The Athena Code

The Athena Code
46. Home SWISS Home (Part 2)


__ADS_3

"Ekhem... " Arthur sengaja berdehem untuk mendapatkan perhatian.


Seketika Heilen menoleh ke arah suara. Mata indahnya terbelalak dan bibirnya ternganga tak percaya.


"Ar...thur..?" Desisnya lirih. Bibir indahnya bergetar karena nervous.


"Kenapa...tiba-tiba menghilang saat di Jakarta?" Tanya Heilen spontan. Keterkejutan membuat suara hatinya mengalir begitu saja seperti air.


"Kamu mencariku? Apakah aku terlalu ngangenin?" Sahut Arthur lembut dengan suara seksinya yang membuai.


Arthur mengembalikan kalimat Heilen yang dikirim untuknya via sms saat Arthur masih di Virginia.


Heilen terdiam tak tahu harus menjawab apa. Hatinya ingin menjawab iya, namun pikirannya melarangnya.


Apakah aku terlalu ngangenin?? Sepertinya aku familiar dengan kata-kata itu tapi entah dimana aku mendengarnya, batin Heilen. Ia sama sekali tak ingat kalau itu adalah kata-katanya sendiri.


Di dalam hati Arthur tertawa geli melihat wajah cantik Heilen yang spontan memerah.


Dia sangat cantik dan dia gadisku, tegasnya dalam hati. Dan gadisnya tampak semakin menggemaskan saat sedang nervous.


Heilen buru-buru menata kembali hatinya yang tadi sempat kacau. Ia memperbaiki posisi dan melakukan pose yang sudah diajarkan Kamila. Seratus ribu dolar, itu lebih dari cukup untuk membantu ekonomi ayah dan ibunya beberapa bulan. Terlebih lagi ada si kecil Lala.


Arthur bangkit dari kursinya lalu melangkah menghamipiri Heilen dan duduk di sisi Heilen yang terpaku.


Arthur tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Karena untuk bisa sampai di sini Ia harus menunggu dua kali putaran revolusi bumi.


"Heilen... " Bisiknya lembut nyaris tak terdengar dengan bibir yang begitu dekat dari telinga Heilen, seolah-olah sengaja membiarkan hangat nafasnya menggelitik kuping Heilen sekaligus membelai leher Heilen yang jenjang.


"Hmm.. ah iya... " Sahut Heilen lemah dengan suasana hati yang semakin kacau. Ia merasa Arthur begitu berbeda dari sebelumnya. Masih dengan pesona yang sama namun kali ini sangat lembut dan memabukkan. Heilen tak kuasa membendungnya.


"Pandanglah kedepan, jangan menyamping. Supaya aku bisa lebih leluasa melihat wajahmu yang cantik dan lekuk tubuhmu yang indah." Bisik Arthur lagi lebih frontal, sekali lagi menyapu leher jenjang Heilen dengan nafasnya yang hangat.


Arthur menyentuh kedua pundak Heilen yang masih terpaku, menarik kedua pundak itu dengan perlahan dan hati-hati menghadap kanvas, sehingga posisi Heilen kini tak lagi menyamping.


Heilen nyaris terbawa suasana yang tiba-tiba terasa romantis dan erotis. Ah, tidak! Dia hanya memperbaiki pose-ku. Teriak sisi hatinya yang lain menyadarkannya.


Lalu...


Arthur bangkit dari kursi dan berdiri tepat dihadapan Heilen yang duduk. Ia sedikit membungkukkan badan. Kini jemarinya menyentuh dagu Heilen dengan lembut. Ia mengangkat dagu indah itu perlahan sembari memenjarakan semua hasratnya yang terus menerus menuntut pelampiasan.


Sementara itu Heilen benar-benar merasa telah takluk dibawah pesona pria yang sebelumnya begitu dingin dan sinis ini.


