
Setelah badai gejolaknya mereda, Arthur keluar dari kamar mandi dan mengenakan kembali pakaiannya dengan rapi. Sebuah Sweeter rajut yang menghangatkan tubuhnya membuatnya terlihat semakin tampan dan maskulin.
Arthur mendekati tubuh pulas Heilen lalu mengecup keningnya, kapan lagi bisa begini pikirnya. Namun ia tak ingin berlama-lama di situ mengganggu tidur Heilen. Ia menuju ruang tengah dan menemukan sofabed yang empuk , kemudian membaringkan tubuhnya disitu dengan damai hingga terlelap.
Keesokan harinya…
Heilen menggeliat, kesadarannya mulai pulih. Ingin rasanya ia meneruskan tidur di ranjang ini yang terasa begitu nyaman dan sangat empuk. Akh.. aku masih di Vila milik Arthur, batinnya.
Ia bangkit dari tidur lalu duduk di pembaringan dan mulai merasakan sedikit rasa sakit dibagian pangkal bo*k*ngnya. Ia menduga itu adalah akibat dari terlalu lama duduk di ruang gallery lukis. Ia pun mengabaikannya.
Heilen lanjut memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti untuk memastikan kalau ia baik-baik saja. Ia menarik nafas lega karena memang semua terasa normal seperti sedia kala, bahkan tatanan rambutnya masih utuh. Lalu dimana Arthur tidur? Ia bermonolog. Entah mengapa Heilen selalu merasa terikat pada laki-laki itu. Ikatan yang tak ia mengerti.
Heilen berjalan keluar kamar dan mendapatkan Arthur sedang lelap di atas sofabed dengan tubuh melengkung persis seperti bayi.
‘’Arthur bangun! Hai, bangunlah… aku lapar sekali.” Pekik Heilen kesal sambil mengguncang-guncang tubuh Arthur.
“Hmmmm, iya…tunggu sebentar. ”Sahut Arthur sedikit terkejut karena kesadarannya belum pulih benar. Ia membuka mata perlahan dan teringat kalau ada Heilen bersamanya di Vila ini. Heilen berjongkok disamping sofabed mengerucutkan bibirnya.
“Apa…apa yang kamu katakan tadi?” Tanya Arthur sembari menyentuh pipi Heilen dengan jarinya.
“Aku lapar.” Ketus Heilen. Ia semakin mengagumi Arthur saat Arthur bersikap lembut dan memanjakannya. Itu membuat Arthur semakin terlihat tampan di matanya.
“Tunggu sebentar , mandilah dulu dan ganti gaunmu, aku akan buatkan sandwich, okey...” Sahut Arthur lagi sembari membelai pipi Heilen manja.
“Hmmm…okey.” Jawab Heilen patuh.
Arthur beranjak ke dapur dan membuatkan sandwich untuknya dan Heilen. Arthur memang lebih suka memasak sendiri saat dia sedang tidak sibuk, terutama membuat sarapannya sendiri.
Terlebih lagi ada Heilen di sisinya. Hatinya terlalu bahagia dan ingin memberikan yang terbaik. Namun itu juga membuatnya takut. Ia takut kehilangan semua momen ini di saat ia belum siap.
Sejak semalam Arthur telah memutuskan untuk membiarkan antara dia dan Heilen berjalan sesuai alur dan waktunya. Ia tak ingin mengungkapkan semuanya terlalu cepat di saat dirinya dan Heilen belum siap. Setelah urusan di Palmyra Atol selesai Arthur berjanji akan mengungkapkan semuanya kepada Heilen. Tentang identitasnya dan juga perasaannya.
Tak sampai lima belas menit sarapan sandwich sudah siap. Arthur meraih ponselnya dan menemukan sebuah pesan baru dari Heilen sebagai Athena-1609 yang berisikan alamat orang tua Heilen di California. Tentu saja Heilen menagih Head Armor yang ia janjikan dulu saat mereka terjebak di gurun Afghanistan.
Arthur tersenyum simpul.
Dikamar Arthur Heilen masih memegang ponsel setelah mengganti gaunnya dengan baju yang kemarin dia pakai. Ia mendapatkan balasan yang ia tunggu.
__ADS_1
Oke, Oke segera aku kirimkan. Oya apa kamu ingat gadis gurun Larmina? Bagaimana kabarnya? (Mr.G)
Heilen membalas :
Larmina yang malang. Ia menjadi korban saat pasukan Taliban menghancurkan pusat Kesehatan di Bamiyan. Bibi Yashfa Yang menghubungiku dan meminta tolong untuk mengadopsi bayi Larmina. Dengan susah payah aku menembus Afghanistan yang saat itu semakin kacau. (Athena-1609).
