Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Le Marais. Adalah distrik bernilai sejarah di Paris, Terdapat bangunan sejarah- sejarah penting di kota Paris. Dina dan Diyan, Menikmati suasana kota Paris di masa lalu yang mengeksplorasi bagian sejarah kota Paris, Memberikan pengalaman gambaran dan Atmosfer kota Paris pada abad pertengahan yang klasik.


Dina dan Diyan saling bergandengan tangan, Dengan senyuman cerah di wajah keduanya. Tidak jarang, ada Pria Spanyol dan Italia tertarik pada kecantikan Dina. Membuat Diyan, Kesal dan menatap dingin dalam tatapan tajamnya yang bagaikan sebilah pisau yang mematikan. Pria- pria asing itu, Seketika langsung berlalu pergi, menjauh dari sepasang mata hitam yang tidak senang melihat mereka.


Diyan, Melepaskan gandengan tangannya dengan Dina, Dan melingkarkan tangannya, di pinggang ramping Dina. Diyan, seakan menunjukkan pada Dunia, Dina adalah miliknya. Walau sedikit kesal, dengan sikap Posesif Diyan, Itu juga membuat, Hati Dina merasa Senang dan bahagia.


" Mas Diyan, Aku tidak akan pergi kemana pun dan Aku, Akan ikut, Kemana pun, Kamu ingin pergi. Jadi... Berhentilah bersikap seperti ini " Kata Dina, Sambil pura-pura berusaha melepas tangan besar Suaminya yang menjerat pinggangnya dengan posesif.


" Ya, Sudah " Ketus Diyan kesal, Melepaskan tangannya dari pinggang Dina, Dan kembali menggandeng tangan lembut Dina dalam genggamannya.


" Kita tinggalkan tempat ini, Aku sudah bosan " Kata Diyan, Melihat masih saja ada Pria asing yang lewat dan terus tertarik menatap kecantikan Dina. Diyan pun langsung membawa Dina berlalu pergi, Dengan menarik Dina mengikuti langkahnya.


Dina tersenyum manis, Binar matanya yang ke abu-abuan itu, Terlihat sangat senang menatap wajah kesal yang terselimuti kecemburuan di dalamnya. Diyan menunjukkan wajah tidak senang yang masih memperlihatkan ketampanannya yang mempesona. Bahkan, Diyan tidak sadar, Dina yang sekarang merasa kesal dan cemburu, Ketika ada beberapa Wanita yang terang-terangan, Menatap intens wajah tampan Diyan.


Saint Malo. Kawasan barat dari Prancis, Toppers. Diyan, Beralih membawa Dina, Mengunjungi wisata pantai. Tepi lautan yang menjelma menjadi Destinasi wisata di Prancis, Awalnya adalah benteng yang di bangun guna melindungi sungai Rance dari bajak laut.


Dina dan Diyan berdiri, Di pembatas besi yang bercat biru laut itu. Berdiri menghadap lautan Destinasi wisata Prancis, Dina merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya, Menikmati keindahan pantai. Diyan tersenyum, Melangkah mendekati dan memeluk tubuh mungil Dina dalam dekapannya, Dari punggung belakang Dina.


" Mas Diyan, Lihat di bawa sana " Kata Dina, Sambil jari telunjuknya, Menunjukkan ke arah timur, Terlihat sepasang kekasih saling menyiram air dengan menggunakan tangan, Bermain air laut pada tempat yang dangkal.


" Ingin mencoba seperti itu? " Tanya Diyan, Sesudah mengikuti arah telunjuk jari Dina.

__ADS_1


" Mau... Tapi, Tidak sekarang " Jawab Dina.


Diyan tidak mengatakan apa pun lagi, Begitu juga, dengan Dina. Keduanya, Hanya diam, Sambil sesekali memejamkan mata, Menikmati kesejukan dan ketenangan, Semilir angin yang berembus lembut, Dalam kehangatan dekapan Diyan yang memeluk Dina dari belakang dengan erat. Namun, Dina dan Diyan, Belum menyadari, Sepasang mata kebiruan, Mengawasi setiap langkah dan pergerakan, Kemana pun mereka melangkah.


