Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
PARIS : Dina, Istrinya Diyan


__ADS_3

Kevin, Merasa sangat kesal pada, Dina. Dina, Terus saja menatap ke arah pintu restoran itu, Berharap, Diyan kembali dan membawanya pergi. Jika, Dina bisa jujur, Dina belum siap bertemu dengan, Kevin, Mantannya itu. Walau, Dina sadar, Cepat atau lambat, Suatu hari, Akan bertemu dengan, Kevin. Tapi, Saat ini, Dina tidak bisa menghindari Waktu, Atau pun Kevin, Yang merupakan kekasihnya, Di masa lalu.


" Dina... Kamu, Tidak merindukan, Ku? " Tanya Kevin pada Dina.


Dina tidak menjawab, Dia berdiri dari duduknya, Dan ingin beranjak pergi meninggalkan, Kevin. Namun, Dina tidak bisa, Meninggalkan Kevin begitu saja, Karena cekalan, Di pergelangan tangan Dina, Menghentikan langkahnya.


" Dina... Aku, Masih mencintai, Mu. Aku, Ingin kita seperti dulu, Kamu mau kan? " Kevin berdiri di hadapan, Dina. Dengan tetap mengcekal pergelangan tangan lembut, Dina dan mencegah, Dina Pergi.


Dina yang sedikit pun tidak ingin menatap Wajah, Kevin. Hanya, Terus menatap pintu restoran itu dan berusaha melepaskan tangannya, Dari cekalan tangan besar, Kevin. Hati, Dina terselimuti rasa takut, Takut, Diyan datang dan melihatnya berdua dengan, Kevin dalam jarak yang begitu dekat.


Dina, Tidak mendengar perkataan, Kevin. Indra pendengarannya, Hanya mendengar suara, Diyan yang tersimpan dalam ingatannya dan kini, terus terngiang-ngiang di telinganya.


" Cukup, Dengan Kamu ada di dekat, Ku. Itu sudah menjadi jawaban yang membuat, Aku senang. Mendekatlah pada, Ku "


" Jika, Suatu hari... Kamu memilih Pria lain... "


" Katakan pada, Ku. Agar, Aku, Bisa melepaskan, Mu. Tanpa harus, Aku menyakiti, Mu. Bagi, Ku... Kebahagiaan, Mu lebih penting dari Apa pun "


Dina, Tanpa sadar, Menggelengkan kepalanya dan Matanya yang ke abu-abuan itu, Berkaca-kaca, Kapan saja butir kristal itu, Akan cair dan tumpah. Dengan kasar, Dina mengibaskan tangannya, Sehingga cekalan tangan, Kevin terlepas. Dina berlari, Secepat yang, Dia bisa, Berusaha untuk segera sampai ke kamar hotel. Tapi, Lagi dan Lagi, Langkah, Dina terhenti, Di depan pintu restoran. Kevin, Memeluknya dari belakang, Dengan sangat erat. Membuat, Dina kesulitan untuk melepaskan, Dirinya dari dekapan, Kevin.


" Jangan, Dina! Plis... Aku, Masih sangat mencintaimu... Kembali pada, Ku " Lirik Kevin sedih, Dengan memeluk erat, Dina.


Dina dan Kevin, Menjadi tonton semua orang yang berada di sekitar mereka berdua. Ada beberapa orang yang merekam dalam sebuah video, Di ponsel canggihnya dan mengarahkan, Kamera ponsel mereka, Pada Dina dan Kevin. Banyak orang yang tidak mengerti bahasa Indonesia yang Dina dan Kevin, Gunakan. Tapi, Apa yang Kevin lakukan pada, Dina? Terkesan sangat romatis, Membuat beberapa sepasang Kekasih, Di sekitar, Dina dan Kevin, Tersenyum-senyum senang, Menikmati drama romatis Indonesia secara langsung.

__ADS_1


" Dulu... Aku, Terpaksa meninggalkan, Mu. Karena, Tuan Endra! " Mendengar perkataan, Kevin. Dina, Berhenti memberontak, Dan membuat, Kevin perlahan melonggarkan pelukannya.


