
Lembah Panjshir , Afghanistan
Musim dingin, 19 Februari 2020
Sang waktu beranjak pagi, badai salju telah pergi. Menyisakan berton-ton tumpukan salju di sepanjang lembah.
‘’Hei, bangunlah! ”Pekik Athena berulang-ulang membuat Mr.G terperanjat.
“Kalau ingin lekas sembuh, cepatlah makan.” Ujar Athena lagi sembari menyodorkan sepotong roti. Satu-satunya roti yang tersisa di kantong celananya.
Arthur memandang roti itu dengan bernafsu, bak menemukan tumpukan ide berilian di otaknya saat ia sedang menghabiskan waktu di laboratorium. Perutnya sudah sangat lapar, terlebih perasaan nyaman karena terbebas dari siksaan dan todongan senapan membuatnya kian menyadari kalau lambungnya sudah sangat keroncongan.
Ingin rasanya ia segera melahap roti di tangan ” si gadis hijau” , namun harga dirinya sangat besar. “Kamu saja yang makan.”Sahutnya datar.
“Tentu saja aku sudah makan bagianku. ’’Ucap Athena berbohong. Ia sangat iba melihat kondisi pria dihadapannya yang tampak kurus, penyakitan dengan matanya yang cekung dan wajah penuh lebam. Pria ini sedang sakit dan lebih membutuhkan roti ini dari pada aku, pikirnya. “Ini air minumnya sekalian, oya berikan selimutnya padaku!’’Lanjut Athena lagi.
Tanpa banyak bertanya Mr. G memberikan selimut butut berwarna coklat susu yang semalam dipakainya kepada Athena, ia menduga mungkin saja gadis hijau sedang kedinginan sehingga ia membutuhkan selimut.
Sebenarnya Mr. G ingin bertanya namun ia lebih memilih diam, perasaan takut karena pengalaman masalalu yang buruk membuatnya menjadi kaku saat berhadapan dengan wanita.
“Aku tak bisa menghubungi siapapun karena alat komunikasi nirkabel-ku patah saat kita terjatuh semalam. Aku akan pergi mencari obat dan makanan, tunggulah di sini . Pegang senjata ini untuk berjaga-jaga. Aku yakin seorang ahli persenjataan sepertimu tak butuh diajari bagaimana cara menggunakannya. Selagi aku pergi, makan dan minumlah!" Ujar Athena sembari meletakkan Pistol SIG Sauer P226 dihadapan Mr. G yang sedang bersandar lemah pada dinding gua. Lagi-lagi Athena tak mendapat jawaban apa-apa dari pria di hadapannya.
Athena menghamparkan selimut tadi lalu menutupi seluruh tubuhnya agar ia tidak dikenali musuh. Bendera Amerika pada Kostum navy seals-nya akan mengundang banyak musuh yang ingin membantainya.
Tanpa ragu ia melangkahkan kaki meninggalkan Mr.G seorang diri.
Namun belum sampai di pintu gua, tiba-tiba Mr. G memanggilnya.
”Gadis hijau, tunggu!”
Teriakan itu menghentikan Langkah Athena . ”Ada apa?Panggil aku Athena, itu namaku!”Sahut Athena yang merasa aneh dengan panggilan gadis hijau.
“Athena, berhati-hatilah.” Ucap Mr.G dengan nada yang ragu seakan-akan ia sendiri tak percaya bahwa ia mampu mengucapkan kata-kata itu.
“Hmm, tentu saja aku sangat berhati-hati dalam setiap misiku. Tunggulah, aku pasti kembali.’’Ucap Athena dengan begitu yakin dan penuh percaya diri. Kemudian Ia menghilang dari pandangan Mr.G.
Mr.G hanya mengamati bagaimana si gadis hijau berkamuflase. Gadis yang tidak butuh jawaban karena ia punya keyakinan dan tekad yang sangat kuat.
