
Di waktu yang sama. Firna, Berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah, Cemas dan Kepanikan yang terlihat jelas di wajahnya. Serta, Ada satu koper besar berwarna biru muda, Bersandar pada dinding rumah. Rumah, Tempatnya bersembunyi dan berlindung dari, Orang-orang yang sedang mencari, Dirinya.
Tapi, Di karena, Dina, Sudah mengetahui keberadaannya. Membuatnya, Berpikir untuk meninggalkan perumahan itu. Sebelum, Seseorang yang ingin dihindarinya datang menjemputnya, Yaitu, Raditya.
" Kenapa, Dia begitu lama sekali?! Jangan sampai, Raditya datang dan membawa ku pergi untuk menikah dengannya! Aku, Enggak akan mau! " Decak Firna marah dan Berdiri diam, Sambil menggigit kukunya yang cantik itu.
Firna, Merasa semakin panik. Saat, Pikirannya membayangkan, Dina, Memberitahu, Diyan tentangnya dan Diyan, Memberitahu, Raditya keberadaannya. Sungguh, Firna, Sudah menebak, Raditya pasti akan langsung datang menjemputnya.
Firna, Tidak tahu saja. Dina, dan Diyan, Tengah berada di rumah sakit. Menanti kabar dari Seorang Dokter yang menangani, Dina, Di balik tembok putih itu. Sementara, Raditya, Tengah menikmati malam indahnya yang panjang dengan seorang, Wanita yang tidak lain, Adalah Gita. Bagaimana ceritanya?
Dua jam yang lalu...
Akan rasa sakit hati yang seakan patah dan hancur berkeping-keping. Mengetahui, Pria yang telah memiliki hatinya, Akan menjadi seorang Ayah dari Wanita yang bukanlah, Dirinya. Gita, Melampiaskan semua rasa sakit hatinya, Keterlukaan dan kesedihannya, Dengan mabuk-mabukan di apartemennya sendiri. Sudah begitu sangat banyak minuman keras yang, Gita habiskan dengan duduk di lantai sambil punggungnya bersandar pada dinding tembok. Hingga suara dering ponselnya, Menghentikan pergerakan tangannya yang akan menuangkan botol minuman itu, Ke dalam mulutnya.
Gita, Meletakkan botol minumannya di lantai yang terasa dingin itu. Mengalahkan rasa dingin dan kosong di hatinya.
" Ada apa, Kamu menghubungi, Ku? Ah! " Bentak Gita, Sesudah mengangkat telpon dengan menekan tombol speaker. Sehingga, Gita, tidak perlu mendekatkan ponselnya ke daun telinganya. Tapi, Di depan wajahnya, Tepat di dekat bibirnya yang basah dan merah menggoda itu.
" Gita, Apa yang terjadi? Kamu, Mabuk?! Sekarang, Katakan?! Kamu, Dimana? " Suara seorang Pria menyahut dari layar ponsel.
" Raditya, Kamu tidak usah pedulikan, Aku! " Tukas Gita dengan keras.
" Cepat! Beritahu! Dimana, Kamu berada?! " Suara Pria yang ternyata, Adalah Raditya itu, Terdengar tegas dan tajam. Gita, Tiba saja, Merasa takut mendengar suara, Raditya yang tidak terasa hangat itu.
" Emm Baiklah... Aku, Ada di apartemen, Ku " Sesudah menjawab pertanyaan, Raditya, Di sambungan telepon. Gita, Meletakkan ponselnya dengan hati-hati di lantai. Hening, Tidak ada lagi suara, Raditya di seberang telpon. Membuat, Gita merasa takut.
" Raditya, Kamu pasti akan meninggalkan, Diriku..." Gumam Gita, Menangis dengan rasa pedih di dadanya.
Gita, Melanjutkan minumnya dengan tidak sedikit pun mengalihkan sepasang mata indahnya yang basah dan sayu itu, Dari layar ponsel yang sudah gelap gulita. Segelap hidupnya yang terasa kosong dan hampa. Tidak tahu, Sudah berapa lama waktu yang berlalu, Sampai akhirnya...
" Gita! " Teriakan suara berat seorang Pria terdengar begitu jelas yang lagi-lagi, Gita menghentikan minumannya.
" Tidak... Aku, berhalusinasi... Raditya... Tidak akan mungkin datang pada, Ku kan? Dia, Pasti sedang merasa bahagia, Karena Dirinya akan menjadi seorang Ayah... " Kata Gita, Dengan tertawa getir.
__ADS_1
Tiba saja, Lampu seketika menyala. Suasana apartemen yang tadinya gelap, Kini terang menderang. Gita, Menutup matanya dengan satu punggung tangan kirinya. Tapi, Tidak melepaskan botol minuman memabukkan itu dari tangan kanannya.
