Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Mall


__ADS_3

Langit biru laut, dan Awan putih, Terlihat cerah dan Indah, Di angkasa. Di tambah panasnya matahari, Siang ini, Menemani keributan, Di jalan raya, Di Ibu Kota. Para pengendara bermotor, Mobil dan bersepeda, Hampir memenuhi jalan raya. Anak sekolah berpulang dan berjalan, Di pinggir jalan. Namun, Ada juga Anak sekolah yang lebih memilih nongkrong bersama teman-temannya, Di Kafe, Restoran, Mall, Dan lainnya.


Tapi, Tidak dengan Anak sekolah yang satu ini. Wanita, dengan memakai seragam sekolahnya yang berwarna putih dan Abu-abu itu, Merupakan Anak SMA. Duduk, Di tangga Mall, Sambil mata hitamnya, Menatap jalan raya yang amat padat dan Pengendara yang berlalu lalang, Di hadapannya.


" Kenapa, Kak Dika lama sekali si?! Dia, Selalu saja terlambat dan membuat, Aku, Sering menunggunya! Apa? Kak Dika, Enggak mikir apa? Aku, Kepanasan, Haus dan... Lapar " Keluhnya dengan kekesalan pada, Sang Kakak yang, Di nantikan, Tidak kunjung datang.


Marissa, Yang tengah menuruni tangga, Sambil membawa beberapa parper bag kecil, Di tangannya. Tidak sengaja mendengar perkataan terakhir, Wanita SMA itu. Hati nuraninya ingin membantu. Namun, Dirinya, Berpikir, Adik ini pasti akan menolak bantuannya, Karena, Dirinya dan Adik itu, adalah orang Asing.


" Lebih baik, Aku, Coba saja " Ucap Marissa, Di dalam hati kecilnya, Yang merasa kasihan melihat wajah imut yang terlihat berkeringat dan kelelahan itu.


" Dik, Kamu mau ikut, Kakak? " Tanya Marissa, Sambil berdiri, Di hadapan, Wanita SMA itu. Sehingga, Sinar panasnya matahari tidak lagi mengenai, Wanita SMA itu, Karena terlindungi dengan tubuh kecil, Marissa.


Wanita SMA itu, Menatap wajah cantik menawan, Marissa, Yang bagaikan Peri, Di hadapannya. Peri pelindung dan penyelamatnya, Membuat, Wajahnya yang kelelahan menjadi bersemangat dengan senyuman merekah tercipta, Di wajah imutnya itu.


" Kenapa, Adik ini, Diam saja? Apa, Dia takut pada, Ku? Emm... Mungkin saja, Aku, Hanya orang Asing untuknya " Marissa, Berkata dalam hatinya. Menatap, Wajah imut yang diam menatapnya.


" Kalo, Kamu, Tidak Mau, Kakak Per-- "


" Mau, Kak peri! Sangat Mau! " Seru Wanita SMA itu, Dengan cepat dan lugas, Menyela Perkataan, Marissa.


Marissa, Terkejut mendengar perkataan, Wanita SMA itu, Yang begitu mudah percaya dengan orang yang baru saja, Di kenalnya. Apa, Adik ini tidak takut, Dengan orang Asing yang bisa saja berbuat jahat padanya? Pikir Marissa.


" Ah, Sudahlah. Aku, Kan bukan penjahat! " Gerutu Marissa dalam hatinya. Kesal pada, Dirinya sendiri. Di Karena, Sempat membayangkan, Dirinya, Sebagai penjahat dan Ingin menculik, Wanita SMA yang memiliki wajah imut.


" Baiklah. Ayo ikut, Kakak " Ucap Marissa, Berjalan terlebih dulu dan Wanita SMA itu, Menyusulnya.


Wanita SMA itu, Mengikuti, Marissa masuk kedalam mobilnya yang berwarna merah. Kemudian, Marissa, meletakkan barangnya, Di bangku belakang. Sesudahnya, Marissa, Menyalakan dan melajukan, Mobil merahnya, Membela jalan raya.


" O Iya, Dik. Aku, Belum tahu, Siapa Nama, Mu? " Ucap Marissa, Sekilas menatap wajah Imut yang tengah menatapnya.


" Kak Peri! Nama, Ku, Andira Pratama. Kak Peri, Bisa memanggil, Ku, Dira! " Jawab Wanita SMA itu, Yang bernama, Andira. Marissa, Tertawa kecil, Mendengar, Wanita SMA, Di sampingnya, Memanggilnya "Kak Peri" Terdengar lucu dan Menggelikan, Di Indra pendengarannya.


" Dira... Nama, Kakak, Marissa Permata Pra... " Marissa, Menjeda Perkataannya.


