
" Kak Dina! Rissa rindu... " Marissa yang menyadari kehadiran Kakak tersayangnya, Langsung berlari dan memeluk Dina.
Dina sedikit terkejut dengan perlakuan Adiknya yang tiba-tiba memeluknya. Senyuman manis terukir di wajah cantiknya, Dina mengusap kepala dan juga pundak Rissa, Dengan tangan kirinya. Dina belum menyadari, Bila tangannya belum melepaskan gandengan tangannya dengan tangan Diyan.
" Kakak, Juga merindukan, Mu, Rissa. Sangat... Merindukan, Mu, Adikku " Ucap Dina lembut
" Kak Dina " Marissa melepaskan pelukannya dan menunjukkan wajahnya yang cemberut pada Dina.
" Kak Diyan... Enggak sayang, Rissa lagi " Mendengar pengaduan Rissa, Dina menatap pria yang hanya berdiri dengan diam di sampingnya.
" Siapa bilang, Kak Diyan tidak sayang, Rissa? " Tanya Diyan menatap wajah Cantik nan imut Adiknya itu.
" Kalau, Kak Diyan, Sayang, Rissa. Kenapa tadi usir, Rissa? " Marissa balik bertanya pada Kakaknya itu.
" Tadi... Kakak sedang kesal, Karena ada yang mengganggu kegiatan, Kakak " Diyan memberikan alasan yang menurutnya masuk akal, Ketika semua mata tertuju padanya.
Namun, alasan Diyan terdengar seperti kebohongan. Endra dan Zaskia menatap Dina dan Diyan bergantian. Kedua sudut bibir tertarik membentuk senyuman cerah, Melihat Dina dan Diyan bergandengan tangan. Zaskia berdiri dari duduknya meninggalkan Suaminya, dan Endra membiarkan saja, Istrinya itu pergi mendekati putra dan putrinya.
Marrisa berpindah dari depan Dina kepada Diyan, Memeluk Sang Kakak dengan hangat dan Sayang. Begitu juga dengan Diyan, Membalas pelukan Adik Kandungannya itu, Adik yang sangat di manjakan di keluarga Prabowo.
__ADS_1
" Mau sampai kapan kalian berdua bergandengan tangan? Dina, Diyan? " mendengar perkataan Sang Mama. Dina dan Diyan dengan cepat melepas gandengan tangan mereka berdua. Dina tersenyum malu, Dan Diyan terlihat biasa saja, Tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Zaskia berdiri di samping Dina, Sembari tersenyum senang, Mengetahui perkembangan dalam hubungan Dina dan Diyan ada kemajuan. Hingga manik sepasang matanya, Tidak sengaja melihat sesuatu tanda yang mengganjal di leher Dina. Dengan rasa penasaran, Zaskia mengakat tangannya dan menyikap sedikit kain yang menutupi leher jenjang Dina.
Dina terkejut, Dengan ulah tangan Mamanya, yang tiba-tiba kulit lehernya merasakan sentuhan hangat jari Mamanya. Membuatnya, mematung diam, dan tidak mampu bergerak sedikit pun dari tempatnya. Dina yakin, Mamanya pasti sudah melihat tanda hasil karya Diyan yang sudah membekas di lehernya.
" Jangan-jangan... Ini yang di maksud, Mas Diyan? Pengadilan! " Pekik Dina dalam hati. Menyadari dirinya saat ini, menjadi korban dan Diyan adalah tersangka. Hakim dan wakilnya adalah orang tuanya, Kakek, Neneknya dan Rissa menjadi Anggota lainnya. Pengadilan di rumah!.
" Pa... " Zaskia mengalihkan pandangannya pada Suaminya. Endra yang sejak tadi menatap kearah Putra, Putri dan istrinya. Endra berdiri, Mendengar suara Sang istri memanggilnya dengan binar mata senang, Bahagia dan haru menjadi satu di bola mata Zaskia.
" Ada apa, Ma? " Tanya Endra yang kini berdiri di dekat Sang istri. Melihat itu, Dina terasa sulit bernafas, Sangat malu, Ingin rasanya, Dina berlari, dan bersembunyi di suatu tempat, Hingga tidak ada yang bisa melihatnya di saat itu juga. Bahkan, Dina tidak dapat menggerakkan kakinya, bagaimana mau bersembunyi. Pada akhirnya, Dina Pasrah, Berdiri diam di tempatnya.