Semua terasa berbeda. Tatapannya, bahasa tubuhnya, tutur katanya, sentuhannya, sangat berbeda! Kali ini Arthur berhasil memporak-porandakan seluruh sisi-sisi kewanitaan Heilen. Membuat raganya begitu mendambakan semua yang ada pada diri Arthur.


Terakhir, Arthur memperbaiki letak kedua tangan Heilen. Ia mengambil kedua tangan Heilen yang terhampar di kedua sisi paha, menggengamnya erat sembari menatap tajam mata indah Heilen. Wajah mereka menjadi begitu dekat.


"Kenapa tak pernah bilang kalau kamu secantik ini." Gumam Arthur dengan nada suara yang dipenuhi birahi, hanya beberapa inchi dari bibir Heilen yang sensual.


Inginku bekukan putaran waktu dan menetap di zona waktu bersamamu ini, selamanya. (Arthur dalam hati).


"Arthur... lepaskan." Desis Heilen dengan suara tercekat nyaris tak terdengar. Karena ia pun sedang berjuang meredam hasratnya sendiri.


"Maafkan aku." Bisik Arthur lembut ditelinga Heilen. Ia memang masih ingin menggoda gadisnya.


Akhirnya Arthur kembali ke kursinya di depan easel lukis. Menyisakan semburat rona merah di seluruh wajah Heilen. Arthur tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya semua ini cukup untuk mengurangi beban kerinduannya yang selama dua tahun begitu dalam.


Arthur mulai menggoreskan kuas di atas kanvas.


"Bukankah diperbolehkan menggunakan ponsel, ngemil dan juga minum. Aku ingin melakukannya sekarang." Tukas Heilen memecah keheningan.


"Iya, tentu saja. "Jawab Arthur singkat. Toh juga sejak awal ia sudah tau lukisan ini tak kan selesai hari ini. Bagaimana ia bisa fokus melukis wanita yang mampu membangkitkan gairahnya hingga ke inti yang paling dalam.


Arthur memantau semua pergerakkan Heilen tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.

__ADS_1


Setelah mereguk air secukupnya Heilen meraih ponsel dan membuka Kotak pesan. Sebuah pesan terlewatkan dari Mr. G , pesan satu hari yang lalu.


Apakah kamu sudah sampai di Swiss? (Mr.G)


Heilen tersenyum dan membalas dengan cepat. Saatnya menagih head armor canggih keluaran ASTROGUN dari Mr. G, batinnnya.


Iya aku sudah sampai. Oya bagaimana dengan Head armor terbaik dari astrogun yang dulu kamu janjikan. Aku menagihmu. (Athena-1609) .


Arthur memutar bola matanya nyaris tak bisa menahan tawa. Ternyata gadis hijaunya sangat naif juga. Beruntung ia sudah menonaktifkan nada dering ponsel khususnya.


Arthur membalas pesan Heilen . Tentu saja kanvas yang cukup lebar di hadapannya membuat Heilen tak bisa melihat apa yang dilakukan Arthur.


"Aku akan mengirimimu secepatnya, berikan saja alamatmu. Oya bolehkah aku menelponmu sekarang?" (Mr.G)


"Jangan sekarang. Aku sedang bersama seorang pria gila saat ini. " (Athena-1609)


Arthur memicingkan matanya tajam menatap Heilen yang sedang menunggu jawaban darinya sembari mengunyah cemilan yang disediakan.


"Mamaku bilang kalau perempuan sering meledek seorang pria berarti ia menyukainya. Sepertinya kamu menyukai pria itu. (Mr.G)


Hehehe...mamamu benar, iya aku menyukainya tapi dia tidak tahu dan aku tidak mau menunjukkannya semudah itu. Bagaimana denganmu pria bodoh , apakah sekarang kamu menemukan seorang wanita? (Athena-1609).


Kali ini hati Arthur berbunga-bunga. Ingin ia tertawa terbahak-bahak namun ia hanya bisa tertawa di dalam hati.


