
Langit biru gelap, Dan sinar rembulan malam, Gemerlap cahaya bintang, Di Angkasa. Semilir angin malam berembus dingin, Dan Kendaraan mobil dan motor, Di lalu lalang jalan Aspal. Serta, Tiang lampu, Berdiri tegap, Di pinggiran jalan. Menerangi dan menemani, Perjalanan para kendaraan.
Diyan, Mengemudikan mobilnya dengan perasaan hati yang berat dan tidak rela. Meninggalkan, Istri tercintanya, Di rumah panggung yang menjadikan kejutan untuk, Dina. Rumah impian, Dina, Rumah yang, Di ciptakan untuk, Dina dan Dirinya. Namun, Di satu sisi hatinya, ingin pergi ke acara pesta dan bertemu teman-temannya. Tapi, Pada akhirnya, Diyan tetap pergi dan akan segera kembali secepat mungkin. Karena, Diyan tidak ingin berlama-lama meninggalkan, Dina, Sendirian, Di rumah panggung.
Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) Yang menjadi tempat pemberhentian dan tujuan, Mobil, Diyan. Kemudian, Diyan pun keluar dan turun dari mobilnya. Berdiri diam sebentar, Dengan tatapan mata sehitam langit malam itu, Menatap gedung yang sudah, Di tinggalkannya selama dua tahun. Tapi, Hari ini, Diyan kembali memijakkan kakinya, Di universitas tempatnya menimba ilmu.
Namun, Diyan tidak menyadari, Seorang Pria dengan setelan jas biru gelap melekat, Di tubuh gaganya yang tegap dan dasi hitam melingkar, Di kerak leher kemeja putihnya. Serta, jam tangan mahal branded dan Sepatu fantofel, menambah ketampanannya. Berjalan pelan mendekati, Diyan.
" Tidak terasa, Ya, Yan? Sudah, Dua tahun, Kita berpisah dan Tidak bertemu. Apa, Teman es, Ku masih mengenal, Diri, Ku ini? " Kata Pria itu, Berdiri, Di samping, dan menatap, Diyan. Dengan mata coklatnya, Yang berbinar senang, Bertemu dengan, Diyan.
" Aku, Tidak punya alasan melupakan teman seperti, Mu, Raditya " Jawab Diyan, Mengalihkan perhatiannya menatap wajah tampan yang tidak kalah darinya itu, Teman Kuliahnya.
" Yan, Yan... Kamu tidak pernah berubah ternyata. Masih datar dan Dingin " Ujar Raditya tertawa kecil. Diyan, Tersenyum tipis mendengar ujaran temannya itu.
" Dit, Kamu belum juga menyatakan perasaan, Mu pada, Firna? " Tanya Diyan, Menghilangkan Senyuman, Di wajah tampan dan binar, Senang, Di mata coklat, Raditya.
Melihat, Raditya, Hanya diam dengan sedikit tertunduk kepala. Diyan, Mengerti jawaban dari diamnya, Temannya itu, membuatnya menghela nafas kasar. Sampai beberapa detik kemudian, Diyan berjalan melangkah dan Raditya mengikutinya, Berjalan berdampingan, Memasuki gedung Universitas Padjajaran (Unpad).
" Lakukanlah, Raditya. Jika, Tidak! Suatu hari, Kamu akan menyesal " Tegas Diyan seiring langkah kaki tegapnya. Menghentikan, Langkah, temannya itu dan Menatap sedih punggung belakang, Diyan.
" Diyan... Jika, Hari ini, Kamu menolak, Firna. Aku, Akan Menyatakan perasaan, Ku! " Gumam Raditya dengan keyakinan, Di hatinya.
Gemerlap lampu warna warni dan suara musik DJ, Di atas panggung, Bergema seruan, Di ruangan luas dan lebar itu, Aula Universitas. Diyan, Memasuki pintu Aula, Dengan mata sehitam langit malamnya, Menatap satu persatu penghuni Ruangan. Raditya, Datang dan Berdiri lagi, Di samping, Diyan.
" Yan, Ikut, Aku! " Seru Raditya, Mengalihkan perhatian, Diyan yang tertuju padanya.
