
Angkasa luas yang berwarna biru laut itu, Menurunkan gumpalan putih kecil, ke permukaan bumi, Yaitu Salju. Kala waktu cerah, Di landa badai salju yang membuat kota Paris terlihat lebih indah dan Cantik, Bagaikan di negeri ajaib dan dongeng, Musim dingin.
Gumpalan putih itu, menyelimuti setiap tempat pariwisata dan juga Menara Eiffel, Di kota Paris. Badan cuaca nasional Paris, Meteo-France, Mengeluarkan sinyal oranye, Merupakan sebuah sinyal peringatan, Akibat Susana musim dingin, Salju. Meskipun hujan Salju, Dan dingin Suasana Paris, Ternyata tidak sedikit wisatawan atau warga Paris yang justru menikmati suasana Salju.
Dina, bergeliat di bawa selimut tebal putih itu. Tangannya terangkat, Merenggangkan otot-ototnya, Dengan mata indahnya berkedip-kedip. Ketika, Pandangan bola mata ke abu-abuannya sudah jelas, terlihatlah seorang Pria tengah duduk, Di sofa Abu-abu. Menatap dirinya, Dengan memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek biru, Melekat di tubuh kekar, Diyan.
" Mas Diyan... Selamat pagi " Ucap Dina.
Dina, Sepertinya melupakan kejadian kemarin malam. Sehingga, Tanpa sadar, Dia menyikap selimut putih itu, Terlihatlah tubuh mungil dan polosnya, Dengan tanda merah, Hasil karya yang di buat, Diyan kemarin malam, Tercipta di kulit, Dina yang sudah tidak putih mulus lagi.
" Dina... Apa, Kamu ingin mengulang malam pertama kita? " Tanya Diyan, Sambil berdiri dari duduknya dan mendekati, Istrinya itu.
" Malam pertama...!? " Dalam hati Dina terkejut.
Dina, Mengalihkan pandangan mata ke abu-abuannya itu, Dari Diyan, Pada tubuhnya yang tidak berbalut sehelai benang pun. Dina, Sangat terkejut, Di saat sadar apa yang di lakukannya, Dengan cepat, Menarik selimut dan kembali menutupi tubuhnya. Diyan, Tertawa kecil melihat tingkah, Dina. pipi mulus, Dina merona, Tersenyum dan menunduk malu.
" Dina, Tidak perlu Menutupinya. Aku, sudah melihat semuanya " Diyan, Menarik selimut itu, Dan mencium sebentar bibir pink, Istrinya.
" Mas Diyan! " Ketus Dina, Yang merasa terkejut, dengan ulah Suaminya yang tiba-tiba mencium bibirnya, Dan walau sebenarnya, Dina menyukainya.
" Selamat pagi, Istriku " Ucap Diyan lembut, Dan Mengukir senyuman, di wajah segar yang terlihat sangat tampan.
" Hari ini, Kita, Di dalam kamar saja, Tidak usah kemana-mana. Kamu, Pasti kesulitan berjalan dan di luar, Lagi turun salju " Kata Diyan, Sambil membawa tubuh mungil, Istrinya kedalam gendongannya. Malu-malu, Dina mengalungkan kedua tangannya, Di leher kekar, Suaminya itu.
Dina, Tidak mengatakan apa pun, Dia membenarkan perkataan, Diyan. Di semua kujur tubuhnya terasa sakit, dan terutama, yang paling sakit, Adalah bagian bawah tubuhnya, Liang kewanitaannya. Dina menatap ke arah Jendela, Terlihat hujan salju turun dari langit biru. Diyan, Membawa tubuh mungil dan polos, Dina kedalam kamar mandi dan dengan lembut, Meletakkan Dina ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat.
__ADS_1
" Mas Diyan, Mau ngapain!? " Kata Dina, Dengan Debaran jantungnya berdebar semakin kencang. Melihat, Suaminya itu membuka pakaiannya, Sehingga terlihatlah, Hasil karya buatannya kemarin malam, banyak tanda merah, Di tubuh besar dan kekar itu, yang sekarang polos, tanpa ada sehelai benang pun melekat, Di tubuh Diyan.
" Memanjakan, Mu " Jawab Diyan tersenyum nakal.
Dina, Tanpa sadar menggigit bibirnya, Melihat ular, Suaminya yang begitu tegap mengacung padanya. Diyan, Terlihat senang, Melihat ekspresi wajah, Istrinya, Yang menggemaskan dan menggoda.
" Tenang... Aku, Hanya ingin memanjakan, Mu dan tidak akan melakukan apa pun, Bila Istriku tidak menginginkannya " Kata Diyan. Diyan, Masuk ke dalam bathtub, Dan duduk bersandar, di belakang, Dina.
" Mas Diyan... Aku... " lirik Dina, Merasakan tubuhnya panas dingin. Ketika, Merasakan benda keras dan memberontak, Di bongkahan sintal dan kenyal bawah tubuhnya.
" Sudah, Mandi saja " Kata Diyan sambil menggosokkan sabun wangi, Dengan lembut di punggung, Dina.
" Ya Tuhan! Aku, Sangat menginginkannya! " Teriak Dina dalam hatinya.
Dina, Menghela nafas berat, Berusaha menghilangkan pikiran liarnya yang terbayang kejadian malam pertama yang begitu panas dan Luar biasa, kemarin malam. Dina, Membasuh, Bawa tubuhnya, membersihkannya. Namun, Dina merasakan tubuhnya semakin memanas, Hanya karena, Membasuh bawa tubuhnya itu, Yang terasa sedikit sakit dan rasa gatal yang aneh. Di tambah aroma wangi sabun, Bercampur Aroma tubuh, Suaminya terhirup, di Indra pernafasannya.
