
" Mas, Aku mau ke toilet sebentar " Kata Dina, Berbisik, Di telinga, Suaminya.
Diyan, mengaguk kepalanya dan mengijinkan, Dina pergi. Dina, mengotak-atik ponselnya dan kemudian, Meletakkan, Di atas meja. Sesudahnya, Dina pun pergi, meninggalkan, Diyan dan Raditya, Di meja makan.
Raditya, Menatap kepergian, Dina hingga hilang dari pandangan mata coklat kehitamannya. Namun, Raditya tidak menyadari, Sepasang mata sehitam langit malam. Menatapnya dengan tidak suka, tajam dan dingin, Mengunus penuh padanya.
" Raditya! " Hardik Diyan. Mengagetkan, Temannya itu, Yang seketika, Mata coklat kehitaman itu, teralihkan pada, Diyan.
" Ada apa, Kamu terus menatap, Istriku? Apa, Besok, Kamu tidak ingin melihat matahari terbit?! " Tanya Diyan penuh aura dingin dan gelap, Di sekitarnya. Menegaskan, Dina, Istrinya pada, Temannya itu, Dengan posesif. Raditya, Merinding, Merasakan aura, Diyan yang sangat jarang, Di rasakannya.
" Yan... Aku... Aku, Hanya memastikan, Kak Dina sudah pergi jauh dari, Kita. Itu saja dan Tidak lebih, Karena ada yang ingin, Aku bicarakan pada, Mu " Jelas Raditya cepat dan sedikit ketakutan.
" Membicarakan mengenai apa? Dan Kenapa, Istriku, Tidak boleh tahu? " Tukas Diyan, Penuh tanya, bingung dan curiga. Menatap, ekspresi bersalah, Di wajah, Temannya itu. Sehingga, Auranya hilang, Di bawa angin dalam ketenangan, Di restoran.
" emm Itu... Kejadian kemarin malam... Aku, Ingin membantu, Firna bersatu dengan, Mu. Tapi, Aku tidak percaya, Jika... Dia berencana melakukan hal yang Mala terjadi pada, Ku "
Raditya, Sedikit menunduk kepalanya, Merasa sangat bersalah pada, Diyan, Firna dan merasa marah pada, Dirinya sendiri. Diyan, Hanya diam, Menatap bingung dan belum mengerti maksud, Raditya.
" Kamu, Ingat... Segelas jus jeruk yang, Aku berikan pada, Mu? " Tanya Raditya.
" Iya, Aku ingat. Apa ada sesuatu, Di dalamnya? " Tanya Diyan curiga, Dengan jantung yang tiba saja berdebar. Seakan menebak sesuatu yang tiba saja muncul dalam pikirannya.
" Saat itu, Aku belum tahu. Apakah ada sesuatu, Di dalam campuran jus jeruk itu, Atau bukan? Firna, meminta, Ku memberikan pada, Mu. Jadi, Aku memberikannya, Tanpa menanyakan apa pun pada, Firna dan... Aku baru menyadarinya... Ketika, Aku yang datang menemui, Firna, Di lobi laboratoriun, Yan... " Raditya, Menjeda sebentar penjelasannya. Menghirup udara untuk kembali memenuhi paru-paru yang terasa sesak. Mengingat apa yang telah, Dirinya dan Firna lakukan kemarin malam.
__ADS_1
" Jus jeruk yang, Firna, Sediakan kemarin malam itu, Ada dua gelas. Satu untuk, Mu dan Kamu, Menjatuhkannya, Yan... Satu lagi, Firna meminumnya... Aku dan Firna, Melakukan hubungan, Di luar akal sehat, Ku, Yan. Hubungan itu... Terjadi begitu saja. Firna... Dia... Aku, Tidak bisa menahan dan pada akhirnya, Aku melakukan dengan, Firna " Lirik Raditya sedih. Diyan, Terkejut mendengarnya, Tidak percaya. Jika, Dugaannya ternyata benar nyata adanya, Di pikirannya.
" Sudah, Ku duga! Untung saja, Malam itu, Aku pergi dari acara pesta, Dengan membawa, Riana pulang. Tapi... " Diyan, Berucap, Di dalam hatinya.
