
Kilau cahaya matahari, Di langit biru begitu indah. Kala pagi tiba, Setelah kegelapan malam berlalu, Di telan Waktu. Dengan semilir angin berhembus lembut dan sejuk. Menenangkan hati dan menyemangati hari orang-orang yang sibuk dalam kegiatan pagi.
Di Kediaman Prabowo. Dina, Sendirian berada di dalam kamar, Tidak terlihat, Diyan di dekatnya. Bahkan, tubuhnya telah berbalut pakaian kantornya yang membuat, Dirinya, terlihat Anggun dan menawan. Tapi, Ketika, Dina ingin melangkah meninggalkan kamarnya. Langkahnya terhenti, Kala ponselnya berbunyi. Memberikannya peringatan untuk segera melihat pesan yang ternyata dari, Sahabatnya, Yaitu Gita.
" Din, Gue telah menemukan keberadaannya! Lo, Segera ke alamat ini, Sekarang! "
" Karena, Gue juga sedikit kesulitan mengawasi, Dia, Sendirian! "
" Gue, Tunggu! Cepat! "
Sesudah membaca pesan dari, Gita. Dina, Dengan cepat membalas pesan, Sahabatnya itu.
" Terus Awasi, Dia. Gue, Segera ke sana! "
Langkah, Dina, Yang terburu-buru menuruni tangga. Menciptakan bunyi yang cukup nyaring, Di karenakan, Dia memakai sepatu hak tinggi. Sehingga, tiga pasang mata, Tertuju padanya dengan bersamaan.
" Dina, Kamu mau kemana? Kenapa begitu terburu-buru? " Kata Diyan penuh tanya.
" Iya, Sayang... Kamu, Kalo memang ada urusan. Setidaknya, Serapan dulu. Mama, Sudah masak makanan kesukaan, Mu " Ujar Zaskia, Menyahut sambil berdiri dari duduknya, Tanpa mengalihkan perhatiannya dari, Dina, Yang telah berdiri di dekat meja makan.
" Maaf, Ma. Aku, Ada hal penting yang tidak bisa di tunda " Ucap Dina, pada Zaskia dengan lembut.
" Dan Mas, Aku akan berangkat terlebih dulu. Mas Diyan, Lanjut saja Serapannya. Aku, Sangat terburu-buru, Mas " Dina berkata pada, Suaminya. Seakan menyadari, Diyan, Pasti akan lebih memilih mengantarkan, Dirinya, Dari pada menyelesaikan sarapan paginya.
__ADS_1
" Rissa, Kakak juga minta maaf. Mungkin, Siang ini, Kita tidak jadi pergi bersama. Karena, Kakak juga tidak tahu, Sampai kapan urusan, Kakak akan selesai? " Dina, Kemudian berkata pada, Adiknya, Yang menatapnya.
" Iya, Kak. Tidak apa-apa, Kita masih punya banyak waktu. Lain kali, Kita, Buat Janjian lagi " Marissa, Menjawab, Dina, Dengan senyuman, Di wajah cantiknya itu. Tapi, Tidak bisa di pungkiri, Ada pertanyaan di pikirannya. Hal apa yang membuat, Kak Dina, Begitu terburu-buru? Tidak seperti biasanya.
Setelah, berpamitan. Dina, Melanjutkan langkah keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Di menit kemudian, Mobil, Dina telah melaju, meninggalkan pekarangan rumah. Sementara, Orang yang ada, Di rumah, Melanjutkan sarapan mereka dengan pikiran yang berkelana atas sikap, Dina, Pagi ini.
Setelah, Diyan menyelesaikan sarapannya. Dia, Berdiri dari kursinya dan mengotak-atik ponselnya. Beberapa detik berikutnya, Diyan, Menempelkan ponselnya pada daun telinganya.
" Halo, Paman. Selamat pagi " Ucap Diyan, Ketika telponnya terhubung pada, Seseorang di seberang.
" Iya, Yan. Selamat pagi. Ada apa? Kamu, Tiba-tiba menelpon, Paman, Pagi-pagi begini? " Terdengar suara pria paruh baya, Yang tidak lain adalah, Tuan Yusuf yang saat ini berada, Di dalam mobilnya.
Diyan, Sengaja menelpon, Tuan Yusuf. Karena, Menduga, Pamannya itu, Mungkin tahu, Apa yang membuat, Dina, terburu-buru Meninggalkan rumah dengan urusan penting yang, Di maksud, Istrinya tadi? Yang hingga saat ini, Membuat perasaan tidak enak akan sesuatu hal yang tidak, Dia tahu karena apa?
