
" Nyonya Muda! " Panggil seorang Pria, Dengan pakaiannya yang serba hitam, Membalut tubuh kekarnya.
Riana, Terperanjat kaget, Mendengar suara berat, Di belakangnya. Dia pun Berbalik badan, Dan terkejut, Melihat dua Pria Gaga berpakaian serba hitam, Ada, Di dekatnya.
" Nyonya Muda, Tuan Muda sedang mencari, Nyonya. Kami, Di minta untuk segera membawa, Nyonya, Ke hadapannya atau kalau tidak-- " Pria berpakaian hitam, Yang Berdiri paling depan. Dengan cepat menjelaskan akan kehadirannya. Sebelum, Ada kata penolakan dari, Nyonya Mudanya, Yaitu Riana. Namun, Riana, Menyela penjelasan, Pria yang merupakan Bodyguard yang, Di kirim, Suaminya.
" Diam! " Tukas Riana. Seketika, Pria berpakaian serba hitam itu, Terdiam seribu bahasa dan kedua Pria itu, Tertunduk kepala.
" Dina... " Riana berbalik badan, Dan menatap, Dina dan Diyan berganti.
" Aku, Tidak tahu, Apa yang sudah terjadi malam itu? Aku, Hanya ingat... Aku, meminum satu gelas alkohol, Karena paksaan teman-teman kuliah, Ku, Hingga membuat, Ku mabuk. Orang tua, Ku juga mengatakan... Diyan, yang telah mengantar, Aku pulang ke rumah. Aku, Sungguh berterima kasih atas kebaikan, Mu, Diyan. Bila, Suatu hari ada kesempatan, Aku akan membalas budi baik, Mu, Karena telah mau menolong, Ku " Wajah, Riana sedih dan sedikit tertunduk, Menyadari kesalahan yang tidak sengaja, Di perbuat olehnya.
" Tapi, Sungguh! Aku, Tidak ingat, Apa yang terjadi, Di saat, Aku tidak sadarkan diri? Dan Aku, Baru mengingatkannya... Ketika, Bangun tidur dan Aku, Kira... Itu, Hanya sebuah mimpi. Maaf, Dina, Diyan... Aku, Tidak sengaja melakukannya " Lirik Riana penuh kejujuran, Dengan perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu. Membuatnya, Tidak sanggup, Mengakat kepalanya dan menatap, Dina dan Diyan, Yang berdiri, Di hadapannya.
Dina, Tertegun, Dengan Matanya yang melebar sempurna. Mendengar, Perkataan terakhir, Riana. Ingin rasanya, Dina marah dan menampar, Riana. Namun, Kemudian, Dina juga berpikir, Kejadian kemarin malam adalah sebuah kecelakaan yang tidak, Di sengaja. Dina, Menghela nafas panjang, Membuang pikiran jahat, Di kepalanya dan merasa sedikit kelegaan, Di hatinya.
" Sudahlah... Aku, Juga pernah minum dan membuat kesalahan. Lagian, Riana, Adalah istri, Kevin dan apa yang perlu, Aku takutkan lagi? Aku, Rasa tidak ada yang perlu, Di pikirkan dan Di takutkan! " Dina berkata, Di dalam hatinya.
Suasana yang tadinya, Terasa panas dingin dan menegangkan. Hilang, Di bawa angin yang berhembus lembut. Tergantikan, Perasaan tenang dan nyaman, Di alam semesta.
" Baiklah... Aku, Memaafkan, Mu. Tapi, Tidak untuk ke dua kalinya, Riana Antariska " Kata Dina penuh penekanan, Menatap, Riana dengan serius dan tajam. Membuat, Riana, Merasa sedikit tertekan dan gugup, Akibat tatapan tajam yang mengunus penuh padanya.
__ADS_1
" Iya, Kalau gitu... Dina, Diyan... Aku, Permisi... " Riana, Berlalu pergi, Izin pamit, Meninggalkan, Dina dan Diyan yang menatap kepergian begitu saja.
