
Ruangan bernuansa klasik, Dengan warna coklat terang, Di padu warna hitam kecoklatan pada tiap dinding dan benda, Di ruang kerja, Endra. Berbagai jenis warna buku tersusun rapi, Di rak kayu, Khusus untuk buku-buku yang cukup banyak itu, Di sisi ruangan. Di sisi lainnya, Endra, Duduk, Di kursi hitam yang bisa berputar. Kaca mata putih, Bertengger, Di hidungnya, Memperjelas penglihatannya pada berkas yang berada, Di hadapannya, Di atas mejanya. Dengan sekali-kali, Jemarinya membolak-balik lembaran kertas, Di berkas pentingnya.
Tok Tok Tok
Pintu terketuk dari luar, Dan Endra sudah tahu, Siapa yang datang? Dina dan Diyan, Memasuki ruang kerjanya, dan Diyan tidak lupa, Kembali menutup pintu dengan rapat.
" Duduklah, Agar, Papa bisa mengatakan hal penting yang ingin, Papa sampaikan pada, Kalian berdua " Kata Endra.
Dina dan Diyan, Saling menatap, Dan Kemudian, Sama-sama duduk, Di hadapan, Endra, Dengan berbatas meja persegi. Menuruti perintah, Papanya, Dengan perasaan bingung, Resah dan Gelisah. Karena, Endra tidak seperti biasanya yang tiba-tiba, Meminta mereka berdua, Datang ke ruang kerjanya.
" Diyan... Papa, Tahu, Kamu sangat menyukai profesi, Kamu sebagai seorang Dokter. Tapi, Perusahaan Kita yang ada, Di sini, Tidak bisa untuk selalu, Papa tangani. Dan Papa Minta, Kamu memegang kendali perusahaan yang ada, Di sini " Jelas Endra, langsung pada intinya.
" Tapi, Kan, Pa? Ada, Asisten pribadi, Papa yang bisa menangani, Perusahaan, Kita yang ada Di sini. Dan Papa tahu sendiri! Aku, Tidak pernah ingin melakukan bisnis atau menjalankan sebuah perusahaan, Pa! " Ketus Diyan, Merasa terkejut dan kesal, Mendengar keinginan, Papa nya itu.
Endra, Menghela nafas berat, Sudah menduga. Jika, Diyan, Putranya lagi-lagi akan menolak keinginannya. Namun, Di karena perusahaan yang tiba-tiba dalam masalah. Endra, Tidak punya pilihan, Selain meminta kepada, Diyan. Tapi, Mata hitamnya Melirik ke arah, Dina yang hanya terduduk diam mendengarkan saja.
" Jika, Diyan tidak bisa. Maka, Papa tidak punya pilihan! Dina, Yang akan menjadi CEO, Di perusahaan, Papa yang ada, Di sini " Tegas Endra yang tidak bisa, Di bantah.
Dina dan Diyan, Semakin merasa terkejut mendengar perkataan, Sang Papa yang begitu tiba-tiba. Sehingga, Dina maupun, Diyan mematung diam, Tidak bisa mengatakan apa pun. Karena, Melihat Endra yang begitu tegas mengatakan hal penting ini. Tapi, Dina dan Diyan, Menyadari Dua hal.
Pertama, Perusahaan sedang dalam masalah, Tanpa mereka berdua, Di beritahu. Kedua, Kebingungan dengan pertanyaan, Di kepala mereka berdua sudah terjawab. Yaitu, Diyan menolak keinginan, Sang Papa, Menangani perusahaan. Jadinya, Dina yang akan menangani perusahaan, Dengan menjadi, Seorang CEO, Di perusahaan yang ada, Di sini.
__ADS_1
Diyan, Mendesak nafas kasar, Walau tidak setuju dengan keinginan, Endra. Diyan, Juga tidak bisa membantah atau melarang, Dina, Di atas permintaan, Papanya.
" Baiklah, Pa. Aku, Akan membantu, Dina menangani Perusahaan, Kita yang ada, Di sini. Tapi, Pa, Besok itu, Aku pindah tugas ke Bandung selama dua Minggu dan Aku, Ingin mengajak, Dina bersama, Ku " Jelas Diyan pada, Endra.
Endra, Tersenyum simpul, Mengerti maksud, Putranya itu. Dia, Pun mengaguk kepalanya, sebagai tanda, Dirinya mengijinkan, Diyan membawa, Dina ke Bandung. Dan Juga, Mengundurkan Waktu, Dina untuk, Di jadikan, CEO, Di perusahaannya.
Dina, Tersenyum malu, Dirinya juga mengerti maksud, Suaminya itu. Tapi, Dina juga sangat berterima kasih pada, Diyan yang seakan mengerti keinginan hatinya. Dirinya, Belum merasa siap menangani perusahaan dan tanggung jawab yang begitu besar, Baginya.
" Papa, Juga ingin pergi ke London, Menangani perusahaan, Di sana. Hanya saja, Papa tidak tahu, Berapa banyak Waktu yang, Papa perlukan, Di London " Endra berdiri dari duduknya, Melangkah mendekati, Putranya itu.
