Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Tidak semua, Wanita


__ADS_3

Kala langit telah gelap, Di Angkasa. Bintang dan rembulan, Tidak terlihat di atas sana. Seakan bersembunyi sedih, Di balik awan hitam. Dengan angin dinginnya malam yang berembus lembut. Menyapa dan menusuk kulit hingga tulang.


Firna, Memakai masker dan topi hitam. Agar tidak ada yang bisa melihat wajahnya. Dengan jaket tebal berwarna hitam, Mengurangi rasa Dinginnya malam ini. Serta, Celana jeans kesayangannya yang telah Membalut kaki jenjangnya yang panjang itu, Melangkah keluar dari apartemennya.


Namun, Ketika langkah, Firna, Ingin memasuki lift yang kian terbuka. Firna, Menghentikan langkahnya, Di saat sepasang mata coklat terangnya mendelik dengan lebar dan terkejut itu. Melihat dua orang yang sangat di kenal dan di hindarinya, Ada di hadapannya.


" Apa yang mereka lakukan, Di sini? Apa mungkin, Mereka berdua mengetahui keberadaan, Ku? " Ucap Firna, Dalam Hatinya. Bertanya-tanya dan Menduga hal yang membuatnya berkeringat dingin, Dalam perasaan cemas dan khawatir yang membelenggu hatinya.


" Mas, Kita ngapain kesini? Apa ingin bertemu teman, Mu? " Kata Dina sambil menatap, Suaminya itu, Yang berjalan bersamanya, dan menggenggam erat tangannya dengan hangat.


" Kamu, Akan tahu sebentar lagi " Jawab Diyan ambigu. Membuat, Sang istri, Sangat penasaran.


Ya, Kedua orang yang membuat, Firna, menghentikan langkahnya dan berdiri diam yang bagaikan patung itu. Adalah, Karena keberadaan, Dina dan Diyan, Yang tiba-tiba saja muncul, Di hadapannya. Keluar dari lift itu, Dan melangkah perlahan, Di hadapannya. Suara pintu lift yang ingin tertutup, Memberikan, Firna, Peringatan untuk segera lari dan masuk ke dalam lift itu. Namun, Suara hatinya yang lain, Ingin tahu, Apa yang akan, Dina dan Diyan, Lakukan di sini?


" Sejak tadi, Mas, Selalu saja begitu! Apa tidak bisa mengatakannya langsung?! Aku, Sangat penasaran tahu! " Seru Dina kesal.


" Bersabarlah. Kamu, Akan segera tahu kok. Suami, Mu, ini, Hanya ingin menunjukkan sesuatu pada, Mu, Itu saja. Jadi... Bersabarlah, Istriku " Jelas Diyan lembut.


Mendengar suara, Diyan, Yang begitu lembut dan Sikap hangatnya pada, Dina. Membuat, Firna, Sangat cemburu dan rasanya, Dia ingin mendorong, Dina, Ke jendela kaca yang tidak terlalu dekat itu dan membiarkan, Dina, Jatuh dari ketinggian lantai gedung apartemen ini.


Namun, Firna, Masih memiliki akal sehatnya. Jika, Dia melakukan apa yang baru saja, Di Pikirkannya? Bisa jadi, Dirinya, Langsung, kehilangan nyawanya atas pembalasan, Diyan, pada, Dirinya, Di saat itu juga dan Raditya, Pasti akan membencinya dan tidak bertanggung jawab atas masa depannya. Sehingga, Firna, Menahan keinginannya itu, Dan lebih memilih berlalu pergi. Sebelum, Dina dan Diyan, Menyadari keberadaannya.


" He tunggu! " Seru Dina, Menghentikan langkah, Firna, Secara tiba-tiba yang ingin masuk ke dalam lift.

__ADS_1


" Kenapa lagi? Apa, Dia menyadari, Diriku?! " Teriak Firna, Di dalam hatinya, Panik.


Dina, Membungkukkan badannya dan mengambil benda yang berupah kota kecil, Di lantai bersih itu. Kemudian, Kembali berdiri dan melangkah cepat, Mendekati, Firna.


