Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Tanpa ada kehangatan


__ADS_3

Dina dan Diyan, Menatap pemandangan keindahan Paris di malam hari, Sambil menikmati makan malam yang di hidangkan di kamar hotel mereka, berada di lantai yang tidak terlalu tinggi. Jendela yang tidak terlalu lebar itu, Dengan ada pembatasan dan tiap sisinya berwarna Abu-abu, Terkesan klasik. Membuat Dina dan Diyan merasa puas dan senang, Bisa menikmati keindahan Paris. Serta Menara Eiffel yang begitu tinggi, Menyentuh Angkasa luas yang gelap gulita.


Setelah, Menyelesaikan makan malamnya, Diyan bangun dari duduknya, Pergi memasuki kamar mandi. Sedangkan, Dina menghela nafas kecewa, Berdiri dari duduknya, Berdiri di jendela, menatap kesunyian langit biru gelapnya malam.


" Tidak bisakah...? Kita berdua melakukan sesuatu layaknya sebagai sepasang kekasih... Jika, Mas Diyan, merasa keberatan menjadi Suamiku..." Lirik Dina dalam hatinya. Merasa kecewa pada Suaminya dan merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri yang merasa malu untuk mengatakan sesuatu pada Suaminya.


" Dina, Tidurlah " Terdengar suara lembut Diyan, Menyadarkan Dina dari lamunannya. Diyan yang baru keluar dari kamar mandi dan Dina berbalik badan, Menatap Suaminya itu.


" Tidurlah bersama, Ku di ranjang. Jangan di lantai! Aku, Tidak akan bisa tidur, Tanpa ada kehangatan tubuh, Mu, Mas Diyan. Aku, ingin selalu merasa kehangatan dalam pelukan, Mu yang menenangkan hatiku dan Membuat, Ku selalu merasakan kenyamanan, Ku " Ingin rasanya Dina mengatakannya langsung pada Suaminya. Namun, Dina hanya bisa mengatakannya di dalam hatinya saja. Melihat Diyan mengambil bantal di atas ranjang, Dan membaringkan tubuhnya, Di karpet hotel yang berwarna putih berbulu itu.


Dina menghela nafas lagi, Merasa sangat kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa terus terang pada Suaminya. Dina pun pergi ke kamar mandi, Menggosok giginya dan mencuci muka, Sehingga wajahnya segar dan terlihat polos, Tanpa make-up. Kemudian, Dina keluar dari kamar mandi, melangkah mendekati ranjang, Dan membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang. Tidak tahu, Kenapa? Dina merasa kurang nyaman, Tidur sendirian di ranjang, Tanpa ada kehangatan dari pelukan Suaminya.


" Mas Diyan " Mendengar suara lembut istrinya, Diyan yang sudah memejamkan mata, Kembali membuka mata hitamnya segelap langit malam itu.


" Iya... Dina, Kenapa? " Walau sedikit terkejut mendengar suara Istrinya, Yang seakan terasa menggodanya. Diyan tetap menyahuti panggil Istrinya, Dengan nafasnya terasa berat.


" Aku... Merasa kedinginan, Mas Diyan " Jawab Dina mengukir Senyuman di wajah polosnya.


Diyan seketika bangun dari tidurnya, Berdiri di sisi ranjang, Menatap Dina yang terbaring di ranjang dengan terbalut selimut tebal berwarna putih. Diyan terlihat mencari sesuatu, menemukan benda panjang dan tipis, Remote AC, Di dalam nakas, Bagian laci kecil.


" Bagaimana, Dina? Sudah enggak kedinginan lagi kan? " Tanya Diyan, Sesudah menekan tombol AC, Menambah suhu penghangat ruangan kamar hotelnya.

__ADS_1


" Aku, Minta peluk, Mas Diyan! " Teriak Dina dalam hati, Mendengus kesal, Melihat sikap Suaminya itu, Seakan tidak memahami keinginannya.


" Dina, Bagaimana? Uda enggak dinginkan? " Diyan duduk di pinggir ranjang, Menatap wajah istrinya.


" Masih " Jawaban Dina, Tidak membuat Diyan merasa puas dan tidak tenang.


Diyan menghela nafas berat, Berusaha menahan gejolak dalam dirinya, Setiap kali, tubuhnya berdekatan dengan Dina. Diyan akan selalu merasakan hawa panas dan Desiran hangat dalam tubuhnya. Tidak jarang, Kepala Diyan akan merasa sangat pusing sebelum tidur dan sesudah bangun pagi, Karena selalu menahan dirinya, Agar tidak menerkam tubuh mungil Dina yang setiap kali dirinya membuka mata dan menutup mata, Dina selalu ada di hadapannya.