Geon Arthur Yildiz alias Mr.G sama sekali tak bisa meragukan gadis itu, setelah semua yang dilakukannya semalam. Gadis hijau pasti kembali,bisiknya dalam hati.
Athena bisa saja membiarkannya tetap terikat pada lifting rope dan menyelamatkan dirinya sendiri lebih cepat, namun gadis itu memilih bersusah payah turut menyelamatkannya juga.
Dan semalam, untuk pertama kalinya ia merasa tenang serta nyaman dalam pelukan seorang wanita. Akh...aku lapar sekali! Pekiknya dalam hati. Perenungannya terputus kemudian ia melahap roti pemberian Athena.
Athena berjalan cepat menyibak butiran-butiran salju yang menghalangi jalannya. Ia bertekad untuk mencapai sisa ledakan helikopter medis Eagle med N-915EM. Berharap dapat menemukan Galea hidup-hidup , atau tidak sama sekali?
Ia siap atas segala kemungkinan yang akan ia temui. Atau setidaknya bisa mendapatkan beberapa jenis obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati pasiennya Mr.G. Walaupun ia tidak mengetahui seluk beluk pria itu namun perintah komandan Zeus masih terngiang-ngiang di telinganya , “ Rawat Mr.G dengan baik, dia adalah seorang ahli teknologi persenjataan modern yang sangat penting milik Pentagon.” Bagi Athena itu tak ada bedanya dengan sebuah doktrin yang wajib ditunaikan.
Suasana pagi masih sunyi, benar-benar menguntungkannya. kurang lebih berjalan sekitar tujuh ratus meter ia akhirnya sampai di tempat jatuhnya Eagle med N-915EM. Body helikopter sudah porak poranda. Nyeri di hati Athena melihat bagian kepala heli yang hancur karna jatuh menabrak bukit dengan menukik tajam. Reruntuhan helikopter mulai tertutupi tumpukan salju.
Perlahan Athena menyibak butiran-butiran salju untuk mencari tubuh Galea, namun yang ia temukan hanya sisa-sisa pecahan kokpit . Ia mulai berharap dan berdoa agar Galea selamat.
Athena kembali ke bagian belakang helikopter yang sebagiannya saja yang hancur lebur akibat rudal dan ledakan mesin. Masih banyak barang-barang penting yang bisa dimanfaatkan.
Athena menemukan kotak obat yang terbuat dari baja kuat, ia membuka dan mengambil hampir semua isinya. Ia juga menemukan ranselnya yang gosong sebagian dan isinya berhamburan. Ada dompet navy sealsnya yang utuh beserta cukup uang di dalamnya.
Athena mengambil barang-barang yang prioritas saja dari barang pribadinya itu. Sebungkus roti kering tampak masih utuh membuat Athena menelan air liur. Rasa laparnya sudah tidak dapat di tolerir lagi, ia pun melahap roti kering itu hingga tak bersisa.
Lalu sudut matanya tertuju pada sebuah totebag besar warna hitam yang masih utuh bertuliskan eagle med. Hmmm, aku bisa membawa barang-barang ini dengan mudah , pekik Athena dalam hati.
Athena memasukkan semua barang penting yang telah dipilihnya ke dalam totebag, terakhir ia memasukkan thermometer mini, tiga botol air mineral dan sebuah stetoskop.
Athena memasang kembali selimutnya keseluruh tubuh lalu dengan hati-hati ia keluar dari bekas reruntuhan helikopter itu, memindai sekelilingnya, setelah dirasa aman kemudian Ia melangkah dengan cepat diantara gundukan salju.
Kali ini Ia mencoba mencari jalur yang dekat dengan pemukiman penduduk untuk mendapatkan makanan. Kemampuan enam bahasanya sangat bermanfaat, terutama bahasa arab dan bahasa Iran. Karena menguasai kedua bahasa itu memudahkannya untuk belajar bahasa lokal yang mayoritas menggunakan bahasa persia (Iran) dan penulisannya dengan aksara arab.
