya. Kemudian, Mengalihkan perhatiannya, Menatap, Gita.

__ADS_1


" Ada apa, Kamu menemui, Orang tua, Ku? " Kalimat terucap dari bibir tipis, Raditya.


...Bersambung...


__ADS_2