" Dina, Berbaliklah " Kata Diyan. Setelah, Meletakkan bantalnya di sudut kepala ranjang, dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Di sebelah kanan Istrinya.


Dina tidak mengatakan apa pun, Hanya saja, Dina menuruti perkataan Suaminya. Berbalik badan, Memunggungi Suaminya, Dengan mengukir Senyuman kemenangan di wajah cantiknya, Dan binar bahagia di mata ke abu-abuan itu.


" Rencana berhasil! " Sorak Dina dalam hatinya, Merasa sangat senang. Dina, Pura-pura merasakan kedinginan, Karena Dirinya tidak ingin tidur tanpa ada kehangatan dari tubuh besar dan kekar Suaminya.


Diyan yang sudah berencana, tidur beda tempat dengan Istrinya, Dan Tanpa ada kehangatan sedikit pun dari tubuh Istrinya. Hanya, Merasa cukup kehangatan dari AC hotel saja. Rencananya gagal total, Diyan pasrah, memeluk erat tubuh mungil Istrinya dalam kehangatan, Di atas gejolak dalam dirinya yang terasa menyiksa.


" Sekarang, Sudah tidak dinginkan, Dina? " Tanya Diyan pada istrinya.


" Sudah tidak lagi, Mas Diyan " Jawab Dina, Dengan hati yang sangat senang.


" Tidurlah... " Bisik Diyan, Tepat di daun telinga Dina, Sehingga Dina merasa geli.

__ADS_1


" Mas Diyan... " Lirik Dina dengan nada manja.


Diyan memilih diam, Berusaha memejamkan matanya dan tidak menyahuti Istrinya, Yang seakan, terasa menggoda dirinya. Dina terdiam, detik dan menit berlalu, Dina mulai merasa nafas Suaminya teratur berembus menyapu kulit tengkuknya, Menanda Suaminya sudah tertidur.


" Selamat malam, Mas Diyan " Ucap Dina tersenyum, Mengusap tangan Suaminya yang melingkar di perutnya. mendekap tubuhnya dalam kehangatan, Sehingga tubuhnya, Tidak lagi merasakan, Tanpa ada kehangatan. Kini, Dina sudah merasakan kehangatan yang diinginkannya dan Dirinya, sangat menikmatinya.


Dina memejamkan matanya, Menyusul Diyan menggapai mimpi indahnya. Meninggalkan malam gelap gulita dalam keindahan suasana Paris yang Romantis. Namun, Ada satu orang yang belum juga menggapai mimpi indahnya. Seorang Pria tersenyum, Ketika selesai membaca isi amplop coklat besar yang di berikan bawahannya padanya, Dan Pria itu, Sudah membuat mimpi indahnya sendiri.


" Dina, Aku menemukan, Mu. besok, Kita pasti akan bertemu " Kata Kevin dengan senyuman merekah, Menghiasi wajah tampannya yang mempesona.


" Setelah lama, Aku merindukan, Mu. Akhirnya, Besok, Aku kembali memiliki, Mu lagi, Dina. Aku tidak akan lagi tidur, Tanpa ada kehangatan Cinta di antara Kita, Dina, Sayangku... " Kevin berdiri di balkon kamarnya yang ukuran kecil, Dengan pagar pembatas berwarna gold. Mata kebiruannya menatap hamparan pemandangan keindahan suasana Paris dari ketinggian. Kevin merasa dirinya, Berkuasa, Dengan menatap suasana Paris dari balkon kamarnya.


" Aku, Pastikan! Aku, Akan memiliki diri, Mu lagi dalam pelukan, Ku, Dina. Memiliki, Mu lagi adalah mimpi indah untukku! " Hardik Kevin dengan yakin. Namun, Kevin tidak tahu saja, Wanita pujaannya, Yaitu Dina Sangat menikmati pelukan kehangatan dari tubuh Suaminya, Diyan dan Menggapai indah bersama. Dina dan Diyan, Berharap, Mimpi indahnya akan terwujud tanpa ada campur tangan dan gangguan siapa pun.


Mimpi indah, Dina dan Diyan sangatlah sederhana. Mereka berdua, Hanya ingin selalu bersama, sampai akhirnya menua bersama, Hingga maut dan Tuhan mereka berdua, Menjadi pemisah. Besok, Adalah Awal rintangan bagi Dina dan Diyan, Jika bisa melewati, Maka mimpi indah mereka akan terwujudkan! Mungkinkah? Tidak ada yang tahu, Bagaimana? dan Seperti apa? masa depan!.


...Bersambung...


Novel baru saya... Semoga menyukainya, Ya!?🥳


Baru kemarin di rilis!!!

__ADS_1



__ADS_2