Athena melihat sebuah pemukiman penduduk yang tidak terlalu ramai. Ia harus melewati sebuah jalan utama jika ingin menuju kesana. Padahal ia paling menghindari jalan utama, namun mau tidak mau ia harus melewatinya juga. Beruntung ia hanya bertemu dengan seorang penggembala tua.
"Hei anak gadis, sepertinya kamu berjalan sendirian dari tempat yang jauh, kemanakah tujuanmu? " Tanya kakek gembala dengan bahasa persia versi Afghanistan.
"Oh ini, aku akan mengunjungi bibiku di desa seberang dan aku sangat buru-buru. " Jawab Athena dalam bahasa persia versi Afghanistan dengan logat yang cukup fasih sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di hati sang penggembala.
"Berhati-hatilah." Teriak kakek gembala melihat gadis tertutup selimut dari ujung kepala sampai ujung kaki yang terlihat sangat terburu-buru itu.
__ADS_1
Athena hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan lagi langkahnya. Sampai disebuah dataran cekung yang penuh salju ia melihat sebuah kendaraan tempur lapis baja MaxxPro MRAP (Mine Resistant Ambush Protected) yang dirancang oleh perusahaan Amerika Navistar International untuk korps marinir AS. Athena menghampiri kendaraan tempur itu dan memeriksa ke dalamnya. Tak ada siapapun dan pintu kendaraan tak terkunci.
Athena tidak tahu bagaimana kisah sebenarnya di balik MaxxPro MRAP yang terdampar ini, Ia hanya bisa menebak kemungkinan saat badai salju semalam tank ini kehabisan persediaan bahan bakar lalu para penumpangnya meninggalkannya begitu saja ditempat ini.
Athena memeriksa ke dalam tank dan menemukan sebuah senjata api laras panjang jenis Marksman rifle yang biasa digunakan marinir Amerika Serikat. Ia menyambar senjata itu dan menyelempangkan di tubuhnya. Kini ada dua senjata api canggih yang menggelayut di tubuhnya. Tak ketinggalan ia juga mengambil cukup peluru yang ia temukan di salah satu loker di dalam kabin. Bahkan dua buah borgol yang tergeletak di dasar kabin tak ketinggalan ia masukkan ke kantong celana.
Mata jelinya menangkap keberadaan empat botol wisky di depan stang kemudi, ia masukkan semuanya ke dalam totebag besar .Untuk menghangatkan badan nanti, pikirnya.
"Semoga kendaraan ini tetap di sini sampai pria itu sedikit bugar, kami bisa mengunakannya untuk kembali ke barak navy seals di kota Kabul." Gumam Athena seorang diri.
Seharusnya ia tak perlu terlalu khawatir selama ini masih di lembah Panjshir, karena lembah ini satu-satunya yang belum pernah bisa di kuasai oleh pasukan Taliban. Namun sebagai seorang SEAL ia terbiasa untuk melakukan segala sesuatunya dengan cermat dan hati-hati serta dalam disiplin yang ketat.
Athena melanjutkan lagi perjalanannya , pemukiman penduduk sudah sangat dekat. Otaknya terus berfikir tentang bagaimana cara mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan MaxxPro MRAP yang tadi ia temukan.
"Wahai gadis berselimut, belilah roti kami. " Tawar dua gadis lokal berpakaian burqa (pakaian tradisional setempat yang sangat tertutup, bahkan bagian mata pun di tutup dengan kain berbentuk jaring). Mereka yakin sekali jika dihadapannya adalah seorang wanita, karena menurut mereka siapa lagi yang mau bersusah payah memakai pakaian selimut tertutup seperti ini kalau bukan seorang wanita.
Athena terperanjat dari pikirannya tentang bahan bakar, kemudian menyadari makanan yang dicarinya ada di depan mata.
