Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Kenangan, Kita


__ADS_3

Senja menyapa, Kala matahari ingin tenggelam dalam ketenangan dan keindahan semesta. Pergantian terang dan gelap, Menjadi warna jingga, Di Angkasa. Dina, Dan Diyan, berada, Di dalam mobil. Menunggu pergantian warna lampu lalulintas yang menghentikan para pengendara dengan warna merah. Sampai menit kemudian, Warna lampu pun berganti dengan warna hijau, Tanpa menunggu apa pun lagi.


Diyan, Dan para mengendara lainnya, Melajukan mobil mereka. Meninggalkan tempat dan lampu lalulintas yang Sempat menghambat perjalanan mereka semua. Dina, Sedikit merasa bingung, Melihat jalur jalan yang, Di lalui, Tidak menuju rumah panggung atau pun rumahnya yang dulu. Melainkan, Ke arah yang beda dari ingatannya.


" Mas, Kita akan kemana? " Dina pun bertanya langsung pada, Suaminya. Dari pada terus berpikir dalam kebingungan yang memusingkannya.


" Ke tempat favorit, Kita, Selain, Di rumah panggung, Dina " Jawab Diyan, Sekilas mengalihkan perhatiannya dari jalan, Menatap wajah, Istrinya sebenar dan kemudian, Kembali menatap ke depan. Karena, Jalanan sedikit padat, Di kala hari senja, Ingin menjelang malam.


Dina terdiam dan berpikir sebentar, Mengingat dimana tempat yang, Di maksud, Suaminya itu? Hingga detik berikutnya, Senyuman cerah terukir sempurna, Di wajah cantiknya dan langsung menatap, Diyan Dengan binar senang, Di matanya.


" Maksud, Mas... Di bukit Moko? " Ucap Dina, Menatap wajah tampan, Suaminya yang bersinar, Diterpa cahaya mentari senja yang menembus lapisan jendela kaca mobilnya.


" Iya. Di sana, Aku sudah memesan tempatnya untuk satu malam saja. Karena, Kita besok sudah harus kembali ke Jakarta. Kamu, Mau kan? " Jelas Diyan. Sambil mengemudi mobil dengan tatapan matanya, Tertuju ke depan jalanan aspal yang hampir, Di penuhi pengedaran motor, Mobil dan lainnya.


" Mau, Mas. Aku, Juga sudah ingin ke sana. Tapi, Selalu saja lupa untuk mengatakannya, Mas " Jawab Dina tertawa malu, Dengan binar senang, Di mata ke abu-abuannya dan semangat, Di raut wajahnya. Bagaikan anak kecil yang merasa bahagia mendapatkan hadiah yang, Di inginkannya.


Diyan, Tersenyum, Mendengar dan menatap sekilas sikap, Dina yang terlihat sedikit kekanakan. Namun, Di tempat yang tidak jauh dari mereka berdua. Firna, Berada di mobilnya yang berwarna biru laut. Mata coklat terangnya, Mengunus tajam pada mobil silver, Tempat keberadaan, Dina dan Diyan.


" Dina, Saat ini... Aku, Memang tidak bisa menjadikan, Diyan milikku! Tapi, Suatu saat nanti, Aku akan membuat, Diyan menjauhi, Mu! Bila, Diyan tidak bisa, Aku miliki. Maka, Kamu pun tidak akan, Aku biarkan untuk selalu memiliki, Diyan! " Ujar Firna, Penuh penekanan dalam perasaan hatinya, Ada kemarahan, Kebencian dan tidak senang atas kebahagiaan, Dina maupun, Diyan.

__ADS_1


" Sampai jumpa! " Seru Firna, Sambil memutar stir kemudi mobilnya ke arah kanan. Berencana meninggalkan Bandung, Tanpa pesan dan hanya membawa bencana bersamanya dalam Rencananya. Ingin menghancurkan suasana bahagia, Dina dan Diyan, Di masa yang akan datang.


Mentari matahari telah hilang, Hingga kegelapan pun tiba, Di Angkasa. Dina dan Diyan, Melangkah sambil bergandengan tangan. Berjalan bersama dan berdampingan, Dengan sudah memakai jaket tebal. Agar, Angin dinginnya malam yang menyelimuti bukit Moko, tidak membuat tubuh, Dina dan Diyan, tidak terlalu Kedinginan.


" Dina, Kamu duduklah. Aku, Akan memasang tenda di sini " Ucap Diyan pada, istrinya. Ketika, Mereka berdua berdiri, Di dekat pohon yang tidak terlalu tinggi.


" Tidak, Mas. Aku, Akan membantu, Mu " Kata Dina, Membantah dengan lembut perintah, Suaminya.


Diyan, Tersenyum, Dan membiarkan, Dina membantu dirinya, Memang tenda yang tadinya berada dalam tas ransel yang, Di bawanya. Tapi, Sekarang, Isi dalam tas itu, Akan, Di ubah menjadi tempat berlindung, penginapan, Di alam terbuka. Tidak memakan banyak waktu, Dina dan Diyan, Sudah selesai memasang tenda yang berwarna biru tua itu, Di tempat yang tidak jauh dari pohon.


" Kamu, Masuklah dan gunakan selimuti ini. Aku, Ingin pergi sebentar membeli makanan dan minuman hangat, Di warung " Jelas Diyan penuh kehangatan, Membawa, Istrinya masuk ke dalam tenda dan Dirinya, berdiri, Di pintu tenda. Menatap, Dina yang juga tengah menatapnya.