Setelah, kepergian, Riana bersama, Dua Pria yang berpakaian serba hitam itu. Dina, melangkah kakinya dengan cepat memasuki tenda. Diyan, Dengan terburu-buru, Menyusul, Istrinya yang tengah ngambek.
" Dina, Kita makan dulu. Sesudah itu, Kita berkemas barang yang ada, Di rumah panggung dan Di rumah, Kita dulu. Kemudian, Baru kita kembali pulang ke Jakarta " Jelas Diyan penuh kelembutan. Dengan senyuman manisnya yang biasanya, Mampu meluluhkan hati, Istrinya.
Tapi, Ternyata tidak. Dina, tidak luluh melihat senyuman manis, Suaminya. Sikapnya terlihat dingin dan tidak peduli, Diyan menghela nafas kasar. Sadar, Dirinya, Akan sulit untuk meluluhkan hati, Istri tercintanya itu.
Dengan Suasana tenang, Nyaman dan Romantis. Dina dan Diyan, Makan dalam diam. Tidak ada pembicaraan atau pun perlakuan manis yang penuh Romantisnya, Seperti biasanya. Di saat, Makan berdua, Biasanya, Dina, Akan minta, Di suapi dan Di manja, Suami. Sedangkan, Diyan, Sangat suka menggoda sang istri. Namun, Kebiasaan itu, hanyalah sebuah khayalan, Diyan. Sehingga, Hilang, Di bawa angin, menyadarkan, Diyan. Jika, Akan sulit bersikap manis pada, Dina. Bila, Dirinya tidak bisa meredakan kemarahan, istrinya.
" Dengan cara apa...? Aku, bisa menghilangkan kemarahannya? Sedangkan... Aku, Dan Dina, Sempat berpisah selama enam tahun dan Mungkin... Sikap, Dina tidak sama seperti dulu, Ketika marah. Jika, Dulu... Aku, membawanya ke tempat yang, Disukainya dan Kemudian, Bermain bersama. Sampai kemarahannya pada, Ku hilang. Tapi, Sekarang! Dengan apa, Aku menghilangkan kemarahannya?! " Ujar Diyan, Di dalam hatinya.
Langit biru laut, Di Angkasa. Terlihat indah, Dan menyejukkan hati, Saat memandangnya. Tumbuhan, Di alam terbuka, Alam semesta, Menarik dengan bebas, Mengikuti alunan tiupan angin yang menenangkan dan menciptakan rasa Nyaman. Pemandangan indah yang begitu luar biasa, Atas ciptaan sang penguasa bumi dan langit. Terlihat menakjubkan dan penuh kesan Romantis Menikmati keindahannya.
Namun, Pertemuan tidak terduga itu, Terjadi lagi untuk kedua kalinya. Pertemuan yang tidak pernah, Dina maupun, Diyan inginkan untuk saat ini. Parkiran mobil, Dina dan Diyan, Bertemu dengan, Kevin dan Riana. Suatu kebetulan, Mobil mereka berdekatan.
" Dina, Hai! Kita, Ketemu lagi! dan Aku, Harap... Kamu, Sudah memaafkan kesalahan, Ku? " Seru Riana, Dengan bersikap hangat dan akrab. Menyapa, Dina yang terlihat jelas, Di wajahnya, Terkejut. Bertemu dengan, Dirinya dan Kevin, Suaminya.
" Hai, Juga, Diyan! " Riana balik menyapa, Diyan yang terlihat mematung diam, Bagaikan patung. Tapi, Tidak dengan tatapan mata, Diyan yang mengunus dingin dan tajam, Pada Kevin.
" Hai, Riana. Aku, Sudah memaafkan kesalahan, Mu kok. Jadi, Jangan, Di pikirkan dan Di bicarakan lagi, Lupakan saja " Dina, Menjawab sapaan hangat dan akrab, Riana. Namun, Dina, Tidak bisa berbuat apa-apa, Selain hanya pasrah. Ketika, Diyan, melingkarkan tangan kanannya yang kekar dan menjerat pinggang rampingnya, Dengan Posesif.
