Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Belakang hari ini


__ADS_3

Di kegelapan langit biru gelap, Di Angkasa. Gemerlap bintang yang bercahaya indah, Dan Rembulan sabit, Menghiasi keindahan malam dingin, Di Kota Bandung.


Dina, Keluar dari kamar mandi, Dengan piyama tidur membalut tubuhnya. Duduk, Di meja rias dan memakai krim malamnya, Sebelum tidur. Senyuman manis, Terukir sempurna, Di wajah cantik, Dina. Binar mata ke abu-abuannya, Senang, Menatap pantulan wajah polosnya yang terlihat Cantik, Di cermin riasnya.


Hingga, Pandangannya teralihkan ke arah dinding, Menatap benda berbentuk lingkaran, Berisikan angka dan Dua jarum kecil yang berbeda ukuran. Jarum pendek, Menunjukan angka Sembilan dan Jarum panjang, Menunjukkan angka tujuh. Jam sembilan lewat, Menandakan, Malam mulai larut.


" Mas Diyan... Kenapa, Belum pulang? " Dina, Mendesak Kecewa. Menghilangkan Senyuman manis, Di wajah cantiknya.


Dina, Pun berdiri dari duduknya, Melangkah kakinya, Keluar kamar. Berjalan, sampai menuju meja, Dengan hidangan makan malam yang sudah terasa dingin dan tidak panas lagi. Dina, Duduk, Di kursi kayu coklat itu, Dan menatap sedikit sedih dan Kecewa, masakan yang telah, Di masaknya.


Kesepian, Di kesunyian, Di dalam rumah Coklat yang luas itu. Dina, Melipat kedua tangannya, Di atas meja makan. Meletakkan kepala sambil menatap pintu coklat itu, Berharap akan terbuka dan Memperlihatkan wajah tampan yang tersenyum padanya. Menghilangkan rasa kesepiannya, dan Rasa sedihnya.


Dina, Selalu merasa kesepian dalam beberapa hari ini, Di rumah coklat itu. Menanti kepulangan, Suaminya yang terkadang pulang hingga larut malam. Bahkan, Tidak jarang, Membuat, Dina makan siang dan makan Malam, Di kesendirian. Mengingatkannya pada awal Pernikahannya dengan, Diyan. Dina, Tentunya merasa sedih, Kecewa dan Tidak senang, Berada sendirian, Di rumah coklat yang menjadi saksi bisu, kesepiannya.


Namun, Dina tidak pernah mengatakannya pada, Diyan. Karena, Diyan selalu pulang larut malam dalam rasa yang amat kelelahan dan pagi cerah, Akan kembali berkerja, Di salah satu rumah sakit Bandung. Walau begitu, Diyan tetap mengusahakan, Dirinya untuk lebih perhatian pada, Dina, Bila berada, Di rumah.


Dina, merasa bosan menunggu kepulangan, Suaminya. Tanpa sadar, Rasa kantuk menyerang pertahanan tubuhnya yang masih ingin tetap terjaga. Matanya perlahan terpejam, Dan Tertidur lelap, Menggapai mimpi indahnya. Berharap, Ketika membuka mata, Sang pemilik hatinya, Sudah ada, Di hadapannya, Seperti biasanya, Di setiap harinya.


Detik, Menit dan Jam, Berlalu. Diyan, Kembali pulang, Memarkirkan mobilnya, Di teras rumah coklatnya. Keluar dari mobil, Dan berjalan dengan langkah berat, Menuju dan Membuka pintu. Mata sehitam langit malam itu, berbinar, Dengan senyuman tipis, Di wajahnya yang lelah itu, terlihat senang. Melihat, Sang istri tercinta, Selalu menunggu kepulangannya lagi dan Lagi.


Walau, Di sisi hatinya yang lain, Diyan sedih. Menyadari, Dina pasti merasa kesepian, Di rumah sendirian belakang hari ini. Karena, Profesinya sebagai seorang Dokter, Membuatnya memiliki Waktu Dengan, Istrinya, Hanya, Di Waktu Pagi dan Malam.


Diyan, Menutup dan mengunci pintu rumahnya. Kemudian, Berjalan, Mendekati, Istrinya yang tertidur lelap, Di meja makan. Hingga, Diyan sudah berdiri, Di samping, Istrinya itu. Dina, Terbangun, Merasakan sentuhan dingin, Membelai kepalanya.

__ADS_1


" Mas... Sudah pulang? " Tanya Dina, Dengan sedikit mengucek matanya. Diyan, Menghentikan tangan lembut, Istrinya Mengucek-ucek matanya. Menggenggam tangan lembut itu, Di dalam kedua tapak tangannya.


" Mas Diyan, Pasti lapar Kan? Sekarang, Ayo makan dulu. Sesudah itu, Baru mandi, Ya? " Kata Dina Dengan lembut. Dengan binar matanya, Menatap jam dinding yang tidak jauh dari pandangannya. Jam sepuluh, Hampir Jam sebelas malam.


Dina, Kembali menatap wajah lelah yang tetap menatapnya dalam diam. Binar mata sehitam langit malam itu, Bersedih. Namun, Dina, Tetap memberikan Senyumannya, dan Menarik tangan dingin, Diyan untuk duduk, Di sampingnya dan Makan malam bersamanya.


" Maaf, Dina. Tadi, Ada Operasi dadakan, Dan Aku, Tidak bisa menahan, Diri untuk langsung menolong nyawanya. Maaf... " Lirik Diyan.