" Iya, Dina. Tuan Endra... Meminta, Ku Meninggalkan, Mu dan Aku, Sangat terpaksa! " Perkataan Kevin begitu jelas, Di telinga Dina, Tidak lagi samar-samar. Suara, Diyan telah pergi, di bawah oleh dinginnya angin berembus lembut.


" Aku, Sudah tidak mencintai, Mu, Kevin " Satu kalimat terucap dari bibir, Dina yang sejak tadi tertutup rapat. Tapi, Kalimat, Dina bagaikan ribuan jarum yang sangat menusuk jantung, Kevin. Sakit, Dan tidak berdarah, Kevin semakin membenci, Endra.


" Lihat saja, Tuan Endra! Suatu hari, Aku akan membuat, Mu menderita, Di hari tua, Mu! " Umpat Kevin, Dalam hatinya.


" Masih adakah kesempatan, Ku, Memiliki, Mu, Dina? " Kevin bertanya lembut pada, Wanita pujaannya itu. Dina, Menatap wajah tampan yang, Di selimut kesedihan.


" Kamu, Terlambat untuk mendapatkan kesempatan itu, Kevin. Aku, Bukan lagi, Dina yang dulu... Aku, Dina, Istrinya Diyan " Perkataan Dina, Semakin menyakiti hati, Kevin.


Walau pun, Kevin sudah tahu, Dina, Istrinya Diyan. Kevin, Ingin langsung mendengar dari, Dina dan Suara lembut Dina, Begitu sangat menusuk jantungnya, Bagaikan ribuan anak panah, Menghancurkan hatinya berkeping-keping.


" Apakah... Kamu... Bahagia? " Pertanyaan terakhir, Kevin lontarkan lagi pada Dina.


" Diyan... Bila, Suatu hari, Aku tahu... Dina, Menangis dan tidak bahagia dengan, Mu. Jangan salah, Aku, Mengambil, Dina kembali pada, Ku! " Dalam hati Kevin.


Kevin, Berusaha merelakan, Wanita pujaannya pergi menjauh darinya. Hingga, Punggung, Dina hilang dari pandangannya. Membiarkan, Dina bahagia pada pilihannya, Dan Walau pun, Terasa berat hati, Kevin merelakan, Dina. Namun, Kevin sadar, itu adalah kesalahannya, Di masa lalu. Andaikan saja dulu, Dia tidak meninggalkan, Dina dan memperjuangkan, Dina. Tidak mendengarkan perkataan dan tindakan, Endra yang terus memaksanya menjauhi dan meninggalkan, Dina. Mungkin, Sekarang, Dirinya dan Dina hidup bahagia, Membangun rumah tangga dan keluarga kecil yang bahagia. Tapi, Itu, Hanya bisa menjadi khayalan, Kevin semata yang tidak akan pernah menjadi nyata.


Langit menggelap, Binar cahaya gemerlap bintang dan sinar Rembulan, Menghiasi Angkasa luas yang begitu gelap gulitanya malam. Dina, Berlari, Tidak memperdulikan perhatian orang-orang yang menatap bingung dan Aneh, Dirinya. Dina terus berlari, padahal, Sekarang, Dina sudah berada di koridor Hotel dan tidak lama lagi, Akan sampai Ke kamar hotelnya. Namun, Suara, Diyan kembali lagi, Terdengar, Di Indra pendengarannya, Sehingga rasa takut, Kembali menyelimuti hatinya.


" Tidak! Aku, Dina Istrinya Diyan Endra Prabowo. Tidak akan pernah meninggalkan, Mu, Mas Diyan. Aku, Bahagia bersama, Mu! Hanya, Kamu Pria, Yang bisa membahagiakan, Ku. Aku, Sadar! Sudah sejak lama, Rasa kagum, Ku akan sikap, Mu yang membuat, Ku mencintaimu. Ya, Aku... " Dina dalam hatinya.

