
" Dina, Hentikan! Jangan kasar padanya! " Seru Mila tiba-tiba saja yang seketika Menghentikan langkah, Dina, Gita dan Firna.
Asumsi, Dina, Ternyata benar. Mila, Telah masuk ke dalam rumah itu. Namun, Dina maupun, Gita, Tidak menduga. Mila, mencoba membela dan ingin melindungi, Firna. Membuat, Dina dan Gita, Terkejut, Atas pembela, Mila pada, Firna. Suasana yang tadinya, menenggangkan bertambah memanas. Gita, Menatap marah pada, Mila. Sedangkan, Dina, Penuh keterkejutan menatap, Mila.
" Mila, Lo membela, Wanita, Yang ingin menghancurkan kebahagiaan, Dina, Sahabat kita?! " Ujar Gita. Menarik tangan, Mila, Dengan kasar. Sehingga, Mila berdiri tepat di hadapannya. Mila, Meringis kesakitan, Karena cengkraman tangan halus, Gita, Yang terasa dingin di tangannya.
" Lo, Mau mengkhianati persahabatan, Kita?! Ah! Dan untuk apa, Lo, Membela dan Bahkan melindungi, Wanita Murahan ini?! " Bentak Gita, Yang seketika membuat, Mila bersedih dan Perlahan, Air matanya pun berlinang. Mila, Merasakan sakit di hatinya, Mendengar tuduhan, Gita, Sahabatnya pada, Dirinya.
" Bukan... Gue, Bukan ingin mengkhianati persahabatan, Kita, Gita. Gue, Hanya takut, Bayi yang sedang, Di kandungnya akan dalam masalah atas perlakuan, Kita " Lirik Mila. Gita, Sebenarnya tidak tega, Melihat, Mila, Sahabatnya itu, Menangis. Namun, Karena, Dia, tidak terima atas pembela, Mila, Pada, Firna. Membuatnya, Marah dan Tidak suka dengan sikap, Mila, Yang seakan ingin melindungi, Firna.
Perkataan, Mila, Bagaikan sebilah pisau yang menikam tepat, Di dada, Sahabatnya. Gita, Merasakan sakit, Di hatinya, Mendengar perkataan, Mila. Jika, Saat ini, Firna, Tengah mengandung bayi dari, Pria yang tidak lain, Adalah Raditya.
Sedangkan, Dina, Amat terkejut mendengarnya. Perlahan, Jeratan tangannya yang kasar menjambak rambut, Firna. Melonggar, Terlepas, Dan tangannya turun, Lemah, Seakan tidak bertulang. Firna, Yang merasa jadi korban dan merasa senang mendapatkan pembelaan dari, Mila. Dia, Duduk di sofa dan menonton perdebatan di antara tiga Wanita yang bersahabat itu, Di hadapannya.
" Lo, Enggak bohong kan, Mil?! Lo, hanya ingin membela, Dia kan? Dan Lo, Pasti mengarangnya kan? Gue, Gue enggak akan percaya dengan perkataan, Lo! Sekarang, Lo pergi dari hadapan, Gue. Jika, Lo! Tidak mau membantu, Kita, Memberikan, Wanita penggoda ini pelajaran! Pergilah! " Hardik Gita, Membabi buta. Tidak mempercayai Perkataan, Mila. Di tengah perasaannya yang bercampur aduk. Hati, Gita, Sangat terasa sakit, Memikirkan Pria yang telah mencuri hatinya, Menjadi seorang Ayah dari Wanita lain.
" Pandai sekali, Dirinya, Memberikan, Ku julukan seperti itu. Dia, Pikir, Aku tidak bisa membalasnya?! Lihat saja, Suatu saat, Aku, Akan memberikan, Mu, Julukan yang sama, Dengan yang, Kau ucapkan! " Firna, Mengumpat dalam hatinya. Mendengar, Gita, Menjulukinya, Wanita penggoda dan Wanita Murahan. Firna, Amat sangat marah. Namun, Dia lebih memilih untuk diam. Agar, Dirinya tetap selamat dari Wanita yang ingin menyakiti dan mungkin juga ingin membunuhnya. Tidak akan semudah itu!
" Git... Gue, Mengatakan yang sejujurnya. Gue, Tidak akan mau berbohong terhadap, Kalian berdua. Gue... Gue, Sudah melihat bukti yang, Dia tunjukkan pada, Gue, Gita " Lirik Mila, Sambil memberikan beberapa lembar kertas dan benda kecil yang panjang itu, Di tangan, Gita.
__ADS_1
" Lo, Bisa lihat sendiri! "
Mendengar perkataan, Mila. Gita, Menatap benda yang ada di kedua tangannya. Berupa testpack yang terdapat garis dua dan surat pernyataan rumah sakit yang menyatakan. Firna, Positif Hamil! Serta, USG 4D yang memperlihatkan gambaran hitam putih. Sebagai tanda, Firna, Benar-benar mengandung seorang anak.
Melihat itu, Tangan, Gita, Bergetar dan Seakan waktu terasa terhenti. Gita, Sangat sulit menerima suatu kenyataan yang seakan menghancurkan hatinya. Dina, Yang juga masih kurang percaya dengan perkataan, Mila. Dengan penasaran, Merampas lembaran kertas, Di tangan, Gita.
