Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Perlakuan


__ADS_3

" Gita! Lo, Ngagetin, Gue tahu! Gue Kirain siapa? Hampir aja Jantung, Gue copot! Bisa mati ni, Gue! " Ketus Dina, Menatap kesal seseorang yang membuatnya panik dan tegang setengah mati. Ternyata adalah Gita, Sahabatnya sendiri.


Gita, Melepas topi dan maskernya. Sehingga, Tawa yang tenggelam tadinya, Bergema dan Tubuhnya bergetar karena tertawa terbahak-bahak. Dina, Menatap sahabatnya itu, Sambil berlipat tangan dengan kesal.


" Sorry. Lo, Si! Kenapa lama? Gue, Bosan nungguin, Lo, Din " Ucap Gita, Menghentikan tawanya. Ketika, Melihat tatapan, Dina, yang tidak biasa padanya.


" Gue, Bahkan hampir kehilangan, Firna. Kalo, Gue enggak segera ngikutin, Dia, Sampe masuk ke dalam perumahan itu " Sambung Gita, Menjelaskan, Sambil jari telunjuknya, Menunjuk ke arah sebrang jalan yang, Di sana terlihat bangunan minimalis bernuansa klasik. Dengan warna dinding bangunan itu, Berbeda-beda. Dina, Melirik bangunan perumahan itu, Terlihat sepi. Seakan tidak ada penghuninya.


" Lalu, Mila. Mana? Lo, Sudah mengabari, Dia kan, Git? " Dina, Kembali menatap sahabatnya itu. Gita, Mengagukkan kepalanya.


" Mila, Mah... Dia nya Uda dari tadi nyampenya dan Sekarang, Mila masuk ke dalam perumahan itu, Mengawasi, Si Firna! " Seru Gita.


" Ya Uda, Tunggu apa lagi? Kita, Susul Mila sekarang! Gue, Enggak sabar kasih, Si Firna pelajaran! Agar, Dia tidak lagi mengganggu atau pun berpikir memiliki, Suamiku! " Tukas Dina.


" Ya enggak usah teriak-teriak, Di telinga, Gue juga kali, Din. Sakit ni, Telinga Cantik, Gue " Gerutu Gita.


Dina, Berlalu pergi, Menghiraukan Sahabatnya itu, Yang menggerutu padanya. Dengan kesal, Gita, Berdecak dan mengikuti langkah, Sahabatnya. Dina dan Gita, Menyeberang jalan, Dan langsung melangkah memasuki perumahan itu. Perumahan itu, Berbaris, Di kanan kiri, Sangat sepi dan Sangat terlihat. Jika, Perumahan itu, Baru selesai di bangun. Tapi, Walau begitu, Sudah ada yang menghuni beberapa rumah, Di perumahan itu. Itu bisa di lihat dari letak keberadaan mobil, Motor dan sepeda yang berada, Di teras rumah. Serta, Beberapa karung pasir dan semen, Di pinggiran jalan yang beralaskan tanah kering.


" Dimana, Mila? Dan Yang mana rumah, Si Firna? " Cecar Dina, Tidak sabaran. Sambil kepalanya celingukan, Dan matanya Melirik kanan kiri. Dengan terus melangkah ke depan.


" Di depan, Yang itu " Jawab Gita, Mengarahkan jari telunjuknya ke sisi kanan arah kedepan.


Tanpa menunda apa pun, Dina, Semakin melajukan langkah kakinya. Walau, Dia, Menggunakan sepatu hak tinggi. Tidak sedikit pun itu membuat, Dina, Akan jatuh. Dia, Tetap melangkah dengan cepat, Menuju rumah minimalis yang berwarna biru laut itu. Rumah yang, Di tunjukkan, Gita padanya. Gita, Juga melajukan langkah kakinya. Menyusul, Dina, Yang ada di depannya.


" Dina! Tunggu dulu! " Seru Gita, Tiba-tiba. Spontan, Dina, Menghentikan langkahnya.


" Mila, Kenapa tidak ada? " Ucap Gita kebingungan dan Panik.


" Emang, Tadinya, Mila ada Dimana? " Tanya Dina, Menatap sahabatnya itu, Yang berdiri, Di sampingnya.