Raditya, Menjelaskan kejadian kemarin malam, Dengan rinci dan merasa frustasi. Memikirkan, Firna yang kehilangan keperawanannya, Akibat kejadian kemarin malam. Dirinya, ingin sekali bertanggung jawab terhadap, Firna. Namun, Firna, Tidak menginginkan, Dirinya maupun Cintanya. Firna, Bahkan memarahinya dan membencinya, Ketika terbangun pagi tadi. Firna, Sangat mencintai dan terobsesi pada, Diyan. Sehingga, Sangat tidak menginginkan, Raditya.
Kenyataan itu, sangat melukai dan menyakiti hati, Raditya. Hingga, Saat ini, Raditya menangis pedih, Di hadapan, Diyan. Dengan Tubuhnya yang gemetar, Kepala yang tertunduk lemah, Di sisi meja. Diyan, melihat sisi lemah, seorang Raditya yang selalu tersenyum bangga dan penuh percaya diri. Hanya Karena, Seorang Wanita, Firna, Yang tidak menginginkan Cinta maupun, Dirinya.
" Maaf, Yan... Jika, Saja... Saat itu, Kamu tidak memilih pergi. Aku, Pasti akan semakin merasa bersalah pada, Mu dan Kak Dina, Istrimu. Aku, Sangat, Sangat minta maaf pada, Mu, Yan " Ujar Raditya, dengan menyatukan jemari dan tapak tangannya menjadi satu, Bertautan, Di sela Jemarinya. Memohon maaf pada, Diyan dengan tulus dan rasa bersalahnya yang amat besar.
" Dit... Mungkin, Aku akan sangat kecewa dan membenci, Mu. Kalau, Kejadian yang terjadi pada, Mu, Terjadi pada, Ku, Kemarin malam. Tapi, Hal itu, Tidak terjadi pada, Ku. Jadi... Aku, Tidak akan menyalahkan, Mu dan Aku, pasti akan memaafkan, Mu. Dengan apa yang sudah terjadi. Tapi, Sebagai teman, Mu, Aku akan memberikan, Mu satu nasehat! Datangi orang tua, Firna dengan lamaran. Aku, Yakin! Orang Tua, Firna akan langsung menerima, Mu " Jelas Diyan, Sambil berdiri dari duduknya dan berdiri, Di belakang, Raditya. Dengan memegang kedua sisi pundak tegap, Temannya itu, Memberikan dukungan.
" Melamar, Firna?! " Seru Raditya terkejut, Mendengar penjelasan terakhir, Diyan. Suatu hal, Yang belum sempat terpikir olehnya. Di karenakan, Raditya, Terlalu memikirkan dan Rasa bersalahnya pada, Firna, Yang sekarang dan tidak tahu sampai kapan membenci, Dirinya? Raditya, Merasa takut, Firna, Akan menjauhinya dan meninggalkannya.
Diyan, Tidak menyadari, Kaum Wanita, Terpesona dengan senyumannya. Kaum Wanita, Yang ada, Di sekitar, Diyan. Berbisik-bisik, Sambil menatap, Diyan dengan senyuman manis dan malu-malu, Di wajah mereka. Namun, Ada satu Wanita, Yang merasa kesal. Melihat tatapan kaum Wanita, tertuju pada pesona ketampanan, Diyan.
" Mas Diyan! " Teriakkan Dina penuh kekesalan dan tidak suka, Dalam hatinya. Dengan langkah cepat, Dina berjalan menuju, Suaminya itu, Yang belum menyadari, Tatapan kagum kaum Wanita.
" Kamu, Tidak perlu menangis, Raditya. Wajah, Mu sangat jelek dan tidak sedap untuk, Di pandang seorang Wanita mana pun " Kata Diyan meledek, Raditya.
Diyan, Menghibur temannya itu, Dengan candaannya. Raditya, Tersenyum kecil, Mendengar perkataan, Diyan yang terdengar garing, Menggelitik indra pendengarannya dan menghangatkan hatinya. Mampu mengurangi kesedihannya, Dan sedikit kelegaan. Serta keyakinan, dan Dukungan, Yang Diyan berikan. Raditya, merasa beruntung dan bersyukur, Diyan ada dan mendukung, Dirinya juga telah mau memaafkannya.
