Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Hadiah


__ADS_3

" Rissa, Sayang. Mulai sekarang, Jangan mengganggu, Kakak-kakak, Kamu. Ketika, Berada di dalam kamar, Ya, Rissa? Dengar kata Mama kan? " Kata Zaskia lembut pada putri kesayangannya itu yang paling manja.


" Baiklah, Ma. Rissa tidak akan mengulanginya, Lagi. Rissa, hanya akan menggangu, Kak Dina, Di saat tidak bersama, Kak Diyan " Jawab Marissa dengan anggukan kepala, Menuruti perkataan Sang Mama yang tersenyum mendengar perkataannya dan membuat Dina malu, Mendengar perkataan terakhirnya barusan.


" Adik, Ku! Kamu, selain manja, Juga terlalu polos. Mendengar, Mu, Aku sangat malu! " Dalam hati Dina.


Endra kembali duduk di sofa, di susul Rissa yang ikut duduk di samping Sang Nenek. Dina hanya diam dan ketika ingin ikut menyusul langkah, Adiknya. Terasa sentuhan lembut yang mencekal pergelangan tangannya, Zaskia menghentikan Dina yang ingin pergi dari dekatnya.


" Dina, Duduklah " Perintah Diyan santai. Membuat, Zaskia mengurungkan niatnya, Ingin mempertanyakan sesuatu pada Dina.


" I... Ya, Mas " Dina menyahuti dengan gugup.


Zaskia tersenyum, Melihat interaksi Dina dan Diyan. Selain merasakan kelegaan di hatinya, Zaskia juga merasa bahagia melihat berkembang hubungan di antara Dina dan Diyan yang tidak terkira olehnya. Dina dan Diyan terlihat begitu dekat dan kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka berdua atas pernikahan yang di inginkan dan direncanakan orang tua mereka. Zaskia menarik tangan Dina untuk mengikuti langkahnya, mendudukkan Dina di sebelah kirinya dan Endra berada di sebelah kanannya.

__ADS_1


" Papa, dan Mama, Kenapa tidak mengabari, Aku? Jika, Akan pulang pagi ini, Kalau enggak, Aku bisa jemput " Kata Diyan pada Kedua orang tuanya.


" Sorry, Kak. Rissa yang minta, sama Mama dan Papa, Untuk jangan beritahu, Kakak. Rissa, Ingin kasih kejutan! " Marissa tersenyum girang menyahuti perkataan Diyan.


" Kejutan, Kamu sangat menggangu " Ucap Diyan, Tanpa sadar dan hanya bisa di dengar Dina yang tersenyum malu.


" Kak Diyan, Bilang apa? " Rissa yang samar-samar mendengar perkataan Diyan yang kurang jelas di Indra pendengarannya, Bertanya pada Sang kakak.


" Enggak ada. Pa, Papa mau membicarakan apa dengan Diyan? " Diyan mengalihkan tatapan dan pembicaraan pada Endra, Membuat Rissa mendengus kesal.


" Papa, Sudah pesan tiket untuk kalian berdua, Berbulan madu dan Minggu depan kalian berdua sudah bisa berangkat " Jawab Endra yang tidak bisa di bantah. Mendengar itu, Dina merasa terkejut dan malu menjadi satu, Beda lagi dengan Diyan yang bersorak kegirangan di dalam hatinya.


" Aku, tidak menduga! Mama, Akan membantu, Ku secepat ini! Lebih cepat dari dugaan, Ku... Apakah tidak apa-apa untuk, Mu, Dina? " Diyan berkata di dalam hatinya dengan perasaan sedikit kecewa, Sedih dan senang di waktu yang bersamaan, Membayangkan Dina yang mau menerima atau menolaknya di saat melakukan bulan madu bersamanya, Di waktu Minggu depan nantinya. Tidak tahu, Apakah Dina mau atau tidak melakukannya?

__ADS_1


" Dan Semoga... Setelah, Kalian berdua pulang dari bulan madu, Akan memberikan Mama dan Papa kabar baik! " Kata Zaskia dengan senyuman dan binar matanya yang indah terpancar aura kebahagiaan. Dina melihat sikap Mamanya, Merasa sedikit bersalah. Dina, Masih merasa Malu, Ragu dan belum yakin dengan pikiran dan hatinya yang bertolak belakang.


" Diyan, Terserah Dina saja " Ucap Diyan santainya, Tidak memperdulikan tatapan kesal Dina yang mengunus padanya.


" Bagaimana, Dina sayang? Kamu, Mau kan? Anggap aja, Ini Hadiah dari Mama dan Papa " Kata Zaskia tersenyum pada Dina. Dina dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Suaminya dan memaksakan senyuman manis di wajahnya kepada Mamanya.


" Iya, Ma. Dina, Mau " Jawab Dina malu.


" Ya sudah, Kalo gitu... Aku, Mau olahraga dulu " Pamit Diyan pada Semua orang tersayangnya.


Diyan pun pergi meninggalkan Rumah, Berolahraga di taman yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Dina, Marissa dan Zaskia, pergi ke dapur untuk memasak dan membuat sarapan pagi, Karena jam gantungan di dinding menunjukkan Tujuh pagi. Sedangkan, Endra membaca koran, Kakek dan Nenek istirahat di dalam kamar yang sudah di sediakan di lantai bawa.


Sampai beberapa menit kemudian, Waktu tidak terasa berlalu. Dina, Diyan, Zaskia, Marrisa, Endra, Kakek dan Nenek. Melakukan sarapan pagi bersama dengan tenang, Tidak ada pembicaraan. Dalam suasana serapan pagi yang tenang itu, Dina terus memikirkan perkataan Endra dan Zaskia, Mengenai dirinya dan Diyan yang akan bulan madu Minggu depan, Dan itu, Tinggal hitungan hari saja yang pastinya tidak akan terasa dan akan segera tiba.

__ADS_1


" Hadiah yang, Mas Diyan maksud adalah ini! Itu artinya... Ah... Sepertinya, Aku harus mempersiapkan diri. Cepat atau lambat, Itu pasti akan terjadi dan Aku, tidak akan bisa untuk terus menghindarinya " Dina berkata di dalam hatinya dengan perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu di hatinya. Dina, Sudah mengambil keputusan dan siap membiarkan Diyan memiliki dirinya dengan seutuhnya.


...Bersambung...


__ADS_2