Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Manis yang memabukkan


__ADS_3

Pertemuan tidak terduga itu, Dina menyadari. Di masa lalu, Ketika, Kevin menyatakan cinta padanya. Dina, Menerima cinta, Kevin, Bukan karena, Dina mencintai, Kevin. Melainkan, Karena, Kevin memiliki sebagian sifat, Diyan. Namun, Dina juga tidak bisa memungkiri, Dirinya pernah menyukai dan mungkin sudah mencintai, Kevin. Karena, Hubungannya dengan, Kevin berjalan lebih dari setahun lamanya dan Itu, Hanyalah masa lalu.


Tapi, Sekarang, Hari ini, Dina ingin menikmati rasa manis yang memabukkan dalam perasaan Cinta yang semakin menggairahkan jiwa dan raga untuk selamanya. Dina, Ingin mengungkapkan rasa cintanya pada, Diyan, Dengan cara, memasrahkan pikiran, Hati dan Tubuhnya, Hanya untuk Diyan, Suaminya.


" Dina... Aku... " Diyan menghentikan tautan bibirnya, Dengan Istrinya. Mata sehitam langit malam itu, Memuja, dan Mendambakan, Dina. Namun, Kilatan hitam, Di bola mata Diyan, Juga menyimpan perasaan Bimbang.


" Jangan pikirkan apa pun, Mas Diyan " Kata Dina, Sesudah mengambil udara sebanyak mungkin, Dengan wajah yang terlihat menggairahkan dan menggoda.


" Aku, Tidak terpaksa melakukannya... " Bisik Dina, Di Indra pendengaran, Diyan.


Bibir Dina, Mencium cuping telinga, Diyan. Turun, Mencium leher Diyan, Hingga tanda merah, Tercipta di leher kekar, Diyan. Diyan berdesis, Merasakan bibir hangat dan lembut, Dina, Di lehernya. Desiran darahnya yang terasa mendidih, Menyulut dan menghilangkan akal sehatnya.


" Aku, Mencintai, Mu, Dina. Sangat... " Diyan langsung mencium bibir, Yang telah membangkitkan gairah Pria dalam, Dirinya.


Dina, Membuka bibirnya, Membiarkan Suaminya, menikmati rasa manis yang memabukkan, Di dalam Indra perasanya. Saling, Menikmati dan berbagi rasa yang memabukkan. Dengan, Kedua tangan masing-masing, Berkerja sama, Membuka pakaian yang melekat, Di tubuh mereka berdua. Membuang pakaian mereka berdua, begitu saja, Ke lantai, Tanpa perasaan. Sehingga, Tubuh mereka berdua sama-sama polos, Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh, Dina dan Diyan.


Diyan, Sudah kehilangan akal sehatnya. Aroma tubuh, Istrinya, Begitu wangi, dan menggoda, Membuatnya candu untuk turus menikmati keindahan lekuk tubuh putih mulus, istrinya yang telah lama ingin, di rasakannya. Tubuh mungil, Dina sudah polos, Dengan posisi, Dina yang berdiri. Diyan, Merasa leluasa menikmati lekuk tubuh istrinya dari atas hingga ke bawa, menciptakan tanda merah, Di kulit putih mulus, istrinya.


Diyan, Bersujud di lantai, Wajah tampannya, Sudah di hadapkan, pada hutan yang menyimpang biji kenikmatan, Di dalam buah yang berwarna keputihan itu. Dina, Menatap ke bawa, Ketika tidak merasakan, Sentuhan hangat bibir, Suaminya. Dina, ingin menghentikan, Kegilaan, Suaminya. Tapi, terlambat, Diyan melakukan apa yang diinginkannya, Pada istrinya.


" Suamiku, Jangan... aaaaaa " Kepala Dina mendongakkan ke atas, dengan jemari dan tapak tangannya, Meremas rambut hitam, Diyan. Serta, Dina, Merasakan tubuhnya di sengat aliran listrik, Sehingga tubuhnya bergetar dan bergeliat. Ketika, Diyan membenamkan bibir dan lidahnya, di liang kenikmatan itu, yang membuat, Dina, Melemas dan Seakan merasakan tubuhnya terbang ke awang-awang. Merasakan sesuatu yang Suaminya berikan untuk pertama kalinya, Dina rasakan.


