
Dalam kegelapan yang hampa. Dina, berlari tanpa arah, mencari teriakan dan tangisan bayi yang entah ada di mana. Hingga, Dina terjatuh. Membuatnya semakin menangis pedih. Menatap kedepan dengan harapan. Tidak peduli akan rasa sakit yang di rasakannya.
Dina, Kembali bangkit. Bangun dari rasa sakitnya, dan kembali berlari dengan terus berharap menemukan tangisan bayinya itu. Sampai pada titik keputus asaannya. Dina, Bersujud, Kepala tertunduk dan menangis dengan keras. Menangis tanpa suara, Seakan suaranya hilang di dalam ruang kosong yang hampa. Selain suara bayi yang menangis terus menerus. Seakan memanggil-manggil, Dirinya.
Secercah sinar muncul. Menyetuh dan menyapa, Dina dengan kehangatan. Dina, Terkejut dan lega, Memiliki harapan akan keberadaan, Bayinya. Tapi, Di detik itu juga, Dina, Merasa bingung. Kala melihat... dari sinar putih yang terang itu, Muncul sepasang manusia berpakaian putih seperti, Dirinya. Hanya saja, Sepasang manusia itu, Tengah tersenyum dan berjalan mendekatinya.
" Nak, Bangunlah " Kata Seorang Pria yang tidak begitu Tua. Dina, Bisa melihat. Kedua orang di hadapannya itu, Orang Tua. Tapi, Kenapa? Siapa, Mereka? Apa yang, Mereka lakukan di sini? Pikir Dina dalam kebisuannya.
Wanita yang tidak begitu Tua dan Masih nampak cantik dan menawan itu. Mendekati, Dina dan membantunya untuk berdiri. " Sayang... Seharusnya, Kamu tidak ada di sini. Pergilah dari sini, Sebelum Dia membawah, Mu pergi "
Dina, Tak mampu berkata. Hanya diam, dan memperlihatkan kebingungan menatap kedua manusia yang begitu hangat padanya.
" Kami, Adalah Orang Tua, Mu, Nak " Ucap Pria itu, Yang seakan mengerti kebingungan, Dina.
__ADS_1
Dina, Terkejut. Sangat terkejut mendengarnya. Ingin berkata, Tapi tak bisa.
" Maafkan, Mama dan Papa, Mu yang tidak ada bersama, Mu selama ini, Sayang. Suatu kejadian mengharuskan, Kami meninggal, Mu... " Wanita itu, Menangis sambil berucap.
" Pergilah. Tinggalkan tempat ini. Ada seseorang yang selalu menantikan hadir, Mu, Nak... Dan maafkan, Papa yang tidak bisa menjaga, Mu. Jadi, Biarkanlah bayi, Mu. Kami, Yang akan menjaganya di sini " Ujar Pria itu, Merupakan Papa Dina. Dan untuk pertama kalinya, Dina, Dapat melihat seperti apa wajah Orang Tua Kandungnya, yang sangat di rindukannya dalam kekecewaan dan amarah. Karena, Tidak ada bersamanya begitu lama. Tapi, Kini, Dina, Sadari. Kerinduannya lebih besar... dan Dia, Memaafkan kedua orang Tuanya, yang ternyata telah tiada.
Dina, Ingin bertanya. Apakah, Dia punya Saudara atau Seorang Kakek Dan Nenek? Ada di mana, Mereka? Apa, Mereka tidak mencari, Dirinya? Atau mungkin tidak mengetahui kehadirannya? Tapi, Entah kenapa Dina, Tidak bisa berbicara. Lidahnya terasa sangat berat. Dengan bibir yang tertutup rapat. Membuat, Dina, Menyadari dan sekitika itu, Pula. Dina, Kembali menangis. Menangis tanpa suara, Hanya dengan air mata yang mengalir dengan deras dari kelopak mata indahnya. Kedua, Orang Tuanya, tersenyum dan memeluk, Dina dengan erat.
" Aku, Juga merindukan, Mama dan Papa. Maafkan, Aku yang selama ini, Selalu membenci kalian. Maaf... " Balas Dina, Dalam hatinya. Dengan mengeratkan pelukan pada, Ke dua Orang Tuanya. Merasakan itu, Papa dan Mama Dina, Tersenyum bahagia.
" Sekarang, Pergilah... Kami, Menyayangi, Mu " Ucap Mama Dina, Tersenyum. Dina, Menatap wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya. Sembari berjalan mundur mendekati Sinar putih, yang seakan menarik, Dirinya itu.
Ingin rasanya, Dia tetap ada Di sini. Karena, Dina, Baru saja bertemu Orang Tua Kandungnya. Dan Dina, Dapat melihat wajah bayinya. Tubuh Bayinya begitu sangat kecil, Sangat-sangat kecil dan entah sejak kapan berada dalam dekapan, Mamanya itu. Dina, Semakin ingin tetap tinggal di sini. Tetapi...
__ADS_1
" Dina "
" Kembalilah... "
" Dina, Aku mencintai, Mu. Selalu dan Selamanya "
" Ku, Mohon jangan tinggalkan, Aku "
Suara itu, Memdambakan hadirnya. Dina, Sadar. Dia, Tidak akan egois. Ada, Diyan yang masih menginginkannya. Pria, yang sangat mencintai dan bisa melalukan apa saja untuk, Dirinya. Pria, yang juga merasa kehilangan, Seperti yang di rasakannya. Mungkin, Lebih meraka sakitnya melebih yang di rasakannya. Dengan berat hati, Dina, Berbalik badan dan berlari bersama sinar putih yang membawa, Dirinya dalam kehangatan. Dengan tidak lagi merasakan sakit akan kehilangan. Tapi, Kerinduan yang akan selalu tersimpang dalam relung hatinya yang terdalam.
Hingga, Dina, Berkata dalam hatinya dengan lirik, Bersamaan dengan air matanya yang jatuh untuk terakhir kalinya. " Diyan... Aku, Akan kembali... Maafkan, Aku untuk semuanya... "
...Bersambung...
__ADS_1