Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Grup D Prabowo


__ADS_3

" Ma, Ini ada oleh-oleh dari Bandung " Kata Dina, Sambil memberikan parper bag coklat pada, Zaskia. Zaskia, Dengan senang hati menerima pemberian, Putri sekaligus menantu Kesayangannya.


" Aku, Masih ingat. Saat, Kita masih tinggal, Di Bandung. Mama, Sangat menyukai ini dan Ketika melihatnya, Aku pun langsung membelinya " Jelas Dina. Zaskia, Tersenyum gembira, Melihat barang lama yang, Di berikan, Dina, Memiliki kenangan, Di masa lalunya.


" Terima kasih, Sayang! "


" Sama-sama, Mama "


" Tidak terasa... Waktu begitu cepat berlalu. Rasa manis dan Pahit telah, Aku nikmati. Dina... Mama, berharap... Di masa depan, Kamu akan selalu berada, Di sisi, Diyan "


Zaskia, Berkata dalam hatinya, Sambil binar matanya menyiratkan rasa haru. Menatap, Wajah cantik yang ada, Di hadapannya. Terlihat dewasa dan Menawan. Terbayang kenangan manisnya, Ketika pertama kali melihat, Dina dan Menjadikan, Dina, Putri kesayangannya. Wajah kecil yang selalu ceria dan mengajaknya bermain bersama. Kini, Tersenyum bahagia dengan tawa canda, Di hadapannya, Begitu terlihat kedewasaannya.


Namun, Bayangan kenangan manis dan Pahit itu, Hilang, Tidak tahu kemana angin membawanya. Zaskia, Tersadar akan sesuatu yang harus segera, Di beritahukan pada, Putri dan Putra kesayangannya.


" Dina, Diyan. Dengar! " Seru Zaskia, Yang seketika, Mengalihkan perhatian, Putri dan Putranya itu, Pada, Dirinya.


" Iya, Ma " Dina dan Diyan, Menyahuti dengan serentak. Sembari menatap Sang Mama, Yang diam menatap mereka berdua dengan Serius dan Cemas.


" Tadi, Mama, Menelpon, Papa. Hanya, Ingin memberitahukan kepulangan kalian berdua dan, Papa, Kalian langsung bilang pada, Mama! Kalian berdua harus segera mengatasi permasalah yang ada, Di perusahaan! Jika, Bisa langsung besok saja! "


Dina dan Diyan, Saling menatap sesama dan Kembali, Menatap wajah, Sang Mama yang terlihat resah dan Gelisah. Sehingga, pikiran mereka berdua berkelana dengan penuh tanya dan Ingin segera mendapatkan jawaban. Namun, Mereka juga memahami, Sang Mama, Saat ini tidak sedang baik-baik saja. Jika, Ingin mempertanyakan hal yang ada, Di pikiran mereka berdua, Pada, Zaskia. Mungkin, Bisa menyebabkan hal yang tidak, Di inginkan terhadap, Sang Mama tercinta.


" Baiklah, Ma. Besok, Aku dan Dina, Akan datang ke perusahaan dan Melihat apa yang sebenarnya terjadi?! " Ujar Diyan.


" Jadi, Lebih baik... Mama, Istirahatlah ini sudah larut malam " Ucap Dina, Membujuk, Zaskia dengan penuh kelembutan dan Kasih sayangnya.


" Rissa, Kamu pergi antar, Mama, Ke kamar. Sekalian... Kamu, Temani, Mama, Tidur " Dina berkata pada, Adik kesayangannya itu. Marissa, Mengagukkan kepalanya, Langsung mengiyakan perintah, Kakak kesayangannya.


" Baiklah, Kak. Kalo gitu, Aku dan Mama, Tidur duluan. Juga, Aku ucapkan terima kasih banget buat oleh-olehnya! Selamat Malam, Kakak kesayangan, Ku! " Seru Marissa, Sambil membawa, Zaskia bersamanya.

