Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
BANDUNG : Rumah kita dulu


__ADS_3

Langit biru laut cerah, Dan Awan putih, Di Angkasa. Dengan, Kilauan cahaya matahari yang begitu panas, Memanaskan setiap sudut permukaan bumi. Serta, Keributan pengendara, Di jalan raya, Di kala Siang. Menemani, perjalanan panjang, Dina dan Diyan, Pergi ke Bandung.


Diyan, yang mengemudikan mobil, Dan Dina, Duduk diam menemani, Suaminya. Walau rasa bosan menghampirinya, Dan Ingin rasanya tidur, Agar rasa bosannya hilang seketika. Tapi, Dina, Tetap memilih terjaga, Dan tidak ingin tidur, ingin terus menemani, Diyan dalam perjalanan panjang mereka.


Diyan, Sekilas menatap, Wajah Cantik, Istrinya yang terlihat bosan. Dirinya, Sudah berulangkali, Mengatakan pada, Dina untuk tidur saja. Agar tidak merasa kebosanan selama perjalanan panjang. Namun, Istrinya itu, Terus saja menolak dan Tetap terjaga, Menemani, Dirinya.


" Dina, Kita beli keperluan dulu, Atau Kita, Beli makanan online aja? " Kata Diyan, Menghentikan mobilnya, Di pinggir jalan. Di depan, Swalayan yang berada, Di Bandung.


" Kita, Uda, Di Bandung, Mas? " Tanya Dina sedikit terkejut, Tidak sadar, Bila sudah berada, Di Bandung. Sehingga, Mata ke abu-abuannya, Melirik sekitarnya, Memastikan, Dirinya dan Diyan, Sudah berada, Di Bandung. Daerah yang ingin, Mereka berdua tuju.


" Iya, Dina. Kita berdua sudah berada, Di Bandung. Tapi, Kamu baru menyadarinya " Jawab Diyan, Tertawa kecil mendengar pertanyaan, Istrinya itu. Dina, Cemberut, Sedikit kesal, Melihat, Suaminya menertawakannya.


" Jadi... Sekarang, Kamu mau gimana? Belanja keperluan, Kita sekarang? Atau belanja online? " Ujar Diyan, Sesudah menghilangkan tawanya. Ketika, Melihat wajah cemberut, Istrinya.


" Belanja sekarang aja " Jawab Dina seadanya Sambil melipat kedua tangannya, Di atas perutnya dan tidak menatap wajah tampan, Suaminya.


Diyan, Tersenyum, melihat tingkah, Istri tercintanya itu. Dengan gemas, Kedua tapak tangan besarnya, Menangkup, Kedua pipi mulus, Dina. Sehingga, Mata ke abu-abuan itu, Tertuju padanya dan dengan cepat, Bibir, Diyan mencium dan mengulum bibir manis, Dina.


" Jangan cemberut, Istriku... Cantik, Kamu hilang tahu. Senyum yang manis dong! " Seru Diyan, Sambil menarik dua sudut bibir, Dina membentuk senyuman dan Kemudian, keluar dari mobil. Meninggalkan, Dina yang sedikit terkejut, Dengan perlakuannya. Sehingga, Wajah, Dina memerah Malu, Seperti kepiting rebus yang baru matang.


Diyan, Membukakan pintu mobil untuk, Istrinya itu. Dina, Pun keluar dari mobil, Dengan Senyuman, Di wajah cantiknya. Diyan, kembali menutup pintu mobil, Dan mengunci, Mobilnya dengan kunci mobil remote control-nya. Sesudahnya, Dina dan Diyan, Bergandengan tangan memasuki Swalayan, Di Bandung.


" Mas, Selama dua Minggu ini, Kita tinggal, Dimana? " Tanya Dina, Seiring langkah bersama, Diyan.


" Rumah, Kita dulu. Kamu, Masih ingatkan? " Diyan, Balik bertanya pada, Dina.

__ADS_1


" Rumah, Kita dulu?! " Dina, Terkejut, Menghentikan langkahnya dan spontan, Diyan juga Menghentikan langkahnya.


" Iya, Dina. Selama dua Minggu, Kita akan tinggal, Di sana "


" Tapi... Aku, Juga ingin menunjukkan pada, Mu. Sebuah rumah yang telah lama, Kamu inginkan dan Aku, Ciptakan untuk, Mu, Istriku " Diyan, Melanjutkan Perkataannya, Di dalam hatinya. Sehingga, Dina, Tidak tahu, Apa yang, Suaminya pikirkan?


