Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Siaran Video


__ADS_3

Rindu, Itulah yang saat ini, Dina dan Diyan rasakan. Setelah, lima hari meninggal Negara kelahirannya. Ketika, Menginjak kaki mereka berdua, Di ibu kota, Indonesia. Rindu pada keluarga yang menanti dan mengharapkan sesuatu dari mereka berdua yang kini merasa sangat senang dan bahagia.


Tentunya, Tidak ada yang menjemput mereka berdua, Di bandara internasional Soekarno-Hatta. Karena, Waktu yang mereka gunakan, Hanya memakan waktu lima hari dan Masih ada tersisa dua hari lagi. Tanpa menunggu waktu lagi, Dina dan Diyan, Menggunakan taksi, Untuk kembali pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Tidak ada yang menyambut kepulangan mereka berdua. Selain hembusan angin dingin yang menusuk kulit dan tulang, Di kesunyian pada gelapnya langit malam. Dina, Memeluk Dirinya sendiri, ketika keluar dari mobil taksi yang kian telah pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.


Dina dan Diyan, Saling menatap, kemudian tersenyum bahagia. Dina, Melangkah terlebih dulu, Membukakan pintu yang ternyata tidak terkunci. Diyan, Datang mendekat sambil membawa Koper dan Barang, Di kedua tangannya. Diyan, Tidak mengijinkan, Dina mengakat barang-barang itu, Walau Dina sudah meminta dan Memaksa ingin mengakat barangnya. Tapi, Diyan, tidak mengijinkan, Selagi dirinya masih mampu membawanya.


Dina, Kembali menutup dan Juga mengunci pintu. Kemudian, Dina dan Diyan, Melangkah lagi, Menuju tangga. Tapi, Langkah mereka terhenti, Ketika melihat siaran TV menyala, Memperlihatkan gambaran diri mereka berdua di dalamnya. Dina dan Diyan, Tentunya terkejut, Melihat itu, Kenapa gambaran dalam video itu, terasa tidak asing? Pikir Dina dan Diyan.


Diyan, meletakkan koper dan barang, Di dekat dinding. Dina dan Diyan, melangkah bersama, Mendekati Sofa, Ruang Keluarga. Semakin dekat, Dina dan Diyan semakin terkejut, Ketika terdengar suara mereka berdua dalam siaran video itu dan Ternyata, Kedua orang tuanya dan Marissa, sedang menonton dengan senyuman, di wajah mereka.


" Aku, Tak butuh Cinta, Mu! yang ku butuhkan hanya perhatian, Mu dan bukan sikap dingin, Mu pada, Ku! " suara, Dina yang terdengar membentak, Diyan, Di dalam siaran Video itu.


" Terserah, Kamu mau apa! Aku, Tak akan perduli lagi pada, Mu dan Ingat! Jangan, Kamu ulangi lagi hal itu! " Suara, Diyan yang juga terdengar tajam dan dingin, Pada Dina, Di dalam Siaran Video itu.


Dina dan Diyan saling menatap. Diyan, Mendekatkan, Dirinya pada, Dina, Dengan wajahnya yang sedih. Bahkan, Mata sehitam langit malam itu, Berkaca-kaca, Ingin menangis. Mengingat kenangan pahit yang menyakiti hati, Dina dan Juga menyakiti hatinya. Dina, Tersenyum, Binar mata ke abu-abuannya, menatap wajah sedih, Diyan. Dina, Menggelengkan kepalanya, Seakan mengatakan, Jangan menangis, Itu Hanyalah masa lalu, Masa yang menjadi kenangan pahit dan Berakhir manis.


