
Astrogun Corp
dua hari kemudian.
Jeff dan Melinda melewati hari-hari dengan cemas pasca peretasan oleh entitas yang tidak diketahui di Astrogun.
Beberapa hari sudah berlalu dari peristiwa itu, semua berjalan tetap normal dan tidak terjadi hal buruk seperti yang Melinda dan Jeff khawatirkan.
Sean dan Phillips yang telah pulih seratus persen dari efek zat sarin dan ricin juga tak bisa memberi keterangan lebih jauh. Mereka hanya mengingat suara smartdoor yang terbuka, lalu mereka pingsan tak sadarkan diri.
Tak ada jejak apapun yang tertinggal dari sang peretas.
Melinda baru saja kembali dari meeting kecil dengan beberapa orang kepala staff. Ia hendak kembali ke ruang kerjanya.
Melinda melihat Jeff berjalan menuju ruang Cyber Securuty System. Buru-buru Melinda mempercepat langkahnya untuk mengejar Jeff.
"Jeff," panggil Melinda, Jeff menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Mel G, hufffh.., " sahut Jeff sembari menarik nafas berat.
"Apakah ada temuan baru?" tanya Melinda sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Sejauh ini, belum. Semua begitu normal seperti seperti biasanya. Tapi kami tetap berjuang melacak jejak entitas itu,"
"Baiklah, untuk sementara kita bisa bernafas lega. Kalau begitu aku pulang, Chen bilang mereka akan segera sampai satu atau dua jam lagi.Selamat berjuang Jeff," tukas Melinda lalu berlalu meninggalkan Jeff yang kembali melangkah menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Beberapa hari ini ia dan timnya mengambil jam lembur.
Melinda berkemas untuk pulang, berjalan menuju basement pertama dimana tempat parkir berada. Tak sengaja ia berpapasan dengan Bend Akiro dan timnya. Para pria berseragam jas stelan satu kancing (Single Breasted ) warna hitam itu tampak gagah dan menciutkan nyali siapapun.
Begitu berada tepat di hadapan Melinda, pria maskulin berdarah Jepang itu melakukan ojigi (sedikit membungkuk saat bertemu orang lain sebagai bentuk penghormatan).
Melinda membalas ojigi dari Bend Akiro.
"Maaf Bend, aku sedikit mengganggu sebentar. Oya kalian akan pergi kemana?" tanya Melinda.
"Kami, akan menjemput big boss Geon Arthur Yildiz," jawab Bend formal.
"Oh, jadi mereka benar-benar sudah kembali," gumam Melinda, "Thank you Bend," lanjutnya sambil menundukkan kembali kepalanya untuk pria berdarah Jepang itu.
"It's oke," sahut Bend, membalas ojigi dari Melinda dengan sopan, lalu melanjutkan kembali langkahnya, diikuti oleh kelima belas anak buahnya.
Gemuruh mendera di dalam dada Melinda. Ia mempercepat langkah kakinya menuju tempat parkir di basement pertama. Ia ingin sampai di rumah Chen secepatnya. Ia harus mempersiapkan banyak berkas dan memberikan laporan terperinci mengenai perkembangan perusahaan selama Chen Yuan pergi.
Melinda mengendarai mobilnya dengan sedikit mengebut. Akhirnya ia pun berhasil sampai dalam dua puluh menit, tiga menit lebih cepat dari waktu tempuh biasanya.
Rumah megah itu terasa begitu lengang dan agak janggal karena adanya sebuah smartrobot yang pandai bertingkah layaknya manusia.
Melinda memutar bola matanya kesal dengan bibir mengerucut manakala mendapati smartrobot Anastasya sedang mengambil gambar dirinya dengan menggunakan tripod panjang. Smartrobot itu begitu lihai berpose di depan kamera. Namun ia langsung menghentikan aktifitasnya begitu melihat Melinda.
"Hai, Mel G," Sapa Anastasya ramah. Ia memang diprogram untuk ramah kepada siapa saja.
"Hai, Ana. Oh ya aku lupa memfolow akun Instagram mu. Beritahu aku apa nama akun mu?" tanya Melinda hanya sekedar penasaran saja dengan jumlah follower si robot.
"Ketik saja 'Anastasya Yuan', kamu pasti akan menemukannya,"
"Hooaah... kau memakai nama belakangnya?" desis Melinda dengan gigi bergemeletuk, ia mulai kesal lagi.
"Iya, Mel. Chen yang menyuruhku."
Whaat? Followersnya sudah satu juta lebih dan dia cantik sekali di sini. Racau Melinda di dalam hati sembari memelototi layar ponselnya.
