
Langit biru dan Awan putih, Terlihat cerah, Di Angkasa. Dina, ingin meninggalkan Mall, Sesudah berpisah dengan kedua Sahabatnya. Namun, Langkah terhenti, Di tangga. Ketika, Teringat kenangan manis, Pertemuannya dengan Wanita Tua yang tidak tahu, Bagaimana kabarnya?
Dina, Berencana pergi ke rumah, Wanita tua yang di panggil, Nenek Olehnya. Tapi, Di saat, Dia berada dalam mobil. Tiba saja, Ponselnya berdering dan tidak butuh Waktu lama. Dina, Langsung mengakat telepon yang ternyata dari, Suaminya.
" Halo, Mas "
" Kamu, Ada dimana, Dina? Aku, Datang ke perusahaan dan ingin menjemput, Mu pulang. Tapi, Kamu enggak ada " Terdengar suara lembut, Diyan, Di seberang telpon. Menyapa Indra pendengaran, Dina, Yang terasa menghangatkan hatinya.
" Aku, Hanya ingin bertemu dengan, Kedua Sahabat, Ku. Dan Sekarang, Aku akan datang pada, Mu, Mas! " Jawab Dina kegirangan.
" Bertemu, Di mana?! Kamu, Tidak ketempat yang jelek itu, Kan?! " Ketus Diyan.
" Tidak, Mas! Hanya bertemu, Di Mall kok. Tidak ketempat yang lain! " Jawab Dina cepat.
" Baguslah. Sekarang segeralah kembali, Aku menantikan, Mu, Istriku " Bisikan manis, Diyan, Utarakan pada, Dina. Sehingga, Menciptakan semu merah, Di pipi, Dina.
" Aku, Segera kembali, Mas... "
Tut. Sambungan telpon langsung, Dina, Putuskan. Sebelum, Terdengar lagi kata manis, Suaminya, Yang bisa saja membuat jantungnya berdebar kencang dan mungkin, juga bisa membuatnya mabuk kepayang dengan tersenyum dalam mabuk asmara. Karena itulah, Dina, Memutuskan telponnya dan menghentikannya.
Kemudian, Dia, Pun menyala mobil dan Melajukannya, Membela jalan kota. Hanya karena, Satu telpon dari, Diyan, Suaminya. Dina, Melupakan rencananya yang ingin pergi ke rumah, Wanita tua, Yang di panggil, Nenek olehnya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Hanya beberapa menit saja. Dina, Sudah sampai, Di perusahaannya. Dia, pun menghentikan dan memarkirkan mobilnya, Di parkiran mobil Perusahaanya. Kemudian, Dia berlari keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa, Dirinya, Bertemu kembali dengan, Suaminya.
Dengan tidak sabaran dalam perasaan bahagia. Dina, Berlari, Keluar dari lift. Ketika, pintu besi itu, Terbelah dan terbuka lebar. Dina, Bagaikan anak kecil yang merindukan dan ingin bertemu secepatnya dengan, Ayahnya. Terus berlari menatap pintu yang seakan memanggil, Dirinya. Senyuman lebar tercipta, Di wajah cantiknya yang terlihat menggemaskan. Ketika, Tangan lembutnya, Berhasil dan dengan cepat membuka pintu. Terlihatlah punggung tegak seorang Pria, Berdiri menghadap dinding kaca dan Membelakanginya. Seakan telah menunggu kedatangannya.
Tanpa kata, Dina, Langsung bertindak. Memeluk tubuh tegak itu, Yang di yakini adalah, Suaminya. Namun, Tiba saja, Suara dingin menusuk Indra pendengarannya, yang bagaikan alarm yang mengingatkannya untuk segera menjauh dari, Pria itu.
" Dina, Kamu ternyata tidak pernah berubah. Selalu saja ceroboh "
Bahkan, Aroma parfum yang tidak sama dengan yang biasanya, Suaminya kenankan. Menimbulkan perasaan terkejut, Khawatir dan takut, Di hatinya. Perlahan, Dina, Merenggangkan kedua tangannya yang tadinya, melingkar dan Memeluk erat pinggang kuat, Pria, Di hadapannya.