" Kamu belum menjawab pertanyaan, Ku, Dina!? Katakan cepat! Kamu mau kemana lagi, Ah!? "


" Jangan membentak, Ku! "


" Maaf "


" Enggak semudah itu, Diyan Endra Prabowo! "


" Maafkan Aku... Aku salah. Tidak seharusnya Aku membentak Mu, Seharusnya Aku memeluk mu. Tapi... Aku... Bodoh! Bodoh! Bodoh! Diri mu sangat Bodoh Diyan "

__ADS_1


Pertengkaran kedua Dina dan Diyan, Di dalam Siaran Video itu. Membuat, Endra, Zaskia dan Marissa, Bersedih dan tanpa sadar meneteskan air mata, Membasahi wajah mereka. Diyan, Memeluk, Dina dengan sangat erat. Diyan, Pada akhirnya menangis, Air matanya yang tidak bisa tertahankan, Tumpah membasahi baju yang, Dina kenankan. Dina, Bisa merasakan, Air mata, Diyan yang membasahi punggungnya dan melihat tubuh, Diyan bergetar dalam pelukannya.


" Benar... Kak Diyan, Sangat bodoh! Awas saja! Pulang nanti, Aku kasih minum Cabe yang sangat pedas! Biar nangis terus kayak, Kak Dina. Kasihan... Kak Dina " Kata Marissa dengan penuh kekesalan dan sedih, Melihat Gambaran, Dina, Di siaran Video itu.


" Iya, Rissa. Mama, Sudah mau pulang karena melihat ulah Kakak, Kamu itu. Tapi, Papa, Mu ini, Menghentikan, Mama. Dina, Kesayangannya, Mama pasti saat itu, Sangat tersakiti, Karena kemarahan, Diyan " Lirik Zaskia terisak-isak.


" Papa, Sengaja menghentikan, Mama. Karena, Papa tahu... Perlakuan, Diyan pada, Dina hanya sebatas perkataan saja, Tidak akan menyakiti fisik, Dina " Ujar Endra sedih.


" Bisa jadi si, Pa. Kak Diyan, Menyakiti fisik, Kak Dina di kamar. Karena, Papa tidak membuat Cctv-nya, Di Kamar "


Mendengar perkataan, Marissa. Diyan, Merasa tidak terima, Dengan cepat dengan melepaskan pelukannya dari, Dina dan menghapus kasar air matanya, Dengan tangannya.


" Rissa, Kakak tidak akan menyakiti fisik, Dina. Karena, Kakak mencintai, Dina. Dan ya! Aku, Menyakiti fisiknya saat bulan madu saja " Ketus Diyan, Mengejutkan ke empat orang itu, yang tengah bersedih.


Dina, Yang bersedih, Bercampur rasa malu, Mendengar perkataan terakhir, Diyan. Marissa, Langsung berdiri, Terkejut dan Senang mendengar perkataan, Kakak kesayangannya. Endra dan Zaskia, Yang juga tengah bersedih, Kini tersenyum bahagia. Berarti Sebentar lagi akan ada kehadiran makhluk kecil yang menggemaskan dalam keluarga Kita? Pikir Marissa, Zaskia dan Endra, Bersorak gembira dalam hatinya.


" Ngapain, Diyan harus berbohong. Itu memang kenyataannya, Hanya saja, Dina dan Diyan, Masih butuh Waktu untuk memberikannya " Jelas Diyan menyakinkan.


" Bagus, Kalo gitu, Mama tidak jadi memukul, Mu. Agar, Kamu punya banyak tenaga untuk segera menghadirkan Makhluk kecil itu, Di keluarga Kita " Kata Zaskia Antusias.


" Aku, Juga. Adik, Kesayangan, Kakak ini, Juga tidak jadi, memberikan, Kak Diyan minuman Cabe. Tapi... Di masa depan, Jika Kak Diyan, Menyakiti, Kak Dina lagi! Awas saja! " Ketus Marissa sedikit kesal.


Diyan, Merasa terpojokkan dan di hakimi. Merasa sedikit kesal dan Senang, Melihat kebahagiaan, Di mata orang tua dan Adik kesayangannya. Dina, Merasa sangat malu, senang, dan Bahagia, Bercampur menjadi satu, Mendengar perkataan kedua orang tua dan Adik kesayangannya.


