Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Toilet pesawat


__ADS_3

Pesawat terbang menyentuh Angkasa luasnya langit biru dan awan putih. Dina dan Diyan, Meninggalkan Kota Cinta, Kota Paris yang memiliki keindahan dan suasananya yang Romantis. Menjadi saksi Cinta Dina dan Diyan yang menyambut kebahagiaan, Tanpa memikirkan masa lalu.


Namun, Saat ini, Dina yang duduk, di dekat jendela, Merasa tidak kenyamanan, dihatinya. Menatap, Suaminya yang hanya diam sejak pertemuannya tadi, dengan Kevin, Mantan kekasihnya, Di masa lalu. Lagi-lagi, Masa lalu menjadi masalah dan Gangguan atas kebahagiaan, Dina dan Diyan.


" Mas Diyan " Dina, Memanggil suaminya, Dengan perasaan resah dan Gelisah.


Diyan, Tidak menyahuti istrinya, Hanya saja, Diyan menoleh dan Menatap wajah cantik, istrinya itu, Yang juga tengah menatapnya. Dina gugup, Bingung ingin mengatakan apa? Pada Suaminya itu. Hingga sebuah ide terselip, di pikirannya, Dan Walau pun merasa ragu, Dina ingin mencobanya.


" Aku, Ingin tidur, Mas Diyan... Tapi, Aku Merasa tidak nyaman ti-- " Perkataan Dina terpotong, Karena Diyan menyelanya.


" Tidurlah " Kata Diyan lembut, Sambil merentangkan tangan kirinya.


" Berhasil! " Sorak Dina dalam hati. Karena, Dirinya masih mendapat perhatian, Suaminya. Walau perasaan, Diyan tidak benar baik-baik saja, Saat ini.


Dina tersenyum senang, Dia mendekatkan dirinya dengan, Diyan. Kemudian, Masuk kedalam pelukan yang begitu sangat nyaman dan menenangkan hati juga pikirannya. Sehingga, Kegelisahan dan keresahan dalam hati dan pikirannya, Hilang begitu mudahnya.


" Perkataan orang memang benar... Tempat yang lebih nyaman dan menenangkan, Adalah pelukan dalam kehangatan dari Seseorang yang, Di Cintai dan Mencintai " Kata Dina dalam hatinya.


Diyan tersenyum kecil, Sambil tangan besarnya, Mengusap lembut dan Penuh kasih sayang, Membelai rambut dan Kepala, Dina yang bersandar pada dada bidangnya.


" Selalu dan Selamanya... Hanya, Aku yang bisa memeluk, Mu, Dina. Kamu, Hanya milikku! Hanya milikku! Kamu, Dengarkan! Kamu, Hanya milikku, Dina! " Bisik Diyan lembut. Tapi, Penuh penekanan di setiap kalimatnya, Menunjukan sikap Posesifnya pada, Istrinya.


" Iya, Mas Diyan. Aku, Dina, Hanya milikmu, Tidak untuk siapa pun. Aku, Hanya milikmu... Maaf... Seharusnya, Aku tidak membiarkan, Dia memeluk, Ku. Tapi, Mas Diyan... Aku, melakukan itu untuk terakhir kalinya " Dina mendongakkan kepalanya, Menatap dalam mata sehitam langit malam itu. Membujuk, Suaminya, Agar menghilangkan kemarahan dan kecemburuan dalam, Diri, Diyan.

__ADS_1


" Selalu dan Selamanya, Aku hanya bisa memeluk, Mu. Di saat, Aku membuka mata dan Menutup mata, Ku. Aku, Hanya ingin berada dalam pelukan, Mu, Mas Diyan " Jelas Dina meyakinkan, Suaminya itu.


" Dina... Apa, Kamu sedang merayu, Ku? " Bisik Diyan di daun telinga, Istrinya itu.


" Tidak! Aku, Tidak sedang merayu, Mu. Aku, Hanya sedang membujuk, Mu " Jawab Dina cepat, Dengan pipinya yang bersemu Semerah kepiting rebus itu. Ketika, Merasa embusan hangat nafas, Suaminya, Menyapu kulit putih, daun telinga dan Tengkuk lehernya. mengantarkan sengatan listrik yang membuat darahnya berdesir, Dan meremang tak menentu.


" Jika, Kamu tidak merayu, Ku... Dina... Kamu, Membangunkannya... " Desak Diyan dengan nafas berat dan suaranya yang serak basah, Terdengar seksi. Diyan, Semakin memeluk erat tubuh mungil, Istrinya. Sehingga, Sebagian tubuh, Dina bersandar pada dada bidang, Diyan.


Mata ke abu-abuan, Dina mendelik, Terkejut mendengar desakan, Suaminya itu. Dina, menatap sekitarnya, Untungnya, Semua penumpang pesawat pada tertidur, Jika tidak akan sangat gawat. Karena perjalanan dari Paris ke Indonesia, Memakan waktu delapan belas jam. Kebanyakan orang, Memilih tidur, Agar tidak merasa bosan dalam perjalanan yang sangat panjang.


" Apa, Mas Diyan, Tidak bisa menahannya? " Tanya Dina pelan.


" Dulu bisa... Tapi... Sekarang sangat sulit, Dina... Seharusnya... Jangan merayu, Ku " Jawab Diyan mendesak.