__ADS_1


" Selamat malam juga, Adik kesayangan, Kakak! " Ucap Dina, Sambil menatap kepergian, Marissa dan Sang Mama tercintanya.


" Aku, Bersyukur.... Memiliki, Rissa sebagai Adik kesayangan, Ku " Kata Dina dalam hatinya.


" Aku, Berharap... Semoga semua yang terjadi kedepannya, Tetap baik-baik saja! " Ujar Marissa dalam hatinya.


Diyan, Membawa tubuhnya duduk, Di sofa empuk dan Nyaman. Namun, Keresahan, Kegelisahan, Dan penuh tanya, Memenuhi pikiran dan Hatinya. Diyan, Frustasi, Memikirkan, apa yang sebenarnya sudah terjadi?


" Besok pagi, Aku akan melihat! Siapa yang telah menggangu kehidupan keluarga Prabowo?! " Tukas Diyan dalam hatinya.


Dina, Memaksakan Senyuman, Di wajahnya. Membawa, Dirinya duduk, Di samping, Suaminya. Sungguh, Dina sangat tahu, Apa yang tengah, Diyan, Pikiran dan Rasakan saat ini?


" Tenanglah, Mas. Jangan khawatir... Semua pasti akan baik-baik saja " Dina, Mengusap punggung belakang, Diyan. Mencoba menenangkan hati, Sang Suami yang sedang Frustasi.


" Aku, Akan berusaha! Mengembalikan apa telah menjadi milik, Kita?! Aku, Tidak perduli siapa yang menjadi Lawan atau Mungkin kawan! Pastinya, Aku tidak akan pernah menyerah Atau pun Berhenti berusaha! Karena, Aku juga bagian dari Keluarga Prabowo! " Hardik Dina, Dalam hatinya.


Dina, Menyakinkan, Bila suatu hal yang akan segera, Di lakukannya, Dapat Dia selesaikan. Walau, Awalnya, Dirinya sempat merasa ragu dan Tidak percaya diri. Tapi, Hari ini, Melihat kecemasan dan Sedikit ketakutan, Di wajah, Sang Mama Dan Juga, Melihat ketidak berdayaan dan Frustasi, Suaminya. Membuat, Dina, Yakin dan Memiliki kepercayaan diri yang amat tinggi.


Dina dan Diyan, Telah bersiap dengan pakaian formal. Dina, Memakai kemeja putih dan Blazer Abu-Abu, Di padu, Rok span sebatas, Di bawa lutut dan Sepatu berwarna hitam, Juga tas tangan branded berwarna putih. Diyan, Memakai kemeja biru tua Navy, Di padu, Setelan jas hitam, dan Sepatu fantofel, Juga jam tangan mahalnya. Dina, Terlihat cantik, Dan Diyan, Terlihat tampan, Keduanya terlihat sangat serasi.


Dina, Berdiri, Di samping mobil. Mata Abu-abunya, Melirik takjub sekitarnya yang terlihat bersih, Rapi, Mewah dan Megah. Sampai akhirnya, Tatapan matanya berhenti pada tulisan besar yang sangat jauh, Di atas. Tapi, Masih mampu, Dina, Membawanya, Di dalam hatinya.


" Grup D Prabowo "


" Dina, Ayo, Kita masuk " Terdengar suara lembut, Diyan. Dina, Mengalihkan perhatiannya, Menatap wajah tampan, Suaminya yang memberikan tangan pada, Dirinya.


" Iya, Mas " Ucap Dina, Sambil menerima tangan dingin dan Besar, Diyan, Di genggam erat dalam gandengan tangan lembutnya.


Dina dan Diyan, Melangkah bersama memasukinya pintu utama perusahaan yang begitu besar dan Megah. Bahkan, Dina, Semakin merasa takjub, Melihat banyaknya karyawan yang berbaris, Di Kanan dan Kiri, Menyabut kedatangannya. Sedangkan, Diyan, Hanya memperlihatkan wajah datar, Tatapannya yang tajam dan Dingin. Menatap satu orang Pria, Yang terlihat hampir seumuran dengan, Papanya. Berdiri dengan setelan biru gelap, Dan tersenyum senang, Menatap, Dirinya dan Istrinya.