"Kelihatannya lezat sekali, aku beli semuanya. Dan aku juga butuh dua pakaian burqa seperti yang kalian kenakan. Akanku bayar lebih. " Ucap Athena mengeluarkan dua ratus lima puluh dolar dari dompetnya.
"Ini terlalu banyak, saudariku. " Pekik salah satu gadis dengan burqa biru muda itu.
" Tak apa, bawakan aku dua buah burqa dan satu lagi berikan aku beberapa buah lilin." Pinta Athena.
Kedua gadis itu memenuhi semua permintaan Athena, dua ratus lima puluh dolar Amerika adalah uang yang sangat banyak bagi mereka. Lagi-lagi kemampuan Athena berbahasa lokal sangat membantunya.
Setelah berbasa-basi dengan kedua gadis itu Athena langsung bergegas untuk kembali ke gua. Ia sangat khawatir dengan kondisi pasiennya.
Ketika cuaca mulai sedikit hangat di siang hari pada musim dingin itu, Athena telah tiba di pintu gua. Ia meletakkan semua barang bawaannya , berikut selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia menghunus senapan M4-custom dan mengarahkannya ke seluruh ruangan gua.
"Hei gadis hijau, apakah kamu ingin membunuhku? " Pekik Mr. G sambil berbaring lemah.
"Sudah kubilang panggil aku Athena. Aku hanya berjaga-jaga." Tukas Athena kemudian kembali ke pintu untuk mengambil semua barang yang tadi ia letakkan.
"Duduklah, aku akan memeriksamu dan memberimu obat supaya kamu lekas sehat. Aku ingin kita cepat pergi dari gua ini. " Ucap Athena dengan ceria.
Mr. G dapat menangkap kegembiraan dari nada suara gadis dihadapannya, tentu saja karena ia telah berhasil mendapatkan begitu banyak barang yang mereka butuhkan. Bahkan Mr. G melihat sebuah sniper milik marinir Amerika melilit di tubuh Athena menemani M4-custom di sana.Dasar anak bandel, Gumamnya dalam hati. Mr. G sangat mengetahui setiap detail kedua senjata itu dengan baik.
Mr. G menatap gadis berwajah hijau dihadapannya yang begitu telaten menanganinya bagai seorang dokter. Garis wajahnya tegas dan terlihat sangar karena cat hijau tebal di seluruh wajahnya, namun entah mengapa Arthur merasa gadis ini imut juga.
"ee... oh... aku memang sedikit takut mungkin karena cat kamuflase yang kamu pakai terlalu tebal. " Jawab Mr. G asal-asalan.
"Itu artinya penyamaranku berhasil" Jawab Athena bangga sembari menyiapkan sepotong roti, Amoxilin dan paracetamol untuk Mr. G. "Makanlah dulu sebelum minum obat. Sepertinya kamu kena demam typhoid, sayang hanya obat ini saja yang aku temukan tadi. " Lanjut Athena lagi.
"Maaf merepotkanmu, aku berjanji saat di Virginia nanti aku akan menghadiahimu dengan head armor tercanggih dari Astrogun. " Ucap Mr. G merasa tersentuh dengan kebaikan Athena.
"Ah , jangan sungkan begitu. Tapi boleh juga dan aku pasti akan menagihmu nanti. " Tegas Athena.
"Hei, tidak mempercayaiku? Tulis saja nomer ponselku jadi nanti kamu bisa mengingatkan jika aku sampai lupa." Tantang Mr. G.
"Zeus bilang kamu adalah seorang ahli teknologi persenjataan terbaik saat ini, pasti aku akan menagih janjimu, ini kertas dan bolpoin."Pekik Athena kegirangan.
Arthur menuliskan salah satu nomor ponsel khusus miliknya. Nomor ponsel yang ia berikan pada orang-orang tertentu yang dianggapnya sangat penting. Hanya beberapa orang saja yang memiliki nomor ponsel khususnya ini, jadi ponsel ini tidak terlalu sering ia gunakan.