__ADS_1


" Gue, Suruh, Dia, Di sini dan Gue, Juga sudah bilang untuk jangan kemana-mana dulu. Sebelum, Lo datang, Din! " Jelas Gita, Sambil jari telunjuknya mengarah, Di tangga batu itu, Yang terdiri hanya lima anak tangga. Dina, Menatap sekitar, Tidak terlihat, Mila, Di mana pun yang seketika, perasaan, Dina, Merasa Cemas.


" Apa mungkin... Mila, tidak sabaran dan bertindak sendirian? " Kata Dina, Berasumsi.


" Entahlah! Lebih baik, Kita masuk saja untuk mengetahuinya " Ujar Gita melangkahkan kakinya, Menaiki tangga batu itu.


Dina, Mengaguk setuju atas perkataan, Sahabatnya itu. Dia, Pun melangkah dengan cepat lagi, Hingga langkahnya kembali terhenti di depan pintu bercat putih itu.


" Git, Lo tidak salahkan? Si Firna, Dia memang ada, Di rumah ini kan? " Dina, Bertanya pada, Sahabatnya itu, Memastikan. Jika, Firna, Ada di rumah ini atau tidak?


" Iya, Din. Dengan mata kepala, Gue, Sendiri! Gue, Lihat si Firna, Masuk ke dalam rumah ini dan Gue, Yakin! Gue, Pasti tidak salah lihat! " Jawab Gita jujur dan menyakinkan, Sahabatnya itu.


Dina, Terdiam sebentar, Kemudian tangan kanannya terangkat dan langsung mengetuk pintu putih itu, dengan cukup keras. Di awal, Gita, Terkejut atas perlakuan, Dina, Yang mengetuk pintu dengan tiba-tiba, Tanpa Bilang-bilang dulu padanya. Namun, Dia hanya diam dan Membiarkan, Dina, Yang mau melakukan sesuatu pada, Si Firna.


Tok!Tok!tok!


Bahkan, Gita, Harus menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Agar, Suara gendang tangan, Dina, pada pintu itu, Tidak menyakiti gendang telinganya. Dan Bahkan, Orang-orang yang menghuni perumahan itu, keluar dari rumah mereka. Menatap bingung, dan Kesal, Pada perlakuan, Dina, Yang mengetuk pintu begitu keras yang juga sangat mengganggu privasi mereka. Namun, Satu pun dari mereka, Tidak ada yang bersuara atau melarang perlakuan, Dina. Karena mungkin, Mereka, Baru tinggal di perumahan yang baru selesai di bangun itu.


" Berhentilah membuat keributan! " Teriakkan suara Wanita, Terdengar dari dalam rumah biru laut itu. Sehingga, Dina, Menghentikan gendang tangannya pada pintu putih itu.


Pintu itu, Terbuka lebar dan terlihatlah, Wajah pucat seorang Wanita yang tidak lain adalah Firna. Tangan, Dina, Yang mengambang di udara itu, Perlahan turun kebawah. Tapi, Tidak dengan kilatan binar mata abu-abunya yang tajam, Menatap, Firna dengan Amarahnya.


" Jika, Pintu yang, Kamu, ketuk tidak terbuka?! Maka, Kehadiran, Kamu tidak di inginkan! " Hardik Firna, Dengan marah.


Mendengar perkataan, Firna, Yang begitu kasar. Dina, Dengan cepat menjambak rambut, Firna. Seketika, Membuat, Firna, Meringis kesakitan. Dengan tangan kanannya, Berusaha melepaskan tangan, Dina, Yang dengan kasar menjerat rambut indahnya yang panjang itu. Sedangkan, tangan kirinya, Seakan memeluk perutnya yang datar itu.


" Bila, Si pengganggu tidak di berikan pelajaran. Pasti, Dirinya, Akan terus meremehkan apa pun itu. Maka Seharusnya, Kamu tidak mencari masalah dengan, Ku! " Tukas Dina, Penuh penekanan yang mampu, Membuat mata coklat terang, Firna, Melebar yang tersirat ketakutan dan Kepanikan. Serta, Mengkhawatirkan sesuatu yang, Saat ini berkembang, Di perutnya.


Dina, Masuk ke dalam rumah, Sambil menarik rambut panjang, Firna. Sedangkan, Gita, Berbalik badan dan menatap Orang-orang yang menghuni perumahan itu.

__ADS_1


" Apa pun yang, Kalian lihat dan Dengar. Anggap saja, Angin lalu dan Sesama Wanita, Kita, Pasti sudah mudah mengerti dengan yang terjadi, Saat ini! " Kata Gita, Pada orang-orang perumahan yang sejak tadi, Diam-diam, Menonton perlakuan, Dina, Terhadap, Firna.