" Kata, Papa... Jangan ada yang tahu indentitas asli, Ku! " Seru Marissa dalam hatinya. Teringat hal yang sudah, Di ingat oleh Endra, Papanya. Merahasiakan identitas aslinya dari siapapun itu.


" Kak Peri, Kenapa? Kok diam? " Tanya Andira.

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Dira, bisa panggil, Kakak, Dengan menyebutkan Nama Kak Rissa saja ya? " Jelas Marissa lembut, Sambil kembali Fokus menatap ke depannya, Mengemudikan mobilnya.


" Kakak, Tidak suka ya... Aku, Memanggil, Kakak, Kak Peri? " Tanya Andira lagi, Dengan wajahnya yang terlihat sedih. Membuat, Marissa tidak nyaman, Di hatinya dan Merasa bersalah.


" Bukan... Kakak, Suka Kok. Kamu, Bisa panggil, Kak Seperti yang, Kamu mau " Jawab Marissa.


" Kak Peri! " Seru Andira, Merasa sangat senang mendengar persetujuan dan bersama, Marissa. Walau, Kebersamaan begitu singkat. Tapi, Andira, Sudah begitu menyukai, Marissa.


Di waktu yang hampir sama. Sesudah kepergian, Marissa dan Andira. Mobil hitam, Berhenti tepat, Di depan Mall. Seorang Pria, keluar dari dalam mobil hitam itu. Mata hitamnya yang tajam, Menatap sekitar tangga Mall.


" Ada, Dimana Dira? Apa bermain dengan teman-temannya? " Cecar Tuan Andika, Khawatir.


Tuan Andika, Mengambil ponselnya dari dalam saku celana kainnya. kemudian, menghubungi, Adiknya yang begitu lama mengakat telponnya.


" Dira, Kamu Dimana? Kakak, Sekarang, Di depan Mall " Kata Tuan Andika. Ketika, Sambungan telponnya sudah, Di angkat, Adiknya. Namun, Suara, Di seberang telepon, Bukanlah suara, Adiknya.


" Maaf, Mas. Aku, Membawa, Dira bersama, Ku. Kami, Akan pergi ke restoran... "


Tuan Andika, Terkejut. Mendengar suara, Wanita lain, Yang bukan suara, Adiknya. Tapi, Setelah, Tahu ada, Di mana adiknya. Tuan Andika, Memutuskan sambungan telponnya dan Kembali masuk ke dalam Mobilnya. Kemudian, Melajukan mobilnya, Menuju tempat yang sudah, Di ketahui, Di mana Restoran yang, Di sebutkan, Wanita lain yang menjawab teleponnya.


" Gita! Lo, Lama banget! Tahu enggak si, Gue bosan menunggu, Lo " Seru Dina, Sambil berdiri dan Memeluk, Sahabatnya itu.


" Sorry, Din. Gue, Ada urusan tadi " Ucap Gita, Tersenyum senang dan balas memeluk, Dina.


" Eh, mana, Mila? Kok, Dia, Enggak sama, Lo, Git? " Tanya Dina. Sesudah melepas pelukan persahabatannya dengan, Gita.


" Gue, Enggak tahu juga. Tadi, Uda, Gue, Hubungi si dan katanya, Bentar lagi sudah sampe. Eh, Rupanya... Gue, duluan yang nyampe " Jelas Gita.


Dina, Dan Gita, Pun duduk berhadapan. Gita, Memanggil pelayan Wanita, Yang tidak jauh darinya. Gita, Memesan Dua gelas Jus, Dengan rasa yang berbeda dan Berupa Makanan kesukaannya dan Kedua Sahabatnya. Setelah, Kepergian, Pelayan Wanita itu. Dina, Menatap serius, Gita, Sedikit ragu mengatakan sesuatu yang sangat ingin meminta bantuan, Sahabatnya itu.


" Din... Lo, Kenapa? Lihatin, Gue, Gitu banget si? Merinding ni, Gue " Kata Gita pada, Dina.


" Eh, Sorry Deh. Gue, Sengaja " Ucap Dina dan Meneguk Jus Alpukatnya lagi.


" Maksud, Lo, Din? Lo, Uda... " Gita, Tidak meneruskan ucapannya. Tapi, Dina, Mengerti maksud, Sahabatnya itu.


" Enggak gitu, Gita. Gue, Butuh bantuan, Lo " Ketus Dina sedikit kesal pada, Sahabatnya itu, Yang berpikir, Dirinya, Telah menyukai sesama jenisnya.

__ADS_1


" Hahahaha Sorry. Gue, Kirain, Lo Uda pindah selera " Gita tertawa, sambil menutup mulutnya. Sehingga, Tidak terlihat isi mulutnya.