Tentunya, Sesuatu yang sangat luar biasa membahagiakan untuk, Dina dan Diyan. Tapi, Mungkin, Tidak untuk saat ini, Diyan tidak menyadari. Ada sepasang mata coklat terang yang indah, Di Wajah cantik menawan, Seorang Wanita. Menatap, Diyan, Dengan binar matanya yang tersirat Penuh Cinta, Kerinduan dan Kebahagiaan, Melihat, Diyan berada, Di hadapannya.


" Benarkah, Mas?! Aku, Tidak sabar untuk segera pulang ke rumah kita dulu! " Seru Dina antusias sambil menarik, Suaminya untuk mengikutinya.


Karena, Dirinya sudah tidak sabaran untuk Kembali masuk, Ke rumah yang, Di duganya telah, Di jual, Endra, Papanya. Ternyata, Tidak sama sekali, Dan kabar yang, Suaminya berikan, Sangat membahagiakannya. Diyan, Hanya tersenyum senang, Menanggapi, Istrinya itu.


Wanita yang memiliki, Mata coklat terang. Dengan wajahnya yang cantik menawan itu, Ingin melangkahkan kakinya, mendekati, Diyan. Namun, Terhalang, Oleh Wanita lain yang menabrak, Dirinya. Mengalihkan perhatiannya sebentar saja. Sehingga, Diyan hilang dari pandangan matanya.


" Diyan... Setelah, Dua tahun lamanya... Akhirnya, Aku bisa melihat, Dirimu... Tapi, Kenapa begitu sulit mendekati, Mu? Apa... Cinta, Ku tidak bisa menjadikan, Mu, Milikku? " Lirik Wanita bermata coklat terang itu, Dengan binar matanya yang tersirat Kesedihan dan kekecewaan.


Dina, Turun dan Keluar dari mobil, Lebih dulu. Tanpa, Menunggu, Suaminya membukakan pintu untuknya. Berlari dan berdiri, Di teras rumah yang menjadi saksi bisu, Pertumbuhannya dan kenangan manisnya, Bersama Keluarga Prabowo yang menyayangi dan Mencintainya, Terutama, Diyan.


Binar mata, Dina tersirat kerinduan mendalam, Menatap sekitar teras rumah coklat itu. Mengingat kenangan manis yang tidak akan mungkin bisa, Di lupakannya. Sampai akhirnya, Mata ke abu-abuannya, Terhenti pada wajah tampan yang tersenyum. Menatapnya, Dengan mata sehitam langit malam, Yang selalu memandangnya dengan Cinta dan Penuh kasih sayang.


Dina, Berlari dan Memeluk erat, Tubuh, Pria yang, Dicintainya. Diyan, Dulu baginya, Adalah Adik kesayangannya, Adik yang selalu ada, Di sampingnya dan Adik yang, Di kaguminya. Dulu, Terselip rasa takut, Bila masanya, Di saat, Dewasa mereka akan berpisah. Tapi, Rasa takut itu, Hilang, Sesudah, Endra dan Zaskia, Menikahkannya dengan, Diyan. Kini, Diyan, Akan selalu dan selamanya ada untuknya, Dan tidak akan terpisahkan dengannya. Karena, Diyan adalah Suaminya, Hanya miliknya.


Diyan, Sedikit terkejut, Ketika, Dina tiba-tiba memeluknya. Tapi, Kemudian, Hatinya merasa sangat bahagia, Membalas erat pelukan, Istrinya. Merasakan yang sekarang, Dina rasakan. Mengenang masa manis, Di rumah coklat yang menjadi saksi bisu kebersamaan dan Keharmonisan, Mereka berdua dan keluarganya.


" Aku, Mencintai, Mu, Diyan. Sangat... Tapi, Tidak tahu...? Kenapa? Rasanya... Aku, tidak mudah untuk Mengatakannya? Aku, Mencintai, Mu, Diyan. Dulu, Sekarang dan Selamanya! " Dalam hati, Dina.

