The Athena Code

The Athena Code
5. Melacak bayangan dalam gelap


__ADS_3

"Apa mungkin dia orangnya, menurutku kau terlalu cepat mengambil kesimpulan."


"Hmmm... aku masih dalam tahap mencurigai saja karena keduanya punya suara dan gaya bicara yang sama," ucap Arthur membalas suara Yuan ditelepon.


"Segera kirimkan aku data yang bisa kau dapatkan, biar kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut," Chen Yuan antusias


"Tunggulah sebentar. Tadi aku sudah bilang pada Mila kalau ruang kerjanya aku pinjam. Aku yakin biodata para pegawainya ada di sana. Oke bro , aku akan menghubungimu lagi nanti,"


"Ok."


Keduanya mengakhiri percakapan.


Suasana rumah telah lengang. Hanya ada satpam Agus dan bibik Farah serta dua asisten rumah tangga lainnya yang sedang sibuk menjalankan tugas masing-masing.


Arthur bergegas menuju ke ruang kerja Kamila yang letaknya tepat disebelah ruang tidur adik manjanya itu. Netranya langsung terbentur pada foto keluarga berukuran besar yang tergantung di dinding.Ah, itu Mama, Papa, Mila dan aku waktu masih tinggal di Kensington Garden Palace ,lirihnya dalam hati. Api kerinduan berpendar dalam hatinya.


Ia mulai membongkar lemari berkas kepegawaian dan memindai dengan netranya satu-persatu. Berkas kepegawaian tidak banyak sehingga memudahkan Arthur mendapatkan berkas Heilen yang dia cari. Heilen tercatat mulai bekerja sebagai asisten pribadi Kamila 1 April 2021.


Daftar Riwayat Hidup


Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama: Heilen Putri Munaf


Panggilan : Hela


Jenis Kelamin: Wanita


Tempat Tanggal Lahir: Bandung, 23 Juli 1995


Status: Singel


Alamat: Jl. Tanah Air no 145, Jakarta Selatan. 5000.


Kewarganegaraan: Indonesia


Agama: Islam


Kewarganegaraan :Indonesia


Nomor Handphone: 0811 **** ****


Email: Hela2307@gmail.com


Pendidikan:


-SMA Pelita Harapan 2011 – 2014

__ADS_1


-Universitas Indonesia (Ekonomi) 2014– 2019


Hobi: berpetualang


Minat dan keahlian:


Mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik


Menguasai penggunaan sistem aplikasi marketing


Suka menulis


Mampu bekerja sama dalam tim


Heilen Putri Munaf


Arthur sedikit tidak puas dan mengulang lagi membaca Cv Heilen. Tidak sesuai prediksinya sama sekali.


Ckrekk. Arthur mengambil gambar lalu mengirimnya ke whatsapp Yuan. Bagaimanapun ada yang janggal dengan berkas lamaran kerja Heilen. Satu-satunya yang tidak melampirkan Foto copy KTP , Ijazah dan Transkrip Nilai. Lain kali aku akan menanyakan langsung pada Kamila mengenai hal ini, pikirnya.


Arthur keluar dari ruang kerja Kamila. Tujuan selanjutnya adalah kamar Heilen. Seorang ahli teknik senjata canggih sepertinya hanya membutuhkan sebuah kawat usang untuk membobol pintu yang terkunci itu.


Kamar Heilen tidak luas namun ia mengaturnya dengan sangat rapi. Sebuah meja rias mungil disamping single bed justru hanya digunakan untuk memajang beberapa foto. Hmmm foto balita cantik dan menggemaskan, desis Arthur dalam hati. Kali ini kecurigaannya mulai goyah.


Jika yang di foto ini anak Heilen sudah pasti dia bukan seorang anggota Navy Seal. Dan tanpa kewarganegaraan Amerika sudah akan ditolak dari tahap screening.


Daily activities


06.00-06.30 : Merawat dan memberi makan si ikan cantik Jack n Jil


06.30-07.00: Exercise rutin


07.00-07.30 : Mandi dan berkemas


07.30-08.00 : Sarapan


08.00-15.00: Jam kerja


15.00-17.00: break time


17.00-17.30 :Merawat dan memberi makan si ikan cantik Jack n Jil


Kening Arthur berkerut, jadi selama ini Heilen yang bertugas merawat dua ekor ikan aquarium kesayangannya, Peppermint angelfish yang ada di kamar pribadinya.


Setelah merasa sudah cukup Arthur beranjak keluar dari kamar itu, rasanya tidak ada hal-hal yang dapat memperkuat kecurigaannya, nihil. Ia berjalan gontai, memperbaiki kembali sistem kunci pada pintu kamar Heilen untuk menutupi jejak.


Benar perkataan Yuan ia terlalu cepat menyimpulkan. Di dunia ini banyak orang memiliki kesamaan rupa dan suara. Semua hanya kebetulan tegas hatinya , namun masih ada keraguan disisi lain.