" Suamiku... Aku... " Lenguhan Dina, Bagaikan alunan musik yang begitu merdu, menggelitik pendengaran Diyan. Diyan, bersemangat, menikmati sari manis yang istrinya keluar dalam setiap tegukan, di mulutnya, Di liang kenikmatan istrinya. Dengan, Kedua tangan besarnya, Menahan tubuh mungil dan polos, istrinya yang melemah, Karena pelepasan, Agar tidak jatuh.

__ADS_1


Diyan, Menghentikan bibir dan lidahnya, Bermain di bawa sana. Wajahnya yang terselimuti gairah itu, mendongak ke atas, Matanya yang sehitam langit malam itu, Menatap wajah Dina yang memerah dalam kilatan gairah membara yang semakin bertambah.


" Suamiku... Aku, Sangat menikmatinya " Lirik Dina. kilatan, Di mata ke abu-abuannya, bersemangat, Bergairah dan Menantang, Kilatan hitam bola mata, Diyan.


Diyan, Tidak mengatakan apa pun, Dia berdiri. Mata saling menatap, Wajah saling berhadapan. Kedua tangan, Dina melingkar, Di leher kekar, Diyan. Tapi, Jemari-jemari lentik, Dina, Meremas dan sekali- kali mengusap rambut hitam, Diyan. Dina, Bisa merasakan, Ada benda yang mengeras, Mematuk dan menusuk, Di bawanya. Dina, Tahu, Benda apa itu? Ular yang berbisa, Bukan bisa beracun, Bisa yang menghangatkan dan menghadirkan Makhluk kecil, Di rahimnya dalam Dirinya kelah.


" Kenapa berhenti...? " Dina merapatkan tubuh mungilnya dengan tubuh kekar, Diyan.


" Aku, Milikmu... Suamiku " Dina mencium bibir seksi, Diyan dengan lembut dan tanpa malu, pelan- pelan menggesek-gesekkan, Buah keputihannya pada ular milik, Diyan yang terus saja mematuk liang nikmat kegelapannya.


" Mas... Aku... " Dina melenguh panjang, Merasakan liangnya, Berdenyut gatal dan terus meminta. Dina, Sudah bagaikan Wanita penggoda saja, Menggoda Suaminya.


Nafas, Dina memberat dan begitu juga dengan, Diyan. Tapi, Diyan, Belum juga mau melakukannya, Rasa bimbang, Di hatinya lebih besar, Mengalah gairah dalam dirinya yang semakin membesar. Di kedua sisi tubuh, Diyan, Jemari tangannya mengepal, menahan gairah yang terasa menyiksanya. Namun, Tiba-tiba, Diyan, Merasakan dorongan dari sentuhan hangat dan lembut, mendorong tubuhnya terjatuh berbaring, Di ranjang hotel itu.


" Aku, Tidak akan menyesal... " bibir Dina, Mencium lembut, Kening, Hidung mancung dan berakhir di bibir Diyan. Diyan, Memejamkan matanya, Dan merasa masih bimbang, Atas godaan Istrinya. Bahkan, Diyan, Tidak sedikit pun memberikan perlawanan dan tidak membuka bibirnya. Membiarkan, Dina melakukan apa pun, di atas tubuhnya.


" Aku, Juga tidak terpaksa... " Bibir Dina, Turun, Di leher Diyan, Membuat tanda merah di leher Suaminya. Diyan, Melenguh nikmat, Jemari besarnya meremas sprei putih itu, Masih mencoba menahan, Naluri Pria dalam, Dirinya.


" Apa... Perlu, Kakak yang melakukannya terlebih dulu, Adikku? " Tanya Dina, Tersenyum menggoda.


Diyan, Yang memejamkan matanya, Seketika langsung membukanya. Mendengar perkataan, Dina, Membuatnya membuka mata hitamnya yang segelap langit malam itu. Dina, Menggesekkan lagi, Buah keputihannya pada ular milik, Diyan.


" Diyan, Aku Milikmu " Dina, Menekan liang kenikmatannya pada ular, Suaminya. Menekan dan membiarkan, Ular itu, Memasuki tubuhnya, Yang terasa menyakiti dan membelah tubuhnya.

__ADS_1


" Ternyata... Benar- benar sakit! " Dina, Lebih Memilih menjerit sakit, di dalam hatinya. Dina, Beberapa hari lalu, Mencari hal yang berhubungan dengan penyatuan, Tanpa sepengetahuan, Diyan. Jadi, Tidak heran, Bila Dina, Tahu melakukannya dan tentunya, Tahu, Apa yang akan di lakukannya selanjutnya?


