
Salim Fuad memperhatikan gedung dihadapannya, terlihat megah dan baru selesai dibangun. Sayangnya gedung sebesar itu belum memiliki penataan lampu malam yang baik.
Sesampainya di parkiran ia mematikan musik player dalam Toyota fortuner miliknya. Begitu keluar dari mobil ia memperhatikan parkiran di basement gedung yang cukup luas ini, hanya ada tiga buah mobil dan dua sepeda motor.
Apa mungkin aku salah alamat, pikirnya. Ia pun mengecek kembali titik lokasi yang dikirimkan Antonio, seseorang yang menghubunginya satu jam yang lalu dan mengaku sebagai Kepala bagian promosi CV. Duta Mayapada . Sempat ia lihat papan namanya terpampang di depan gedung, sangat besar.
‘’Hmm, lokasinya sudah benar.’’ Desis Salim Fuad seorang diri. Ia mengeluarkan gawai dari waistbag dengan niat untuk menelpon Antonio , orang yang menawarinya job sebagai bintang iklan. Ia mencari nomor seluler Antonio sambil melangkahkan kakinya di anak tangga.
“Halo bung, apa kabar?” Seorang pria berkulit coklat dengan badan tinggi besar tiba-tiba muncul dari ujung tangga atas, diikuti empat pria lainnya yang tak kalah tinggi dan besar. Mereka semua berpakaian serba hitam.
Salim Fuad terkepung. ‘’Halo brother, kabar baik. Bisa tunjukkan saya dimana ruangan bapak Antonio?’’ Tanya Salim Fuad ramah.
Bug, Bug!
Aakh!
Bukan jawaban yang didapatkan Salim. Melainkan dua pukulan telak pada kedua rahangnya diberikan pria yang menyapanya . Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, kedua tangannya telah dikunci erat oleh dua pria lainnya. Lalu tubuhnya ditimpa pukulan dan tendangan bertubi-tubi, lagi-lagi oleh pria yang menyapanya tadi. Hanya erangan kesakitan yang terdengar darinya. Tak ada kesempatan untuk bernegosiasi apalagi melarikan diri.
Tubuh Salim yang tak berdaya digeret ke lantai atas. Salim masih sadar dan dapat melihat keadaan disekitarnya walaupun samar-samar.
Sampai pada sebuah ruangan besar yang ditata sangat rapi dan mewah ia melihat sosok yang dikenalnya duduk dengan santai pada sebuah kursi direktur. Pria itu tersenyum sinis dan menatap Salim tajam. Jarinya berputar-putar memainkan sebuah remot dalam genggamannya.
“Adam Sinaga, apa masalahmu dengan ku.” Tanya Salim Fuad lirih dari bibirnya yang merah penuh darah.
Adam Sinaga tak langsung menjawab. Ia mengarahkan remot ke arah belakang dimana sebuah layar monitor besar langsung menyala mempertontonkan beberapa slide gambar Salim Fuad yang tengah bermesraan dengan seorang wanita berbusana seksi di sebuah klub malam.
Salim Fuad tersentak kaget.”Brengsek.” Rutuknya kesal. Itu adalah foto-foto dirinya bersama gadis selegram di Bali Beberapa waktu lalu. Bagaimana Adam Sinaga bisa mendapatkan foto-foto ini, padahal ia sudah sangat menjaga kegiatannya agar tak terendus media atau siapapun.
PLakk! Sebuah tamparan keras dari Adam Sinaga bersarang dipipi Salim.” Iya kamu memang brengsek. Sekarang pilih , tubuhmu atau reputasimu yang hancur . Ini belum seberapa, aku masih punya banyak videomu di Bali kemarin bersama gadis liar itu. Katakan pilihanmu.” Tukas Adam dingin.
Mental Salim Fuad sebenarnya mulai luruh namun ia memberanikan diri untuk bertanya;“Apa hubungannya semua ini buat anda, anda memiliki segalanya, apa pentingnya kehancuran orang seperti saya buat anda, saya merasa tidak pernah membuat perkara dengan anda.’’
“Jauhi Aisyah Kamila Yildiz. Jangan pernah berani mendekatinya, mengganggunya apalagi berfikir untuk memilikinya. Kamu tidak pantas, camkan itu.” Tukas Adam lagi sambil mendorong dada Salim Fuad dengan telunjuknya. Sementara Salim Fuad masih tak berdaya dalam kungkungan orang-orang suruhan Adam.
