
“Heilen..,” panggil Arthur dengan mengaktifkan pengeras suara.
Suaranya terdengar ke seluruh penjuru padang rumput itu. Semua perhatian jadi tertuju pada robot raksasa dengan label Mr G dibagian bawah dadannya itu dan mereka semua tau siapa Mr G.
Heilen bingung bagaimana menjawabnya.
Itu benar-benar suara Arthur, bagaimana bisa ia sampai di sini.Selalu saja penuh kejutan. Heilen membatin.
“Heilen, robot itu memanggilmu. Oooooow…,’’ desis Reene dengan bibir membulat takjub sembari menyikut pinggang Heilen.
Heilen melambaikan kelima jarinya spontan pada robot itu, Ia tersenyum simpul dengan pipi memanas di dalam head armornya, jelas Arthur tak bisa melihat wajahnya.
“Heilen!’’ panggil robot raksasa itu lebih keras, kemudian lengan besar itu menunjuk sebuah layar monitor yang tiba-tiba menyala pada bagian dadanya dan di sana tertera sebaris kalimat manis yang mencuri perhatian semua orang yang ada di padang rumput itu, merekapun tak bisa berpaling.
When I’am with you, it feels like home. Will you be my home?
“Oh my god, robot itu menembakmu! Dia menembakmu! Say yes, Heilen! Say yes…!’’ teriak Reene geregetan.
Heilen membuka head armornya. Ia ingin melihat lebih jelas dan nyaman apa yang ada di hadapannya. Ia membaca kembali kalimat yang tertera pada layar monitor di dada robot raksasa itu. Ia menutup mulutnya dengan jari mengepal, tak bisa menyembunyikan nervous yang menderanya.
Heilen tak tahu Arthur sedang menahan tawa melihat wajahnya yang tertutup cat hijau tebal, mengingatkan Arthur pada malam-malam dingin yang mereka lewati di lembah Pansjhir Afghanistan.
“Apakah nanti Astrogun akan menyewakan robot itu, Aku juga ingin terlihat keren seperti itu saat menyatakan perasaanku pada seorang gadis ,’’ canda salah seorang Sealman yang berada di sekitar padang rumput itu.
“Love birds, naahhhaaahahaha….,” Kekeh Zeus, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia baru saja mengamankan para tawanan dengan mengaitkan dan mengunci borgol mereka pada sebuah pegangan baja di bagian pinggir tank. Kemudian memerintahkan beberapa anggota the team untuk menjaga tawanan-tawanan itu. Sebentar lagi helikopter MH-47G akan segera membawa para tawanan ke kapal induk.
Arthur masih menunggu jawaban Heilen, menunggu Heilen memberikannya sebuah tanda. Ia yakin akan mendapatkan jawaban sesuai harapan, namun tetap saja hatinya risau menunggu.
“Hmmm……..rambutku memutih menunggu jawabannya,” Chen mulai mengusik Arthur.
“Diamlah atau bicara dalam hati saja!” sahut Arthur seenaknya.
Chen tersenyum smirk.
‘’Heilen..’’ panggil Arthur lagi sambil mengerakkan lengan God of Beast untuk menunjuk tiga tanda tanya yang baru ia tampilkan di layar monitor.
Bukan hanya Arthur, para sealsman juga turut tegang menunggu jawaban Heilen.
Perlahan Heilen menganggukkan kepalanya.Bagaimana bisa ia menolak pria yang tak pernah hilang dari pikirannya itu.
“Hoooaaaaa……..."
prok…prok…prok…. prok…prok…prok….!!
Kehebohan para sealsman itu pun tak bisa dihindari.
“Aku jadi merindukan rumah,’’ desis Hercules.
__ADS_1
"Aaaaahh... Heilen, aku terbawa... " ucap Reene haru.
God of Beast bergerak membelakangi Heilen dan Reene, sebuah pintu otomatis pada bagian punggung robot itu membuka dengan bergeser ke samping kiri dan kanan ala pintu jepang (sliding door). Kemudian sebuah tangga menjuntai dari bagian bawah smartdoor itu.
Sosok dengan kostum humanbot putih muncul dari pintu itu, ”Heilen, kemari, naiklah!” seru Arthur dari balik helm pilotnya.
Heilen melongo, masih takjub dan tak percaya. Reene pun menyikutnya lagi, “Jangan melongo, lekas datangi dia.Kalau tidak aku saja yang menemaninya mengendarai robot raksasa itu, hehehehe…..,” canda Reene.
Heilen tersadar dan mulai melangkah menuju Arthur yang mengulurkan tangan untuknya dari dalam kokpit. Arthur membantunya naik dengan menggenggam tangannya erat.