"Anastasya Yuan, a beautiful humanoid robotic, " Melinda membaca perlahan catatan bio pada akun instagram Anastasya. Wajahnya kembali berubah masam.
"Ok, Ana. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku mandi dulu,bye.." Melinda melengos meninggalkan Anastasya di teras depan dengan raut wajah tak berubah, tetap masam!
"Bye...Mel G," sahut Anastasya anggun dan santai tanpa emosi.
Di kamarnya, Melinda meraih netbook untuk menyiapkan semua file yang ia perlukan . Ia telah menyusunnya sejak awal kepergian Chen, jadi semua menjadi mudah baginya.
"Hmm, sudah beres," gumamnya sembari menggosokkan kedua tangannya, puas.
'Aku telah diprogram untuk genit di depan pacarku'
Sudah dua hari ini kata-kata Anastasya itu terus menerus berputar dibenaknya dan mempengaruhinya. Membawanya pada satu kesimpulan bahwa Chen 'Suka gadis genit'.
Melinda tersenyum simpul, kemudian membuka paperbag dari sebuah brand terkenal dan mahal yang ia beli kemarin. Ia mengeluarkan sebuah croptop berbelahan dada rendah dengan kerutan girly berwarna nude pink, berpasangan dengan mini skirt berwarna senada. Ia meletakkan semuanya di atas ranjang, ia akan mengenakannya nanti saat Chen pulang. Iya, dia akan mencoba tampil genit dan menggoda di depan Chen malam ini. Melinda sungguh penasaran bagaimanakah pria itu akan bereaksi.
Melinda menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi yang panjang.Seusai mandi ia mengenakan busana kesehariannya, blouse sederhana yang dilengkapi luaran lengan panjang hijau muda agar tubuhnya selalu hangat.
__ADS_1
"Mel G!!" suara teriakan Chen terdengar sangat dekat, sepertinya tak jauh dari kamar Melinda.
"Hai, iya tunggu sebentar, " sahut Melinda, ia buru-buru memasang kacamatanya.
Melinda membuka pintu kamarnya dan Chen sudah berdiri di depannya.
"Kalian sudah kembali?"
"Yap! ini aku. Aku lapar, para bodyguard juga. Pesankan makanan seperti biasa untuk kita semua.Wow.., kamu baru selesai mandi?Eeuuumm, harum sekali...Itu membuatmu kelihatan lebih segar dan lebih cantik. Segeralah cari pria dan berkencan." Cerocos Chen semaunya.
Ia prihatin pada gadis Nerd ini, si antisosial dan tak pandai berdandan yang menjadi sekretarisnya.
Namun seperti pada umumnya gadis Nerd, Melinda sangat smart dan cekatan dalam menjalankn tugasnya. Chen butuh itu.
"Baik, tunggulah beberapa menit," sahut Melinda dingin dan datar seperti biasanya. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu terucap dari bibir Chen.
Melinda memesan beberapa menu favorite Chen dari restaurant langganan mereka. Seperti biasa pesanan itu sampai dalam waktu dua puluh menit.
"Mel G, mari aku bantu," ucap smartrobot Anastasya yang melihat Melinda sedang sibuk menyajikan makanan di atas meja.
"Dengan senang hati," sahut Melinda ketus.
Melinda dan Anastasya menata meja makan bersama untuk Chen dan para bodyguardnya. Para pria itu sepertinya sedang membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka.
"Waaah, ini kelihatan lezat. Menu spesial rupanya. Thank you Mel, ayo man kita makan malam bersama," seru Chen kepada sepuluh bodyguardnya. Chen senang bersikap frenly dan membumi kepada para bawahannya. Makan bersama mereka sangat menyenangkan buat Chen.
"Trimakasih, ini hidangan spesial dari restaurant terkenal, " ucap salah seorang bodyguard itu.
"Mel G, kemari, duduklah," Chen menarik sebuah kursi dan menekan bahu Melinda untuk duduk dan makan bersama. Melinda tak bisa menolak dan memang dia juga sedang lapar.
Biasanya ia lebih senang memasak makanannya sendiri di dapur jika tak ada Chen. Sementara Chen lebih senang makan di restaurant atau delivery order, ia hanya menurut saja.
"Bagaimana kabar Mr G?" tanya Melinda menyela acara makan malam itu.
"Ia putuskan langsung ke mansionnya yang ada di New York saat kamu mengingatkan mengenai acara New York executives night and party."
"Oh, baguslah. Jadi tinggal kita yang akan menyusul ke sana."
"Hmm, iya. Aku tunggu di ruang kerjaku jam setengah sembilan malam ini, siapkan laporanmu. "
Acara dinner bersama itu pun usai. Melinda memanggil dua asisten khusus di rumah itu untuk membereskan semua kekacauan yang tersisa.