" Tidak lama lagi, Di keluarga Kita, Akan ada makhluk kecil " Ucap Zaskia dan langsung memeluk Suaminya. Mata Endra membesar, Sangat terkejut mendengar ucapan Sang istri.
" Kamu... Hamil! " Kata Endra membalas pelukan istrinya dengan sangat erat. Mendengar perkataan Suaminya, Perasaan Zaskia yang tadinya begitu senang dan bahagia, Terganti perasaan tidak senang. Dengan kesal Zaskia melepaskan pelukan Suaminya itu.
" Bukan, Mama, Pa! Ingat umur! Mama enggak mungkin hamil lagi " Ketus Zaskia menatap kesal wajah Suaminya yang sedih bercampur senang, Terganti dengan wajah bingung. Sadar, Bila yang istrinya katakan, Tentu saja benar. Tidak mungkin, Di usia mereka sekarang ini, Zaskia masih dapat mengandung anak.
" Terus... Maksudnya? Mama, Apa? " Endra terlihat bingung, di wajah yang tidak muda itu, Masih saja terlihat ketampanannya.
__ADS_1
" Dina dan Diyan, Pa. Mereka sudah melakukannya! " Zaskia berkata dengan sangat senang.
" Belum jadi, Ma. Itu Si Rissa, gangguannya " Diyan menyahuti dengan santai, Melangkah menjauh, duduk di dekat Kakek dan Neneknya, Yang tersenyum hangat padanya, Dengan wajah yang sedikit keriput.
" Jika, Bukan, Karena, Rissa. Diyan dan Dina pasti sudah... Tapi, Maaf... Mama, Papa. Sebelum, Dina siap! Diyan tidak bisa memaksanya, Itu akan menyakiti hati Dina dan Juga... Hatiku " Diyan berkata dalam hatinya, Dengan perasaan sedih dan rasa bersalah pada kedua orang tuanya yang sangat menginginkan kehadiran makhluk kecil di keluarganya.
Rissa yang berdiri diam, Di depan Dina, Terlihat semakin kebingungan, melihat sikap dan pembicaraan orang tuanya dan Kedua Kakaknya yang tidak sedikit pun dapat di mengerti olehnya.
" Apa yang sebenarnya Papa, Mama dan Kakak bicarakan? Makhluk kecil? Mama tidak hamil... Kak Dina dan Kak Diyan... Ya ampun! Sepertinya, Suatu saat nanti! Aku, Harus siap jadi Tante-tante! " Rissa berkata di dalam hatinya.
Senyuman Zaskia dan Endra hilang seketika, Mendengar perkataan Putranya yang begitu santai mengatakannya. Kedua pasangan mata tertuju pada Dina, Seakan meminta jawaban, Apakah yang Diyan katakan itu benar?.
" Maafkan, Dina. Ma... Pa... Dina, Belum bisa memberikannya... " Lirik Dina.
Rasa malu Dina perlahan luntur, Hilang perlahan tidak tahu kemana, Ketika mendengar suara Diyan yang menjawab kedua orang tuanya itu. Perasaan bersalah timbul di hatinya, Melihat Wanita yang di panggilnya Mama dan Pria yang di panggil Papa. Sangat mengharapkan kehadiran makhluk kecil dalam keluarganya.
" Berikan Dina Waktu... Mama, Papa. Aku, Belum yakin dengan perasaan Dina, Dan Dina tidak ingin melakukannya dengan Terpaksa. Rasanya pasti akan sama... Sangat menyakitkan... " Lirik Dina dalam hatinya, Dina mengingat kenangan pahit di malam pernikahannya. Diyan, Saat itu, Terus menyalakannya, Dan Dina Takut, Itu akan terulang lagi.
Karena, Jika Diyan mengetahui dirinya terpaksa melakukannya, Diyan pasti akan merasa tersakiti, melebihi rasa sakit yang di rasakannya. Dina sangat mengenal, seperti Apa saudara yang telah menjadi suaminya itu. Hanya saja, Dina terlambat menyadari perasaan Diyan padanya. Membuat Dina merasa bersalah pada orang Tuanya dan Suaminya dalam Kebimbangannya mengambil suatu keputusan.
__ADS_1
...Bersambung...