Aku kira kamu juga menyukaiku karena kamu sering meledekku sebagai ''pria bodoh", hehehe ..(Mr.G)


Arthur masih belum puas mengerjai Heilen.


Huushh... jangan kegeeran. Aku butuh head armor itu , Navy Seals menugaskan ku kembali ke sebuah pulau bernama Palmyra Atol dalam waktu dekat. Kirimkan aku segera. (Athena 1609)


"Hoaaeeemmm..... " Heilen menguap sangat panjang dan ia mulai pegal karena duduk terus-menerus.


Arthur tersenyum misterius menyadari obat dalam air kemasan itu mulai bekerja. Dosis obat itu akan bisa membuat Heilen tidur lelap hingga pagi.


Arthur membopong tubuh Heilen kemudian berbisik di telinganya; "Aku akan menjagamu dengan nyawaku."


Ia membopong tubuh Heilen ke kamarnya dengan hati-hati.


Arthur tak menyadari ada Kamila dan Adam yang berjalan di belakangnya.


"Sori, mengganggu. Anak gadis orang mau kau apakan?" Kicau Adam Sinaga


Arthur menghentikan langkahnya terkejut."Bukan urusanmu." Jawabnya singkat.


"Berhati-hatilah, jangan bermain api. Ingat dia keponakannya Bapak menteri Pertahanan." Sambung Adam lagi serius.


Arthur hanya mendengus. Ia tetap melangkah membawa tubuh Heilen ke kamarnya.


"Abang, Mila mau bicara penting sebentar. Mila tunggu di bangku taman. " Pekik Kamila dari luar kamar Arthur.


"Iya, tunggu saja." Sahut Arthur.


Arthur membaringkan tubuh Heilen di ranjangnya, mengambil selimut tebal kemudian menutup seluruh tubuh Heilen agar tetap hangat.


Arthur membelai kening dan rambut indah gadisnya."Tunggu aku sebentar." Ucapnya.


Beberapa saat kemudian di bangku taman..


Adam Sinaga, Kamila dan Arthur duduk mengitari meja taman yang terbuat dari batu alam. Bangkunya pun terbuat dari batu alam. Memberikan kesan alami yang menyejukkan.


"Maaf abang, Mila tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan abang terhadap Heilen.Hanya Mila minta tolong jangan berbuat yang tidak-tidak padanya. Dia sahabat Mila bang, dan dia sangat baik selama ini." Ucap Kamila hati-hati.


"Adam, apakah kamu akan menyakiti wanita yang sangat kamu cintai?" Justru Arthur bertanya pada Adam.

__ADS_1


Adam dan Kamila saling bertukar pandangan.


"Oh , tentu saja tidak. Aku akan selalu menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya." Jawab Adam tegas.


Wajah Kamila tertunduk, pipinya memerah.


"Jadi, sudahlah. Jangan mencurigai apapun. Ini cukup sampai di sini karena ada hal penting yang harus aku selesaikan. Aku sudah memberitahu papa dan mama , besok aku akan ke rumah. " Ucap Arthur sembari hendak melangkah pergi.


"Abang tunggu.. "


"Arthur tunggu.. "


Kamila dan Adam berteriak bersamaan, Arthur pun duduk kembali dengan enggan.


"Kami berdua , eee.... Akan bertunangan dan akan segera menikah. Pertunangan kami bersamaan dengan Anniversary papa dan mama.Kami meminta restumu." Ujar Adam Sinaga sambil menggenggam tangan Kamila yang masih menunduk dengan pipi memerah.


Arthur tersentak. Ini diluar nalarnya. Tak pernah terlintas di benaknya. Bukan sesuatu yang salah namun benar-benar surprise besar buatnya. Ia menangkupkan kedua tangan menutup mulut dan hidungnya secara refleks.


"Whooaaa... Oh my god!! Whoaaa...!!! Hahhhahaaha... Apakah aku tidak salah dengar. Adik kecilku , apakah yang dikatakan pemuda ini benar?" Tanya Arthur pada Kamila.