" Yan... Aku, Janji. Jika, Apa pun yang terjadi? Terutama berhubungan dengan, Firna... Aku, Akan langsung memberitahukannya pada, Mu. Agar, Kejadian kemarin, Tidak terulang lagi untuk kedua kalinya. Janji! " Perkataan, Raditya, bukan hanya, Diyan yang mendengarnya. Tapi, Juga, Dina yang sudah tepat berdiri, Di belakang, Diyan.
__ADS_1
" Oh... Seperti yang sudah, Aku duga! Untungnya... Sebelum, Aku ke toilet. Aku, Sudah menyetel rekaman, Di dalam ponsel. Jadi! Aku, Bisa mendengarkan semua pembicaraan, Mas Diyan dan Raditya, Yang sebelumnya! " Dalam Hati, Dina.
" Mas Diyan " Panggil Dina lembut. Bersikap, Biasa saja, Dengan kembali duduk, Di kursinya.
" Duduk, Mas! " Pinta Dina dengan nada manja. Seakan, Mengatakan pada, Kaum Wanita, Di sekitarnya. Pria yang, Di tatap oleh, Mereka, Adalah miliknya, Suaminya.
Walau, Diyan terkejut, Karena melihat, Dina yang tiba-tiba sudah kembali datang padanya. Namun, Diyan dengan cepat menuruti perintah, Istri tercintanya itu. Dina, Langsung bergelayut manja, Di lengan panjang dan kekar, Suaminya, Sesudah menyimpan Ponselnya dalam tas tangannya. Wanita yang ada, Di sekitar, Dina dan Diyan, Merasa iri dan tidak senang. Karena, Sempat mengira, Diyan, Pria Singel, Yang belum memilih kekasih. Tapi, Ternyata sudah menikah, Memiliki seorang Wanita cantik, yang sudah menjadi Istrinya.
Raditya, Tersenyum melihat tingkah laku, Dina terhadap, Diyan Yang dapat, Dilihatnya, Dengan jelas. Dina dan Diyan, Saling mencintai satu sama lain, Cinta amat besar. Raditya, Berharap dan bermimpi, Suatu hari, Firna mau dengannya dan membalas rasa cintanya yang sudah membelenggu hatinya, Sejak lama.
" O... Iya, Dit. Aku, Hampir lupa. Kamu, Punya nomor, Riana, Enggak? Istriku, Ada perlu dengannya. Sebelum besok, Aku dan Istriku, Akan kembali pulang ke Jakarta " Kata Diyan dengan mengalihkan tatapannya dari, Dina kepada, Raditya yang tersenyum dengan tatapan kosong.
Dina, tersedak lidahnya dan terbatuk-batuk, Mendengar Perkataan, Suaminya. Tapi, Menyadarkan, Raditya dari lamunannya dalam sebuah harapan dan mimpinya, Yang tidak tahu menjadi nyata atau tidak. Terhadap, Firna, Wanita tercintanya, Raditya.
" Uda, Mas. Tidak usah, Lain kali saja. Aku, Enggak mood, Bertemu dengannya " Ketus Dina, Sesudah meneguk air yang ada, Di atas meja, Di hadapannya dengan cepat.
" Yakin...? Tidak usah? " Tanya Diyan, Dengan tawa kecilnya, Menertawai dan memperlihatkan wajahnya yang terasa menyebalkan bagi, Dina.
" Diam atau... Hukumannya, Mas Jalani sendiri " Bisik Dina, Di telinga, Diyan. Seketika, Tubuh, Diyan kaku membeku, Mendengar bisikan, Istrinya yang seakan menyihirnya menjadi patung.
" Ni, Yan. Aku, Sudah menemukan nomor, Riana. Kamu, Bisa langsung menyalinnya, Di ponsel, Mu " Ucap Raditya, sambil memberikan ponselnya pada, Diyan. Namun, Di tanggapi dengan dua pasang mata yang mengunus tajam pada, Dirinya. Raditya, Ciut dan dengan kikuk, Kembali menyimpan Ponselnya dalam saku celananya.
...Bersambung...
__ADS_1