" Jadi... Apa yang harus, Ku Lakukan? Kita masih berada, di pesawat dan Butuh banyak waktu untuk sampai ke Indonesia, Mas Diyan " Jelas Dina resah.


Sekitar tempat, Dina dan Diyan, Sangat sunyi, Walau ada banyak manusia, Di sekitar mereka. Tapi, perhatian, Dina teralihkan pada ruangan yang berukuran cukup kecil yang tidak lain, Adalah toilet pesawat. Lumayan cukup muat untuk, Dina dan Diyan, Berduaan di dalamnya.


" Mas Diyan... Jangan bilang...? " Lirik Dina menduganya, Ketika melihat, Suaminya, Menutup dan mengunci pintu besi berukuran kecil dan panjang itu.


" Aku, Sudah tidak bisa menahannya, Istriku " Kata Diyan dan langsung, Memeluk tubuh mungil, Dina dan Mencium dengan rakus, Bibir pink, Dina.


Dina, Tidak bisa mengelak, Dengan berat dan Senang hati, Dia melayani gairah bercinta, Suaminya. Hanya saja, Dina tahu satu hal, Harus berhati-hati, Bila mendekat dan berbicara sesuatu pada, Diyan, Karena itu mudah membangkitkan gairah bercinta, Suaminya. Diyan tidak bisa menahan, Dirinya untuk tidak melakukannya, Dan itu artinya, Diyan akan melakukannya di mana pun. Di saat, Gairah bercintanya bangkit, Dan itu, Hanya berlaku, Bila berada di dekat, Dina, Istri tercintanya.

__ADS_1


Dina dan Diyan, Melakukan 'itu' dengan berusaha untuk tidak bersuara keras. Takut, Bila ada yang mendengar suara mereka berdua yang sedang mendesak menikmati rasa manis yang memabukkan. Dina dan Diyan, Menyadari, Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua, Sesudah menikah. Berharap, Hal ini tidak terulang untuk kedua kalinya, Karena Dina dan Diyan, Merasa kurang leluasa menikmati hal yang memabukkan dan menggila 'itu' Di toilet pesawat.


Waktu berlalu, Cukup setengah jam, Bagi Dina dan Diyan, Menuntaskan gairah bercinta yang sempat bergelora. Dina dan Diyan, Tersenyum, Keluar dari toilet pesawat dan kembali duduk pada tempat mereka berdua.


" Mas Diyan " Panggil Dina, sesudah duduk di kursinya.


" Jangan mengulanginya lagi, Kaki, Ku terasa kebas dan Kesemutan " Bisik Dina. Menatap, Suaminya itu, Yang sudah duduk di sampingnya.


" Tapi, Kamu, sangat menikmatinya kan? " Tanya Diyan, Dengan seringai nakalnya.


Dina tidak menjawab, Hanya saja, Pipinya bersemu Semerah kepiting rebus, Membenarkan yang di katakan, Suaminya itu. Diyan, Tersenyum gemas, Melihat semu merah di pipi mulus, Istrinya yang tidak berwarna putih itu.


" Sekarang tidurlah, Perjalanan Kita masih panjang, Dina " Kata Diyan, menarik dan menenggelamkan istrinya kedalam pelukannya.


Dina tidak menolak pelukan, Suaminya itu. Hanya Tersenyum malu, Bercampur perasaan senang dan Bahagia. Merasakan, Diyan sudah tidak marah padanya, Dan Kecemburuan itu, Juga sudah hilang, Dengan sangat mudahnya.


" Dina, Aku mencintai, Mu. Amat Sangat... Kamu, Tahu itu kan? " Lirik Diyan.


" Iya, Mas " Jawab Dina.


Diyan mendesak kecewa, Seakan mengharapkan sesuatu kalimat yang sama dengan yang, di katakannya. Kalimat Cinta yang, di tunggu dan diinginkannya sejak dulu dari, Dina. Wanita cinta pertamanya, Wanita yang telah menjadi, Istrinya dan Berharap, Dina tidak akan meninggalkannya. Seperti pesawat yang akan terbang jauh ke Angkasa luas, Dan akan berpindah tempat, Tanpa tahu, Kapan akan kembali. Membayangkan itu, Diyan bisa merasakan hidupnya akan hampa, Seiring Nafasnya akan berhenti dan Diyan, Berjanji, Itu tidak Akan terjadi, Dina akan selalu dan Selamanya, Dia miliki.


" Mas Diyan... Andai, Aku bisa mengatakan, Aku... Mencintai, Mu. Amat sangat mencintai, Mu. Tapi, Entah mengapa... Aku, Tidak mampu mengatakannya, Selain memasrahkan, Hati, Pikiran dan Diriku, Hanya kepada, Mu, Suamiku. Apa, Kamu sangat mengharapkan kalimat itu, dariku? " Dalam hati Dina merasa sedikit sedih dan rasa bersalah pada, Suaminya.

__ADS_1


Dina, Bisa merasakan, Bila Diyan begitu mengharapkan kalimat yang tidak tahu kenapa? Sangat sulit bagi, Dina untuk mengatakannya langsung pada, Diyan. Seakan ada perasaan lain yang mengganjal di relung hati kecilnya yang membuatnya tidak mampu mengatakannya pada, Diyan, Suaminya tercintanya.


...Bersambung...


__ADS_2