" Kalau, Soal begituan... Enggak akan pindah, Gita. Makanya, Lo, Cepat nikah! Atau mau, Gue, Comblangkan sama, Sahabat, Mas Diyan "


Gita, Terdiam. Tawanya, Seketika terhenti, Mendengar perkataan, Dina. Tanpa sadar, Bayangan seorang Pria, Yang beberapa hari lalu, Ketika, Di Bandung bertemu dengannya. Terlintas, Di pikirannya dan Tidak tahu mengapa? Jantung, Gita berdebar kencang mengingat, Pria yang merupakan Putra, Bibi dan Pamannya.


" Git! Gita! Lo, Kok diam? Mikirin apa ni? dan Wajah, Lo, Merah tu. O... Jangan-jangan, Lo, Ada ketemu, Pria idaman, Lo, Ya, Di Bandung? " Cecar Dina, Penuh semangat dan Sangat penasaran. Menatap, Sahabatnya itu, yang terdiam seribu bahasa menatapnya, Dengan wajah yang memerah.


Dina, Tentunya sudah tahu. Gita, Ada di Bandung, Bertemu, Bibi dan Pamannya. Karena, beberapa hari lalu, Mereka teleponan dan membuat, Janji bertemu, Di tempat biasa, Yaitu Mall.


" Dina... Plis deh. Jangan, Gue, Di giniin mulu. Bete tahu! " Ketus Gita kesal bercampur Malu.


" Lebih baik... Lo, Bilang sama, Gue. Apa yang perlu, Gue, Bantu? " Gita dengan pandainya mengalihkan pembicaraan. Dina, Seketika bersikap serius kembali, Menatap wajah, Sahabatnya itu.


" Lo, Kan punya banyak kenalan, Git, dan Gue, Mau, Lo, Cari Wanita yang Bernama Firna Herawati Boediono "


" Emang ada apa dengan, Wanita itu? " Tanya Gita bingung, Menatap wajah, Dina, yang tersirat kemarahan.


" Dia, Ingin merebut, Mas Diyan, Dari, Gue " Jawab Dina penuh penekanan dan Menahan Amarah, Di dalam hatinya yang siap meledak.


" Serius?! Ada, Pelakor yang ingin mengambil, Suami, Lo dari, Lo, Gitu?! " Kata Gita, Terkejut dan Tidak percaya. Karena, Melihat, Diyan yang begitu Dingin dengan orang lain dan Bahkan, Sudah menikah, Dengan Dina, Sahabatnya. Ternyata ada, Wanita lain yang menginginkan, Diyan, Walau sudah memiliki, Istri yang sangat, Di cintai.


" Iya, Gita. Dia, Si Pelakor itu, Adalah Teman satu kuliah dengan, Mas Diyan... " Dina, Pun menceritakan semuanya pada, Sahabatnya itu. Awal pertemuannya pertama kali dengan, Firna, Ketika berada, Di Bandung. Juga, Dina, Tidak lupa, Memberikan hasil rekaman pembicaraannya, Diyan dan Raditya, Kepada, Gita.


Di saat, Gita, Tengah mendengar rekaman suara yang, Dina, Berikan. Mila, Tiba datang dan langsung duduk, Di samping, Gita, Dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Bahkan, Wajahnya berkeringat, Sehingga sedikit menghapus make up, Di wajahnya. Dina dan Gita, Sedikit terkejut akan kehadiran, Mila, Yang tiba-tiba.


" Dari mana aja, Lo, Mil? Kok lama banget si " Kata Dina, sambil memberikan tisu Kering dan Basah, Pada sahabatnya itu.


" Thanks " Ucap Mila, Menerima tisu Kering dan Basah, Di berikan, Dina.


" Gue, Tadi sial banget! Uda kejebak macet, Terus ban mobil, Gue, pecah dan Di tambah lagi, Gue, Harus naik Ojek, Di tengah panasnya matahari! Terus, Ya! Waktu sampai sini, Gue, Di kira Orang gila, Sama orang-orang yang melihat, Gue. Terpaksa deh, Gue, lari-lari! Super sial banget! " Jelas Mila, Panjang kali lebar. Menceritakan penderitanya pada, Kedua Sahabatnya.


Dina dan Gita, Seketika tertawa, Mendengar cerita, Mila. Di tambah melihat wajah, Mila, Yang terlihat jelek, Di karenakan make up-nya Luntur. Suasana yang tadinya, Begitu serius dan tenggang, Sebelum kedatangan, Mila. Berubah menjadi, Suasana, Lucu, menyenangkan dan Harmonis, Karena adanya kehadiran, Mila, Membawakan cerita yang berisikan derita baginya pada hari ini, Yang mala menjadi hiburan bagi, Dina dan Gita. Mila, Cemberut, Menatap kesal kedua sahabatnya yang menertawakan penderitaan yang, Di alaminya.


" Kenapa kalian menertawakan, Gue, Si?! Kualat, Kalian berdua, Ya, Baru tahu rasa! "


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2