" Dina, Sayangku... Aku, Tidak akan lagi melepas, Mu. Tidak sedikit pun! " Hardik Kevin.


Waktu berlalu, Dina dan Diyan, meninggalkan keindahan suasana lautan yang tenang itu. Tapi, Dina dan Diyan, Pergi ketempat lainnya dan tempatnya, masih berada di dekat *S**aint Malo*. Seperti Grand Aquarium, Grande Porte, Musee de la Ville, Dan terakhir Porte St Vincent. Tentunya, Kevin terus mengikuti Dina dan Diyan, Hanya saja, Kali ini, Kevin tidak sendirian, Ada dua Pria kekar, Berkulit putih sedikit kecoklatan, yang sejak tadi, mengikuti kemana pun dirinya pergi.


Hari menjelang sore, Dina dan Diyan, Kini berada di dekat hotel. Hanya, Saja, saat ini, Dina dan Diyan menikmati makanan dan Minuman ala Paris, Yang sangat menggugah selera, Di restoran klasik, Kota Paris. Namun, Belum juga, Diyan menghabiskan makanan, Mau pun minumannya. Diyan, Dikejutkan, Dengan ke datang seorang Pria yang membuat dirinya, Berubah sikap dan meninggalkan Dina, Dengan berkuliah di Bandung.


" Diyan, Dina... Kalian ada di sini? Sejak kapan? Apa kalian berdua sedang liburan? " Cecar Kevin, Pura-pura tidak tahu pada pertanyaan yang sudah, Dia sendiri, Tahu jawabannya.


Pertemuan tidak terduga itu, Membuat Diyan kehilangan selera makannya. Sedangkan, Dina terdiam mematung dalam perasaan yang sangat terkejut, Matanya terbelalak lebar, Melihat mantannya, Kini ada di hadapannya. Pria yang hilang selama enam tahun lamanya, Yang dulu tiba-tiba memutuskan dirinya. Tapi, sekarang, Pria itu ada di dekatnya, tepat berada di depannya, Apa yang harus Dina lakukan?


" Iya, Ini Aku, Dina... Apa kabar, Mu? " Tanya Kevin, Mengukir senyuman di wajah tampannya yang campuran itu.


" Kamu, Tahu... Sampai sekarang, Aku belum bisa melupakan, Mu dan Aku, Masih sangat mencintaimu, Dina " Kevin duduk di samping kursi Diyan, Kedua tapak tangan besar dan jemarinya yang panjang itu, Tanpa izin menjerat tangan Dina dalam genggamannya.


Mendengar dan melihat sikap Kevin pada Dina. Diyan berdiri dari duduknya, kursinya menciptakan bunyi nyaring, Sehingga mengusik perhatian beberapa orang, Dina dan Kevin, tertunjuk padanya. Dina, Baru sadar, Ada Diyan di antara dirinya dan Kevin, di meja makan restoran itu. Kevin tersenyum kemenangan, Merasa rencananya mulai berhasil mendapatkan Dina kembali padanya.


" Kak Kevin... Aku dan Kak Dina, belum lama di Paris, Kami Hanya sedang liburan " Kata Diyan berusaha bersikap biasa saja, Membuat Dina membelalak matanya lagi, Sangat terkejut dan khawatir menjadi satu, Mendengar perkataan Diyan.

__ADS_1


" Kak Dina, Aku akan kembali ke hotel dan Jangan pikirkan, Aku " Diyan berlalu pergi, Dan tidak sedikit pun menoleh kebelakang. Melihat Dina, yang juga sedang menatap kepergiannya.


" Mas Diyan! " Teriak Dina dalam hati. Ingin rasanya, Dina berteriak memanggil Suaminya itu. Tapi, Karena pertemuan tidak terduga yang membuatnya sangat terkejut. Dina, Seakan merasa suaranya hilang dan Lehernya terasa masih tercekik, Membuatnya sulit untuk memekik, memanggil Suaminya.