__ADS_1


Gawainya berdering . Ia berjalan ke halaman belakang lalu membaringkan tubuh pada sofa bed di teras. Banyak tanaman hijau menyegarkan di sekeliling halaman belakang ini, mampu mengurangi ketegangannya tadi. Ternyata sebuah panggilan dari Alexander Yildiz ayahnya.


"Halo ."


"haloo papa."


"Bagaimana kabar kalian?"


"Alhamdulillah kami sehat dan baik-baik saja, Bagaimana kabar Mama dan Papa di Swiss?"


"Papa dan mama Alhamdulillah sehat dan yang pasti bahagia mendengar kabar baik dari kalian"


"Hmm... begini nak, bagaimana dengan pekerjaanmu di Pentagon?"


"Maaf pa, Aku belum ingin menandatangani kontrak baru yang bersifat jangka panjang dengan mereka. Aku ingin kontrak kerja yang tidak mengikat. Untuk sementara aku akan bekerja lepas sampai aku kembali aktif di DARPA ataupun ASTROGUN"


"Papa dan mama akan menerima apapun keputusanmu, kamu sudah dewasa dan bisa memilih yang terbaik buatmu nak. Hanya saja kalau boleh papa dan mama kasih saran....," ucap Alexander terputus. Sepertinya ia sangat berhati-hati dalam percakapan dengan putra kesayangan dan kebanggaannya ini.


"Silakan pa, katakan saja...," sambut Arthur


"Bagaimana kalau kamu terima saja tawaran kontrak dari Bapak Menteri Pertahanan Indonesia yang kemarin papa kirim. Papa rasa isi kontraknya sangat menguntungkanmu nak. Mereka akan merahasiakan identitasmu dan sudah pasti akan memberikanmu perlindungan 24 jam penuh dengan begitu papa dan mama bisa lebih tenang di swiss. "


"Baik papa, Arthur harus mempertimbangkannya dulu. Nanti aku akan hubungi papa kembali."


"Hmmm... Pikirkan baik-baik. Papa merindukan kalian. Salam untuk adikmu Papa dan mama akan kirimkan hadiah ultahnya segera."


"Baik pa."


Percakapan Ayah dan anak yang cukup kaku. Ada rindu namun beku. Keakraban berkurang namun kasih sayang tak pernah hilang, itulah ayah dan anak laki-lakinya.


"Ting!" suara notifikasi masuk dari e-mailnya. Sebuah file dari Yuan. Arthur segera membukanya. Sebuah dokumen yang menunjukkan bahwa Heilen benar pernah menempuh pendidikan di SMA Pelita Harapan 2011 – 2014


-Universitas Indonesia (Ekonomi) 2014– 2019.Cukup sudah, dia bukan gadis itu , yakin Arthur.Tak lama kemudian ia pun tertidur.


Tak terasa sudah pukul tiga belas tepat. Arthur masih tertidur di sofa bed teras belakang.Perut lapar seperti alarm yang membuatnya terbangun. Ia kemudian beranjak ke dalam menuju meja makan.Bibi farah yang melihatnya langsung tergopoh gopoh menyiapkan makan siang.


"Mana Kamila bi, katanya tadi akan pulang pukul dua belas," tanya Arthur


" Hmm, belum pulang. Coba ditelepon toh adiknya sebentar."


"Baik bi, nanti setelah makan," sahut Arthur sopan. Ia menghabiskan makan siangnya perlahan namun pasti. Perutnya benar-benar kroncongan sedari tadi.


Selepas makan siang tak lupa ia menghubungi kamila namun tak ada jawaban. Ia putuskan untuk membersihkan diri dan berendam yang lama di bathtube. Untuk pertama kalinya ia merasakan kesegaran dan kebugarannya benar-benar kembali setelah jetleg yang kemarin.


Bayangan gadis SEAL berwajah hijau masih menari-nari dibenaknya. Tak sadar kadang ia tersenyum sendiri mengingat semua kegilaan yang mereka alami di gurun. Bahkan ciuman liar dan bodoh itu adalah kontak fisik paling intim yang pernah terjadi antara dirinya dengan seorang wanita. Dan kenyataan bahwa gadis itu telah mendonorkan terlalu banyak darahnya untuk menyelamatkan Arthur yang hampir sekarat, seperti sebuah ikatan bagi mereka berdua.


Dimanakah dia sekarang?bisik hatinya. Mengapa ia begitu merindu. Sampai kapan?Hampir dua tahun masih dengan rasa dan harapan yang sama, Ahhh... Desahnya tak terkendali. Menyalakan shower dan membiarkan air menghujam seluruh wajah dan tubuhnya. Seperti inikah rasanya, sungguh-sungguh menyiksa, keluhnya perih.

__ADS_1


__ADS_2