“Kamila…”. Desis Salim lemah. Ketakutan mulai menyelimuti hatinya. Reputasinya bisa saja hancur dalam sekejap, semua orang akan membencinya, tak terkecuali Aisyah. Dan Karir musik yang susah payah ia bangun pasti akan turut hancur. Dulu di awal karir ia mengambil genre pop alternatif , namun tak mendapat sambutan dari pasar. Kemudian ia beralih membentuk band beraliran rock bersama lima teman SMA-nya, sekali lagi ia gagal total, bahkan merugi dengan menumpuk banyak hutang. Sampai pada suatu hari datang seorang pencipta lagu religi yang menawarinya rekaman, tanpa pikir panjang ia mengambil kesempatan itu demi isi perut. Di luar dugaan, singel tersebut meledak di pasaran , imbasnya ia mendapatkan banyak job besar. Salah satunya mendapatkan tawaran duet dengan penyanyi religi pendatang baru yang juga sedang naik daun, Aisyah Kamila Yildiz.
“Hmm, tak ku sangka kamu sejauh ini karena Kamila. Ternyata benar desas -desus yang selama ini beredar , bahwa kamu selalu menghalangi semua laki-laki yang mendekati Kamila. Kamu tak lebih dariku, sama-sama pecundang.” Ucap Salim Fuad dengan sisa-sia tenaga dan keberaniannya.
‘’Hmm, berani sekali. Kali ini aku masih memberimu kesempatan hidup. Ingat, jika hal ini sampai ke ranah hukum maka karirmu akan hancur tak bersisa. Antonio, Selesaikan tugasmu.” Tegas Adam Sinaga kemudian beranjak pergi dari ruangan itu. Suara pukulan dan jerit kesakitan masih terdengar hingga ia menjauh
Bug, Bug, Bug!!
“Aakh, akh, aaakh…..”
__ADS_1
...****************...
Tak sampai dua puluh empat jam, penganiayaan yang dialami Salim Fuad menguasai media massa. Pukul 20.00 malam Kamila sedang berada di meja kerja , baru saja selesai mempelajari sebuah kontrak kerja baru. Ia meraih gawainya yang sedari tadi berbunyi karena berbagai notifikasi masuk.
Jari Kamila menyentuh notifikasi tearatas dari sebuah situs berita artis, sontak ia terperanjat melihat foto-foto Salim Fuad yang penuh luka dan darah. ‘’Astagfirullah, kejam. Siapa yang tega melakukan ini ke Aa’?’’ Pekik Kamila dengan mulut ternganga. Segera saja ia mencari nomor ponsel Salim dan mengirim sebuah pesan whatsap.
Aa’ Salim dimana sekarang?
Bagaimana keadaan ‘Aa?
Setelah menunggu lima belas menit tak kunjung ada jawaban , Kamila putuskan untuk menelpon langsung. Sekali lagi nihil tak ada jawaban. Kamila menyandarkan tubuhnya dengan gelisah.
Akhirnya sebuah panggilan balasan dari nomer Salim membuat gawainya berdering, ia menerima panggilan itu dengan gugup.
“Assalamualaykum, hallo Aa’ Salim bagaimana keadaan Aa’ sekarang?
“ Alhamdulillah, agak mendingan. Neng Mila , Aa’ mohon maaf kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan ke eneng.
"Maafkan Aa' neng, Aa' sama sekali nggak tahu kalau neng adalah tunangannya Tuan Adam Sinaga. Sekali lagi maafkeun. Apa yang terjadi di panggung kemarin , bukan keinginan Aa' pribadi. Semuanya sudah diatur oleh "crew" sebagai gimmick. Maafkan..... "
"Maksud Aa' apaan , saya kurang mengerti. Apa hubungannya semua ini dengan Adam sinaga?" Potong Kamila penuh keingintahuan.
"Sebenarnya Aa' gak berani ngomong, bisa-bisa mereka akan membunuh Aa' kalau hal ini sampai tersebar ke orang lain. " Suara Salim semakin mengecil bahkan berbisik , Kamila menangkap rasa takut dalam suara Salim. "Aa' dihukum oleh Tuan Adam Sinaga melalui orang-orangnya. Aa' yang salah dan pantas mendapatkan ini semua. " Lanjut Salim lagi dengan suara bergetar.