Athena menerima kertas kecil bertuliskan nomor ponsel Mr. G dengan senyum dikulum, kemudian ia memasukkan nomor ponsel itu ke dalam dompet militernya.
"Sekarang beristirahatlah, aku juga akan beristirahat. Tadi aku berjalan cukup jauh rasanya cukup melelahkan." Ucap Athena sembari melangkah menuju ke pintu gua.
Mr. G menatap gadis itu dengan takjub. Hatinya sangat tersentuh dengan semua karakter dalam diri Athena yang sangat kuat mencengkeram jiwanya dengan cepat. Sungguh Ia tak bisa mengingkari kekagumannya. Anastasya Stanford memang gadis tercantik yang pernah ia lihat namun tak pernah mampu menggetarkan hatinya.Ia menyayangi Anastasya sebagai seorang sahabat tidak lebih. Justru Athena, gadis tak berparas ini seolah-olah merasuki jiwanya dengan begitu mudah, sejak pertama kali Arthur merasakan kedamaian dalam pelukannya.
Athena keluar gua sebentar untuk memeriksa keadaan di sekelilingnya. Saat Mr. G sudah tidak demam lagi ia akan membawanya pergi dari gua ini. Mungkin besok atau lusa, menunggu reaksi obat yang tadi diberikannya. Setelah dirasa aman Athena masuk kembali kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding gua tepat disebelah kanan pintu masuk. Ia terlelap tanpa menyadari Mr. G terus menerus memperhatikannya. Arthur merasa gadis hijau sebenarnya sangat imut. Ingin rasanya ia lekas sembuh agar tidak terus menerus merepotkan Athena.
Hari telah beranjak sore. Athena masih terlelap. Mr. G meraih pistol pemberian Athena. Ia bangkit dan berjalan perlahan dengan kepala yang masih pening. Mr. G membetulkan resleting jaketnya. Ia harus keluar gua mencari tempat tersembunyi untuk buang air kecil.
Mr. G menatap sekilas ke arah Athena yang masih tidur bersandar pada diinding gua di dekat pintu. Rasa kagum dan iba berpadu menjadi satu. Ingin rasanya ia memberikan segala kenyamanan pada gadis ini, namun sayang ia sendiri dalam kondisi memperihatinkan saat ini. Akh, perasaan macam apa ini! Pekiknya dalam hati.
Baru saja Mr. G akan menapaki pintu gua, tiba-tiba.. "Hei, mau kemana Mr. G? " Tanya Athena yang tidurnya terusik oleh langkah kaki Mr. G.
"Emmm... ini, aku keluar sebentar, panggilan alam. " Jawab Mr. G sekenanya.
"Ayo, mari kuantar. " Sahut Athena polos.
"Hei, apaan? Tidak perlu seperti itu. " Tukas Mr. G merasa aneh.
__ADS_1
"Sudahlah jangan menolak, aku harus memastikan keamananmu. " Tegas Athena.
"Tidak perlu! Aku sudah membawa pistol pemberianmu tadi. " Tolak Mr. G lagi sambil terus berjalan mencari tempat yang aman dan tersembunyi untuk menunaikan panggilan alamnya. Ia tahu Athena membuntutinya di belakang.Aku ingin lihat sampai mana kamu mengikutiku, batin Mr. G.
"Dasar gadis gila." Desis Mr.G seorang diri. "Hei, gadis gila stop di sana! Aku akan melakukannya di sini. " Teriak Arthur memberi kode agar Athena berhenti mengikutinya.
Mendengar itu Athena langsung berbalik ke arah lain. Ia yakin jarak mereka tidak terlalu jauh jadi ia masih bisa menjangkau Mr. G jika terjadi apa-apa.
"Aaakh, lepaskan aku! " Suara seorang wanita menyita perhatian Athena. Tampak tiga orang laki-laki menyeret paksa seorang wanita cantik saat mereka sedang melewati hamparan salju di depan Athena.
