
Dina, Berlari masuk ke dalam rumah, Ketika pintu sudah terbuka lebar. Dina, Bagaikan anak kecil saja yang merindukan rumahnya. Menatap tiap sudut rumahnya yang masih sama seperti dulu, Tidak ada sedikit pun yang berubah, Dina terharu dan bahagia melihat isi rumahnya dulu sama hingga sekarang. Diyan, Yang melihat tingkah kekanakan Istrinya, Tersenyum. Kemudian, Diyan mengakat barang yang ada, Di dalam mobil, Masuk, Ke dalam rumah.
Setelah, Mengakat semua barang yang ada, Di dalam mobil. Diyan, Ingin menutup pintu rumahnya. Tapi, Tiba-tiba saja, Kehadiran seorang Wanita yang menghentikan niatnya itu. Diyan, Tertegun, Tidak menduga, Wanita itu, Yang merupakan teman lamanya, Sudah mengetahui Kedatangannya, Di Bandung.
" Firna " Ucap Diyan, Seponstang. Menatap, Wanita itu, Yang tersenyum menawan padanya.
" Iya, Diyan, Ini, Aku, Firna. Kamu, Masih ingatkan? sama, Aku? " Kata Firna antusias.
" Aku, Ingatlah " Jawab Diyan datar.
" Apa kabar, Kamu? " Firna, Yang sudah mengenal bagaimana sikap, Diyan. Tidak sakit hati, Hanya saja, Firna merasa kecewa pada, Diyan yang selalu bersikap biasa padanya, Datar dan Dingin.
" Baik, Kamu? " Diyan balik bertanya pada, Firna.
" Aku, Semakin sehat, Dengan melihat, Kamu! " Seru Firna. Diyan, Mengeryit dahi, mendengar maksud perkataan, Wanita menawan, Di depannya itu.
" Emm... Maksud, Aku... Aku, Sehat juga kok dan Aku, Senang lihat, Teman, Ku Ada, Di Badung. Kita, Masih temanan kan, Diyan? " Ujar Firna, Memperbaiki perkataannya pada, Diyan.
" Mas Diyan! " Teriakan, Dina. Membuat, Diyan, Urung menjawab, Firna.
" Siapa, Dia? " Tanya Dina, yang sudah tiba Berdiri, Di samping, Suaminya itu.
" Dia, Firna. Teman, Kuliah, Ku dulu, Di Bandung " Jawab Diyan Jujur.
Dina, Menatap serius dan Tidak suka terhadap penampilan, Firna, Dari atas sampai bawah. Celana jens panjang ketat, Baju kemeja motif kotak-kotak dan Rambut panjang ekor kuda. Dengan, Sedikit rambut pendek, Membingkai wajah Cantiknya yang menawan. Serta, Mata coklat terang yang indah, Hidung mancung, Dan Bibir seksual, Berwarna merah merona.
" Apa, Dia sengaja!? Ingin menggoda, Mas Diyan! Jangan harap! Mas Diyan, Sudah menjadi milikku! Dan Kamu! Tidak akan ada peluang apa pun! " Tukas Dina dalam hatinya.
" Kenapa, Suasananya... Terasa sangat panas? Padahal cuaca tidak panas! " Dalam Hati, Diyan.
" Tatapannya itu, Seakan ingin menelanjangi, Ku saja. Sudahlah, Biarkan saja, Calon Kakak ipar! Pasti, Hanya ingin menilai, Ku saja. Agar, Aku bisa memiliki, Diyan! " Kata Firna dalam hati. Penuh percaya diri.
__ADS_1
" Dari mana, Kamu tahu? Aku dan Diyan, Sudah ada, Di sini? " Tanya Dina terus terang, menatap sikap, Firna yang begitu percaya dirinya, Di hadapannya dan Diyan.
" Tadi, Siang... Aku, Melihat, Diyan, Di Syawalan, Kak. Aku, Menduga, Diyan akan, Ke sini. Karena itu... Aku, langsung ke sini dan Dugaan, Ku ternyata benar, Kak " Jelas Firna canggung. Mendengar penjelasan, Firna. Dina, Langsung menatap tajam pada, Diyan yang sudah berkeringat dingin itu.