" Tidak, Paman. Aku, Hanya ingin tahu... Apa pagi ini, Dina, Punya jadwal penting dengan salah satu klien, Kita? "
" Tidak, Yan. Dina, Hari ini tidak ada jadwal penting apa pun. Dina, Hanya perlu menyelesaikan berkas perusahaan saja dan itu pun, Tinggal sedikit lagi. Paman, Bisa menyelesaikannya sendiri. Jika, Kamu dan Dina, Ingin punya waktu berdua. Paman, Tidak akan mempersalahkannya " Jelas Tuan Yusuf, Di seberang telpon yang salah sangka akan maksud pertanyaan, Diyan, yang tidak benar, Dengan yang dikatakannya.
" Bukan begitu, Paman. Tapi, Ya sudahlah, Aku tutup telponnya, Ya, Paman? Karena, Aku juga harus pergi ke rumah sakit untuk bekerja "
Tut. Diyan, dengan cepat memutuskan sambungan telepon. Sebelum, Terdengar lagi suara lembut, Pamannya, Yang akan terus menggodanya.
" Ma, Rissa. Aku, Berangkat. Jika, Ada sesuatu masalah, Segeralah mengabari, Ku? " Ujar Diyan, menatap, Zaskia dan Marissa bergantian. Sembari kedua tangannya, Mengambil tas dan Jas putih yang merupakan kebanggaannya dan Profesinya.
__ADS_1
" Iya, Berhati-hati mengemudikan mobilnya dan... Mama, Baru ingat! Malam, Ini papa, Akan pulang tanpa Kakek dan Nenek. Mama, Seharusnya memberitahu ini dari kemarin, Hanya saja, Mama lupa " Jelas Zaskia.
" Baiklah, Ma. Aku, Akan pulang bersama, Dina. Kalo gitu, Aku Pamit, Ma " Diyan, Menjeda ucapannya dan mengalihkan perhatiannya dari, Sang Mama, Kepada, Adiknya.
" Rissa, Jagain, Mama. Jika, Terjadi sesuatu, Langsung saja hubungi, Kakak atau Dina " Diyan, Menyambung ucapannya pada, Adiknya itu.
" Tentang itu, Kakak tidak perlu khawatir. Aku, Akan selalu menjaga, dan Bersama, Mama. Tidak pergi kemanapun, Kecuali, Mama yang ingin pergi. Maka, Aku harus ikut! " Seru Marissa panjang lebar. Menyakinkan dan sedikit menghilangkan kekhawatiran, Di dalam hati, Diyan.
Diyan, Tersenyum lega, Mendengar perkataan, Adiknya yang akan selalu mampu mengurangi kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Diyan, Pun berlalu pergi dengan mobilnya. Meninggalkan pekarangan rumah. Dengan, Sudah ada dua Pria Gaga yang Berdiri, Di depan rumah. Dia, Yang pilih, Dua orang Pria Gaga itu, untuk menjaga, Mama dan Adiknya. Di saat, Dirinya, Tidak ada, Di rumah.
" Dina... Kamu ada dimana? Dan , Apa yang, Kamu sembunyikan dari, Ku? Jangan, jadikan ketakutan dan Kekhawatiran, Ku menjadi suatu kenyataan yang tidak bisa, Aku terima! " Teriakan Diyan, Di dalam hatinya. Tidak ada yang mendengar, Selain Dirinya dan Tuhannya.
Di kala, Diyan, Melajukan mobilnya. Di tengah rasa Khawatir, Memikirkan, Istrinya yang tidak tahu pergi kemana. Di tempat lain, Dina, Tengah melangkahkan kakinya, memasuki apotik kecil yang berada, Di pinggir jalan. Cukup sepi, Dan sangat jarang kendaraan terlihat berlewatan, Di depan apotik itu. Karena daerah ini, Cukup jauh dari keberadaan kota.
" Ada, Dimana, Gita? " Gumam Dina, Kebingungan. Melirik ke sana kemari, Mencari, Sahabatnya, Yang tidak tahu, Dimana?
Sampai akhirnya, Dina, Tidak menyadari. Seseorang, mengunakan topi hitam dan masker Berwarna Navy. Dengan atasannya, Sweater Hitam berpadu bawahannya, Celana jeans panjang, Membalut lekuk tubuhnya yang ramping itu. Orang itu, Berdiri di belakang, Dina. Sambil mengakat tangannya, Seakan ingin memberitahu, Dina, akan keberadaannya.
" Dina, Lama sekali "
Deg. Jantung, Dina, Berdebar kencang, Merasakan tepukan tiba-tiba, Di pundaknya. Membuat raut wajahnya terlihat tegang, Dengan perasaan Terkejut, Cemas dan Panik, Menjadi satu. Tapi, Dengan sedikit keberanian, Dina, memutar tubuhnya dan Melihat Siapa orang yang mendekatinya? Apakah Sahabatnya atau...?
...Bersambung...
__ADS_1