" Tidak apa-apa, Mas. Aku, Bangga pada, Mas Diyan. Karena, Mas, menolong nyawa banyak orang dan Aku, Juga tidak masalah. Bila, Mas Diyan, Terlambat pulang, Asal... Mas Diyan, Kembali pulang dengan selamat. Jadi... Sekarang, Kita makan, Ya? Jangan memikirkan apa pun lagi. Waktunya, Mas untuk beristirahat " Jelas Dina lembut, Sambil menghidangkan makanan, Di piring, Suaminya.


Diyan, Tersenyum lega. Sangat bersyukur, Dina adalah Wanita tercintanya yang selalu mengerti, Dirinya, Dulu sampai sekarang, Dan berharap, Selamanya. Dina, ada untuknya, Bersamanya, Hingga akhir hidupnya.


" Dina, Maaf... Belakangan hari ini... Aku, Jarang memberikan Waktu untuk, Kita berdua. Karena, Profesi dan Kesibukan yang, Aku miliki. Tapi... Besok... Sesuai dengan janji, Ku pada, Mu. Kita akan menghabis Waktu berdua lagi dan Seterusnya, Aku akan lebih mengutamakan, Kamu, Dina dari pada, Apa pun itu! Memiliki, Mu sudah cukup bagi, Ku " Seru Diyan penuh ketulusan hatinya pada, Istri tercintanya.


" Aku, Mencintai, Mu, Dina, Istriku " Ucap Diyan.


Diyan, Membalas pelukan, Istri tercintanya itu. Dalam debaran jantung yang bersatu dalam irama, Debaran jantung, Dina. Rumah coklat yang tadinya, Terasa sunyi dalam kesepian yang, Dina rasakan, Sudah hilang. Cuma ada senyuman bahagia, Di wajah dalam perasaan yang tidak bisa terkira, Seberapa besar rasa yang hatinya rasakan. Dina dan Diyan, Memiliki harapan yang sama, Selalu dan Selamanya, ingin bersama dalam kebahagiaan yang nyata.


Namun, Di tempat lain, Seorang Wanita yang memiliki wajah cantiknya yang menawan dengan mata coklat terang dan Senyuman licik, Di bibir merahnya. Berdiri, Di tempat umum yang tidak terlalu sepi, Menunggu seseorang dalam sesuai janjinya. Masih ada beberapa pedagang pinggiran jalan dan sepasang kekasih yang tengah kasmaran, Di sekitarnya.


" Firna! " Teriak, Seorang Wanita memakai rok mini, Lebih tepatnya, Gaun ketat berwarna hitam kilat, yang menunjukkan lekuk tubuhnya dan Kulit putih kakinya yang jenjang. Berjalan, Dengan gerakan pinggulnya yang mampu mengalihkan perhatian dan menggoda gairah para Pria.


" Ni! Yang, Elo minta " Tukasnya, Setelah mendekat pada, Firna dan Menyodorkan bungkus kecil berisikan bubuk putih, Di dalamnya.

__ADS_1


" Bagus! Berapa, Ni? Gimana pakainya? " Firna, Menerima bungkus putih itu, Dan Menatapnya, Dengan binar senang.


" Untuk, Elo. Satu juta aja deh, Karena, Elo teman Gue. Ini barang bagus, sedikit saja, Elo taburin dalam minuman dan Kasih pada cowok yang, Elo mau, Di jamin deh! Cowok, Elo itu, Langsung nempel sama, Elo. Tapi, Ingat! Jangan kebanyakan, Bisa mati! " Jelas Wanita bergaun hitam ketat itu, Yang merupakan teman, Firna.


" Yakin! Ini enggak boongan kan? "


Wanita bergaun hitam ketat itu, Memutar mata jengah, Sangat kesal pada, Firna yang dengan santainya, Mengatakan barang yang, Di berikan dan Di peringatinya itu, Bohongan. salah besar.


" Serah, Elo deh! Yang jelas hati-hati pakainya! Efeknya cepat berkerja dan Elo, Jangan pakai! " Kata Wanita bergaun hitam ketat itu, memberikan peringatan lagi pada, Firna.


" Lah! Emang kenapa? " Tanya Firna, Menatap temannya itu.


" Takutnya, Elo salah sasaran Ahahahaha " Jawab Wanita bergaun hitam ketat itu, Meledek dan menertawakan, Firna.


" Ya, Uda! Enggak usah, Ketawa! " Ketus Firna kesal. Wanita bergaun hitam ketat itu, Menghentikan tawanya.


" Ok, Gue tinggal, Ya? Gue, harus melayani sasaran, Gue dan Jangan lupa transfer duitnya! Dadada! " Wanita bergaun hitam ketat itu, Berlalu pergi sambil melambaikan tangannya dengan lembut, Bagaikan Wanita Penggoda.


Firna, Mendengus menatap sedikit jijik, Gaya dan Sikap, Temannya itu. Tapi, mata coklat terangnya, Kembali berbinar senang, Menatap bubuk putih, Di kemasan bungkus kecil yang ada dalam genggamannya. Senyuman licik, Terukir, Di wajah cantiknya yang menawan. Dengan, Pikiran berkelana, Membayangkan, Rencananya akan berhasil.


" Belakang hari ini, Aku tidak melakukan apa pun dan Kalian berdua... Sudah cukup merasa bahagia! Diyan, Kamu akan segera menjadi milikku! " Hardik Firna, Berbisik, Hingga tidak ada yang bisa mendengarkan apa yang, Di Kata-katanya dan Di Pikirkannya. Selain, Dirinya dan Tuhan, Yang mengetahui niat Hatinya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2