Diyan, Bisa merasakan, Ularnya, telah menebus dinding keperawanan, Istrinya. Diyan, Sangat terkejut, Dina begitu berani melakukannya, Di dalam perasaan kebimbangannya. Tapi, Kini, Diyan merasakan kenikmatan yang tiada tara, Dinding liang kenikmatan, Istrinya, Menjepit ularnya, Di dalam sana dan menghilangkan kebimbangan, Di dalam hatinya.


Kilatan mata ke abu-abuan Dina, Berkaca-kaca, Kristal bening itu, Mencair dan tumpah, membasahi pipi, Dina. Sebentar, Dina mendiamkan, Dirinya, mengikuti petunjuk dari apa yang telah di baca dan diketahuinya? Diam, dan Membiarkan, Dirinya menerima ular, Diyan di dalam liang kenikmatannya. Sampai detik kemudian, Dina layaknya tengah menunggangi kuda, Di atas tubuh kekar, Diyan.


" Dina... " Lirik Diyan dengan nafas berat, Menatap mata ke abu-abuan itu. Tangan, Diyan berpindah, Mengusap air mata, Istrinya.


" Aku, Menikmatinya " Desak Dina, Sambil bergoyang pinggulnya dalam rasa kenikmatan yang sangat luar biasa, Sehingga rasa sakit, yang di rasakan sebelumnya, sudah hilang, tenggelam dalam gairah bercinta yang, Dina ciptakan.


" Sentuh, Aku, Sesuka, Mu... " kedua tangan, Dina, Membawa kedua tangan, Diyan yang berada, Di wajahnya. Berpindah, di kedua bola kembarnya yang sejak tadi bergoyang ria. Tapi, sekarang, tangan besar, Diyan bermain, Di bola kembarnya yang padat dan kencan, sangat menggoda.


Lenguhan, Dan desakan, Bersautan, Dina dan Diyan, Menikmati permainan yang mereka ciptakan berdua, Manis yang memabukkan. Detik, menit dan satu jam berlalu, Dina dan Diyan mendapatkan pelepasan bersama-sama. Namun, Dina masih saja menikmati permainan yang, diciptakannya dan belum membiarkan, Suaminya, Memimpin permainan yang penuh kenikmatan dalam gairah bercinta.


Diyan, Membawa tubuhnya duduk, Dan membiarkan, Istrinya memuaskan ularnya dan dirinya. Tapi, Diyan kurang, puas, Bila tidak menikmati kedua bola kembar, istrinya. Dengan, buas, Bibir Diyan, Menikmati kedua bola kembar, Istrinya secara bergantian. Sehingga, Dina, Memperlambat goyang tubuh mungilnya.


" Terus... Aku, Menyukainya, Suamiku. Sangat... " Bisikan menggoda, Dina, Menggelitik Indra pendengaran, Diyan. Diyan, Semakin bersemangat, Menikmati kedua bola kembar, Dina, Bagaikan bayi kelaparan.


Diyan, Baru sadar, Dina mempunyai, Gairah yang begitu tinggi. Dina, Sudah berapa kali, Mendapatkan pelepasannya, dan begitu, Juga dengan, Diyan. Hanya, Saja, Diyan masih kalah, Dengan, Dina, Istrinya itu. Karena, Di ronde, Ketiga, Diyan yang memimpin, Sudah tumbang, Berbaring di samping, Dina. Sedangkan, Dina, Tersenyum senang, Merasa menang menantang gairah dalam diri, Suaminya itu.


Dina, Baru sadar, Dirinya, Mempunyai gairah yang sangat tinggi dan Di bawa tubuhnya, Masih saja berdenyut-denyut nikmat. Sisa-sisa permainan bercintanya dengan, Diyan, Suaminya itu. Diyan tengah tertidur, Memeluk, Tubuh mungil, Dina yang sama-sama polos, Di dalam satu selimut tebal berwarna putih gading.


Permainan yang begitu panas dalam kenikmatan yang luar biasa, dan melelahkan, Jiwa dan raga, Dalam rasa manis yang memabukkan gairah bercinta. Di saksikan, Gemerlap bintang dan sinar rembulan malam, Hingga selesai. Tanpa kata, Dina dan Diyan, Meninggalkan bintang dan bulan, Yang hanya diam memandang mereka berdua, Di Angkasa luas, gelapnya langit gulita malam, Kota Paris.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2