Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Wanita, Menjadi CEO


__ADS_3

Pintu, Yang terbuat dari kaca itu, Terbelah dan Terbuka lebar. Orang-orang yang ada dalam ruangan, Keluar bergantian dan saling berbisik. Membicarakan, Berita atau pengumuman, Yang baru saja mereka dengarkan dari dalam ruangan. CEO Grup D Prabowo, Telah tergantikan oleh, Dina Zaskia Prabowo. Seorang Wanita yang, Di kenal adalah Putri kedua, Endra Prabowo.


Tentunya, Pengumuman hari ini, sangat mengejutkan bagi semua para karyawan Perusahaan. Namun, Belum ada yang tahu, Dina, Adalah Putri angkat dan Bukan kandung. Sekaligus, Dina, Memiliki status, Istri Tercintanya, Diyan Prabowo, Putra tertua, Endra Prabowo. Hanya saja, Keluarga Prabowo, Belum juga mempublikasikan, Siapa, Dina yang sebenarnya?


Di dalam ruangan, Tertinggal, Dina, Diyan dan Tuan Yusuf. Diyan, Terlihat berdiri, Di sudut ruangan menghadap dinding kaca. Berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


" Papa, Kapan kembali? Aku, Sangat ingin berbicara secara langsung dengan, Papa! " Kata Diyan, Dengan serius pada, Endra. Wajah tampannya, Menyiratkan kekesalan dan Tidak senang akan keputusan, Papanya, Yang mengharukan, Istri tercintanya, Dina, Menjadi CEO hari ini dan Memiliki tanggung jawab yang begitu besar.


" Papa, Tidak punya pilihan, Yan. Suatu hari, Kamu akan mengerti? Mengapa, Papa, Mengharuskan, Dina, Menjadi CEO, Di perusahaan, Kita "


" Tapi! Pa-- "


" Sudah, Diyan. Papa, Tidak punya waktu untuk terus berbicara pada, Mu. Papa, Hanya minta jaga dirimu dan Keluarga, Kita. Karena, Papa, Akan lama berada, Di sini dan Belum bisa memastikan kapan akan kembali! "


Tut!


Sambungan telpon terputus dari, Sang Papa, Yang menciptakan kecemasan dalam hati, Diyan. Wajah tampannya, Yang tersirat kekesalan, Tergantikan, Dengan raut wajah bingung, dan Tegang. Tuan Yusuf, Yang sejak tadi, Memperhatikan, Diyan, Di jarak yang tidak terlalu dekat dengan, Dirinya. Berbicara dengan seseorang yang pastinya adalah Endra, Melalui ponsel itu. Tuan Yusuf, Menghela nafas panjang, Seakan sudah tahu, Apa yang tengah, Putra dan Ayah itu, Bicarakan melalui ponsel.


" Tidak tahu... Siapa orang, Di balik permasalahan ini...? Paman, Harap... Semua akan tetap baik-baik saja " Tuan Yusuf, Berucap dalam hati, Dengan penuh keraguan dan Tidak keyakinan, Juga rasa kekhawatiran yang amat besar. Namun, Karena, Dirinya, Yang sudah tua, Tidak bisa berbuat banyak. Selain memberitahu dan Menjelaskan hal yang, Di perlukan saja, Kepada, Dina dan Diyan. Sehingga, Dirinya pergi tanpa kata, Meninggalkan, Dina dan Diyan, Di dalam ruangan luas, Hening dan Dingin.


Dina, Terduduk diam, Di kursi utama yang telah mengatakan, Dirinya, Memiliki kekuasaan. Binar mata abu-abuannya, Dan Wajah cantiknya, Menyiratkan keraguan, Sedikit tidak bersemangat dan tidak percaya diri. Menatap, Berkas penting yang berada, Di kedua genggaman tangan lembutnya yang terasa dingin dan Basah.


Pikirannya berkelana, Mengingat Awalnya... Ketika, Pengangkatan, Dirinya, Menjadi CEO. Banyak dewan dan Direksi perusahaan, Yang kurang setuju menjadikan, Dirinya, Yang adalah seorang Wanita, Menjadi CEO. Tapi, Atas usaha dan Bujukan dalam ketegasan dan bantuan, Diyan dan Tuan Yusuf, Juga dukungan, Endra. Mampu mengurangi keraguan, Dewan dan Direksi perusahaan. Sehingga, Dina, Menjadi CEO dan Memiliki tanggung jawab yang sangat besar, Mulai detik dan Hari ini.

