Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Aku, Menggoda Suamiku


__ADS_3

" Mas Diyan! Berhentilah menggoda, Ku! " Ketus Dina kesal.


" Aku, Tidak menggoda, Mu. Aku, Menggoda istriku " Kata Diyan tersenyum kecil.


Selesai kegiatan panas yang menggairahkan, Dina baru saja selesai mengisi perutnya yang terasa sangat kelaparan, Akibat ulah Suaminya yang terus saja menggoda, dirinya dan Sekarang. Suaminya itu, Tidak mau mengakui kesalahannya. Dina, Merasa Kesal dan walau pun, Dina juga menikmati godaan, Suaminya itu yang berakhir membuatnya sangat kelelahan.


" Mas Diyan, Jangan menggangu, Ku. Aku, sangat lelah " Kata Dina kesal pada Suaminya itu.


" Ya, Sudah. Kamu, Istirahatlah, Aku tidak akan menggangu, Mu " Ucap Diyan, Dan memilih duduk, Di sofa dari pada, di ranjang bersama, Istrinya.


Dina, Menghela nafas lega. Membaringkan tubuhnya, Di atas ranjang dalam selimut tebal abu-abu, Dengan sprei yang sudah, Di gantikan yang baru oleh pelayan hotel. Dina, Perlahan memejamkan matanya, Mencoba beristirahat, tanpa ada gangguan siapa pun. Diyan berdiri dari sofa, Melihat Dina yang sudah tertidur, Diyan tidak tega untuk mengganggu istrinya itu.


Pada akhirnya, Diyan memilih keluar dari kamar hotelnya. Dengan memakai Coat, Agar tidak merasakan kedinginan oleh salju. Karena, Jika terus berada, di dalam kamar, Diyan tidak akan bisa menahan, dirinya terlalu lama bersama, Dina.


" Sesudah merasakannya... Aku, Semakin tidak bisa menahan, Diriku. Mungkin... Dengan, Aku menghindari, Dina untuk saat ini, Pasti tidak apa kan? " Diyan mendesak dalam hatinya.


Diyan, Kini berada dalam restoran klasik yang dekat dengan hotel. Restoran kemarin, Tempat pertemuan tidak terduga, Dengan Kevin. Diyan, Menikmati coklat panas, Di kesendirian, Hingga tiba saja, Kehadiran seseorang mengganggu suasana hatinya yang bahagia, Menjadi tidak senang. Orang itu, Adalah Kevin, Duduk berhadapan dengan, Diyan, Berbataskan meja.


" Kita bertemu lagi, Diyan " Ucap Kevin.


" Aku, Tidak berharap bertemu dengan, Mu, Kak Kevin " Kata Diyan datar.


" Ya... Aku, Bisa melihatnya dari wajah, Mu yang jelek itu " Ujar Kevin tersenyum mengejek.


" Langsung saja, Apa mau, Mu? Menemui, Ku, Kak Kevin? " Tanya Diyan.


" Tidak ada maksud apa pun, Aku, Hanya ingin mengingatkan, Mu " Kevin menjeda perkataannya, Ketika seorang pelayan Wanita, Datang mengantar segelas Capuccino.


Pelayan Wanita itu, Pun pergi, Meninggalkan Kedua Pria, Yang merasa terganggu dengan kehadirannya. Diyan, Meneguk coklat panasnya, Dengan santai. Namun, tatapan mata hitamnya, Mengunus tajam dan dingin pada, Kevin. Menunggu apa yang akan, Kevin katakan padanya?


" Santai saja, Aku tidak akan mengambil, Dina dari, Mu, Diyan " Kevin tertawa kecil, merasa tidak takut dan senang, Pada tatapan mata hitam, Diyan yang tidak senang melihat Kehadirannya.


" Tapi, Ya! Bila, Suatu saat, Aku tahu... Dina, Tidak bahagia dengan, Mu " Kevin mengacungkan jari telunjuknya pada wajah dingin, Diyan.


" Jangan salahkan, Aku, Mengambil Dina, Dan menjadikannya milikku " Ancaman Kevin tertunjuk pada, Diyan.


" Dan Aku, Juga ingin mengingatkan, Mu. Selagi, Kamu dan Dina, Berada di sini, Berhati-hatilah " Sesudah mengatakannya, Kevin pun berlalu pergi, Meninggalkan Diyan yang sempat emosi mendengar ancamannya dan kini, bingung dengan peringatannya.

__ADS_1


Diyan, Membiarkan, Kevin pergi begitu saja, Di temani dua pengawalnya. Diyan, Tidak ada niatan untuk mempertanyakan maksud, Kevin padanya. Diyan, Lebih memilih, Melanjutkan kegiatannya, Menikmati coklat panas, Di kesendirian, Sambil menatap salju turun melanda dan menyelimuti, Kota Paris.