__ADS_1


" Dina... Dulu, Aku, sangat takut kehilangan, Mu. Tapi, Sekarang dan Selamanya, Aku, Tidak akan membiarkan rasa takut, Ku. Menghampiri kebahagiaan, Kita. Karena... Cinta, Ku pada, Mu, Tidak akan ada yang bisa mengiranya. Cinta, Ku pada, Mu tidak memiliki batas, Tidak terhitung Angka. Dulu, Sekarang dan Selamanya... Aku, Mencintai, Mu, Dina "


Mendengar suara kelembutan, Diyan. Perkataan Cinta yang membuatnya, Tidak bisa mengatakan apa? Selain, Hanya diam dalam pelukan kehangatan yang, Suaminya berikan. Tapak tangan kanannya yang menyentuh dada, Diyan. Bisa merasakan, Debaran jantung, Diyan, Di balik helaian kain yang melekat, Di tubuh kekar, Suaminya. Seakan, Dina dapat merasakan, Jantung, Diyan ada dalam genggamannya.


Diyan, Melepaskan pelukan kehangatannya. Kedua tapak tangannya, Berpegangan pada dua sisi pundak, Istrinya. Mendorong lembut, Dina untuk sedikit memberikan jarak, Dengannya. Mata sehitam langit malamnya itu, Menatap mata ke abu-abuan, yang basah dengan air mata, Hingga akhirnya meluncur, dan Membasahi wajah cantik, Dina. Dengan lembut, Diyan mengusap dan menghapus air mata, Dina.


" Dina... Saat ini, Jantung, Ku berdebar dalam genggaman, Mu " Ucap Diyan, Sambil meletakkan tangan kanan, Dina, Di dadanya, Letak jantungnya berada. Dina, Menatap tangannya yang, Seakan menggenggam jantung, Diyan. Dina, Merasa berat, Mengakat kepalanya untuk bisa, Menatap, Diyan.


" Di sana, Terukir nama, Mu, Selain, Di hati, Ku, Dina. Jantung, Ku, Akan berhenti berdebar seperti yang, Kamu rasakan. Jika, Dirimu, Pergi meninggalkan, Ku, Sendiri lagi dalam kehampaan Cinta, Ku, Pada, Mu " Kata Diyan sendu.


" Kenapa... Kamu, Mengatakan ini? Jangan membuat, Ku, Takut... " Lirik Dina Menangis.


Diyan, perlahan mengukir Senyuman, Di wajah tampannya. Menarik, Tubuh mungil, Dina, Ke dalam pelukannya.


" Tidak tahu, Kenapa...? Ada dorongan dari hati, Ku. Mengatakan ini pada, Mu. Maaf, Aku telah membuat sedih, Aku, Tidak bermaksud membuat, Mu, Menangis juga " Jelas Diyan.


" Sudah, Ya... Jangan nangis lagi. Cantik, Kamu nanti hilang dan Jadi jelek malahan. Nanti, Di kira warga sini, Aku mau jahat sama, Kamu. Sudah gitu, Aku udah tidak tampan lagi, Karena di pukul warga sini " Kata Diyan, Tertawa kecil, Mencoba menghibur, Istrinya itu, Yang masih berada dalam pelukannya.


Dina, Tertawa kecil, Merasa terhibur Mendengar candaan, Diyan yang terdengar garing. Dia, Pun menarik, Dirinya, dari pelukan Suaminya. Menatap, Mata sehitam langit malam itu, Yang mampu menghilangkan akal sehatnya. Sehingga, Dengan sekilas, Bibirnya, Mencium bibir, Diyan.


" Mas, Lebih baik, Kita masuk sekarang saja! " Seru Dina, Sambil berlari menjauh dari, Diyan yang tertegun. Berdiri, di depan pintu coklat itu, Membelakangi, Diyan.


Diyan, Tersadar dari keterkejutan, Karena serangan dadakan, Di bibirnya. Menatap, Sekitarnya, Berharap tidak ada yang melihat perlakuan, Dina padanya barusan. Aman, Diyan menghela nafas lega, Sunyi, Tidak ada seorang pun. Selain, Dirinya dan Dina, Di sekitarnya.


Diyan, Tersenyum, Melangkah kakinya, Mendekati, Dina dan langsung membuka pintu rumahnya. Dina dan Diyan, Masuk ke rumah coklat itu, Tanpa menyadari ada sepasang mata coklat, Di wajah cantik menawan, Seorang Wanita. Bersembunyi, Di balik pohon mangga yang tidak terlalu dekat dengan rumah, Dina dan Diyan, Berada.

__ADS_1


" Aku, Tidak salah melihatkan?! " Kata Wanita bermata coklat terang itu, Tersirat keterkejutan yang besar, Di mata dan Di Wajah cantiknya yang menawan.


...Bersambung...


__ADS_2