" Jadi, Papa minta... Segeralah. Selesaikan, Tugas, Mu, Di Bandung. Papa, Tidak akan tenang, Bila tidak ada yang menjaga, Mama, Adik, Kakek dan Nenek, Di sini. Papa, Juga ingin memberitahu, Mu, Diyan " Endra memegang pundak tegap, Diyan.
" Berarti... Papa, Sudah tahu! Jika, Aku sudah menjadi, Dokter selama Dua tahun ini?! Tapi, Kenapa... Papa, Selama ini terlihat biasa saja? " Diyan bertanya dalam hatinya. Hingga, Senyuman kegetiran terukir, Di wajah tampannya.
" Mas Diyan, Kenapa? " Tanya Dina, Menyadarkan, Suaminya dari lamunannya.
" Tidak ada " Jawab Diyan pada, Istrinya.
" Sekarang, Ayo, Kita ke kamar dan Tidur. Aku, Juga ingin memberitahu, Mu satu Rahasia, Sebelum tidur " Lirik Diyan, Sambil menarik pergelangan tangan, Istrinya mengikuti langkahnya.
" Rahasia?! " Dalam hati, Dina merasa terkejut.
__ADS_1
Dina dan Diyan, Meninggalkan ruang kerja, Endra dan Kembali ke kamar mereka berdua. Sesudah sampai, Di dalam kamar, Diyan melepaskan cekalan tangannya pada, pergelangan tangan, Dina. Diyan, Masuk kamar mandi, Membasuh wajah dan Menyikat, Gigi putihnya. Dina, Menutup dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian, Masuk ke kamar mandi, Dan Diyan keluar dari kamar mandi.
Diyan, Duduk bersandar, Di sandara kepala ranjang. Dengan, Kakinya berselonjor, Di bawa selimut, Biru cerah bermotif bunga-bunga. Mata sehitam langit malam, Diyan, Menatap kosong langit-langit kamarnya. Menerawang kejadian, Dua tahun lalu, Ketika, Dirinya sudah lulus kuliah dulu.
Dina, Keluar dari kamar mandi, dan Duduk, Di sisi sebelah kiri, Suaminya. Diyan, bergeming, Lamunan panjangnya hilang dari ingatan masa lalunya, dan Tersadar ke dunianya yang nyata, Karena pergerakan, Dina, Di ranjang. Diyan, Menatap wajah cantik, Dina yang ada, Di hadapannya.
" Dina... Aku, Lulus kuliah itu... Dua tahun lalu. Bukan, Di hari pernikahan, Kita " Lirik Diyan memberitahu Rahasianya pada, Istrinya.
Dina tertegun, Mendengar perkataan, Diyan. Namun, Detik Kemudian, Dina menyadari, Suaminya itu. Terpaksa, Merahasiakan, Ke lulus kuliahnya yang sebenarnya terjadi, Di dua tahun lalu. Karena, Tidak ingin bertemu, Dirinya.
" Sudah, Mas tidak perlu menjelaskan kepada, Ku. Kenapa, Mas Merahasiakan itu, Dari, Ku? Aku, Tahu jawabannya dan Aku, Tidak ingin mengenang masa lalu itu " Ujar Dina sambil tersenyum hangat. Diyan, Menghela nafas lega, Dan membalas senyuman, Dina.
" Tapi... Jika, Mas masih punya rahasia lagi. Katakan, Sekarang saja " Kata Dina. Sempat membuat, Hati, Diyan tidak nyaman. Di saat, Mendengar kata 'Tapi' yang terdengar panjang, Mendebarkan jantungnya. Diyan, Kembali tersenyum kelegaan, Mendengar keterusan Perkataan, Dina.
" Tidak ada lagi, Rahasia, Istriku. Suamimu, Ini sudah mengatakan semuanya! " Seru Diyan memeluk erat, Dina.
" Benarkah...? Awas saja! " Ketus Dina pura-pura kesal. Hingga, Menciptakan tawa, Di bibir, Diyan.
Dina dan Diyan, Memilih untuk segera tidur. Tanpa melakukan apa pun lagi, Menggapai mimpi indah mereka berdua. Di dalam kedinginan dan kesunyian malam yang indah, Di Angkasa. Namun, Diyan lupa akan satu hal lainnya. Tidak memberitahu, Dina mengenai, masa lalunya. Dengan adanya satu Wanita yang begitu dekat dengannya, Menjadi Sahabatnya. Tidak tahu? Apakah, Diyan menyadari? Bila Wanita yang hanya, Di anggap Sahabat, Baginya. Telah menaruh perasaan dan harapan akan membalas rasa Cintanya suatu, Saat, Di masa depan. Wanita itu, Selalu menanti kehadiran, Diyan, Di Bandung. Bandung yang menjadi saksi nyata akan kedekatan, Diyan dan Wanita, Di masa lalunya.
...Bersambung...
__ADS_1