Waktu berlalu, Diyan memilih kembali ke hotel, Karena tidak lama lagi, Malam akan tiba. Namun, Diyan tidak sadar, Seorang Pria Prancis, terus saja memperhatikannya sejak tadi, Di restoran itu, Tanpa Dia sadari.


" Kita lakukan lain kali, Wanita itu, Tidak ikut bersamanya " Kata Pria Prancis, Di kejauhan, Dengan menggunakan bahasanya, pada seberang telepon selulernya.


" Besok, Kita harus mendapatkan Wanita itu, Pasti harganya sangat mahal " Ucap Seorang Pria yang juga menggunakan bahasa Prancis dari seberang telepon.


Diyan, Telah sampai, Di kamar hotelnya. Tapi, Diyan terkejut, Ketika tidak melihat, Dina di ranjang. Tiba saja, Diyan memikirkan perkataan, Kevin, Untuk berhati-hati, selagi masih berada, Di Paris.


" Dina! " Teriak Diyan, Memanggil Istrinya itu, Berulang-ulang dan tidak ada sautan dari, Istrinya.


Diyan, Kembali membuka pintu kamar hotelnya, Ingin mencari, Istrinya itu, Di luar. Tapi, Niat, Diyan terhenti, Di saat, mendengar pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Dan terlihatlah, Dina keluar dengan memakai mantel pink berbulu. Dengan rambut basah, Menandakan, Dina habis mandi.


" Mas Diyan, Dari mana? " Tanya Dina, Tanpa menatap wajah tampan, Suaminya yang, Di selimuti perasaan khawatir yang mengira, Dirinya hilang.


Dina, Duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan cermin, Meja rias. Memperlihatkan wajah cantiknya yang segar, Sehabis mandi. Diyan, Menghela nafas lega, Khawatirannya tidak berguna sama sekali. Dengan sedikit keras menutup pintu hotelnya, Melampiaskan kekesalan pada pintu itu. karena peringatan Kevin mempengaruhi Pikiran, Diyan. Suara pintu itu, Berbunyi nyaring dan mengejutkan, Dina.


" Mas Diyan, Kenapa? " Tanya Dina lagi, Yang sedikit terkejut.


" Tidak ada " Jawab Diyan sambil melepaskan Coat, Dan Melemparnya, Di sofa.


Dina kebingungan melihat tingkah aneh, dan mendengarkan perkataan, Suaminya itu. Tapi, Kebingungan Dina, Hanya berlangsung sebentar. Senyuman manis terukir sempurna, Di wajah cantiknya, Dengan binar mata ke abu-abuannya, memancarkan kesenangan. Jemari, Dina, Membuka ikatan tali mantelnya, Hingga perlahan, Terlihatlah kain tipis yang membalut tubuhnya yang sangat menggoda.


" Jika, Gita dan Mila, Tahu, Aku memakai pakaian ini... Pasti mereka berdua berpikir, Aku, sudah seperti Wanita Penggoda... " Gumam Dina tertawa kecil.


" Tidak masalah... Aku, Menggoda Suamiku. Bukan, Pria lain " Dina meletakkan mantelnya, Di meja rias. Melangkah mendekati dan berbaring, di ranjang.


Karena merasa sangat malu, Dina menggunakan selimut menutupi seluruh tubuhnya, Dengan posisi terlentang, Di ranjang. Dina, Menunggu Suaminya itu, Keluar dari kamar mandi, Dan ingin kembali mengulang rasa manis yang memabukkan bersamanya. Agar Dirinya, Segera memenuhi harapan dan keinginan orang tuanya.


Menit berlalu, Diyan keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk biru melingkar, Di pinggang kuatnya sampai batas atas lututnya, Menyembunyikan ularnya. Diyan tersenyum, Melihat istrinya kembali tidur, di ranjang, Dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Diyan berpikir, Istrinya itu, pasti masih sangat kelelahan.


Diyan, Membuka lemari baju, Mengambil pakaiannya sendiri. Dina, yang memang tidak tidur, Mendengar suara pintu lemari yang, Di buka. Membuat Dina, Bangun, Duduk di ranjang dan melihat tubuh polos Suaminya, berdiri membelakanginya, Di hadapannya. Terlihat tetesan air, Dari rambut hitam, Diyan berjatuhan membasahi kulit putih yang sedikit kecoklatan itu, Menggoda bibir Istrinya, Ingin meneguk tetesan air itu, Di tubuhnya.


" Mas Diyan " Dina, Turun dari ranjang dan langsung memeluk Suaminya itu, Dari belakang, Dengan bibir dan lidahnya, Meneguk air bening itu, Di tubuh Suaminya.


" Dina... Apa? yang... Kamu... Lakukan " Desak Diyan, Sedikit terkejut dengan perlakuan istrinya, yang tiba-tiba. Diyan, Dapat merasakan, Bibir lembut dan hangat, Serta lidah, Istrinya, Di kulitnya. Memanaskan tubuhnya dan menyulut gairah bercinta dalam, Dirinya.