" Firna... Dia, Mengandung anak, Raditya! " Seru Dina, Di dalam hatinya.
" Gue, Benar-benar kehilangan, Raditya?! Kenapa? Di saat, Gue, Sudah merasakan Cinta... Gue, Harus merasakan sakit yang sangat, Sangat sakit! " Teriak Gita, Di dalam hatinya.
" Karena itu, Gue, Menghentikan, Dina, memperlakukan, Firna, Dengan kasar. Karena, Gue, juga Seorang Wanita, Gita! Mengertilah! Gue, Berkata Jujur! Gue, Tidak akan berbohong pada, Lo dan Dina! " Kata Mila menyakinkan kedua Sahabatnya itu, Yang mematung diam, Di hadapannya. Jika, Dirinya, Sama sekali tidak mengkhianati persahabatan mereka bertiga.
Setelah, Mengatakan semua itu, Mila, Pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih sangat terkejut dan Tidak mudah mempercayai suatu kenyataan yang tidak terduga oleh mereka. Terutama, Gita, Hatinya begitu sangat hancur menerima kenyataan. Pria, Yang telah memenuhi hatinya, Menjadi seorang Ayah, terhadap seorang anak yang tidak lama lagi akan hadir ke dunia. Dengan, Wanita lain, Yang bukanlah, Dirinya.
" Andaikan, Gue, Di pertemukan terlebih dulu dengan, Lo, Raditya. Mungkin, Gue, Tidak akan merasakan sakit seperti ini... Gue, Kehilangan, Lo, Untuk selamanya... " Lirik Gita menangis perih, Di dalam hatinya.
Sampai akhirnya, Tepukan tangan, Dina, Di pundak, Gita. Menyadarkan, Gita, Di waktu dan Kehidupan nyatanya sekarang. Walau, Gita, Berharap, Di masa depan nanti, Dirinya dapat memiliki kesempatan untuk memiliki, Raditya, Sebentar saja... Apakah mungkin? Gita, Sangat berharap.
Dina dan Gita, pun pergi tanpa mengatakan apa pun. Dengan tidak lupa, Dina, Melemparkan dengan kasar, tanda bukti kehamilan, Firna, Di Pakuan, Firna sendiri. Namun, Tanda bukti itu, Mala jatuh dari Pakuan, Firna dan berserakan di lantai keramik putih itu. Firna, Tersenyum kemenangan, Melihat kepergian, Dina dan Gita, Yang terlihat tidak berdaya, Di hadapannya. Karena, Kenyataan, Dirinya yang tengah mengandung bayi, Raditya.
__ADS_1
" Baiklah... Aku, Tidak akan jadi membunuh, Mu! Tapi, Kamu akan menjadi alat kehidupan, Ku! " Ujar Firna, Menatap dan mengelus perutnya yang datar itu. Kemudian, Tertawa kemenangan, Di kesendiriannya yang terlihat seperti orang tidak waras.
Waktu telah berlalu cukup lama. Namun, Langit biru, Di Angkasa, Di selimuti awan hitam. Menandakan cuaca mendung dan Akan segera hujan. Tetapi, Dina, Gita dan Juga, Mila, tengah berada di dalam satu mobil yang sama, Yaitu Mobil Dina. Mila, Yang duduk, Di kursi belakang terus memperhatikan wajah, Gita yang terlihat sedih, Tidak bersemangat dan putus asa.
" Apa, Gita, Bersedih karena merasa bersalah pada, Gue? " Ucap Mila polos, Di dalam hatinya. Seakan tidak peka, Sahabatnya itu, Sedang patah hati.
" Git... Uda enggak marah sama, Gue, Lagi kan? " Tanya Mila pelan, Dengan Wajahnya yang polos dan perasaan Cemas, Di hatinya.
" Tenanglah, Mil. Gita, Sudah tidak marah lagi sama, Lo, Kok " Jawab Dina. Setelah, Melihat, Gita, hanya diam. Duduk, Di sampingnya dan tidak menanggapi pertanyaan, Mila.
" Tapi, Kenapa, Dia tetap diam, Din? Apa karena... "
" Gue, Patah hati! Jadi, Diamlah, Mila! " Bentak Gita, Menyela Perkataan, Mila.
Mendengar suara, Gita, Yang membentak itu. Dina, Dan Mila, Tentunya merasa terkejut. Namun, Mereka tidak mengatakan apa pun lagi. Walau sangat ada keinginan, Di hati mereka, Bertanya. Mengapa, Gita, Patah hati? Di saat, Rencana mereka tidak di Langsungkan.
Tapi, Di tengah kesunyian itu, Terdengar suara tangisan. Gita, Menangis dan Membuat, Dina dan Mila, Tidak enak hati dan Ikut merasa bersedih. Walau, Gita, Belum mengatakan apa pun pada, Mereka berdua. Namun, Kemudian, Dina dan Mila, Di kejutkan, Akan perkataan, Gita, Yang tiba-tiba dan menjawab pertanyaan, Di pikiran mereka.
" Gue, Patah hati, Din, Mil... Gue, Cinta banget sama, Raditya... Gue, Harus apa? "
__ADS_1
...Bersambung...