" Dan Aku, Tidak harus mengatakan, apa yang, Aku lihat tadi? Kak Dina, Mencium, Diyan... Pasti sebatas, Adik dan Kakak saja. Iya! Cuma sebatas itu, Saja! " Firna, Menyakinkan hatinya, Di dalam hati.
" Kamu, Tahu? Aku, Siapa, Diyan?! " Dina, Melontarkan pertanyaan pada, Firna. Dengan, Kembali menatap wajah cantik menawan yang terus tersenyum itu.
" Tahu... Kak Dina, Kakaknya, Diyan "
" Dan Calon Kakak ipar, Aku " Firna melanjutkan perkataannya, Di dalam hatinya.
" Firna... Yang, Kamu katakan benar adanya. Tapi, Itu dulu. Sekarang, Aku, Istrinya Diyan " Kata Dina sambil bergelayut manja, Di tangan, Suaminya itu.
" Kak Dina, Tidak bercanda Kan? Bagaimana bisa? Kakak, Istrinya Diyan? " Cecar Firna gelisah dan terkejut.
" Tentu saja, Aku bisa menjadi, Istrinya Diyan. Karena, Aku dan Diyan, Tidak memiliki darah yang sama! Karena itulah, Kami berdua bisa menikah dan menjadi Suami Istri! " Ketus Dina, Mulai tidak sabar, Menghadapi tingkah, Wanita, Di depan itu. Dengan menekan kalimat terakhirnya, Agar menyadarkan, Firna.
Bagaikan, Di sambar petir, Di siang bolong. Firna, Amat terkejut mendengarnya dan Tidak percaya. Hingga, Kemudian, Mata coklat terangnya itu, Menatap wajah tampan Pria pujaannya. Diyan, Mengaguk kepalanya, Sebagai jawaban dari ketidak percayaan, Firna mengetahui suatu kenyataan yang tidak, Di duganya.
" Enam bulan yang lalu " Jawab Diyan.
Firna, Menatap, Jemari manis Dina dan Diyan, Yang berisikan cincin yang melingkar dengan, Nyaman, Di sana. Firna, pun pergi meninggalkan, Dina dan Diyan, Tanpa pamitan, Tidak mengatakan apa pun. Tapi, Satu yang tersimpan, Di hati, Firna. Bagaimana pun caranya, Diyan harus menjadi miliknya. Cinta yang, Di milikinya, Menjadi obsesinya memiliki, Diyan.
" Dulu! Hati, Ku telah menjadi milik, Mu, Diyan! Tapi, Kamu... Selalu, Tidak menerimanya. Kini... Tidak perduli! Siapa pun Atau apa pun itu, dan sekali pun adalah, Tuhan! Tidak ada yang bisa menghentikan, Aku, untuk tetap menjadikan, Mu, Milikku! " Dalam hati, Firna penuh keyakinan dan obsesinya.
Sesudah kepergian, Firna. Dina, Menarik tangannya dari tangan besar, Diyan. Kemudian, Masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh kekesalan dan tidak senang. Di saat, Tahu, Ada, Wanita lain yang begitu sangat menginginkan, Diyan. Apa yang harus, Dina lakukan? Untuk melampiaskan kekesalan hatinya?
Diyan, Yang baru menyadari, Bila, Firna menaruh rasa padanya. Kini, Merasa resah dan Gelisah, Di hatinya. Ketika, Melihat, Dina pergi memasuki rumah tanpa kata. Dengan, Cepat, Diyan menutup dan mengunci pintu rumahnya. Segera menyusul, Dina yang berada, Di dapur, Meminum air yang memang sengaja sudah tersedia, Di dispenser.
" Istriku... Firna, Hanya teman, Tidak lebih dari itu " Diyan, Yang menyadari kesalahannya dan dengan cepat, Membujuk, Dina. Sebelum, Terjadi pertengkaran lagi, Di antara, Dirinya dan Dina.
__ADS_1
" Aku, Hanya cinta, Kamu "
" Dua tahun lalu, Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Wanita mana pun "
" Firna... Dia... Dia... Hanya, Teman, Kok. Percayalah, Istriku "
Berbagai perkataan, Diyan lakukan untuk membujuk, Dina. Dina, Tetap diam, mengabaikan, Suaminya yang berusaha membujuknya, Dengan mengikuti kemana pun, Dirinya melangkah. Hingga, Tiba, Di pinggir kolam renang, Dengan airnya yang terlihat bersih dan jernih, Padahal ada pohon mangga, Di sudut dinding coklat. Tidak terlihat, Sehelai daun pun yang mengapung, Di permukaan air kolam.