__ADS_1


" Tuan Diyan dan Nona Dina, Selamat datang! " Serunya, Dengan rasa hormat. Dina, Merasa tidak enak hati, Melihat cara penghormatan, Pria yang seumuran, Papa nya, Menunduk kepala.


" Perkenalkan... Nama, Saya, Yusuf Ridwansyah. Saya, Teman dan Sekaligus, Asisten pribadi, Papa, Mu, Endra " Ucap Tuan Yusuf, Sembari mengulurkan tangannya dengan hormat pada, Diyan.


" Senang bisa mengenal, Mu, Paman " Kata Diyan tersenyum kecil, Sambil memeluk, Tuan Yusuf, Dengan perasaan gembira.


Tuan Yusuf, Merasa terharu, Mendengar, Diyan, Memanggilnya, Paman dan Terasa sayang Pada, Dirinya.


" Paman... Kira, Kamu tidak akan mengingat, Paman, Yan " Suara yang tadinya, Penuh dengan rasa hormat. Berubah, Dengan suara penuh kelembutan dan ketulusan. Tuan Yusuf, Merasa amat sangat bahagia, Diyan, Masih mengenal siapa Dirinya?


" Tentu saja, Aku, Masih mengingat, Paman. Teman kecil, Diyan " Bisik Diyan, Di Indra pendengaran, Tuan Yusuf.


" Kamu, Dari dulu tidak berubah ternyata " Tuan Yusuf tertawa, Sambil mengusap air mata keharuannya.


" Paman, Sangat bahagia... Bisa melihat, Dirimu yang sudah dewasa seperti ini, Seperti Papa, Mu "


Perkataan Tuan Yusuf, Menghilangkan Senyuman, Di wajah tampan, Diyan. Sedikit kesal dan Tidak senang. Namun, Diyan tidak bisa memungkirinya, Dirinya, Memang lebih mirip, Endra dari pada, Zaskia. Sehingga, Hampir semua sifat, Papanya, Ada pada, Dirinya.


" Dina, Kamu tidak melupakan, Paman kan? " Tanya Tuan Yusuf. Dina, Yang diam dan Tersenyum saja, Memperhatikan interaksi, Diyan dan Tuan Yusuf. Seketika, Tertegun dan Tersenyum merekah.


" Aku, Tidak akan pernah bisa melupakan, Paman. Paman adalah penyelamat dan Pahlawan, Ku! " Ujar Dina bergembira, Dan ingin memeluk, Tuan Yusuf. Tapi, Terhalang, Oleh tangan besar yang menahan, Dirinya, Sulit untuknya bergerak.


" Mas, Lepas! " Bisik Dina kesal pada, Suaminya. Diyan, Melingkar tangan kanannya, Di pinggang ramping, Istrinya, Dengan Posesif. Tuan Yusuf, Tertawa lucu, Melihat tingkah dua anak kecil yang dulu selalu mengajaknya bermain. Kini, Sudah sangat dewasa dan Bertingkah mesra, Di hadapannya.


" Sudah, Sudah, Sudah. Lebih baik, Ikut, Paman dan Melihat, Apa kalian bisa melakukannya atau tidak? " Perkataan Tuan Yusuf, Menengahi dan Juga, Menantang, Dina dan Diyan.


Dina, Berhenti memberontak dalam jeratan, Suaminya. Diyan, kembali pada wajah datarnya, Merasa, Istrinya, Tidak bertingkah. Tapi, Kedua pasang mata, Dina dan Diyan, Saling menatap. Kemudian, Mengalihkan tatapan mata, Mereka pada punggung belakang, Tuan Yusuf yang sudah melangkah terlebih dulu.


" Kami, Pasti bisa! " Hardik Dina dan Diyan, Dengan Yakin, Tegas dan Penuh Percaya diri.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2