Arthur mulai memahami permasalahannya. Karena biaya perang yang tidak logis pemerintahan Amerika di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden memutuskan untuk menarik pasukan besar-besaran dari Afghanistan.Hal ini semakin memberi peluang yang besar untuk pasukan Taliban menguasai Sebagian besar wilayah Afghanistan. Mirisnya lagi, ribuan tank , senjata berbagai jenis dan bermacam kendaraan tempur canggih di tinggalkan begitu saja dan dikuasai oleh pasukan Taliban dengan suka cita. Setelahnya pasukan Taliban menyerang pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengannya.
‘’Heilen, apa kamu sudah selesai, bukankah kamu sangat lapar?’ Ganggu Arthur dari luar pintu kamar. Ia tahu Heilen sedang sibuk dengan ponselnya.
‘’Iya, iya aku keluar.” Pekik Heilen . Ia bergegas ke ruang makan mengikuti langkah Arthur.
Heilen menyantap rotinya dengan lahap.”mmmm, yummmi….’’Tukasnya .
Arthur jadi teringat saat-saat sulit mereka di gurun. Heilen rela menempuh perjalanan jauh demi mencari beberapa lembar roti untuk mereka melanjutkan hidup. Sungguh ia bangga pada gadis dihadapannya ini, bahkan jauh sebelum Arthur tahu ia berwajah cantik. Arthur telah tertawan oleh jiwa Heilen yang cantik.
‘’Apakah kamu ingin menambah lagi?’’ Tanya Arthur.
“ Tidak, tidak…aku sudah kenyang.” Sahut Heilen sambil memamerkan senyumnya yang terlihat begitu manja. Arthur semakin merasa terikat dengan gadis ini dan rasa takut kehilangan momen-momen kebersamaan seperti ini mulai mengusiknya.
Tiba-tiba nada dering ponsel Heilen bergema.
But you see, it’s not me
It’s not my family
In your head, in your head, they are fighting
With their tanks, and their bombs
And their bombs, and their guns
In your head, in your head they are crying
In your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie
__ADS_1
What’s in your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie,oh
Heilen mendiamkan panggilan itu. Ia malah memandang Arthur yang saat itu juga sedang memandangnya.Arthur memandang wajah polos Heilen yang cantik alami.
Ponsel Heilen kembali berdering.
“Angkatlah, tak apa-apa” Ujar Arthur santai.
Heilen tak menyahut namun mengikuti kata – kata Arthur untuk mengangkat panggilan itu. Sebuah panggilan dari ZEUS-001.
‘’Halo Zeus…”
‘’Hallo anak bandel, apakah kamu sudah selesai dengan pria itu? Kami mengikutimu sejak kemarin di Swiss. Kami hanya memberimu kesempatan dan tak ingin mengganggu, hahahha!Sekarang bersiaplah, Sekitar 45 menit lagi kami akan sampai di bukit itu. Aku sudah menyimpan koordinat mu.’’
“ Zeus, benarkah? Aku kira beberapa hari lagi. Yess, aku bersiap.” Pekik Heilen bersemangat
‘’Kamu terlalu lama bersantai, saatnya berlatih berat sebelum misi kita ke Palmyra Atol.”
‘’Ok.Ok.Siap komandan!’’
Arthur mendengar semuanya.
Hening sesaat.
Heilen menatap Arthur dengan intens. Tak ada waktu lagi untuk berbasa basi terlalu lama, pikirnya.
"Arthur, maafkan aku selama ini aku menyembunyikan identitasku. Aku menyembunyikan demi keamananku. Benar dugaanmu dulu, aku memang seorang SEAL woman." Tukas Heilen tanpa ragu.
"Apakah itu rahasiamu?" Sahut Arthur. Tapi sepertinya itu bukan rahasia lagi buatku, lanjut Arthur dalam hati.
"Iya, maafkan aku. Dan rekan-rekanku dari seal team five akan menjemputku di sini sekitar 30 menit lagi."
"Hanya itukah rahasiamu?" Tanya Arthur kesal. Ia tak menyangka Heilen akan dijemput secepat ini.
__ADS_1
"Aku menyukaimu meski aku belum yakin sepenuhnya, tapi mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi jadi aku memberitahumu." Tukas Heilen dengan bibir sedikit bergetar karena nervous.
#bersambung