Raditya, Berjalan ke arah barat, Dan Diyan mengikutinya dari belakang. Kemudian, Mereka berdua, Duduk, Di kursi yang berdekatan dengan minuman berwarna yang tersusun rapi, Di atas kain biru tua. Di saat itulah, Suara DJ berhenti, lampu berganti dengan warna putih cerah Dan Seruan tidak senang bergema, Di aula.
" Teman-teman, Kita mulai acaranya. Tapi, Sebelum itu, Duduklah, Di tempat kalian! " Perintah seorang Wanita, Dengan menggunakan mikrofon dan berdiri, Di atas panggung. Semuanya pun menurut, Perkataan Wanita itu, yang merupakan Panitia acara pesta alumni malam ini.
__ADS_1
Diyan, Menatap wanita yang berdiri, Di atas panggung. Gaun putih terusan dan sedikit ketat, Memperlihatkan bentuk tubuhnya dan terlihat elegan dan berkelas. Wajah tampan, Diyan tetap datar, Menatap biasa saja dan Mendengarkan setiap perkataan Wanita yang berdiri dengan percaya diri, Di atas panggung.
" Yan, Kamu enggak lupakan, Sama, Dia? " Tanya Raditya, Tepat, di telinga, Diyan.
" Enggak " Jawab Diyan datar.
" Primadona kampus, Kita itu, Si Riana Antariska. Aku, Dengar Sudah menikah dengan salah satu pengusaha termuda, Di Paris dan Di Indonesia. Kalau tidak salah, Nama, Suaminya, Kevin Aprilio Cathy " Jelas Raditya. Diyan, Terkejut mendengar nama terakhir yang, Temannya itu, Sebutkan.
" Kevin Aprilio Cathy?! " Ucap Diyan, Mengulangi dan memastikan, Nama yang, Raditya, Sebutkan.
" Iya! Aku, Mendengar ini saja sangat terkejut. Riana kan, Miskin tu, Eh! Tiba-tiba sudah nikah aja sama milyader. Masih belum percaya, Aku, Yan! " Penjelasan Raditya. Membuat, Diyan sangat terkejut dan terdiam mematung. Mengkhawatirkan sesuatu yang sudah, Hilang dari pikiran dan beban hatinya.
" Itu berarti... Kak Kevin, Ada, Di sini?! Besok, Aku harus kembali ke Jakarta. Tidak akan, Aku biarkan, Kak Kevin bertemu dengan, Dina! " Dalam hati, Diyan.
Acara, Di mulai dengan memotong kue oleh Dosen, Wanita dan Pria paru baya, Suami istri, yang bertanggung jawab dalam acara pesta malam ini. Setelahnya, Acara lainnya, adalah bergoyang ria bersama-sama mengikuti alunan musik DJ dan warna lampu yang kembali, Di ganti jadi, Warna warni.
" Firna, Aku harus melakukan apa? " Tanya Raditya, yang tiba-tiba saja, berdiri, Di belakang, Firna.
Firna, Tertegun, Mendengar suara berat, Raditya, Di Indra pendengarannya. Dengan, nafas hangat, Raditya, Menyapu tengkuk kulit putih, Lehernya. Berbalik badan, Yang seketika, Wajah Firna berdekatan dengan Raditya. Tanpa sadar, Mata coklat terang, Firna, Membalas tatapan mata coklat, Raditya, Yang mendebarkan jantungnya.
" Raditya, Menjauhlah " Ucap Firna, merasa gugup. Tapi, berusaha terlihat tenang dan biasa saja, Di hadapan, Raditya.
Raditya, Tersenyum merasakan nafas hangat, Firna menyapu kulit, Di wajah tampannya. Bahkan, Raditya tergoda, Ingin mencium bibir merah merona yang menggoda, Di hadapannya. Raditya, Sempat terlena dalam aroma parfum yang, berada, Di tubuh indah, Firna yang memakai gaun biru tua yang hampir serupa dengannya. Tapi, Dengan santai, Raditya mundur selangkah, bersikap biasa saja.
" Aku, Harus melakukan apa? " Raditya, Mengulangi pertanyaannya pada, Firna.
Seketika, Firna kembali pada niatnya, Rencana yang sudah, Di susunnya. Dengan elegan, Firna mengambil satu gelas minuman warna oranye dan langsung memberikannya pada, Raditya.