Hingga terlepas dan Tidak lagi memeluk tubuh kekar Pria itu. Kakinya melangkah lambat dan Berat, Kebelakang, sampai akhirnya tubuhnya bersandar pada, Pintu dan menghentikan langkahnya. Dina, Terkejut, Menatap, Pria, yang berbalik badan dan menatap, Dirinya, Dengan senyuman sinis, Di wajah tampan itu.
" Hai, Dina. Kita, Akhirnya bertemu lagi dan Suatu keberuntungan... Aku, mengetahui... Kamu, Putri Angkat, Tuan Endra dan sekaligus Menantunya! " Hardik Tuan Andika dingin.
" Kamu, Pasti terkejut dan bertanya-tanya kan? Bagaimana, Aku bisa ada, Di sini? Dan Bagaimana, Aku tahu tentang, Diri, Mu? " Cecar Tuan Andika, Sambil melangkah pelan mendekati, Dina. Dengan, Satu tangan kanannya masuk ke dalam saku celananya.
" Aku, Sebenarnya juga terkejut. Mengetahui, Kamu adalah Putri, Tuan Endra dan Itu pun, Bukan kandung. Bahkan, Kamu telah memiliki status yang lebih luar biasa lagi! Yang tadinya menjadi Anak angkat dan kemudian, Berganti menjadi Menantu dan Istri, Diyan Endra Prabowo yang merupakan seorang Dokter terkenal, Di ibu Kota! Hidup, Mu, Terdengar dan terlihat indah, serba kemewahan dan kebahagiaan, Ya? Aku, Sangat iri tahu? Dan Aku, Berharap bisa menggantikan posisi, Mu sekarang! Tapi, Melihat, Mu! Aku, Jadi sedikit tidak berminat. Tapi, Aku juga tidak bisa menjaminnya. Mungkin saja, Suatu saat nanti, Aku berubah pikiran dan ingin merebut apa pun yang menjadi milik, Mu hari ini! Seperti, Dulu Mungkin. Pasti, Kamu tidak melupakan kenangan yang sangat menyenangkan pada malam itu kan? " Kalimat Tuan Andika, Berupa ejekan, Sindiran, Kemarahan, Dan Kebencian, Di balik wajah Dinginnya dan Tatapan mata hitamnya yang tajam itu.
Perkataan itu, Sangat menusuk, Dina. Seakan mampu menghentikan Debaran jantungnya. Bahkan, Udara sekitarnya terasa menipis, membuatnya sulit bernapas dengan tidak mudah. Dina, merasa terkejut, Panik dan Takut. Namun, Dina, Tetap Tidak mengatakan dan melakukan apa pun. Hanya diam, Dengan kepala yang tertunduk lemah, Bagaikan budak yang tidak berdaya. Tuan Andika, menyeringai yang hampir menyerupai serigala yang siap menerkam mangsanya. Melihat, Ketidak berdayaan, Dina, Di hadapannya, Membuatnya puas, dan bahagia.
" Hei, Kamu harus menatap, Ku! " Tukas Tuan Andika dingin dan tajam. Sembari, Jari telunjuknya yang panjang itu, menyentuh dagu dan mengakat wajah cantik, Dina, yang tersirat ketakutan dengan Menatapnya.
__ADS_1
" Wajah, Mu tetap cantik. Sayangnya... Kamu, Sudah bukan selera, Ku lagi. Mungkin, Jika Status, Mu hanya menjadi Putri angkat, Tuan Endra Prabowo. Aku, Pasti sudah ingin mengulang masa lalu, Kita yang menyenangkan itu " Jelas Tuan Andika, Sarkastik.