Sekali lagi salah satu dari pria itu mendorong tubuh sang gadis bersorban merah ke tumpukan salju lalu menodongkan sebuah pedang khas penduduk lokal ke wajah gadis itu.
Buru-buru Athena merunduk lalu merayap ke tempat Mr. G yang sedang buang air kecil. Tepat saat Mr. G sudah selesai dan bersiap menutup resleting celananya, tiba-tiba sesosok tubuh dengan kostum yang sangat dikenalnya muncul merayap seperti seekor ular. "Heh, gadis gila, kamu mengintip ku!!" Pekik Mr. G spontan menendang tumpukan salju yang ada disampingnya hingga tepat mengenai wajah Athena. Bahkan sebagian kecil salju masuk ke mulut Athena karena tadi ia hendak berbicara.
Buru-buru Mr. G menyelesaikan resletingnya.
"Ukhuk-ukhuk." Athena terbatuk-batuk setelah melepeh sebagian salju yang masuk ke mulutnya.Dasar pria kejam, harus diberi pelajaran.
"Hish, terlalu percaya diri! Seindah apa bentuknya sampai kamu pikir aku mengintipmu?!! Jangan mimpi. "Bisik Athena sambil mendorong tubuh Mr. G ke punggung bukit dibelakangnya.Ia menarik kerah jaket Mr. G dengan sangat kuat, ingin rasanya menampar pria dihadapannya ini.
" Maafkan, aku hanya kaget dan refleks. "Ucap Mr. G merasa bersalah atas sikapnya yang memang spontan kasar jika berhadapan dengan seorang wanita.
" Baiklah,lupakan.Tunggu aku di sini ada yang harus aku selesaikan. Jangan keluar sampai aku panggil. "Perintah Athena pada Mr. G.
" Hemm.. "Jawab Mr. G kalem.
Setengah berlari Athena menghunus senjata api laras panjang M4-Custom. Mengarahkannya ke bagian paha pria yang kini sedang mengancam gadis bersorban merah tadi.
Mr. G diam-diam mengikuti Athena. " Kenapa dia harus menyusahkan diri dengan ikut campur urusan orang lain, sok pahlawan. " Gerutu Mr. G.
Tanpa suara sedikitpun bidikan Athena tepat mengenai sasaran, Pria itu langsung terjatuh dan mengerang kesakitan.Itulah salah satu kelebihan M4-Custom . Bahkan musuh tak tahu ada teman yang tertembak di dekatnya. Athena terus mengarahkan senjata apinya kepada dua pria lainnya.
"Angkat tangan kalian, lepaskan gadis itu! " Teriak Athena lantang setelah berjarak hanya satu meter dari mereka.
Pria yang mengenakan kurta hitam sepertinya masih menganggap remeh Athena karena dia seorang wanita. Dengan kecepatan penuh ia menerjang Athena sambil mengayunkan pedangnya. Sayang sekali Athena sangat terlatih dalam permainan pedang.
Athena memiringkan posisinya kesamping kiri lalu memukulkan gagang senapannya ke lengan pria yang mengayunkan pedang itu dengan keras. Kemudian secepat kilat ia menghujamkan pisau bayonetnya yang sudah terpasang di ujung senapan tepat menembus telapak kaki pria berkurta hitam itu. Pria itu berteriak histeris kesakitan.
Tanpa Athena sadari salah satu pria yang masih mencengkeram si wanita tawanan telah mengarahkan pistolnya ke Arah Athena. Saat ia melihatnya rasanya sudah tak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Secara refleks ia melakukan gerakan merunduk.
Namun tiba-tiba ...
BLAAAST!!!
Pria itu jatuh bersimbah darah, sebuah tembakan tepat mengenai jantungnya. Athena terkejut melihat Mr. G yang muncul tiba-tiba dan telah menyelamatkannya. Hmm, diam-diam dia sangat kejam sekali, pikir Athena.