" Cukup, Kamu berikan jus jeruk ini pada, Diyan. Sesudah itu, minta, Diyan temui, Aku, Di lobi laboratoriun " Jelas Firna, Dengan binar senang, Di mata coklatnya. Membuat, Raditya tidak sanggup untuk menolak keinginan, Firna.
__ADS_1
" Baiklah, Aku akan pergi dan Kamu, Tunggu saja, Di lobi laboratoriun. Aku, Akan minta, Diyan, Ke sana " Kata Raditya dan berlalu pergi, Meninggalkan, Firna.
" Jika... Di lihat, Raditya, Memang tampan dengan memakai setelan jas. Tapi, Diyan tetap lebih tampan! " Di dalam hati, Firna. Mengagumi ketampanan, Raditya dan baru menyadari, Jika gaun yang, Di kenankan hampir sama warnanya dengan, Raditya. Seakan mereka berdua sepasang kekasih saja.
Firna, Menggelengkan kepalanya, Baginya, Raditya, Teman dan tidak lebih dari apa pun. Kemudian, Dia pun meminum jus jeruk yang sama-sama sudah, Di berikan bubuk putih olehnya. Dengan, Jus jeruk yang, Di bawakan, Raditya untuk, Diyan.
" Diyan, Sayang... Malam ini, adalah Malam yang indah untuk, Kita berdua! " Kata Firna pelan, Berbisik-bisik. Hingga, Tidak ada yang mendengar yang, Di Katakannya.
Firna, melangkah pergi, Keluar dari Aula. Menuju, Lobi laboratoriun, Yang sudah, Di dekorasinya, Dengan berbagai lilin yang menyebarkan aroma wangi yang mampu memabukkan. Duduk, Di sisi ranjang yang berukuran sedang, Cukup untuk dua orang. Menantikan seseorang yang, Di inginkannya.
Menit berlalu, pintu lobi laboratoriun terbuka. Tapi, Tiba saja lampu mati, Dan angin dingin bertiup kencang dari jendela dan memadamkan lilin, Di ruangan laboratorium. Firna, tidak bisa, Melihat siapa yang datang, Di tengah, Dirinya Merasakan panas, di sekujur tubuhnya, Dan berjalan cepat, Mendekati tubuh tegap yang berdiri, Diam, Di dekat pintu.
" Diyan, Aku ingin... Kamu, Menjadi milikku " Desak Firna. memeluk erat tubuh tegap, Di dalam kegelapan itu.
Tubuh tegap seorang Pria yang, Firna dekap erat. Hanya, Diam, Tidak bergeming sedikit pun. Mata coklat terang, Firna menatap pintu yang masih terbuka. Dengan cepat, Melepaskan pelukan dari tubuh tegap itu, Dan langsung menutup pintu. Sesudahnya, Firna kembali memeluk erat tubuh tegap yang tetap, Diam mengawasinya.
" Firna, Aku tidak menyangka, Kamu akan berbuat seperti ini " Suara berat, Pria itu, Terdengar jelas, Di Indra pendengaran, Firna.
" Diyan, Jadikan, Aku milikmu?! " Firna, Merasa yakin, Yang ada bersamanya, Di dalam pelukannya adalah Diyan.
" Kamu, Harus menjadi milikku! " Hardik Pria itu, Di dalam kegelapan. Firna, Tersenyum bahagia mendengar perkataan, Pria yang tengah berada, Di dalam pelukannya.
Tidak ada lagi yang bisa, Firna dan Pria itu, katakan. Selain, Tindakan yang mereka berdua lakukan dalam permainan penuh nikmat yang menjadikan mereka satu, Di malam yang indah. Lenguhan, Desakan dan Erangan, Di dalam ruangan sepi dan gelap gulita itu. Malam yang indah, Firna inginkan, Membuatnya kehilangan keperawanannya.
" Aku, Mencintai, Mu, Firna " Ucap Pria itu, Dengan lembut mencium kening, Firna yang berada dalam pelukannya, Di dalam satu selimut dengannya.
Firna, Tersenyum mendengarnya, Dan perlahan memejamkan matanya, Menggapai mimpi indahnya. Rasa lelah, Sesudah merenggut manis yang memabukkan dan nikmat surga dunia yang tidak terhindarkan. Keindahan malam, Di Angkasa, Menjadi saksi bisu, Firna dan Pria itu, Lakukan, Di dalam kegelapan.
...Bersambung...
__ADS_1