Kedua Alis Adam bertaut mendengar kata "pemuda ini"


"Iya, abang benar." Tegas Kamila tanpa sadar menguatkan genggamannya pada genggaman Adam Sinaga.


Plakk!!


Arthur menampar wajahnya sendiri dengan cukup keras.


"Aku tidak bermimpi. Baiklah, aku turut berbahagia. Adam Sinaga, ingat jangan pernah membuatnya menangis jika tidak ingin berakhir tragis. " Ucap Arthur sembari membentangkan kedua lengannya merangkul Adam dan Kamila bersamaan.


Ketiganya berpelukan bahagia , kemudian Adam dan Kamila berpamitan untuk kembali ke rumah pribadi Alexander Yildiz.


"Tunggu aku di rumah besok. Aku akan datang bersama Heilen. Kalian tenang saja, aku akan menjaganya." Teriak Arthur melepas kepergian dua sejoli itu.


Kemudian Arthur bergegas kembali ke kamarnya untuk menuntaskan pekerjaannya yang belum selesai.


Arthur menatap wajah cantik Heilen dengan lembut. Ah tidak, tidak.. aku harus fokus. Aku harus melakukannya sekarang, batin Arthur.


Perlahan ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Heilen. Darahnya berdesir. Bagaimanapun aku harus melakukannya sekarang, pekik Arthur dalam hati.


Jemarinya dengan lembut mer*ba-rab* bagian kaki dan lengan Heilen. Ini terlalu kencang, pastinya karena ia aktif berolahraga, batin Arthur lagi.


Ia memperhatikan bagian dada Heilen yang indah. Apa mungkin harus di situ? Ah tidak, kelak itu akan menjadi bagianku yang paling berharga, kilahnya. Nafasnya mulai berat menahan gairah yang bergejolak. Seluruh tubuhnya menegang hingga ke bagian paling inti. Aku harus cepat, batinnya berulang-ulang. Ia tak tahan lagi.


Ia menyingkap gaun bagian bawah Heilen. Perlahan memijit area itu hingga nyaris ke pangkal, tepat dibagian belakang, di bawah bo*k*ng Heilen yang indah. Ah, ini pas!! Pekiknya girang.Sementara Heilen benar-benar telah pulas karena efek obat tidur yang diberikan Arthur.


Arthur menjulurkan tangannya ke bawah bantal mengambil micro chips Injector yang telah dia siapkan sejak awal. Menggunakan alat ini ia bisa dengan mudah menyuntikkan micro chips ke dalam tubuh Heilen.


Dengan hati-hati ia menusukkan ujung micro chips Injector itu ke bagian bawah bo*k*ng Heilen yang tadi ia tandai. Hanya sebentar saja micro chip yang akan menghubungkan Heilen dengan robot Athena telah tertanam tanpa bekas yang kentara.


Huufhhhh.. ! Akhirnya ia bisa bernafas lega. Setelah ini ia bisa mengetahui dan menjangkau Heilen dimanapun dan kapanpun.


Bahkan jika micro chips mendeteksi kondisi tubuh Heilen dalam keadaan kritis maka itu secara otomatis akan mengaktifkan robot Athena untuk mencari dan menolongnya. Sama seperti microchip yang tertanam di tubuhnya yang menghubungkannya dengan roboguard Alexus.


Arthur menciptakan microchip ini setelah belajar dari pengalaman di Afghanistan dimana para roboguardnya kesusahan menemukannya.


Arthur menutup kembali tubuh Heilen dengan selimut. Ia tak ingin berlama-lama lagi menatap gadisnya. Ia takut tak mampu mengendalikan diri.


Ia bergegas menuju kamar mandi mewah nan luas di bagian kamar itu, menyalakan shower dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya.



Kemudian Ia berendam di jacuzzi untuk menenangkan diri.

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2