" Ini punya, Kamu kan? " Tanya Dina, Sambil memberikan kota kecil yang, Tentunya, Dia tahu, Apa itu?


" I...ya " Jawab Firna terbata-bata. Sembari menerima dengan cepat, Kota kecil itu.


" Sesama Wanita, Aku memahami apa yang, Kamu rasakan? Tapi, Jangan pernah melakukan hal aneh apa pun. Karena... Tidak semua, Wanita, Bisa menjadi Seorang ibu seperti, Dirimu. Selamat ya... " Jelas Dina dengan lembut. Seakan memberikan nasehat pada, Wanita yang, Dia tidak tahu, Itu adalah Firna. Wanita, Yang ingin sekali, Dia berikan pelajaran, Karena menginginkan, Diyan, Suaminya.


" Ya sudah. Kalo begitu, Sampai jumpa! "


Melihat, Wanita, Di hadapannya, Hanya diam. Dina, Pamit dan Berlaku pergi dari, Wanita itu. Dina, Kembali kepada, Diyan, Dan mereka berdua melangkah bersama. Dengan senyuman senang, Menghiasi wajah mereka. Tanpa mereka tahu, Ada hati yang sangat terluka dan Tidak senang atas kebahagiaan mereka berdua.


Firna, Kemudiaan hilang, Di Telang pintu besi dan Membawanya menjauh dari, Dina dan Diyan. Tidak tahu, Kemana, Firna akan pergi? Yang pasti, Keinginan hatinya untuk menghancurkan kebahagiaan, Dina dan Diyan, Tidak akan hilang.


Sementara, Di tempat lain. Dina, Menatap pintu apartemen yang ada, Di hadapannya. Bingung dan bertanya-tanya, Dengan maksud, Suaminya, Yang memberikannya kartu yang merupakan kunci pintu apartemen dan Memintanya untuk membuka pintu itu.


" Sudah, Dina. Ayo, Buka pintunya. Jangan hanya melihatnya terus-menerus " Kata Diyan.


" Emm baiklah, Mas " Ucap Dina.


Dengan debaran jantung yang tiba saja, Berdebar kencang. Dina, Mengulurkan tangannya dan mengambil kartu yang ada, Di tapak tangan, Suaminya. Berikut, Dia, Menggesek kartu itu, dan kembali menatap, Suaminya lagi.

__ADS_1


" Sandinya adalah ulang tahun, Mu " Ucap Diyan, Yang seakan mengerti maksud tatapan, Istrinya itu.


Dina, Pun menekan tombol angka pada password itu. Angka yang merupakan tanggal ulang tahunnya.


Ting! " Selamat datang Kembali, Nyonya Dina dan Tuan Diyan " Pintu pun terbuka dengan seketika.


Mendengar suara dari Password itu, Dina, Amat Terkejut. Tangannya perlahan, Mendorong pintu dan melihat isi apartemen, Di dalamnya. Dina, Masuk dan Diyan, Menyusul, Istrinya itu. Pintu, Diyan, Tutup kembali dan Dengan sendirinya. Pintu itu, Terkunci.


" Dulu... Sesudah, Aku menyelesaikan studi, Ku, Di Bandung dan Sebelum, Kita menikah. Aku, Tinggal, Di sini selama dua tahun lamanya. Walau hidup sendiri, Semua tentang, Mu, Aku simpang dengan sangat rapat, Di ingatan Maupun, Di hati, Ku Dan... Dimana pun, Aku berada, Kamu akan selalu ada " Jelas Diyan, Sembari menatap penuh Cinta, Mata indah, Dina, Yang juga tengah menatapnya.


Perasaan, Dina, Bercampur aduk. Membuat, Lidahnya kelu, Dan bibirnya tertutup rapat. Sulit, Baginya bersuara dan mengatakan sesuatu yang ingin, Dia katakan pada, Diyan. Sehingga, Kini dirinya hanya diam, Dengan terus menatap wajah tampan, Suaminya, Yang tengah menceritakan tentang kehidupannya selama dua tahun sebelum pernikahan mereka berdua yang beberapa bulan lamanya.