Melinda kembali ke kamarnya dengan degup jantung tak menentu. Ia menatap set crop top nude pink yang tergeletak pasrah di atas ranjangnya. Ia bertekad menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.
Sementara itu Chen Yuan seolah tak kenal lelah. Ia dengan staminanya yang luar biasa masih bisa melanjutkan aktifitas setelah baru saja kembali dari Perjalanan jauhnya bersama Arthur.
Ia merapikan beberapa berkas dan dokumen yang sedikit berantakan di atas meja kerjanya. Look-nya sangat santai dengan T-shirt lengan pendek putih dipadukan jogger pants dari material cotton yang semakin membuatnya merasa nyaman. Pria berdarah Tiongkok itu menyandarkan tubuhnya di kursi menunggu kedatangan Sekretarisnya.
Sudah limabelas menit berlalu dari pukul setengah sembilan.Chen menoleh ke arah pintu ruang kerja yang terbuka lebar, tak ada penampakan Melinda di sana. Ia heran, tak biasanya Melinda terlambat begini, biasanya gadis Nerd itu selalu tepat waktu.
Chen merasa haus, ia meraih gelas air minum yang ada di atas meja.
"Sorry aku terlambat dan membuatmu lama menunggu,"
"Ukkhuuukk...! Brefffff..! Ukhuk.. ukhukk!" Chen tersedak oleh air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Refleks ia menyemburkan semua air itu keluar sehingga membasahi bajunya sendiri dan sebagian berkas di atas meja. Semua itu karena ia kaget melihat penampilan Melinda dengan crop top yang memperlihatkan seluruh perutnya yang rata dan pinggangnya yang indah. Ditambah lagi crop top itu memiliki belahan dada rendah yang menantang. Mini skirt yang dikenakan Melinda mengekspose hampir delapan puluh persen bagian tungkainya.
"Mel? Apa kamu ada janji kencan dengan pacarmu malam ini?" tanya Chen mendelik.
Bukannya menjawab, gadis itu justru melangkah mendekati Chen, meletakkan netbook-nya dan mengambil tissu. Ia mulai membantu mengelap baju Chen yang basah.Aroma parfum yang semerbak menyeruak dari setiap inci tubuh Melinda, sontak membangkitkan gairah Chen.
"Tidak ada, kenapa?" jawab Melinda lembut, kemudian balik bertanya.
"Busana dan make-up yang kamu pakai ini seperti busana orang yang akan pergi kencan dengan pasangannya. Ini membuatku tidak fokus, gantilah." ucap Chen dengan tatapan yang tidak bisa berpaling dari ujung rambut hingga ujung kaki Melinda. Ia bukannya tidak tahu kalau Melinda gadis yang cantik, hanya saja ia baru sadar kalau gadis ini sangat cantik.
"Aku sedang senang dengan style ini dan ini sedang trend dimana-mana,jadi aku tidak akan menggantinya" sahut Melinda memberanikan diri. Ia berdiri tepat di hadapan Chen yang masih duduk,dadanya yang sebagian besar terekspose membuat Chen semakin tak tenang.
Berani sekali si kutu buku ini menggodaku. Aku yakin dia sedang menggodaku.Pikir Chen.
Chen memainkan lidahnya hingga pipinya terlihat menggembung tak jelas. Netranya nanar memandang tajam ke wajah cantik Melinda.
Ia memang bukan pria yang pandai mengontrol birahinya tapi ia masih punya kewarasan untuk memilih wanita mana yang akan dijadikan pelampiasannya.
Melinda tidak masuk dalam daftarnya, karena dimatanya Melinda gadis baik-baik yang punya integritas. Ditambah sikap datar Melinda kepada para pria selama ini, dan ia juga tak pernah melihat Melinda berpenampilan mencolok, apalagi seperti penampilannya malam ini, benar-bnear membuat Chen gerah.
Chen Yuan bangkit dari kursinya dan meraih sebuah jas hitam yang tergantung di salah satu sudut ruangan itu. Ia mendekati Melinda yang sedang duduk di kursi, dari belakang ia menyampirkan jas safari hitam itu ke tubuh Melinda, sehingga tubuh seksi Melinda terselimuti.
__ADS_1
"Oke, sekarang sampaikan padaku mengenai perkembangan perusahaan selama lima hari ini," Chen membuka pertemuan itu dengan lega. Namun itu tak berlangsung lama karena pandangannya kini tertuju pada cara duduk Melinda dengan kedua paha yang terlalu terbuka , memperlihatkan da*laman*nya dengan jelas.