" Siapa yang membersihkan rumah? " Tanya Dina, Tanpa menatap, Wajah lesu Suaminya itu. Diyan, Terdiam, Tidak percaya, Istrinya itu, Mempertanyakan hal, Di tengah, Hatinya yang merasa resah dan gelisah. Karena sikap dingin, Dina yang mengabaikannya.
" Aku, Masih memperkerjakan Tukang pekerja, Kita dulu. Sekali dua hari, Mereka akan ke sini, Membersihkan rumah kita " Walau, tidak suka dengan sikap, Dina yang cuek dan mengabaikannya. Diyan, Tetap menjelaskan, Ketika, Tatapan tajam, Dina Tertuju padanya.
" Hari ini, Mereka datang? " Tanya Dina, Dengan tetap menatap kejernihan kolam.
" Lusa, Mereka akan datang, Dina " Jawab Diyan, Dengan wajah memelas, Tidak bersemangat.
" Rumah... masih sama seperti dulu... Kalo begitu " Dalam hati, Dina.
Senyuman, Terukir manis, Di wajah cantiknya, Dina. Perlahan dan bergiliran, Dina melepas pakaian yang, Di kenankan. Menyisakan, Bra dan Kain segitiganya saja, Melekat, Di tubuh mungilnya yang hampir polos sepenuhnya. Memperlihatkan, Kulit putihnya yang mulus dan menggoda gairah, Diyan yang menatapnya tanpa berkedip sekali pun.
" Dina " Desak Diyan, Sambil tangannya menyentuh dan mengusap punggung belakang, Dina. Dengan desiran hangat darahnya, memacu adrenalin liarnya.
" Diam dan Nikmatilah " Bisikan Dina, Di telinga, Diyan.
Semakin membangkitkan gairah bercinta, Diyan yang tidak tertahankan lagi. Namun, sangat, Di sayangkan, Diyan yang ingin mendekap erat tubuh menggoda, Dina. Tidak bisa, Karena, Dina mendorong, Dirinya kedalam kolam. Jantung, Diyan berdebar, Merasa Terkejut, Di awal. Tapi, Kemudian, Diyan menyadari satu hal. Istrinya, Ingin melampiaskan kekesalannya, Dengan memacu adrenalin liarnya, Di dalam kolam dengan, Dirinya.
" Aku, Akan meluluhkan kekesalan, Mu, Istriku! " Seru Diyan, Di dalam hatinya, Penuh semangat Gairahnya dan Merasa tertantang.
Dina, Tersenyum nakal, Sambil menerjunkan, Dirinya ke dalam kolam renang itu. Berenang, Dengan mengayunkan, Kedua tangan dan Kakinya. Mendekati dan mulai melepas satu persatu pakaian, Diyan. Di sela itu, Diyan sesekali membantu, Dina melepaskan pakaiannya. Sambil, bibir, Lidahnya, Mencium penuh nikmat, Leher putih, Dina dan Tangannya bergerak nakal, Berkelana, Di tubuh, Dina.
Diyan, Tidak sadar, Tubuhnya polos, Di buat oleh, Istrinya, Di dalam kolam. Di tengah, Dirinya yang sangat menikmati gairah bercinta yang manis dan memabukkannya. Dina, Juga merasakan hal sama, Mereka berdua, Sama-sama polos, Di dalam kolam. Desakan, Erangan, Dan Lenguhan, Bersautan, Menjadi irama musik dalam permainan, Dina dan Diyan.
__ADS_1
Serta, Debaran jantung yang tidak karuan, Menjadi suatu keinginan untuk, Membangkitkan, Menggoda, Menantang gairah bercinta mereka. Permainan panas, Di tengah dinginnya kolam yang mulai terasa memanaskan tubuh polos, mereka berdua. Sehingga, Akhirnya membuat, Dina dan Diyan, Kelelahan sesudah merasa puas dalam permainan yang penuh kenikmatan surga dunia.
...Bersambung...