__ADS_1


Dina, Terkejut, Ketika membuka pintu, Kamar hotelnya, Terlihat sangat gelap. Dina melangkah kakinya Perlahan, Tangannya meraba dinding, Mencari-cari sesuatu, Di dinding kamar hotelnya. Ketika, Menemukan sebuah tombol, Dina langsung menekannya dan terlihatlah, Diyan yang tidak berdaya, terduduk berselonjor kaki panjangnya, di lantai dingin itu, Dengan tubuh besarnya, Bersandar pada dinding ranjang.


" Mas Diyan... " Butiran kristal, di mata ke abu-abuan itu, Sudah mencair dan tumpah, membasahi pipi Dina.


Dengan cepat, Dina menutup dan mengunci pintu kamar hotelnya. Kemudian, Dina melangkah mendekati, Suaminya itu. Mata hitam segelap langit malam itu, Terlihat berembun dan memancarkan perasaan yang terluka. Diyan, belum menyadari kehadiran, istrinya, Karena rasa sakit dan perih, di hatinya, Masih membelenggu kesadarannya, sehingga tatapan mata Diyan kosong yang, di selimuti kesedihan.


" Mas Diyan... Dina, Di sini... Dina, Tidak akan meninggalkan, Mas Diyan " lirik Dina, di daun telinga Suaminya itu.


Diyan, Tertegun, Perlahan menolehkan kepalanya. Wajah cantik Istrinya yang tengah menangis, Menatapnya dengan mata ke abu-abuan itu, Kini Ada di hadapannya. Hati, Diyan bergetar dan menghangat, Tidak lagi terasa beku dan dingin. Rasa sakit dan perih, Di hatinya, Perlahan berkurang. Diyan, Menarik tubuh, istrinya kedalam pelukannya, Hingga hatinya benar-benar tenang, Nyaman dan Senang. Dina, Kembali padanya, Dina tidak meninggalkannya, Diyan merasa sangat bahagia.


" Mas Diyan... Siapa, Aku bagi, Mu? " Tanya Dina. Diyan melonggarkan pelukannya, menatap penuh cinta wajah istrinya.


" Kamu, Masa lalu, Masa kini, Dan masa depan, Ku, Dina. Selalu dan Selamanya, Dina, Istrinya Diyan Endra Prabowo " Jawab Diyan lembut.


" Jadikan, Aku... Milikmu, Mas Diyan " Kata Dina terdengar lembut dan menggoda.


" Tapi... " Belum selesai, Diyan menyelesaikan ucapannya, Dina sudah menyelanya.


" Aku, Masa depan, Mu, Mas Diyan. Jadikan, Aku, Milikmu... " Tangan Dina, Mulai menunjukkan kenakalannya, Satu-persatu, Jemarinya, Membuka kancing baju kemeja biru gelap itu.


Diyan tidak melakukan apa pun, Hanya diam, menatap dalam bola mata ke abu-abuan itu, Yang juga menatap bola mata hitamnya yang segelap langit malam itu. Dina memajukan wajahnya, Bibir mencium kening, Suaminya itu, Dengan lembut. Diyan memejamkan matanya, Nafasnya terasa berat dan debaran jantungnya berdebar kencang. Perasaan yang mengharu biru, Terganti, Dengan perasaan yang mulai menyulut api gairah dalam, Diri, Dina dan Diyan.


" Dina... " Suara berat Diyan, terdengar serak basah dan seksi. Nafas Dina berburu, Tatapan matanya tidak lagi terselimuti kesedihan, tapi kabut gairah bercinta yang ingin, Di tuntaskan.

__ADS_1


" Aku, Istrimu, Mas Diyan. Aku, Milikmu... " Bisik Dina penuh godaan. Dalam debaran jantungnya yang berdebar kencang, Merasakan hawa panas, Di tubuhnya dan desiran hangat darahnya, Hingga ke ubun-ubun. Dina dan Diyan, Tidak akan lagi menahan, Gairah bercinta dalam diri mereka berdua.


...Bersambung...


__ADS_2