__ADS_1


" Menikmati... Manis yang memabukkan, Ku, Mas Diyan " Bisik Dina penuh godaan.


" Apa... Istriku, Tidak merasa lelah? " Tanya Diyan sambil menjatuhkan pakaiannya, di lantai.


" Aku, Akan merasa lelah, Bila Suamiku, Mau mengulanginya " Jawab Dina. Dengan tangan lembutnya yang meraba dada bidang, Perut dan semakin turun, ingin menyentuh ular Diyan.


Namun, Tangan besar, Diyan, Menghentikan tangan nakal, Dina. Membuat, Dina mendesak kecewa, Karena tidak bisa menyentuh dan mempermainkan ular Diyan. Diyan berbalik badan, dan seketika, Mata hitam segelap langit malam itu, Membesar, Sangat terkejut, Melihat pakaian, Dina yang tipis dan transparan. Dina, Mendongak kepalanya, Mata ke abu-abuannya, Sayu, terselimuti kabut gairah bercinta.


" Mas... biarkan, Aku, menyentuhnya " Kata Dina, memohon pada, Diyan, Untuk bisa memainkan ular Diyan, yang sudah tegak itu.


" Tidak sekarang " Ujar Diyan dan langsung, Mencium bibir pink, Dina.


Dina dan Diyan, berciuman dengan gairah liar dalam, Diri mereka berdua. Mengecap, memberi dan menerima rasa manisnya, Cairan yang memabukkan. Dengan kedua tangan besar, Diyan bertautan pada kedua tangan, Dina, Menjadi satu. Sampai detik berikutnya, Dina menjatuhkan, Dirinya, di ranjang dan Diyan menindih tubuh mungil Dina, Dengan tubuh polos Diyan.


Diyan, Melepaskan tangannya dari tautan tangan, Dina. Juga melepaskan tautan bibirnya, dengan Dina, Mengambil nafas sebanyak mungkin. Dalam debaran jantung yang sama-sama berdebar kencang. Diyan, Membuka pakaian tipis itu, dari tubuh, Dina, Dan membuang pakaian itu, Begitu saja Ke lantai. Sehingga, tubuh Dina sudah polos, Diyan kembali menautkan bibirnya dengan bibir, Dina.


Bibir Diyan, Semakin turun, Menikmati tubuh mungil istrinya, yang sudah polos itu. Dina, Bagaikan cacing kepanasan, bergeliat tidak menentu, Dengan jemari lentiknya meremas rambut hitam, Suaminya.


" Istriku, Kamu sudah sangat basah " Bisik Diyan.


" Suamiku... Aku, Sudah tidak tahan... " Desak Dina.


Tanpa kata, Diyan membenamkan wajahnya, Di buah keputihan, Dina. Bibir dan lidahnya, Berkerja sama, Menikmati biji dan liang kenikmatan, Dina. Tubuh Dina bergetar, Tangannya meremas rambut hitam dan menekan kepala, Diyan, Di buah keputihannya itu. Diyan, Meneguk habis sari manis yang, Dina keluar dari liang kewanitaannya dan Diyan, Bisa merasakan lagi, Getaran dinding liang kewanitaan, Dina menjepit lidahnya.


" Istriku, Aku tidak bisa bernafas " Kata Diyan mendesak nafasnya. Sesudah mengakat kepalanya, Dan Mata hitam segelap langit malam itu, Menatap mata ke abu-abuan, Dina.


" Berbaringlah, Suamiku " Pinta Dina.


Diyan, Menuruti perkataan, Dina. Dina tersenyum menggoda melihat, Diyan sudah berbaring, Di ranjang. Dina, Melancarkan keinginannya yang tadi, Sempat tertunda karena, Diyan menghentikannya.


" Suamiku... Aku, Akan mempermainkannya, Sepuas, Ku " Ujar Dina penuh godaan.


Dina, Mempermainkan dengan gemas dan menggoda, Ular Diyan yang ingin, di manja olehnya. Diyan, Hanya bisa mendesak nikmat, Membiarkan, Dina mempermainkan ularnya dengan jemari lentiknya dan tangan lembutnya.


" Dina... Aku... " Desak Diyan, Memberikan perintah, Istrinya itu.


Dina, Dengan cepat memasukkan ular, Suaminya kedalam liang kenikmatannya. Dina, Mendongakkan kepalanya, Merasakan cairan hangat dan kental, Memenuhi liang kewanitaannya. Diyan, Mendesak panjang, Ketika menyemburkan cairannya, Ke dalam liang, Istrinya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Terdengar suara lembut yang merdu. Desakan dan lenguhan, Bersautan memenuhi kamar hotel Dina dan Diyan. Dengan gemerlap bintang dan Rembulan Menghiasi Angkasa luas, Yang gelap gulita malam itu, Menjadi saksi Cinta Dina dan Diyan.


...Bersambung...


__ADS_2