'S*H*I*T!'gerutu Chen dalam hati. Kenapa Gadis Nerd ini tiba-tiba bersikap murahan dan benar-benar ingin bermain-main denganku, pikirnya.
"Chen, aku tidak suka jas ini," pekik Melinda sembari melepaskan jas yang tadi disampirkan Chen ke tubuhnya.Bagian dadanya kembali terekspos.
Chen Yuan seorang pria dengan titik didih birahi sangat rendah, tak perlu seratus derajat celcius untuk membuatnya mendidih. Jangan salahkan aku Mel G, bisiknya dalam hati. Ia bangkit mendekati Melinda. menarik lengan Melinda sedikit kasar, kini Melinda berdiri di hadapannya.
"Mel, kamu menggodaku, berhentilah sebelum kamu menyesalinya, " gumam Chen di telinga Melinda. Tangan kanannya mencengkeram dagu gadis itu dengan kesal.
Ketakutan mulai merayapi hati gadis itu, ia melihat sisi lain Chen yang berbeda. Tak ada Chen yang humoris dan banyak bicara. Pria di hadapannya terlihat seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.
"A-a-ku..., aku tak sengaja melakukannya," jawab Melinda sekenanya dan itu terdengar konyol bagi Chen.
Sluuurrpp!
Tak terkendalikan lagi, Chen menghisap lidah gadis itu perlahan.
Plakk!! sebuah tamparan mendarat di pipi Chen cukup keras.
Chen melepaskan hisapan bibirnya dan melepaskan cengkeramannya di dagu Melinda. Dia yang memulainya dia juga yang marah, gerutu Chen dalam hati.
"Maafkan aku," gumam Chen tersadar.
"Jangan pernah melakukan hal ini lagi padaku. Kali ini aku melepaskanmu, kembalilah ke kamarmu. Lain kali aku tak akan mengampunimu," ketus Chen sembari menahan hasratnya yang tak terkendali.
Melinda menahan airmatanya yang nyaris jatuh sekuat tenaganya, semua perkataan Chen adalah hinaan baginya dan sangat melukai hatinya. Ia sudah gagal menggoda pria ini. Perlahan ia beringsut meraih netbook-nya dan melangkah pergi.
"Tunggu,"
Melinda menghentikan langkahnya, namun ia tak menoleh dan tetap membelakangi Chen, menunggu pria itu melanjutkan bicaranya.
"Pesankan aku salah satu gadis dari tempat biasa, kau tau seleraku yang bagaimana. Katakan segera datang, aku sudah tak tahan. Aku tunggu di kamar, " perintah Chen , itu terdengar kejam ditelinga Melinda .
Melinda terdiam, ia tak menjawab Chen dan melanjutkan langkahnya kembali ke kamar.
Beberapa menit berlalu, di kamarnya Chen Yuan masih gelisah memikirkan sikap Melinda yang tiba-tiba genit padanya. Ia juga kesal karena Melinda menggodanya , ia jadi butuh pelampiasan.
Tok tok! pintu kamarnya diketuk.
Hmm, tumben pesanannya kali ini datang lebih cepat. Biasanya tiga puluh menit paling cepat.
"Buka saja, pintu tak dikunci, masuklah!" perintahnya.
"Mell G...??! " Pekiknya, lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan keberanian si gadis Nerd ini.
"Iya, aku datang menggantikan pesananmu,"sahut gadis itu makin berani.
Masih dengan busana ala penari striptease tadi, Ia kembali dengan maksud menggoda Chen lagi, ia sakit hati dengan sikap Chen yang lebih memilih memesan call girl daripada dirinya.
Melinda menutup pintu kamar lalu menguncinya. Ia bersandar di daun pintu dengan pose yang sangat menantang.
"Mel, apakah kamu sedang mabuk?sadarlah, aku melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Tak ada cinta dalam hal ini," ujar Chen seraya bangkit dari ranjangnya dan mendekati gadis yang kini terlihat sangat menggairahkan itu.
"Aku tahu," gumam Melinda pasrah.
"Jangan pernah menyesalinya," ucap Chen lagi ditelinga Melinda.
"Tak kan pernah," jawab gadis itu bagai orang mabuk karena Chen mulai menyentuhnya dengan agresif.
...A FIEW MINUTES LATER...
...*...
...*...
...*...
...*...
Chen meraih selimut dan menutup tubuh polos Melinda yang tak berdaya di ranjangnya.
"Maafkan aku, Mel," Chen berkata dengan raut wajah penuh penyesalan.
"kamu tidak bersalah, bukankah kita bersenang-senang." jawab Melinda datar.
"Mengapa tak bilang kalau ini yang pertama buatmu,"
__ADS_1
"Apa itu penting?"
#bersambung