
Diyan, Menaiki tangga dan tidak sabar membuka pintu kamarnya. Karena, Ingin segera merasakan kehadiran, Istrinya, Yang telah membuatnya, Khawatir dan panik, Selama satu hari ini.
Ketika, Sampai di depan pintu kamar. Diyan, Langsung memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Pintu terbuka dengan mudah, Karena untungnya tidak di kunci. Diyan, Masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintu juga, Menguncinya.
Penciumannya langsung di segukan, Aroma wangi khas Wanita. Aroma parfum, Dina, Istri tercintanya. Diyan, Melangkah perlahan, Meletakkan tas kerjanya pada tempatnya. Tatapan mata hitamnya yang tajam, Menatap ranjang yang di sana, Ada Dina yang tengah tertidur lelap.
Diyan, Duduk di pinggir ranjang, Melepaskan sepatunya dan Melepaskan kemeja birunya. Merasa Dirinya berkeringat dan bau yang tidak begitu tidak di sukai. Membuatnya, Melangkah pelan dengan cepat ke dalam kamar mandi, Dengan Membiarkan pintu terbuka.
" Ada apa dengan, Aku? Belakang hari ini, Aku selalu saja mual setiap kali mencium bau menyengat dan Bau obatan rumah sakit. Tapi, Mencium Aroma Dina, Aku tidak mual sama sekali dan Mala sangat ingin menghirup aroma itu, Terus menerus. Apa, Aku sudah mulai gila? Karena, Aku dan Dina, Sudah mulai jarang melakukannya " Gumam Diyan, Berbicara sendiri dengan menatap pantulan wajahnya di cermin.
" Ah.. Lebih baik, Aku mandi. Setelah itu tidur, Hari ini sangat melelahkan dan Untungnya, Kecemasan Ku selama seharian ini, Sia sia saja. Dina, Tidak kenapa-napa dan Dia, Bahkan tidur, Tanpa menunggu kepulangan Ku atau setidaknya mengabari Diriku. Bila, Dia sudah ada di rumah " Diyan mendesak nafas lelah dan tidak sadar, Sepasang mata abu-abu yang indah, Tengah menatapnya dengan heran. Karena, Berbicara sendiri di dalam kamar mandi.
Diyan, Melepas semua pakaiannya dan Mandi, Di bawa shower. Hingga, Kemudian, Dia terkejut. Merasakan, Tangan halus yang memeluknya dari belakang.
" Dina, Apa kamu terbangun karena, Ku? Maaf, Aku tidak bermaksud, Mengganggu tidur, Mu " Ujar Diyan lembut. Kemudian, Berbalik badan, Melihat istrinya dengan tubuh yang sama-sama polos seperti, Dirinya.
__ADS_1
" Aku, Bersyukur. Jika, Suamiku, Membangunkan, Ku. Karena, Aku sudah lama menunggu " Kata Dina, Dengan meletakkan kepalanya di dada bidang, Diyan.
Kehangatan tubuh dan air hangat atau air tidak terlalu panas itu, yang membahasi mereka berdua. Menciptakan sensasi yang cukup lama tidak, Dina dan Diyan, Rasakan. Kini, Mereka berdua rasakan lagi. Di karena kesibukan masing-masing. Membuat, Mereka berdua jarang ada waktu bermesraan, Berbagi kasih sayang dan Cinta.
" Kenapa? Apa, Istriku, Menginginkannya? Emm " ucap Diyan, Mengecup kepala, dan memeluk erat, Dina, Dalam kehangatan cintanya.
" Mas... Aku, Ingin hamil " Perkataan Dina, Yang tidak terduga oleh Diyan sungguh mengejutkan.
" Kenapa... Kamu, Begitu tiba-tiba? Apa, Mama masih meminta itu? Apa ada orang lain mengatakan hal yang membuat, Mu mengatakan ini? " Cecar Diyan, Dengan lembut, Melepaskan, Dina dari pelukannya dan Menatap dalam mata indah, Dina.
" Tidak, Mas.. " Dina, Menggelengkan kepalanya dan Memeluk erat lagi, Suaminya itu.
" Dina... Kita, Harus bersabar. Suatu hari, Kita pasti akan memilikinya " Kata Diyan lembut. Dengan hanya memberikan pelukan pada, istrinya. Karena, Dia pun tidak tahu harus berkata apa? Selain, kasih sayang dan Cinta yang bisa, Dia berikan. Walau sebenarnya, Dirinya, Juga menginginkan, Dina hamil. Namun, Tuhan belum menghendakinya seorang Bayi dan Dia, Cukup bersabar dan Tidak akan mungkin menekan, Dina, Untuk harus memilikinya. Pasti, Suatu saat, Di antara mereka berdua, akan ada bayi kecil.
" Mas, Aku menginginkan, Mu. Aku, Ingin menghabiskan satu hari penuh bersama, Mu. Bisakan? " Ujar Dina, Menatap wajah tampan, Suaminya yang telah di basahi air. Terlihat begitu Seksi dan Seakan tidak sabar, Menikmatinya.
__ADS_1
" Baiklah. Aku, Akan turuti semua keinginan, Mu. Tapi, Jangan terlalu memaksa, Diri. Suatu hari, Kita pasti memilikinya, Bersabarlah... " Jelas Diyan, Begitu lembut.
Dina dan Diyan, Kembali merasakan manis dalam kedinginan malam dan Kehangatan cinta mereka berdua. Tidak perduli apa yang terjadi besok. Karena, mereka berharap dalam satu hari menghabiskan kebersamaan akan menghasilkan hal yang mereka inginkan.
Namun, Tiba-tiba saja. Di tengah bergelutan asmara bercinta mereka yang panas itu, Harus terhenti. Kala, Dina, Meringis sakit " Ah sakit " dengan menekan perutnya yang tiba saja terasa keram.
Padahal, Tadi Dia begitu menikmati, bersemangat dan terus-menerus, Meminta pada, Suaminya untuk mengulang lagi-lagi.
" Ada apa? Apa, Aku terlalu kuat? Apa, Aku membuat, Mu kesakitan? " Cecar Diyan, Sangat khawatir. Turun dari ranjang dan Mendekati, Istrinya.
" Aku, Tidak tahu, Mas. Tiba saja, Aku merasakan sakit dan Keram di perut, Ku " Lirik Dina.
Diyan, Pun menatap Kewanitaan, Istrinya dan Amat terkejut. Ketika, Melihat ada darah yang keluar dari kewanitaan, Dina. Dengan cepat, Diyan membuka lemari dan memakai celana training dan Sweater Hitamnya. Kemudian, Mengambil pakaian yang sangat tertutup untuk di pakai pada, Dina. Dengan tanpa kata, Diyan menggendong, Dina, Berjalan cepat dan Juga hati-hati menuruni tangga.
" Dina, Kita, Harus ke rumah sakit. Maaf... Aku, Seharusnya tidak menyakiti, Mu " Ucap Diyan sedih dan merasa bersalah.
__ADS_1
" Mas... " Dina, Pingsan. Membuat, Diyan, Semakin panik, ketakutan dan Dengan cepat, Berlari masuk kedalam mobil. Kemudian, Diyan, Mengemudikan mobilnya. Segera pergi Menuju rumah sakit, dan berharap, tidak ada apa pun yang terjadi pada, Dina. Berharap akan baik-baik saja.
...Bersambung...