Gita, Langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu putih itu. Orang-orang perumahan itu, Juga masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Seakan mereka, Mengerti maksud perkataan, Gita.


Sementara, Di tempat lain, Rumah sakit kota. Diyan, Melangkah masuk ke rumah sakit itu. Namun, Anehnya, Diyan, Menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Langkah kakinya yang tegas dan berwibawa, Membuat Suster maupun Dokter, Hormat dengan sedikit menunduk kepala pada, Dirinya. Karena, Semua para pekerja di rumah sakit itu, Sudah tahu. Jika, Diyan adalah putra dari pemilik rumah sakit ini. Rahasia itu, Di beritahukan oleh, Direktur rumah sakit ini. Karena atas keinginan, Endra Prabowo kala itu.


Tetapi, Perlakuan, Diyan, Yang menggunakan masker. Menjadi topik pembicaraan para suster dan Dokter. Di Sepanjang perjalanan, Diyan, Ke ruangannya. Diyan, Pura-pura tidak mendengarkan, Karena itu, Sudah menjadi sifatnya. Dingin seperti Es dan Sangat serius, Bila Dia sedang bertugas. Begitulah orang-orang mengenal, Dirinya.


" Selamat pagi, Dokter Diyan " Sapa seorang Pria, Yang sama sepertinya, Seorang Dokter juga. Datang ke ruangannya dan Menyapanya dengan hangat. Tapi, Tidak dengan kilatan, Di dalam mata hitamnya yang pekat itu.


Diyan, Hanya mengagukkan kepalanya, Menanggapi sapaan, Pria itu. Tidak ada sedikit pun keinginan, Diyan, Mengakat kepalanya dan Menatap orang yang datang dan menyapa, Dirinya. Seakan-akan, Diyan, Sudah tahu, Siapa yang datang menemuinya pagi ini. Tapi, Pria itu, Tersenyum lucu melihat sikap, Diyan, Yang dingin terhadap, Dirinya.


" Beberapa hari belakangan ini, Aku, Lihat... Dokter Diyan, Selalu menggunakan masker. Apakah Dokter Diyan takut menyebarkan penyakit pada pasiennya? Atau Dokter Diyan, Merahasiakan sesuatu lagi dari, Kami? "


Mendengar perkataan, Pria itu, Yang terdengar bercanda padanya Atau sedang ingin bermain teka-teki dengannya. Diyan, Menatap tajam wajah tampan pria itu, Yang berlipat tangan dengan berdiri di depan meja kerjanya. Menatapnya, Dengan senyuman miring, Seakan mengejek, Dirinya.


" Dokter Yuka " Panggil Diyan, Dengan suaranya yang terdengar datar. Tapi, Tidak dengan tatapan mata sehitam langit malamnya itu, Yang tajam. Mengunus penuh pada, Pria di hadapannya itu.


" Ya, Ada apa? Apa Dokter Diyan Benar-benar punya rahasia lainnya? Atau... " Sebelum perkataan Dokter Yuka, Selesai. Diyan, Dengan cepat Menyela Perkataannya itu.


" Lakukan tugas, Anda dengan baik, Dokter Yuka. Jangan mengurusi kehidupan pribadi, orang lain dan Urus lah urusan, Anda sendiri! Atau perlu, Aku, Tambahkan tugas, Anda, Menjadi satpam saja? " Hardik Diyan tegas, dan Penuh penekanan. Seakan sedang mengancam, Dokter Yuka.


" Dokter Diyan, Terlalu pandai berbicara. Kalo gitu, Aku, Lebih memilih melakukan urusan sendiri saja "


Dokter Yuka mendengus dan berdecak dengan kesal, Sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan, Diyan.


" Kalo bukan karena, Dia adalah Putra Tuan Endra Prabowo. Aku, Pasti sudah akan menjatuhkannya. Jatuh hingga hidupnya benar-benar hancur! Tidak tahu lagi, Harus dengan apa? Aku, bisa membuat karirnya hancur! " Tukas Dokter Yuka, Di dalam hatinya. Dengan perasaan yang, Di selimuti ke irian, kebencian dan Dendam terhadap, Diyan, Yang tersimpan dengan rapat, Di dalam hatinya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2