__ADS_1


Dina, Tidak tahu? Apakah, Dirinya mampu menangani tanggung jawab yang begitu besar ini? Dan Memberikan kebanggaan pada, Keluarga dan Menunjukkan, Dirinya, Seorang Wanita, Mampu menangani dan menyelesaikan tanggung jawab ini? Sehingga, Dirinya bisa menutup mulut, Dewan, Direksi dan masyarakat yang memandang remeh dan Sebelah mata, Dirinya, Hanya Karena, Dia, Seorang Wanita?! Tapi, Walau, Dina, Tidak tahu sampai kapan, Dirinya, Akan bertahan?! Dina, Selalu menyakinkan hatinya, Harus Bisa dan Jangan putus asa!


" Dina, Kamu Kenapa? " Tanya Diyan, Yang telah berdiri, Di sebelah, Istrinya, Sambil menggenggam erat, Tangan lembut yang terasa dingin dan basah dalam genggaman tangannya.


" Apa...? Ah, Sudahlah. Biar, Aku saja yang mengambil tanggung jawab ini dan Kamu, Cukup menemani, A--- "


" Tidak, Mas Diyan! " Dina, Tersadar dari lamunannya dan Dengan cepat, Menyela Perkataan, Suaminya.


" Aku, Akan tetap mengambil tanggung jawab ini, Mas. Mas Diyan... Juga sudah punya tanggung jawab. Tanggung jawab yang lebih besar dari yang, Aku, Miliki " Jelas Dina, Merubah posisi duduknya yang tadinya, Menghadap meja, Dan Kini, Menghadapkan, Dirinya, pada, Suaminya. Membiarkan berkas yang, Di pegangannya tadi, Tergeletak tidak berdaya, Di atas meja.


" Aku, Memang membutuhkan Kehadiran, Mas Diyan, Di sisi, Ku, Selalu... Tapi, Masih banyak orang, Di luaran sana yang juga membutuhkan kehadiran, Mas Diyan, dan Berharap, Mereka bisa sembuh dan selamat dari rasa sakit dan ketidak berdayaan mereka, Mas " Dina, Berucap dengan penuh kelembutan, Memberikan pengertian pada, Pria yang begitu sangat mengkhawatirkan, Dirinya.


Dina, Mendorong, Dirinya dan tenggelam dalam pelukan kehangatan, Sang Suami. Dengan melingkarkan kedua tangannya, Di pinggang kuat, Suaminya. Diyan, yang berdiri, menggunakan tangannya, mengusap dan membelai lembut, kepala, Istrinya yang bersandar, Di perutnya.


" Mas, Aku sangat membutuhkan dukungan, Mu. Namun, Di satu waktu, Aku, Juga tidak bisa selalu mengharapkan bantuan, Mu. Karena, Kamu, Juga miliki kewajiban, Sebagai seorang Dokter dan Aku, Pasti bisa menangani Perusahaan yang telah menjadi Kewajiban, Ku "


" Mas, Mas Diyan. Kamu, Dengarkan apa yang, Aku, Katakan? " Ujar Dina, Sambil menarik, Dirinya dari pelukan, Suaminya dan Menatap, Mata sehitam langit malam, Suaminya yang tampan itu.


" Aku, Mendengar apa pun yang, Kamu katakan... Namun, Aku, Kurang setuju " Jawab Diyan, Dengan terus terang pada, Istrinya. Membalas tatapan mata, Istrinya, Yang penuh harap padanya.


" Mas... " Lembutnya suara, Dina, Dan Binar mata Abu-abunya. Membuat, Diyan, Mendesak nafas berat. Sangat sulit menolak keinginan, Istri tercintanya, Yang begitu sangat berharap pada, Dirinya.


" Baiklah... Aku, Mengijinkan, Mu, Mengambil tanggung jawab yang besar ini. Asalkan, Kamu tidak lupa menjaga kesehatan dan Juga, Dirimu " Jelas Diyan, Dengan lugas dan Tegas.