" Begitu sulit bagi, Ku, Mengatakan cinta pada, Mu... Tidak, Mudah untuk, Ku, Menjalani kehidupan dulu, Tanpa dirimu... Diyan... Yan... Aku, Mencintai, Mu. Sangat... Hingga rasanya, Aku terasa hampa, Tanpa hadir, Mu. Namun, Dulu... Aku, Tidak berdaya, Mengatakan Rasa Cinta, Ku pada, Mu. Tapi, Sekarang pun, Aku tetap sulit mengatakan rasa Cinta, Ku... " Lirik Dina, Di dalam hatinya. Dengan mendorong, Dirinya, Ke dalam, Diri, Suaminya itu. Memeluk erat tubuh kekar yang sejak dulu, Hingga sekarang, Selalu memberikannya rasa nyaman dan Kehangatan, Akan kasih sayang dan... Cinta.


Dina, Mengingat kenangan manis, Di kala dulu. Diyan, Kecil yang berlari ke arahnya dan Memanggilnya, Dengan sebutan " Kakak". Tiada hari, Selalu mendekati dan bermanja dengannya. Sering sekali, Diyan, bisa memanjakan, Dirinya, Dengan sesuatu perhatian atau perlakuan kecil yang selalu membuat hatinya terasa hangat, Kala usia semakin bertambah. Tapi, Karena ketidak tahuannya dan Dia, Tidak peka. Bila Diyan, Memiliki rasa Cinta padanya. Rasa cinta, Pria pada, Wanitanya dan Bukan, Rasa cinta, Adik pada Kakaknya. Membuat, Diyan, Meninggalkan, dirinya dan Dia, Kehilangan, Diyan, Dengan waktu yang sangat lama.


" Dulu, Aku membiarkan, Mu pergi dan Hidup sendiri, Dengan hanya membawa kenangan manis tentang, Kita. Tapi, Sekarang! Aku, Tidak akan membiarkan, Mu pergi jauh dari, Ku! Walau, Aku harus melakukan hal kotor sekali pun. Agar, Kamu, Tetap ada di dekat, Ku, Mas... Mas Diyan! Aku, Sangat mencintai, Mu! " Dalam hati, Dina.


Tidak semua, Wanita, Bisa merasakan kehidupan seperti yang, Dina, Jalani. Ketika, Kecil, Dirinya hidup sebatang kara. Bertemu keluarga kecil, Yang mau menjaga, Merawat dan Membesarkannya, Dengan penuh kasih sayang dan Penuh rasa cinta. Memiliki seorang adik, Yang tidak di duga, Akan menjadi suaminya kelak, Di saat sudah dewasa. Walau rasa Cinta itu, Sudah disadarinya. Membuatnya, Tidak mudah Mengatakannya. Selain tindakan yang mampu, Dia lakukan pada, Suaminya. Menyalurkan rasa cintanya dalam setiap tindakan manisnya.


Dan Tidak semua, Wanita, Seperti, Firna. Egois, Berambisi dan Sangat terobsesi pada apa, Yang sudah menjadi milik orang lain. Sehingga, Perlakuan liciknya dalam keinginan untuk bisa mendapatkan apa yang, Di inginkannya. Membuatnya tidak menduga, Dirinya, Mengandung anak dari, Pria yang tidak, Di cintanya. Walau sudah menjadi, Seorang ibu. Keinginannya memang telah tergantikan, Dengan Keinginannya yang sangat kejam, Di hatinya. Yaitu, Keinginannya menghancurkan kebahagiaan, Seseorang itu, tidak mudah hilang dari dalam hatinya. Tidak tahu? Siapa orang yang bisa menghentikan keinginan buruknya itu?


...Ibaratkan Bunga, Daunnya, Rantingnya, dan Akarnya. Ke empat jenis itu, Berbeda-beda Dan Memiliki keistimewaannya tersendiri....

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2