" Walau, Aku hanyalah Anak Angkat dan Bukan, Anak Kandung, Di keluarga ini. Mama, Papa dan Rissa, Sangatlah menyanyi, Ku dari pada, Mas Diyan, Sejak Kecil selalu begitu. Tapi... Aku, Juga masih ingin tahu... Seperti apa orang tua dan Keluarga, Ku? Apakah, Aku punya saudara kandung? Dan orang tua, Ku masih hidup atau tidak, Aku juga tidak tahu... Aku, Hanya bisa berharap, Suatu hari... Aku, Bisa bertemu dengan keluarga kandung, Ku " Dina berkata di dalam hatinya, Dalam perasaan yang kian bercampur kegetiran. Namun, Masih mampu, Menunjukkan senyuman kebahagiaan, Di wajah cantiknya.


" Ya sudah, Ma, Pa, Aku mau istirahat dulu. Dina, Kamu mau di sini, Atau ikut, Aku? " Diyan Menatap orang tuanya bergantian, Menatap Istrinya.

__ADS_1


" Aku, masih ingin, Di sini, Mas Diyan " Jawab Dina pada, Suaminya.


Diyan tersenyum, Dan kemudian, Pergi menuju kamarnya, Sambil mengakat koper dan barang-barangnya. Dina, memilih tetap berdiri di tempatnya, Ingin mengatakan sesuatu. Tapi, Dina tidak punya keberanian untuk mengatakan langsung, Karena ada perasaan malu yang menyelimuti hatinya.


Zaskia yang seakan memahami, Dina. Tersenyum, Dia mengambil Kaset/CD itu, Sesudah mematikan Siaran Video. Kemudian, Memberikan kaset/CD pada, Dina.


" Ambillah, dan Kamu, Bisa menontonnya, Kapan pun, Kamu mau, Dina sayang " Kata Zaskia lembut. Dina tersenyum, Sambil tangannya mengambil Kaset/CD itu, Dari tangan lembut, Mamanya.


" Mama, Sudah menduganya, Kamu dan Diyan, Pasti akan bahagia. Walau, Awalnya, Mama sempat merasa takut, Karena Sikap, Diyan terhadap, Mu, Yang tidak seperti dulu... Tapi, seiring berjalannya Waktu, Diyan yang dulu, Telah kembali pada, Mu. Seperti yang, Papa katakan dan Yakinkan pada, Mama " Perkataan Zaskia penuh kelembutan, Membelai rambut dan Kepala, Dina, Penuh kasih sayangnya.


" Sudahlah, Ma. Dina, pasti masih sangat lelah, Perjalanan dari Paris ke sini kan sangat panjang. Biarkan, Dina istirahat dan Besok, Kita lanjutkan berbicara bersama " Kata Endra.


" Ya sudah, Pergi dan istirahatlah, Selamat malam, Sayang " Ucap Zaskia.


" Selamat malam, Ma, Pa dan Rissa " Kata Dina.


" Selamat malam juga, Kak. Mimpi indah! " Seru Marissa.


Sesudah, Saling mengucapkan 'Selamat Malam'. Dina, Berlalu pergi, Sambil membawa Kaset/CD, Bersamanya. Hanya saja, Ketika masuk ke dalam kamar, Dina melihat, Diyan sudah tertidur di Ranjang. Dengan posisi terlentang, Tanpa mengganti bajunya. Tapi, Diyan, sudah melepaskan sepatu yang di kenankan, Sebelum tidur.


Dengan Cepat, Dina menyembunyikan kaset/CD itu, Ke dalam lemari bajunya, Sebelum di ketahui, Diyan yang tengah masih tertidur, Karena lelah dalam perjalanan panjang. Kemudian, Dina menganti bajunya dengan piyama tidur, dan sikat gigi sebelum tidur yang sudah menjadi kebiasaannya.


" Aku, sudah tidak sabar, Ingin menontonnya, Sendiri. Sebelum, Mas Diyan, Yang menonton Video itu " Kata Dina dalam hatinya.


Dina, berbaring di ranjang, Dengan posisi miring menghadap, Suaminya. Tangan lembutnya memeluk perut berotot yang terasa keras itu dan Dada bidang, Diyan, Di jadikan bantal kenyamanan, oleh Dina. Perlahan, Mata ke abu-abuan, Dina terpejam rapat. Menyusul dan menggapai mimpi indahnya, Bersama, Diyan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2