" Terima Kasih, Diyan! " Kevin merasa senang, Diyan memberikannya waktu berdua bersama, Dina.


" Dasar! Pria bodoh! " Umpat Kevin dalam hati. Mengatai Diyan yang pergi begitu saja, meninggalkan Dina, Istrinya untuk Kevin, di restoran itu.


Sesampainya di kamar hotel, Diyan menjatuhkan dirinya, di atas Ranjang. Membiarkan pintu tertutup rapat dan Tidak menguncinya, Berpikir, Agar Dina kembali nanti, Tidak kesulitan untuk membuka pintunya. Tapi, Apakah Dina, Akan kembali? Atau Dina, Akan pergi menikmati waktu berdua dengan Kevin, Mantannya itu? Mengenang indahnya masa lalu mereka, Di saat masih menjadi sepasang kekasih? Pikiran Diyan berkelana.


Diyan ingin sekali mengikuti kata hatinya, Ingin bersikap egois dengan kebahagiaannya. Pergi, membawa Dina kembali padanya, dan menjauhkan Dina dari Kevin. Tapi, di sisi hatinya yang lain, Berkata, Dina berhak bahagia dan menentukan pilihannya. Diyan teringat, Pada perkataan Dina beberapa jam lalu.


" Mas Diyan, Aku tidak akan pergi kemana pun dan Aku, Akan ikut, Kemana pun, Kamu ingin pergi. Jadi... Berhentilah bersikap seperti ini "


" Dina... Kamu, Tidak melakukan, Apa yang sudah, Kamu katakan pada, Ku? Kamu, Ingin ikut, Kemana pun, Aku pergi dan Melarang, Ku, Bersikap Posesif pada, Mu " Diyan mendesak kecewa, Mengingat perkataan dan Sikap Dina padanya beberapa jam yang lalu. Diyan, Mengakui, dirinya yang begitu ingin memiliki dan Posesif terhadap Istrinya, Wanita tercintanya.


" Tapi... Aku, pergi... Kamu, Tidak mengikuti, Ku " Lirik Diyan. Diyan bangun dari ranjang, Berdiri, menghadap jendela kaca, Menatap keindahan kota Paris, Dengan Sedih.


" Haruskah, Aku menepati janji, Ku... Dengan melepaskan, Mu, Dina, Matahariku " Diyan menatap matahari yang mulai tenggelam dan ingin meninggalkan dirinya yang tengah merasakan sakit, Dan perih di hatinya. Membayangkan matahari itu, Adalah Dina yang pergi meninggalkan dirinya dalam kehampaan dan Tanpa ada Cahaya kebahagiaan.


Karena, Pertemuan tidak terduga, Diyan kembali lagi merasakan sakit Dan perih di dalam hatinya. Seperti pada kejadian, Enam tahun lalu, Dirinya, Hanya bisa diam, Menatap Dina pergi dan bermesraan bersama, Kevin, Di hadapannya. Membuatnya berpikir, Meninggalkan dan merelakan, Dina bersama, Kevin. Dengan membuat hatinya tersakiti dan tersiksa.

__ADS_1


Kaki tegap Diyan, Melemas dan lemah, Seakan terasa tidak mampu menahan bobot tubuh besar dan kekarnya. Perlahan, tubuh Diyan menurun kebawah dan terduduk, di lantai nuansa klasik itu, Bersandar pada dinding ranjang. Menangis lagi, Karena Cintanya pada Wanita yang sama. Kenangan yang buruk itu, Enam tahun lamanya, Kini Terulang kembali, Diyan menangis di dalam kesunyian dan kehampaan Cinta. Membiarkan matahari itu, Pergi dan memberikannya kegelapan yang mampu menenggelamkan dirinya, Di kesendiriannya pada malam yang akan segera tiba.


...Bersambung...


__ADS_2