__ADS_1
" Kesalahan apa yang sudah, Di perbuat, Wanita kucing ini Pada, Dina dan Diyan? " Ujar Kevin, Penuh tanya, Di dalam hatinya. Memanggil, Riana, yang merupakan Istrinya, dengan sebutan Wanita Kucing.
" Kamu, Dan Diyan, Mau kemana? Apa, Kami boleh ikut?! " Kata Riana antusias.
" Tidak boleh! " Suara berat dan cukup keras, Diyan dan Kevin, Terdengar serentak, Menjawab, Riana. Suara mereka berdua, Mampu, Di dengar dan mengalihkan perhatian, orang-orang yang ada, Di sekitar mereka berempat.
Riana, Tentunya kaget dan bingung, Mendengar penolakan, Diyan dan Kevin, Yang begitu cepat dan serentak. Dina, tersenyum simpul, Tidak bisa mengatakan apa pun. Dina, Juga menyadari, Diyan dan Kevin, Sangat sulit berteman. Karena, permasalahan, Di masa lalu.
" Aku, Tidak tahu?! Berapa lama, Diyan dan Kevin, Akan terus begini? Apakah mereka berdua tidak bisa berteman? Sungguh menyebalkan! " Dina, Menggerutu, Di dalam hatinya.
Dengan, Mata abu-abunya, Melirik wajah dingin, Suami dan Mantan kekasihnya yang saling menghunuskan tatapan mata tajam, Dengan tidak suka. Seakan berperang dengan mengunakan tatapan mata tajam dan dingin, Mereka. Mengunus bagaikan pisau yang untungnya tidak membuat, Diyan dan Kevin tiada.
Orang-orang yang ada, Di sekitar, Dina, Diyan, Kevin dan Riana. Berlalu pergi, Dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing, Melupakan suara keras, Diyan dan Kevin, Yang sempat mengusik mereka tadi.
" Aku, Bisa mengerti itu! Tapi, Bisakah! Jangan membuat Malu! Bikin, Aku kesal saja jadinya! " Ketus Riana, Di dalam hatinya. Dengan kesal Kakinya, Memijak, Kaki, Kevin, Yang di balut sepatu sneaker.
Kevin, Terlihat tenang, Di hadapan, Dina dan Diyan. Tidak menunjukkan, Dirinya merasakan kesakitan, Di kakinya. Bersikap biasa saja, Seakan, Pijakan kaki, Riana, Tidak terasa sakit sedikit pun. Riana, Mendengus kesal, Melirik wajah dingin dan sikap tenang, Kevin. Membuat, Riana, sangat ingin mengulanginya, Memijak Kaki, Suaminya. Tapi, Gagal, Kevin, Dengan cepat menggerakkan kakinya dan menghindari kenakalan kaki, Istrinya.
" Ya, Sudah... Kalau begitu, Riana, Kevin. Aku, Dan Mas Diyan, Harus pergi. Sampai ketemu lagi, Di lain waktu, Ya? " Perkataan Dina, Memecah keheningan yang sempat menyelimuti, Di antara, Mereka berempat.
" Haha iya, Baiklah. Semoga, Kita bisa bertemu lagi! " Seru Riana dengan kehangatan dan Tawa Kecilnya. Mencairkan suasana yang terasa dingin, Karena aura yang, Di miliki, Diyan dan Kevin, Yang sempat menciptakan keheningan.
__ADS_1
Dina dan Diyan, Kevin dan Riana. Pergi, Dengan mobil yang berbeda dan Ke arah yang berbeda. Namun, Suatu saat, Di masa depan yang akan datang. Mereka berempat tidak menduga. Pernikahan yang terjalin, Karena suatu paksaan. Membuat, Mereka berempat sulit untuk percaya. Di saat, permasalahan yang akan datang, dan tidak mereka sadari. Ingin menghancurkan Pernikahan mereka yang sudah terciptakan rasa bahagia dan Cinta.
...Bersambung...