" Pliiis neeng, tooolooong jangan sampai Tuan Adam tau kalau Aa' yang ceritakeun ini semua te ke eneng. Bisa-bisa mah hidup dan karir Aa' hancur tak bersisa. Dihari kejadian itu Tuan Adam sendiri yang muncul dan mengancam Aa'. Sepetinya dia cemburu sekali dan sangat mencintai neng Kamila.Pantas saja selama ini setiap laki-laki yang mencoba mendekati neng Kamila selalu mendapatkan teror. Tolooong eneng jaga jarak sama Aa' , sekali lagi maafkeeeeuuun. Terimakasih selama ini sudah baik sama Aa'. Assalamualaykum" Pinta Salim lirih kemudian memutuskan sambungan telepon. Menyisakan ketegangan dan kebingungan di wajah Kamila.
What the hell? Pekik Kamila dalam hati. Ia selalu bersikap baik kepada semua orang tanpa memandang status dan tingkatan. Karena itulah yang diajarkan dan dicontohkan kedua orang tuanya. Ia memang akrab dengan Salim Fuad namun sama sekali tidak terlintas dihati dan benaknya untuk menyukai ataupun jatuh cinta. Lalu Adam Sinaga?? Tiba-tiba jantung Kamila berdegup kencang, tubuhnya terasa melemah, hampir saja ia oleng. "Tidak mungkin, tidak mungkin... " Desisnya lirih. Ia meraih lagi gawainya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Adam Sinaga,
Uda, lagi dimana?
Mila tunggu malam ini.
Balasan dari Adam;
Siaaap, my angel.Uda pasti datang. kita keluar sebentar, temani uda makan malam.
Kamila membalas;
Ok.
Degg. Degup jantung Kamila semakin tak karuan. Selama ini ia telah menganggap biasa saja dan hanya sebuah candaan segala perkataan dan sikap manis dari saudara sepupunya, namun kali ini menjadi berbeda setelah apa yang didengarnya dari Salim Fuad. Rasa takut, kecewa , marah dan tak percaya campur aduk. Rasa takut adalah yang paling dominan . Bagaimana tidak, tiba-tiba jantung dan aliran darahnya bereaksi lain setiap kali mengingat semua perkataan Salim Fuad. Adam Sinaga mencintainya , mengaku sebagai tunangannya lalu menganiaya teman dekatnya karena cemburu buta, bahkan mengancam setiap lelaki yang mencoba mendekatinya. Ingin rasanya ia berteriak didepan Adam Sinaga dan memaki-makinya." Kali ini uda Adam sudah keterlaluan"bisik Kamila seorang diri.
Tak sampai limabelas menit Kamila sudah siap. Sebuah pesan dari Adam telah masuk .
__ADS_1
Uda tunggu di ruang tamu
Kamila bergegas menuju ruang tamu dan sesampinya di sana sudah ada Adam , Irina dan Arthur yang sedang asyik dengan gawai masing-masing. Adam menoleh begitu mendengar ketukan sepatu Kamila. Ia pun bangkit menyambut Kamila yang terlihat menunduk tak seceria biasanya.
"Arthur, kami mau keluar sebentar. " Tukas Adam terdengar kaku dan formal tak seperti biasanya.
"Hmm.... " Arthur hanya mendehem sembari menganggukkan kepala. Ia sedang sibuk mendesain model robot warrior terbaru yang harus segera ia selesaikan bersama Chen Yuan.
"Apa aku juga harus ikut? Maksudnya kok aku nggak diajak? " Ucap Irina lugu. Mengingat dia seorang asisten yang harus ikut kemanapun bosnya pergi.
"Tunggu saja di rumah. " Sahut Adam singkat seraya meninggalkan ruang tamu bersama Kamila.
Aneh, tumben Uda Adam serius amat , biasanya selalu menyelipkan canda. Dan Kamila kok pendiam , wajahnya bersemu merah dan terus menunduk , seperti orang sedang malu dan menyembunyikan sesuatu. Irina membatin.
Adam bermaksud membawa Kamila ke Cessira Hotel miliknya. Tekadnya sudah bulat untuk bicara pada Kamila mengenai perasaannya yang telah ia simpan rapi selama bertahun-tahun. Sudah waktunya ia jujur, tak perduli apapun tanggapan Kamila ia akan menerimanya sebagai laki-laki dewasa.