Lalu ia kembali mengarahkan M4-custom ke arah tiga pria itu. "Bebaskan gadis itu jika ingin tetap hidup! " Perintah Athena lagi. "Kemarilah." Ucap Athena pada gadis cantik dengan luka yang masih berdarah di bahu kirinya.
"Jika kalian berani kembali , aku tidak akan melepaskan kalian. " Tambah Athena.
Gadis itu berlari menuju Athena dan Mr. G. "Terimakasih telah menolongku. Bawa aku bersama kalian. " Ucap gadis cantik itu memelas.
"Kebetulan kami sedang dalam perjalanan. Mungkin nanti kami bisa antarkan ke tempat yang ingin kamu tuju." Tukas Athena. "Ikutlah bermalam dengan kami untuk sementara waktu di gua" Lanjut Athena lagi.
Malam harinya di gua akhirnya Mr.G bisa tertidur lelap setelah merasa cukup terganggu dengan obrolan dua gadis yang baru bertemu itu.
Gadis bersorban merah itu bercerita pada Athena ditemani cahaya lilin yang temaram. Ia bernama Larmina dan ia adalah seorang artis penyanyi setempat. Ayahnya menjodohkannya dengan pria tua yang tidak ia cintai, jadi ia nekat kabur melarikan diri sebelum hari pernikahan. Karena hal itu Ia dianggap aib oleh keluarga calon suaminya dan dia ditangkap untuk disiksa bahkan mungkin dibunuh. Athena menjadi pendengar yang baik hingga akhirnya mereka sama-sama terlelap.
Ditengah tidurnya yang lelap, Athena merasa terusik dengan suara dua orang yang sepertinya sedang bertengkar.
"Hei, apa yang kamu lakukan?! Jangan mendekat, atau aku akan bersikap kasar padamu. "Terdengar suara Mr. G.
" Tuan, bawalah aku ke negaramu. Aku akan melayanimu dengan sepenuh hati. Tolonglah tuan, aku benci hidup di negara ini. "Suara Larmina lirih merayu sambil melepas helai demi helai pakaiannya.
Athena mendengar dengan jelas dan mulai mengerti situasinya, namun ia diam saja dan berpura-pura tertidur sambil tersenyum geli. Bisa-bisanya dia menolak seorang gadis secantik itu. Dasar peria bodoh!Gumam Athena dalam hati.
"Semua pria disini mengagumi kecantikanku dan berlomba-lomba untuk mendapatkanku , dan aku masih perawan, tuan. Kalau kau bersedia membawaku ke negaramu aku akan memberikan semua ini untukmu. Aku benci hidup di negara yang tak pernah damai ini. " Ucap Larmina dengan penuh harap dan suara bergetar. Kini ia mulai lebih berani melepas sorbannya dan semua kancing bajunya.
"Maaf aku tidak bisa membantumu, cari saja pria lain. Tolong pakai bajumu. Aku tidak suka gadis perawan karena aku juga seorang perjaka. " Sahut Mr. G sekenanya untuk menyadarkan gadis itu. Namun gadis itu semakin nekat dan malah menyentuh dan menarik lengannya , membuat penyakit pannick attack (kecemasan) Mr. G seketika kambuh.
Akhirnya Mr. G meraih pistol Sig p226 pemberian Athena ke arah gadis itu. "Pakai bajumu kembali, kalau tidak aku akan menembakmu,aku tidak main-main!"Ancam Mr. G.
Benar-benar Pria bodoh! hihihi....! Racau Athena dalam hati dan masih saja berpura-pura tidur. Gadis secantik itu tak membuatnya bergairah, jangan-jangan ia seorang gay. Mulai sekarang aku akan memanggilnya pria bodoh, iya pria bodoh!hihihi. Batin Athena lagi sambil terkikik karena merasa terhibur dengan kata-kata Mr. G tentang tidak menyukai gadis perawan, itu sangat konyol menurutnya.
__ADS_1
Perlahan-lahan akhirnya Athena bangkit juga.
#bersambung