" Aku, Kira... Kamu, Melupakannya, Yan... " Lirik Dina, Penuh keharuan.


Dina, tidak bisa lagi melihat bayangan, Suaminya. Sehingga, Mata ke abu-abuannya, Menatap ke depan. Pemandangan alam yang sangat indah dari bukit Moko yang terkenal, Di Bandung. Suasana nyaman, Tenang dan Romantis, Sangat terasa, Di bukit Moko Bandung. Bahkan, Orang yang berkunjung ke bukit Moko, berpasangan dan juga ada berkeluarga, piknik. Menghilangkan rasa penat, Meluangkan waktu bersama keluarga dan juga menikmati suasana baru yang tenang dan nyaman juga Romatis.


Bukit Moko Bandung, Juga ada yang menyebutkannya Paris Van Java. Wisatanya yang hampir menyerupai, Kota Paris di Perancis, Eropa. Sangat luar biasa, Karena itu, Orang sangat banyak yang datang berkunjung ke bukit Moko yang berada, Di Bandung. Bila, Pagi akan ada awan tebal yang seakan terasa dalam Sentuhan. Jika, Senja, Akan terasa indah dan Romantis, Menikmati senja dan juga pagi buta, Sebelum mata hari tenggelam dan terbit, Sangat di tunggu oleh orang-orang yang berkunjung ke bukit Moko Bandung.


Dina dan Diyan, Ingin mengulangi masa, Di mana mereka berdua menikmati keindahan alam semesta, Di kala matahari ingin tenggelam dan terbit. Tapi, Untuk saat ini, Dina, Hanya dapat menatap binar lampu yang berbeda warna pada kota Bandung, Di bawa sana dari bukit Moko, Terlihat sangat indah. Juga menikmati gemerlap bintang yang seakan bertabur, Di atas kepala dan memanjakan mata.

__ADS_1


" Dina, Jangan melamun " Suara dan napas hangat, Diyan, Menggelitik dan Menyadarkan, Dina dari lamunan panjangnya. Mengingat kenangan masa lalu yang begitu manis, Yang seakan terasa baru terjadi kemarin saja. Sehingga, Dina tidak menyadari, Suaminya, Sudah berada, Di dekatnya.


" Mas... " Gumam Dina, Dan masih mampu, Di dengar, Diyan yang tengah duduk, Di sisi, Dina. Sesudah, Diyan meletakkan, Makan dan minuman hangat, Di hadapannya dan istrinya.


" Emm Kamu, Sedang mengenangnya? " Tanya Diyan, Sambil merangkul pundak dan membawa, Dina dalam pelukannya.


" Iya... Aku, Selalu mengenang kenangan, Kita dan Aku, Akan selalu mengingatkannya, Mas. Selamanya, Menyimpannya dalam hati, Ku " Jawab Dina, Sambil menyandarkan kepalanya, Di dada bidang, Diyan.


" Benar. Aku, Juga tidak akan mungkin bisa melupakan kenangan, Kita. Tapi, Selain rasa manis dengan senyuman dan tawa canda. Dulu... Aku, Juga memiliki rasa takut... Takut, Suatu saat, Kamu akan menikah dengan, Pria lain dan meninggalkan, Mama, Papa, Rissa, Nenek, dan kakek, Terutama... Aku, Dina " Diyan, Mengatakan isi hatinya pada, Istrinya. Menjeda perkataannya, Dengan mengecup lembut kening, Istrinya, Menggenggam dan menautkan jemarinya dengan jemari lembut, Dina dalam Sentuhan kehangatan dan Cintanya.


" Namun... Aku, Juga tidak menyangka. Kamu, Menikah dan menjadi istriku. Walau, Awalnya, Pernikahan, Kita bermula karena sebuah paksaan dan Aku, Sadari... Aku, Menyakiti, Mu... Tapi, sekarang, Hingga nanti dan selamanya, Aku akan berusaha... Membuat, Mu, Bahagia, Dina, Istriku " Kata Diyan. Memeluk erat, Tubuh, Dina dalam dekapannya. sehingga, Dina mendengar debaran jantung, Diyan yang seirama dengan debaran jantungnya. Bagai melodi merdu dalam nada cinta, Dina dan Diyan yang akan selalu seirama.


" Aku, Mencintai, Mu. Selalu dan Selamanya... Dina " Ucap Diyan lembut dalam kehangatan dan mengakhirinya, Dengan mencium kening, Istrinya cukup lama.


" Aku, Juga mencintai, Mu. Sangat... Hingga rasanya, Aku takut, Kamu menjauh dan kehilangan, Mu, Diyan, Adik Ku, Suami Ku... Aku, Hanya mencintai, Mu, Hanya, Kamu... Tuhan telah mempersatukan, Kita sejak lama, Mas Diyan " Dalam hati, Dina.


Senja, Hanya berlangsung sebentar yang akan datang kemudian pergi. Tapi, Akan ada kegelapan malam, Dengan keindahan gemerlap bintang dan pemandangan semesta alam yang sangat indah. Ada kata yang terucap dalam bentuk janji yang akan selalu tersimpan, Di hati. Sampai akhirnya, Janji itu, tertepati dalam perasaan cinta sejati. Tuhan dan Alam semesta, Adalah saksi atas Kisah Cinta, Dina dan Diyan hingga akhir nanti. Karena, Masih akan ada masalah yang akan datang tanpa, Di undangan dan tidak, Di inginkan. Tapi, Ini sudah menjadi takdir dan ujian cinta sejati.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2