Ruang khusus jamuan untuk VVIP telah disiapkan oleh para staf hotel. Mereka hanya bisa menduga - duga siapakah wanita yang sangat beruntung menawan hati sang CEO muda tampan. Sampai-sampai mereka diminta untuk menyiapkan sebuah candle light dinner romantis yang sempurna. Ini untuk pertama kalinya mereka menerima perintah dari sang bos dan tamunya adalah sang bos sendiri. Rasa penasaran staf hotel akhirnya terbayarkan manakala Adam dan Kamila telah sampai di ruangan jamuan khusus itu. Mereka hanya bisa bisa membelalakkan mata dan berbisik-bisik dikejauhan.
Cahaya lilin yang temaram, bunga-bunga yang di susun indah dan hanya ada sebuah meja dan sepasang kursi. Kamila semakin gelisah, rasanya malam ini begitu sulit untuk dilalui.
Sementara itu Adam Sinaga tak kalah canggung.
"Bagaimana makanannya, apakah memuaskan? " Tanya Adam memecahkan keheningan.
"Hmm, lumayan. " Sahut Kamila singkat dan lemah, bibirnya nyaris bergetar.
Adam menarik nafas berat, seakan-akan hendak melepaskan ribuan ton beban yang menghimpit pundaknya.
"Mila, sebelumnya maafkan Uda. Selama ini Uda telah menyimpan sesuatu yang mungkin tak layak untuk terus disimpan dan dibiarkan." Adam berkata lalu kemudian terdiam beberapa waktu untuk menata hatinya. Kamila pun turut terdiam dalam rasa takutnya. Ia takut akan apa yang didengarnya nanti dari bibir pria dihadapannya. Ia sepertinya sudah bisa menduga dan rasanya tak mampu untuk mendengarnya namun sangat ingin mendengar sebuah kebenaran langsung dari Adam Sinaga.
"Mila....., Uda sayang Mila bukan seperti yang Mila pikirkan selama ini. Uda sayang Mila, cinta Mila dan berharap Mila menjadi pendamping hidup Uda selamanya. Maafkan Uda. Huffht... " Ucap Adam sambil menarik nafas berat sekali lagi. Berusaha tenang namun tak juga mampu menghilangkan kegusarannya, membayangkan bagaimana reaksi Kamila setelah ini. Namun gadis cantik dihadapannya dari tadi hanya menunduk diam. Dalam temaram cahaya lilin Adam melihat bulir-bulir bening mengalir membasahi kedua pipi Kamila.
"I am sorry, maafkan Uda. " Lanjut Adam lembut sembari menyodorkan tissu untuk Kamila. Ia tau Kamila pasti shock mendengar pengakuannya malam ini. Benar saja pundak Kamila mulai bergerak turun naik tak mampu menahan isak tangisnya.
"Mila pikir Uda benar-benar menyayangi Mila seperti abang Arthur ke Mila. Ternyata Mila salah. "Cecar Kamila dengan suara tercekat seolah-olah susah untuk dikeluarkan dari tenggorokannya.
"Mila, secara hukum negara dan syari'at tidak ada larangan bagi saudara sepupu untuk menikah. Perasaan abang ke Mila itu hal yang wajar dan tidak melanggar norma. " Adam berkata dengan maksud memberi wawasan kepada Kamila yang seolah-olah menganggap tabu perasaannya.
"Hentikan Uda! Mila benci uda! Antarkan Mila pulang. Mila tidak mau mendengar apapun lagi tentang perasaan Uda, ini konyol. Mila juga tidak suka Uda berbuat kekerasan terhadap orang lain hanya karena cemburu tidak jelas . Uda egois. Mila benci Uda! " Pekik Kamila tiba-tiba.Ia tak menyangka dan belum bisa menerima semua ini. Perasaan asing tiba-tiba muncul dan membuatnya kacau sehingga emosinya meledak-ledak.
Adam sinaga tak terlalu terkejut, ia sepertinya sudah siap untuk segala kemungkinan. Hanya saja tiba-tiba ia merasa lemah dan hendak oleng. Sulit menrima kenyataan bagaimana hubungannya dengan Kamila kedepan, tentunya tak akan pernah sama lagi.
Adam menghubungi supir pribadinya dan menyuruhnya untuk mengantar Kamila pulang. Kamila keluar dari ruang jamuan VVIP itu masih dengan air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
#bersambung