
Langit gelap gulita, Dengan hiasan gemerlap Bintang dan Rembulan sabit, Di Angkasa. Malam telah larut, Angin berembus dingin menusuk kulit halus, Wanita yang berdiam, Diri menatap langit malam. Terbayang wajah, Wanita tua dalam ingatan dan tergambar, Di Angkasa. Dina, Merasakan perasaan yang tidak asing, Ketika berdekatan dengan, Wanita tua, Di panggil, Nenek olehnya.
" Bagaimana, Keadaan, Nenek? Apakah kakinya sudah tidak sakit? " Dina Berkata tanpa sadar.
Hingga, Kehadiran tangan besar dan kekar, Melingkar, Di pinggang rampingnya. Menyadarkan, Dina dari lamunan panjangnya, membayangkan, Wanita tua, Yang masih melekat dalam ingatannya.
" Nenek, Baik-baik saja, dan... Besok, Nenek dan Kakek, Akan melakukan pemeriksaan, Di rumah sakit, Tempat, Ku bertugas " Ujar Diyan, Memberitahu pada, Istrinya itu.
Dina, Tidak mengatakan apa pun. Mengukir Senyuman, Di wajah cantiknya yang berseri indah, Karena terpaan sinar rembulan malam. Tangan lembutnya, Menyentuh dan mengusap, Jemari dan punggung tangan dingin, Suaminya. Menikmati kehangatan tubuh yang memeluk, Dirinya dari Belakang dan menikmati, Dinginnya angin malam yang berembus lembut, Menyapanya.
" Katakan pada, Ku? Apa saja yang, Kamu lakukan dengan kedua, Teman, Mu? " Diyan bertanya dengan lembut, Sambil mengendus aroma wangi, Di tengkuk leher, Dina yang sudah menjadi candu untuknya.
" Mas... Geli. Bagaimana, Aku bisa menjawab? Jika, Kamu! Menggoda, Ku " Ketus Dina, Sedikit kesal pada, Diyan. Tapi, Tidak memudar Senyuman, Di wajah cantiknya yang berseri indah.
" Oke... Aku, Tidak menggoda, Mu. Sekarang... Katakan! Apa saja yang, Kamu lakukan dengan kedua teman, Mu hari ini? " Kata Diyan, Berusaha untuk tidak menggoda, Dina. Di saat, Gairah dalam dirinya yang begitu mudah bangkit, Hanya dengan setiap kali bersentuhan pada, Dina.
" Tidak banyak yang, Aku lakukan, Mas. Aku dan Kedua Sahabat, Ku... Gita dan Mila. Kita bertiga, Hanya makan siang, Belanja dan berbagi cerita bersama, Itu saja. Selebihnya, Aku sudah menceritakan pada, Mas Diyan kan? Bila dalam perjalanan pulang, Aku harus mengantar, Nenek-nenek pulang ke rumahnya dulu. Sesudah itu, Aku langsung pulang dan tidak pergi kemana-mana lagi " Jelas Dina lembut.
" Benar? Kamu, Tidak pergi ke tempat... " Diyan sengaja tidak melanjutkan perkataannya dan, Dina memahami maksud, Suaminya itu.
" Aku, Jera pergi ke tempat itu! " Ketus Dina.
Tempat yang, Diyan maksud pada, Dina. Adalah tempat yang menyebabkan, Mereka berdua bertengkar, Di rumah. Karena, Dina LUPA WAKTU pulang dan melakukan tugasnya, Sebagai istri Diyan. Kenangan pahit dan menyakitkan yang sulit, Di lupakan, Dina dan Diyan.
__ADS_1
" Bagus! Aku, Sangat tidak suka bau dan tabiat orang-orang, Di tempat itu " Ujar Diyan.
Tanpa mengatakan apa pun, Diyan dengan lembut, Memutar tubuh, Dina untuk menghadap pada, Dirinya. Dina, Yang merasa mengerti dari perkataan, Diyan. Perlahan, Dina mendongakkan kepalanya, Mata ke abu-abuan, Dina. Menatap mata sehitam langit malam itu, Yang mengunus padanya dengan serius menatap dalam netral bola matanya.
" Dina, Kamu sudah sering melihat hal seperti itu Kan? " Tanya Diyan.
" Gawat! Sudah, Ku duga! Mas Diyan, Pasti akan menanyakan itu! Sekarang... Apa yang harus, Aku katakan?! " Teriak Dina dalam hatinya. Tidak punya keberanian menjawab, dan Sedikit takut merasakan tatapan mata hitam, Diyan yang begitu tajam dan serius, Mengunus penuh padanya.
" Dina, Kenapa diam? " Bisik Diyan, Dengan tangannya yang melingkar, Di pinggang ramping, Dina. Turun perlahan, Menyentuh dan meremas, Bongkahan sintal dan padat itu.
Dina tertegun, Dan menggigit bibir bawahnya, Sambil memejamkan mata, dengan nafasnya yang terasa berat. Merasakan, Rabaan dan Remasan lembut, Di bongkahan sinyalnya.
