
" Hei! Dina, Tidak sendiri. Ada, Aku temannya disini " Tukas Kevin yang sejak tadi diam dengan rasa kesal di hatinya. Karena, mengperhatikan dan mendengarkan pembicaraan sepasang Suami Istri, Di hadapannya.
" Sejak kapan, Kau menjadi teman, IstriKu? " Tanya Diyan, Dengan tidak senang. Menatap tak bersahabat pada, Kevin dan penuh permusuhan. Sedangkan, Dina, Menatap Kevin dalam perasaan terkejut dan bingung, ketika Mendengarnya.
" Sejak delapan tahun lalu " Jawab Kevin santay. Meletakkan dan melipat kaki kanannya, Di atas lutut, Kaki kirinya.
Sebelum, Diyan berucap lagi. Kevin pun, Berkata dengan datar. " Kamu, Tenang saja. Aku, Tidak akan berbuat apa pun pada, Dina dan Calon bayi, Mu. Aku, Lagian juga sudah punya istri "
Mendengar itu, Dina tersenyum. Sedangkan, Diyan, Mengdengus. " Awas saja! Jika, Kau tidak bisa memegang kata-kata, Mu. Aku, rela masuk penjara demi membunuh, Dirimu! " Tukas Diyan.
" Mas "
" Silahkan saja "
Dina, dan Kevin berucap bersamaan. Bedanya, Dina merasa cemas dan panik. Sedangkan, Kevin sangat menantang dengam mata tajam dan Seringai licik, Di Wajahnya itu.
" Kau...! " Diyan, Ingin berucap lagi, Sambil mengacungkan jari telunjuknya pada, Wajah Kevin. Tapi, Dina, langsung menghentikannya dengan mengusap pundak, Suaminya itu.
" Mas... Sudah. Aku, Yakin. Kevin, Tidak main-main dengan perkataannya. Jadi, Kamu segeralah pergi. Ada seseorang membutuhkan pertolongan, Mu. Aku, Janji. Setelah selesai, Aku akan langsung pulang dan langsung mengabari, Mu " Jelas Dina, Dengan bujukkannya.
Diyan, Perlahan merasa tenang. Tapi, Perasaan tidak ingin meninggalkan, Dina, Semakin berat. Bersamaan, Dengan firasat dalam hatinya yang semakin kuat.
__ADS_1
" Baiklah... Kevin, Aku mohon pada, Mu " Kata Diyan, Sambil memeluk, Istrinya itu dan Menatap Kevin.
" Kamu, Tenang saja " Balas Kevin, Bersahabat. Menepuk pundak, Diyan.
Dengan berat hati, Diyan melepaskan pelukannya pada, Istrinya itu. Dina, Pun juga merasa aneh pada, Hatinya. Ketika, Suaminya, Melepaskan pelukan itu dan Akan beranjak pergi meninggalkannya.
" Aku, Pergi dulu dan Nanti, Aku akan meminta supir untuk menjemput, Mu " Ucap Diyan, Dan mengakhirinya dengan mengecup, Kening, Istrinya itu.
" Ya, Mas. Berhati-hatilah dan Kembalilah pada, Ku. Setelah, Tugas, Mu selesai " Kata Dina, Tersenyum manis yang seakan di paksakan dalam perasaan hati yang entah kenapa semakin tidak nyaman. Seakan, Ada perasaan hatinya berkata. " Cepatlah kembali, Mas "
Tapi, pada akhirnya, Dina, Hanya tersenyum saja. Menatap kepergian, Suaminya itu, Hingga pintu kaca sebagai pembatas jarak di antara, Dirinya dan Diyan. Tanpa, Sadar air matanya jatuh membasahi tangannya yang ada di pangkuannya. Sadar akan itu, Dina, langsung menghapus sisa air matanya, Mengedipkan matanya ke atas dan menghentikan air matanya itu.
" Ada apa dengan, Ku..? Apakah ini, Karena pengaruh kehamilan, Ku? Ya! Pasti ini, Karena hormon kehamilan, Ku saja " Dina, Berucap dalam hatinya.
" Kevin... Aku, Bersyukur bisa mengenal, Dirimu. Tapi, Hubungan, Kita di masa lalu tidak akan bisa lagi terulang seperti yang, Kamu inginkan. Selain, Kita berdua yang menjadi, Teman " Dina, Menjeda perkataannya.
Dengan, sedikit meneguk Jus mangga muda itu dan Kembali menatap, Kevin, Pria yang pernah menciptakan rasa manis dalam hidupnya. Tapi, Rasa asam manis yang baru saja di teguknya. Membuatnya merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Melebihi rasa manis yang pernah, Kevin berikan padanya, Di dalam hidupnya.
" Ingatlah, Kamu sudah menikahi seorang Wanita.. "
" Tapi, Aku tidak mencintainya, Dina! Aku, Masih mencintai, Mu! " Seru Kevin, Menyela.
__ADS_1
Dina, Tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " Kevin. Aku, Mengenal, Dirimu. Wanita itu, Sudah mengisi hati, Mu. Aku, Tahu, Kamu sudah mulai menyukai, Dirinya dan sebentar lagi. Aku, Hanya akan menjadi, Teman untuk, Mu "
" Dina, Kamu tidak mengenal, Ku! Aku, Tidak menyukainya, Aku hanya menjadikannya boneka saja! Aku, Masih mencintai, Mu! Kamu, Harus tahu itu "
" Kevin, Tenanglah. Terserah, Kamu percaya atau tidak dengan perkataan, Ku. Sebaiknya, Kita lanjutkan perbincangan ini. Karena, Aku tidak ingin, Papa, Kehilangan perusahaan yang sudah menjadi hasil kerja kerasnya! "
" Kamu, Selalu saja begitu dan tidak pernah berubah. Andaikan, Dulu... Aku, Tidak meninggalkan, Mu dan tidak mendengarkan perkataan, Pak Endra. Pasti, Kamu sudah mengandung anak, Aku dan Bukan, Diyan! "
" Kevin, Plis... Aku, Mohon. Kita, Jangan lagi membicarakan masa lalu. Aku, Sedang hamil dan Aku, Tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan, Mu. Lebih baik selesaikan ini dengan cepat. Agar, Aku bisa pulang dan beristirahat "
" Istirahat saja. Aku, Tidak akan menggangu, Mu "
" Kevin... Aku, Mohon pada, Mu " lirik Dina, Memelas. Minta di kasihani.
Kevin, Menghela nafas kasar. " Baiklah. Aku, Mengalah. Kamu, Memang tidak pernah berubah! "
Dina, Dan Kevin, Pun melanjutkan perbincangan, Mereka berdua. Hingga waktu sudah berlalu selama satu jam. Tidak terasa, Hari telah sore. Dina dan Kevin, Pun berdiri dari tempat duduk, Mereka berdua. Kemudian bersalam, berdamai pada kesepakatan yang telah, Mereka perbincangkan sebelumnya. Serta, Berdamai pada kehidupan yang telah, Mereka lalui selama ini.
" Kevin, Terima kasih " Ucap Dina, Tersenyum senang dan kelegaan di dalam hatinya. Karena, Perusahan, Papanya tidak lagi berada di ujung tanduk.
" Sama-sama. Tetaplah, Berbahagia, Dina. Aku, Merelakan, Mu. Walau hati ini, Masih terasa berat " Kata Kevin, Merasa sedih sambil melepas jabatan tangannya dengan, Dina.
__ADS_1
...Bersambung...