" Gita " Suara yang tidak asing dan terasa begitu dekat. Lagi-lagi terdengar begitu jelas, Di Indra pendengaran, Gita. Perlahan, Gita menurunkan tangannya dan membuka matanya. Berkedip, Berkali-kali menyesuaikan cahaya yang menyusup masuk ke dalam kornea mata indahnya yang basah, Karena air mata.
" Ra... Radit... Raditya! " Gita, Terkejut. Melihat, Pria yang baru saja, Dia sebutkan namanya. Kini, Berdiri di hadapannya, Menatap Dirinya. Dengan tatapan yang tidak bisa, Di artikan olehnya.
" Kenapa... Kamu, Di sini? " Tanyanya terbata-bata. Ada perasaan malu yang tiba saja, Terselip di dalam perasaan. Melihat, Raditya yang melihat dirinya sangat menyedihkan.
Raditya, Berjalan mendekat, bersujud dengan menekuk satu lututnya ke lantai yang terasa amat dingin. Mengambil botol minuman dari tangan, Gita dan meletakkannya, Di lantai. Kemudian, Membawa Gita dalam gendongannya, Di dalam pelukannya yang terasa menghangatkan tubuh, Gita yang terasa dingin.
Gita, Terkejut. Tapi, Dia hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Mengalungkan kedua tangannya, Di leher kekar, Pria yang begitu di cintainya. Tapi, Sayangnya, Pria itu, Tidak mencintainya dan Bahkan, Pria itu tidak tahu, Akan Cintanya. Jika, Raditya tahu? Apa yang akan Raditya lakukan padanya?
" Tidak, Tidak boleh tahu " Ucap Gita pelan. Walau, Raditya dapat mendengarnya dengan jelas, Dia tetap diam saja.
Raditya, Membawa, Gita ke dalam ruangan yang merupakan kamar, Milik Gita. Raditya, Membaringkan, Gita di ranjang dengan lembut dan hangat, Sambil menatap mata, Gita yang basah dan sedikit bengkak.
" Sekarang, Tidurlah... " Ucap Raditya dengan lembut, dan Membelai kepala, Gita. Setelahnya, Raditya, ingin pergi meninggalkan, Gita. Tapi, Ternyata, Gita menarik tangannya dan menghentikan niatnya yang ingin pergi meninggalkan, Ruangan itu.
" Jika, Ini mimpi... Aku, Akan menikmatinya! " Ucap Gita, Di dalam hatinya.
" Jika, Dalam kenyataan, Raditya, Tidak bisa menjadi milik, Ku. Maka, Biarkan... Di dalam mimpi ini, Raditya, Menjadi milik, Ku sepenuhnya! Tapi, Kenapa...? Yang, Ku lakukan terasa nyata? Tidak! Ini hanya mimpi! Dan Aku, Akan menikmatinya! " Seru Gita, Di dalam hatinya merasa bahagia.
Raditya, Terdiam bagaikan patung. Semuanya terjadi begitu cepat, Belum sempat Dia bereaksi. Gita, Sudah melahap bibirnya dan berusaha membuka bajunya. Awalnya, Raditya ingin menolak dan ingin melepaskan, Diri dari, Gita. Tapi, Entah karena kekuatan, Gita yang terlalu kuat menekan tubuhnya, Atau Dirinya, Yang mulai terlena dengan perlakuan, Gita yang begitu menginginkannya. Raditya, Pada akhirnya terlena dan menemani malam panjangnya yang indah bersama, Gita. Ruangan, Dengan cahaya lampu yang redup, menjadi saksi bisu, Raditya mendapat keperawanan, Gita, Yang merupakan Cucu angkat Neneknya. Dan Di tengah itu, Juga. Gita, Merasakan sakit dan kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Di waktu yang bersamaan.
Flash back Finish
" Aku, Harus pergi dari sini. Sebelum, Raditya datang menjemput, Ku! "
Dengan tegas, Firna berucap dan langsung menarik kopernya, Bersamanya. Tidak peduli apa yang akan terjadi dalam perjalanannya, Nantinya yang jelas. Firna, Harus segera meninggalkan perumahan itu secepat mungkin. Tapi, Tiba-tiba...
Titttt!
Suara klakson mobil terdengar begitu jelas. Tepat, Di depan Firna. Melihat mobil berwarna putih gading itu, Firna menghentikan langkah kakinya yang jenjang.
__ADS_1
Seorang wanita keluar dari dalam mobil. Dengan rambut yang di ikat bagaikan ekor kuda, Baju tidur kuning bermotif kucing dan jaket jeans yang melekat di tubuh rampingnya. Dengan, memakai sendal berbulu hitam yang lembut. Wanita dengan wajahnya yang cantik itu, Berjalan mendekati, Firna sambil menguap karena rasa ngantuk yang harus tertahan. Akibat ulah, Seseorang yang menganggu mimpi indahnya. Siapa lagi orangnya, Bila bukan wanita yang tidak lain ada, Firna yang saat ini tengah menatapnya dengan tidak bersahabat.
