Terpaksa Menikahi Saudaraku

Terpaksa Menikahi Saudaraku
Masalah Perusahan


__ADS_3

Pada suasana hari yang cerah, Di Angkasa. Terlihat langit biru begitu indah bersama matahari dan awan putih. Serta, Burung-burung yang mengepakkan sayapnya dengan gembira, Sambil membawakan jenis serangga kecil di cemraman kaki dan paruhnya untuk di berikan pada, Anaknya, Untuk di makan dan menghilangkan rasa lapar burung kecil itu, Yang gembira menyambut kehadiran induknya yang membawakan makanan.


Hampir sama halnya, Di kediaman Prabowo. Semua orang di rumah itu, Sangat gembira dan Sudah tidak sabar menantikan kehadiran makhluk kecil yang sudah lama, Mereka harapkan kehadirannya. Sehingga, Dina, Tidak di biarkan melakukan apa pun, Selain berjalan di pagi hari, di bawa sinar matahari dan bersantai di kamarnya Dan tidak jarang, Dina, Mengeluh, Dirinya merasa bosan dan tidak suka hanya berdiam diri seperti, Ratu. Seperti saat ini, Dina, Berada di dalam kamarnya, Sendirian.


Dari jendela kamar, Dina tersenyum menatap pohon yang menjulang cukup tinggi hampir setingkatan dengan tinggi rumahnya. Melihat, Induk Burung membawakan makanan ke sarangnya dan memberikan serangga itu, untuk, Anak-anaknya.


" Sayang... Mama, Berharap, Kamu terlahir dan segera berada dalam pelukan, Mama. Mama, Tidak sabar, Menantikan kehadiran, Mu, Sayang " Ujar Dina tersenyum. Seakan, Berbicara pada, Bayinya, Yang ada dalam perutnya. Sambil tangannya mengusap penuh rasa sayang, perutnya yang mulai terlihat membesar.


Saat ini, Usia kandungan, Dina, Menginjak usia tiga bulan dan sudah selama itu pula, Dia tidak menginjakan kakinya di perusahan yang tanpa, Dirinya tahu. Saat ini, Perusahan tengah mengalami suatu masalah, Akibat dari campur tangan seseorang.


" Pa! Ada apa? Kenapa, Papa memaksa ku datang ke sini? Apa terjadi masalah? " Cecar Diyan, Yang baru saja memasuki ruang CEO.

__ADS_1


" Kamu, Duduklah dulu. Agar, Papa bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan, Mu " Ucap Endra, dengan wajah tuanya yang terselimuti kekhawatiran.


Diyan, Duduk dengan terus memperhatikan Wajah Sang Papa yang terlihat jelas. Bila, Sudah terjadi suatu masalah.


Endra, Menghela nafas berat. Sulit baginya untuk menjelaskan yang telah terjadi pada, Sang putra. Namun, Dirinya yang tidak punya pilihan harus mengatakannya. Walau hatinya terasa berat.


" Besok, Bawa Dina untuk bertemu klien penting, Kita. Papa, Tidak punya pilihan lagi. Walau, Sudah sering menolak dan berusaha untuk mendapatkan pengertian dari Orang itu. Klien, Kita ini, Menginginkan, Dina yang menanganinya " Jelas Endra. sembari memberikan map bersampul biru tua itu, Pada Diyan. Namun, Dia hanya mengambilnya dan langsung meletakkannya di atas meja kaca putih itu. Tanpa, Membaca apa isi di dalamnya?


" Pa. Sebenarnya ada apa? Kenapa, Harus Dina? Papa kan tahu sendiri, Dina sedang hamil dan tidak baik buat istri, Ku melakukan ini! Aku, Bahkan melarang dengan keras, Dirinya yang sangat ingin datang ke sini. Karena, Aku tidak ingin terjadi sesuatu apa pun padanya, Pa "


Endra, Tertunduk. Dia, Sebenar tidak tega dan Dia, Sangat terpaksa. " Diyan, Papa tidak ada pilihan lain... Kalau tidak, Perusahan ini akan bangkrut dan Tanpa, Kamu tahu... Papa, Sudah cukup banyak meminjam uang dari, Bank! dan sebentar lagi akan jatuh tempo. Diyan... Papa, Mohon! Tolong, Bawa Dina bertemu klien itu. Papa, Benar-benar tidak punya pilihan selain hanya, Dina, Harapan yang, Papa harapkan "

__ADS_1


Diyan, Terdiam seribu bahasa. Menatap, Wajah tua, Sang Papa yang kusut itu. Tidak bersemangat dan Hanya terselimuti, Kekhawatiran, Ketakutan dan Kepanikan yang mulai terlihat jelas semenjak, Endra berucap begitu putus asa padanya.


Diyan, Mengusap kasar wajahnya yang sebagian basah, Karena keringatnya. Menghela nafas kasar, Memikirkan keadaannya yang membuatnya di selimuti kebimbangan. Antara, Menuruti perintah, Sang Papa demi perusahan yang telah di bangun dengan kerja keras, Papanya, Atau Membantah dan menolak dengan keras keinginan, Sang Papa dan Membiarkan perusahan semakin dalam masalah hingga bangkrut nantinya.


Diyan, Menatap Map biru tua yang ada di atas meja, Di hadapannya itu. Mengambilnya dengan tangan kanannya dan membukanya perlahan. Diyan, Membaca tiap baris dan setiap angka. Serta, Kaligrafi saham perusahan yang menurun dengan drastis. Diyan, Menyadari, Penurunan perusahan bercampur tangan orang lain. Karena, Merasa sedikit Aneh pada, Waktu Lima bulan yang lalu. Saat istrinya, Dina, Masih memegang kendali perusahan. Ada peningkatan keuangan perusahan yang begitu tinggi, Di luar dugannya. Tapi, Setelah itu, Dua bulan yang lalu. Saat, Dina, Tidak lagi memegang kendali perusahan. Keuangan dan Saham perusahan pun menurun pesat.


" Pa! ini maksudnya apa? Kenapa, Ini bisa menjadi...? " Diyan, Tidak mampu melanjutkan perkataannya, Sambil menatap, Sang Papa yang hanya diam membisu. Tapi, Dirinya sendiri pun sudah menyadarinya, Jawaban dari pertanyaannya.


" Pa! Beritahu, Aku! Siapa, Nama klien penting yang, Papa maksud?! " Tukas Diyan, Sambil mencampakkan Map itu, Ke lantai dan Berdiri langsung dari duduknya. Dengan tatapannya yang tajam, Menatap dinding kaca yang memperlihatkan suasana siang yang sebagian awan hitam terlihat menyelimuti langit biru cerah di Angkasa.


" Kevin Aprilio Cathy " Nama yang sudah hampir, Diyan, Lupakan. Kini, Terucap dengan jelas dari mulut, Sang Papa.

__ADS_1


" Sudah, Aku duga! Ternyata, Dia masih menginginkan, Dina! Walau, Dirinya, Sudah memiliki Seorang Istri. Tapi, Masih Saja, Mengharapkan Istri orang lain! Sial! Awas saja, Kau Kevin. Aku, Akan membalas, Mu! " Bentak Diyan, Dingin. Amarah yang telah lama hilang dari dalam, Dirinya. Kini, Berkobar. Karena, Mengetahui. Kevin, Yang merupakan mantan kekasih istrinya itu, Masih menginginkan, Dina-nya, Yaitu Wanita yang amat di cintainya.


...Bersambung...


__ADS_2