__ADS_1


" Pasti dong, Suamiku! " Seru Dina sangat senang, Sambil berdiri dan Memeluk erat, Tubuh kekar, Diyan. Membiarkan, Tubuh mungilnya tenggelam dalam dekapan hangat, Suaminya.


" Ya sudah. Kalau, Gitu... Kita, Kembali ke ruangan, Mu. Aku, Akan mengajari dan Membantu, Mu, Menangani perusahaan. Selagi, Suamimu, Ini masih ada untuk, Mu "


" Dan, Aku, Istrimu, Akan menuruti dan Memahami, Apa pun yang, Kamu ajarkan, Suamiku?! "


Dina, Dan Diyan, melangkah sambil berbicara dengan senang hati. Meninggalkan ruangan sunyi itu, Yang tidak mereka berdua tahu. Seorang Pria, Bersembunyi, Di balik dinding kaca, Telah mendengar semua yang mereka berdua katakan, Di dalam ruangan tadi. Di karenakan, Pintu terbuka lebar dan ternyata sekitar tempat itu, Sunyi. Membuat, Pria itu, Dengan muda mencuri pembicaraan, Dina dan Diyan.


" Kejutan yang lebih luar biasa lagi! Aku, Mungkin tidak bisa menjadikan, Dina, Milikku dan Kemudian, Menjadi penguasa perusahaan Grup D Prabowo! Sial! Tapi, Aku, Andika Pratama! Masih punya banyak cara, Agar bisa menguasai perusahaan ini! " Gumam Pria itu, Yang biasa, Di panggil Tuan Andika, yang memiliki tugas sebagai Direktur Keuangan.


Tuan Andika, Pun pergi dari tempatnya berdiri. Bersikap biasa saja, Seakan, Dirinya, Tidak melakukan apa pun tadi. Sikap wibawanya dan memberikan Senyuman manis, Bagi siapa saja yang bertemu dan Menyapa, Dirinya. Membuat orang-orang yang mengenal, Dirinya, Tidak bisa menduga. Jika, Andika Pratama, Direktur Keuangan, Yang memiliki Sikap ramah, Peduli sesama, Dan Wibawanya. Ternyata, Memiliki siasat licik dan pikiran jahat, Yang menginginkan perusahan Grup D Prabowo, Menjadi miliknya.


Tuan Andika, Membuka pintu yang memiliki ukiran "Finance Director's Room" Dengan warna Silver. Setelah, berada dalam ruangannya, Tuan Andika, Berdiri menghadap dinding kaca transparan yang memperlihatkan kehidupan alam dan Penghuni bumi, Di bawa sana. Merasa, Dirinya, Berada, Di ketinggian dan Berkuasa. Tuan Andika, mengukir seringai licik, Di wajah tampannya itu.


" Suatu hari, Perusahaan Grup D Prabowo! Akan menjadi milikku! " Hardik Andika dan Tertawa menakutkan. Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar suaranya itu, Di karenakan, Ruangannya kedap suara.


Di Karenakan, Kekuasaan, Harta dan Kehidupan sosial. Banyak orang, Bersikap serakah dan kurang merasa puas dengan yang, Di milikinya. Salah satunya, Adalah Andika Pratama. Walau, Endra Prabowo, Telah memberikannya jabatan sebagai Direktur Keuangan. Tuan Andika, Merasa, Dirinya, Tidak puas hanya menjadi Direktur Keuangan. Melihat, Endra Prabowo, Yang selalu ada orang memuja dan memujinya, Di setiap kali ada pertemuan, Di antara banyak pengusaha. Tuan Andika, Diam-diam merasa Iri dan Sangat ingin merasakan, Dirinya, sebagai orang yang berkuasa dan Di junjung tinggi banyak orang. Tuan Andika, Yang mengingat kenangan pahit itu, Semakin gigih untuk bisa mendapatkan yang, Di inginkannya. Tidak tahu, Apa yang akan menjadi Rencananya?


...Bersambung...


Assalamualaikum Wr.Wb!!!


Ini, Gue baru kemarin mengarang Cerpen yang berjudul?! " AKU, BOS, MU "

__ADS_1



Butuh dukungan... Like dan Sedikit bumbu😁


__ADS_2