" Alamat yang, Kamu kasih... jauh sekali, Firna. Aku, Hampir saja tersesat di tengah malam begini. Untungnya, Aku punya otak pintar di tengah rasa ngantuk, Ku. Kamu, Selalu saja merepotkan, Ku! Jadi, Sekarang ada apa lagi. Masuk, Atau Aku pulang meninggalkan, Mu dan Aku, Tidur saja " Tukasnya kesal.
" Masukkan koper, Ku! " Perintah Firna yang bagaikan seorang putri raja. Pergi dan ingin masuk ke dalam mobil, Meninggalkan Wanita itu, Yang terdiam bagaikan patung.
" Sialan! Emang, Aku Babuk, Mu Apa?! Lakukan saja sendiri! " Ketusnya lagi semakin kesal.
" Ayolah, Lisa. Aku, Sedang hamil dan Kamu, Sudah tahu itu, Kan?! " Ucap Firna, Yang tengah berdiri membuka pintu mobil dan Menatap, Wanita yang bernama, Lisa.
" Jika, Saja Kamu bukan sepupu, Ku. Aku, Pasti tidak akan mau mendengarkan, Mu! MENYEBALKAN! "
Dengan setengah hati, Lisa, Menarik, Mengangkat dan Memasukkan koper besar yang terasa lumayan berat itu, Ke dalam mobilnya, Di bangku belakang. Kemudian, Lisa masuk ke dalam mobil, Menyalahkannya dan bersiap meninggalkan perumahan itu.
" Lis... Kamu, Tidak memberitahu siapa pun kan? Jika, Aku ada di sini? " Tanya Firna, Menatap wajah sepupunya itu, Dengan tajam.
" Tidak " Jawab Lisa, Yang sambil fokus mengemudi, menatap kedepan dengan sesekali menguap dan menutup mulutnya.
Firna, Menghela nafas lega. Mendengar jawaban, Lisa dan Kemudian, Dia pun bersandar di bangkunya dan ingin memejamkan mata.
" Tapi, Aku sedikit merasa heran. Kenapa, Kamu tidak mau menikah dengan, Pria yang merupakan Ayah dari anak yang tengah, Kamu kandung. Apa lagi, Pria itu, Adalah Raditya, sahabat, Mu dan Bahkan, Dia pria yang sangat baik kepada, Mu. Dan Kamu, Ingatkan! Apa yang, Ku katakan dulu pada, Mu. Saat, Aku pertama kali melihatnya. Bila, Raditya itu mencintai, Mu. Tapi, Kamu saja yang tidak percaya dengan perkataan, Ku! Dan kemarin, Aku mendengar kabar dari Bibi, Kamu akan menikah dengan, Raditya. Aku, Sangat terkejut dan Hari ini, Aku paling terkejut lagi, Mengetahui kamu tengah hamil anaknya! Harusnya, Kamu bersyukur, Firna! Mendapatkan, Pria seperti, Raditya " Ujar Lisa panjang lebar yang rasa kantuknya seketika hilang.
" Jika, Aku adalah Diri, Mu. Aku, Pasti akan sangat beruntung, Mendapatkan seorang, Pria yang bertanggung jawab dengan menikahi, Ku. Di tambah dengan, Pria itu mencintai, Ku. Aku, Pasti akan sangat merasa baha-- " Lisa menghentikan perkataannya, Saat matanya beralih sebentar menatap, Firna yang ternyata sudah tidur.
Seketika, Perasaan kesal yang telah hilang, Muncul kembali. Merasakan, Dirinya yang sejak tadi, Berbicara panjang lebar sendirian yang bagaikan orang bodoh dan gila.
" Andaikan, Saja kamu tidak sedang hamil. Aku, Pasti akan menabrak pohon dan membuat, Mu terbangun! Hari, Ini Aku benar-benar merasa sial! " Ujar Lisa jengkel dan sangat kesal pada, sepupunya itu, Yang tertidur dengan nyenyak menikmati alam mimpi indahnya. Sementara, Dirinya, Mengemudi mobil di tengah malam dan jalan yang sangat sunyi. Hanya lampu jalan dan kehidupan alam yang menemani perjalanannya yang melelahkan.
Tapi, Di menit kemudian, Ekspresi wajah, Lisa berubah menjadi takut dan cemas sambil berucap. " Semoga saja, Enggak ada begal di sepanjang jalan... "
...Bersambung...
Maaf ya... Baru up. Gara selama sebulan ini, Aku sering gak ada waktu. Kenapa? Aku, Jualan topeng di pasar malam. Topengnya macam ini:
__ADS_1
Kini, Pasar malam sudah tutup. Semoga saja... Aku, Lebih bisa meluangkan waktu dan tidak ada hal apa pun yang menghalangi, Ku untuk melanjutkan Novel ini.