" Ayo... Istriku, Mintalah, Aku juga menginginkannya... " lirik Diyan dalam hatinya.
Diyan, Tidak menanggapi suara desakan, istrinya itu. Diyan, Tahu, Apa yang tengah, Dina rasakan? Bergairah, Diyan, juga merasakan itu, Dan Diyan yang terbiasa menahannya, Membuatnya tidak terlalu kesulitan menahannya. Diyan, Menunggu saja, Dina yang memintanya sendiri, Karena, Dina mempunyai Gairah yang sangat tinggi.
" Dina, Berbaliklah, Aku, Ingin membasuh bagian lainnya " Bisikan Diyan penuh godaan, Menggelitik Indra pendengaran, Istrinya.
" Suamiku... " Dina, dengan cepat menuruti perkataan, Diyan.
Dina, Berbalik badan, Dengan bola mata ke abu-abuannya yang, di selimuti kabut gairah bercinta. mengunus, Mata sehitam langit malam, Diyan yang hanya diam menatapnya, Dengan tatapan Cinta.
__ADS_1
" Aku, Disini... Ada apa? " Tanya Diyan, Pura-pura tidak mengerti kemauan, Dina.
Tangan besar, Diyan, Melanjutkan tugasnya, Menggosok sabun yang sangat wangi itu. Di bagian tubuh mungil dan polos, Dina, dengan lembut, Di tengah suhu tubuh yang semakin memanas, Membuat darah berdesir hangat dan lembut, Terasa mendidih.
" Mas... Aku, ingin... Memanjakan, Mu " Desak Dina, Memajukan tubuhnya, Sehingga kedua bola kembarnya menempel, di dada bidang, Diyan.
" Memanjakan, Ku? Lakukanlah... " Suara Diyan, Terdengar sangat pelan dan lembut. Sambil, Tangan Diyan, Menyiram air ke tubuh, Dina.
Dina, merasa, di manjakan, yang membuatnya semakin bergairah, Dalam sentuhan panas tangan besar, Diyan yang membelai tubuh mungil dan polosnya itu, Di dalam genangan air yang memanaskan, Dirinya. Dina, tidak bisa menahan lagi, Naluri gairah bercinta, di dalam dirinya yang sudah bangkit, Meminta untuk segera, di salurkan pada Pria yang ada, Di hadapannya, Suaminya.
Tanpa mengatakan apa pun, Jemari lentik, Dina, bergerak nakal dan menggoda, Di bawa air itu. Meremas, Ular Diyan, Yang sejak tadi, tidak henti-hentinya, Mengusiknya dan menggoda gairahnya.
" Dina... " Kali ini, Diyan yang mendesak, Memanggil istrinya. Di saat, Merasakan permainan tangan istrinya, memanjakan ularnya, Di bawa air itu, yang terasa semakin memanaskan tubuhnya.
Mata ke abu-abuannya, Dina, Mengunus dan menantang, Gairah bercinta, Di dalam mata sehitam langit malam, Diyan. Dina dan Diyan, Tidak menunggu waktu lagi, Bibir keduanya saling bertautan. Memberikan dan menerima cairan yang seakan terasa manis, dan memabukkan, Memuaskan dahaga yang sangat menggairahkan. Bibir dan lidah Saling mengunci, Mengecap manis, Ingin mengulang kembali kegiatan bercinta kemarin malam.
Nafas memburu, Debaran jantung berdebar kencang. Mengiringi irama, Permainan panas yang memabukkan dan memanjakan, Tubuh keduanya yang ingin terbang melayang ke atas Nirwana sana, Menebus langit ke tujuh.
Bibir Diyan, Menikmati kedua bola kembar, istrinya bergantian. Dengan satu tangannya, berganti meremas bola kembar, Istrinya dan satu tangannya lagi, Meremas bongkahan sintal dan kenyal, di Bawa tubuh, istrinya. Dina, semakin intens menggerakkan jemari lentiknya dan tapak tangannya, memanjakan ular, Suaminya.
" Dina... Aku... " Mendengar suara Suaminya, Dina langsung memasukkan ular Suaminya, kedalam liang kenikmatannya.
Dina, Mendongak kepalanya, Walau awal terasa sakit. Tapi, Dina, Merasakan cairan hangat yang terasa memenuhi liangnya dan menghangatkan rahimnya. Perlahan dan pasti, Diyan membantu, Dina, Menggerakkan pinggulnya. Bergoyang lembut, Dan semakin intens, Tidak terkendali. Memutar, Maju dan mundur, Dina dan Diyan, Merasa mabuk kepayang dan kegilaan, atas kenikmatan yang semakin luar biasa.
Dina, Meremas rambut hitam dan menekan kepala, Diyan yang sangat menikmati kedua bola kembarnya dan tidak jarang, Membuat tanda merah lagi, Di tengkuk lehernya dan di kedua bola kembar, Dina. Dina dan Diyan, Bergantian, Memimpin permainan yang menggairahkan dalam perasaan cinta yang semakin memabukkan jiwa dan raga.
__ADS_1
Tanpa, Melepaskan ularnya dari liang kenikmatan, Istrinya. Diyan, Membawa tubuh, istrinya kedalam pelukannya. Dina, Melingkarkan kedua tangannya, Di leher kekar, Suaminya dan Melingkarkan kedua kakinya, Di pinggang kuat, Suaminya. Dina dan Diyan, Melanjutkan kegiatan panas, Di ranjang besar hotel itu, Tempat peraduan awal dan terakhir, mereka berdua menggapai langit ketujuh dalam mengejar rasa nikmatnya bercinta yang luar biasa.
...Bersambung...