" Ha... Sekarang, Kamu menjauhlah dari hadapan, Ku! Rasanya, Aku ingin muntah saja " Ketus Tuan Andika, Sambil tangan kekarnya menyingkirkan, Dina, Dari hadapannya dengan kasar. Sehingga, Dina, Terjatuh, Di lantai dan Dia, Pun meringis kesakitan, Karena siku tangan kirinya, Terpukul ke lantai yang keras itu.
Tuan Andika, Berlalu pergi, Meninggalkan dan tidak memperdulikan, Dina, Yang kesakitan atas perlakuannya yang kasar. Pintu, Tertutup begitu saja, Secara otomatis. Dina, Bersedih, Menatap pintu yang telah tertutup rapat. Dia, memcoba berdiri dengan rasa sakit, Di siku tangan kirinya. Dina, Berdiri, Menatap, Kursi hitam dan meja yang ada ukiran namanya, Di tengahnya, Di atas meja berlapis kaca putih itu. CEO, Dina Zaskia Prabowo.
Kristal es yang tadinya, Bersembunyi, Di dalam kelopak mata indahnya itu. Mencair, terjun dan membasahi wajah cantiknya. Air mata, Tidak mampu terbendung, Perasaan hati, Dina, begitu takut, dan Terluka. Mengingat semua perkataan, Tuan Andika, Yang terus saja terngiang-ngiang, Di ingatan dan Indra pendengarannya.
" Apa maksud perkataannya...? Kenapa... Kenapa, Aku harus bertemu dengannya lagi?! Apakah sulit membiarkan, Ku, Hidup dengan kebahagiaan yang, Saat ini, Aku rasakan?! " Lirik Dina, menatap langit biru cerah, Di Angkasa. Seakan bertanya pada, Alam dan Tuhannya, Yang tidak hentinya memberikannya rasa sakit, Di tengah kebahagiaannya.
Namun, Setiap perkataan dan pertanyaan yang, Di utarakan, Dina. Tidak ada satu pun yang terjawabkan. Kenangan lama yang telah hilang, Teringat dalam ingatan. Dina, merasa putus asa, Hingga terdengar suara pintu yang terbuka, Bersamaan dengan suara, Pria yang tidak lain adalah, Diyan, Suaminya.
" Dina, Ternyata, Kamu sudah, Di sini. Maaf, Tadi, Aku bersama, Paman Yusuf, Di dalam ruangannya. Menjelaskan banyak hal yang sudah, Aku ketahui Kemarin malam dan... Kamu, Pasti sudah lama menunggu, Ku... " Jelas Diyan lembut, Mendekati, Istrinya.
Dina, Dengan cepat menghapus air matanya dan menstabilkan, Perasaannya dan Sikapnya. Berusaha terlihat tidak apa-apa dan Biasa saja. Diyan, memeluk tubuh mungil, Istrinya, Dari belakang. Meletakkan dagunya, Di pundak, Dina.
Perasaan, Dina, Sedikit merasa tenang dan nyaman. Mendapatkan pelukan hangat dari seorang Pria, yang berarti dalam hidupnya. Suaminya, Diyan, Selalu ada untuknya dan Apa yang perlu, Dirinya takutkan? Dina, Menciptakan Senyuman, Di wajah cantiknya itu. Tidak ada yang perlu, Dina, Takutkan dan Khawatirkan.
Dina, melepaskan kedua tangan kekar, Suaminya yang hangat dalam sentuhannya. Melepaskan pelukan, Diyan, yang memeluk erat, Dirinya. Dina, Berbalik badan dan Memeluk erat, Tubuh besar Suaminya yang mampu menyembunyikan dan menenangkan, Dengan memberikan rasa kenyamanan, Cinta dan Kasih sayang padanya. Itulah yang selalu, Dina, Rasakan, Setiap kali, Diyan, Memeluknya dengan erat dalam kehangatan yang selalu membuat debaran jantungnya berdebar kencang dan Perasaan Cinta keduanya semakin membesar, Di setiap Waktu bersama.
...Bersambung...
__ADS_1