" Kamu, Pasti melihat mereka melakukan ini kan, Istriku " Desak Diyan, Mengendus nafas hangatnya, Di leher jenjang berkulit mulus, Dina.
" Apa lebih dari ini? Atau kurang dari ini? " Diyan bertanya dengan Seringai nakalnya. Menggoda dan Mempermainkan, Gairah bercinta, Dina.
" Kurang... Mas... Aaaaaa " Desak Dina. Dengan tangannya melingkar, Di perut berotot, Memeluk erat tubuh kekar, Diyan. Saat, Merasakan gerakan jari besar, Diyan, Maju dan mundur, Dengan lembut dan perlahan semakin cepat, Di liang kewanitaannya. Membuatnya, Mencapai kepuasan Batinnya.
" Jadi... Istriku, Ingin lebih atau cukup sampai di sini? " Diyan, Kembali lagi melontarkan pertanyaan. Di saat, Gairah bercinta yang semakin membara dalam gelora Cinta.
" Mas... Ahaaaa... Aku, Ingin lebih " Dina, mengakat kepalanya dari sandaran dada bidang, Diyan. Mata ke abu-abuan, Dina meminta pada, Suaminya untuk segara melakukan sesuatu yang lebih dalam kenikmatan yang tiada tara.
Diyan, Menarik tangannya dari dalam celana, Dina. Kemudian, tangannya itu, Di hadapkan, Di antara wajahnya dan Wajah, Dina. Dina, Yang merasa kecewa, Karena, Diyan menghentikan permainan yang begitu nikmat, Di rasakannya. Kini, Merasa sedikit bingung, Melihat tangan dan Jari-jemari besar, Diyan berada, Di hadapannya. Namun, Yang membuat, Dina terkejut adalah, Tangan dan Jari-jemari, Diyan, Di selimuti lendir putih kental, Kewanitaannya.
__ADS_1
" Mas... Jangan lakukan! " lirik Dina yang seakan membaca niat, Suaminya itu.
" Kamu, Belum merasakannya, Istriku " Bisik Diyan, Dan langsung, Memasukkan jari-jemarinya ke dalam mulutnya, Sambil terus menatap wajah, Dina. Menikmatinya, Bagaikan memakan Es krim, Hingga habis dan bersih, Tidak tersisa sedikit pun, Di tangannya itu.
Dina, Terdiam melihat kelakuan, Suaminya itu, yang begitu sangat menikmati cairan kewanitaannya. Apa, Aku harus melakukan hal yang sama? Pikir Dina. Tapi, Tiba saja, Tubuhnya merinding, Jika merasakan ular, Suaminya, Di dalam mulutnya.
" Itu... Menjijikkan Dan, Aku tidak akan bisa melakukan itu! Aku, Rasa sudah cukup dengan menggunakan tangan dan kewanitaan, Ku saja! " Dalam hati Dina. Tapi, Dina juga tidak bisa memungkiri, Dirinya merasa penasaran dengan yang, Suaminya lakukan.
" Bagaimana rasanya? " Tanya Dina tanpa sadar.
" Hangat, Kental dan... Manis. Seperti anggur merah yang memabukkan, Dina " Jawab Diyan menyeringai nakal.
" Apa, Kamu ingin merasakannya, Istriku? "
Wajah, Dina memerah, Malu dan Bergairah menjadi satu. Hanya, Dengan mendengar perkataan, Diyan yang seakan menantang, Dirinya. Melakukan hal yang sempat, Di katakan, Di dalam hatinya 'Menjijikan'. Kini, Ingin, Di rasakannya, Mata ke abu-abuannya, Menantang mata sehitam langit malam, Diyan.
Seringai nakal, Diyan hilang, Tenggelam dalam perpaduan bibirnya dan Bibir manis, Dina. Nafas Mendesak berat, Saling berbagi nafas dan cairan, Yang terasa semakin memabukkan jiwa dan raga. Sehingga, Tidak bisa berdiri dengan benar, Sampai akhirnya, Tubuh keduanya jatuh, Di atas ranjang. Peraduan, Milik Dina dan Diyan, Mencapai kepuasan Batinnya yang ingin segera, Dituntaskan.
Debaran jantung berdebar kencang, Nafas saling berburu. Kedua tangan, Dina dan Diyan, saling melepaskan pakaian yang melekat, di tubuh mereka berdua. Hingga akhirnya, Dina dan Diyan, Polos, tidak ada pakaian yang membalut tubuh mereka berdua. Selain selimut tebal, Berwarna merah itu, yang menutupi sebagian tubuh, Dina dan Diyan. Dengan Jendela balkon kamar, Terbuka lebar, sehingga Hiasan yang ada, di Angkasa luas yang gelap gulita itu, Menyaksikan yang, Dina dan Diyan lakukan, Di kegelapan malam yang indah.
" Rasanya... Memang benar! Seperti, Anggur merah yang memabukkan! " Dalam hati, Dina.
...Bersambung...
__ADS_1