“Disini sempit, bagaimana aku bisa duduk,” keluh Heilen saat melongokkan kepalanya ke dalam kokpit.
Arthur masuk dan duduk terlebih dahulu sebelum Heilen menapakkan kakinya di kokpit sempit itu, ”duduklah di pangkuanku,’’ucap Arthur santai.
“Haah, haruskah seperti itu? Aku tidak mau,’’ ketus Heilen spontan membuat Arthur tersentak.
“Ayolah, aku tak akan merasakan apapun karena aku memakai kostum humanbot yang kaku dan keras ini," Arthur berusaha menjelaskan.
‘’Bukan begitu maksudku, aku cuma takut nanti kamu merasa tidak nyaman,” sahut Heilen salah tingkah mendengar kalimat Arthur yang terbuka dan frontal. Oh tidak, maksudku aku yang akan merasa tidak nyaman. Sambung Heilen namun hanya sebatas di dalam hatinya saja.
Heilen memasuki kokpit dengan perasaan tak menentu. Ia memandang lagi kostum humanbot yang menutup Arthur dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Aku tak bisa memandangnya dan dia tak bisa menciumku, gerutu Heilen dalam hati.
Ish, apa yang ku pikirkan. Aah tidak-tidak, batinnya lagi berusaha menepis hasrat alaminya.
"Oke, oke.Sori aku sedikit nervous di dekatmu," ucap Heilen jujur dan itu membuatnya lega.
Heilen membiarkan tubuhnya luruh dipangkuan Arthur dengan kondisi hati yang dilanda badai. Badai hasrat yang menggelora. Ia merasa ingin disentuh namun semua terhalang kostum humanbot itu.
"Ternyata tubuhmu berat juga," canda Arthur.
"Benarkah? Tapi berat tubuhku ideal dan bentuk tubuhku proporsional," kilah Heilen tak percaya.
"Euumm.. Hahahahaha.., aku suka semuanya,"
"Issh..,"
"Oya God of Beast, perkenalkan ini kekasihku, namanya Heilen atau kau bisa panggil dia Athena - 1609. Gadis paling cantik dan paling galak, jadi bersikap baiklah padanya," goda Arthur lagi. Ia benar-benar sedang berbahagia dan kalimat Heilen tentang tubuhnya membuat Arthur semakin gemas.
"Peluk aku yang erat, kita akan terbang mengitari pulau yang indah ini," Gumam Arthur.
"Apakah ini kencan?" tanya Heilen tiba-tiba sembari melingkarkan lengannya mengitari punggung Arthur. Ia duduk menyamping sehingga wajahnya masih bisa melihat keluar melalui material bening dihadapan pilot deck.
Beruntung tubuh Heilen menjadi mungil dalam dekapan tubuhnya yang tinggi. Arthur masih bisa mengoperasikan pilot deck dengan leluasa meski tubuh Heilen berada diantara kedua lengannya.
"kalau kamu menyukainya ini akan jadi kencan pertama kita, apakah kamu suka?"tanya Arthur sembari menarik tuas dan melakukan lepas landas. God of Beast pun melayang perlahan. Arthur sengaja memperlambat kecepatan agar Heilen bisa menikmati pemandangan di luar.
__ADS_1
" Aku sangat suka, ini luar biasa." Gumam Heilen takjub. Palmyra Atoll sangat indah dilihat dari ketinggian. Seperti surga kecil yang melambai-lambai. Mereka berdua larut dalam kebahagiaan, melewati momen yang memang luar biasa itu.
Arthur semakin berhasrat untuk mencium Heilen bertubi-tubi namun ia harus bersabar karena kostumnya tidak memungkinkan.
"I love you," ucap Arthur singkat.
"Apaa?? Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Heilen ragu dengan apa yang dia dengar barusan.
"Tak ada siaran ulang," Arthur berakting merajuk menggoda Heilen.
"Heeumm... ayolah ulangi, aku kurang jelas mendengarnya," pinta Heilen.
Arthur belum sempat menjawab Heilen sudah mulai berteriak lagi. "Waw, kita diatas lautan pasifik!" Pekik Heilen kagum melihat pemandangan laut luas tanpa batas yang seolah-olah menyatu dengan langit.
Sementara itu Chen masih melongo menyaksikan GOB merah terbang membawa Arthur dan Heilen mengudara. Ia coba berbicara namun ternyata Arthur telah menonaktifkan alat komunikasi mereka. Ia pun faham kalau Arthur tak ingin diganggu.
Dan bukan Chen kalau tidak iseng.
"Hei, gadis manis teman Heilen, mau melihat-lihat pemandangan alam indah denganku?" tanya Chen dengan pengeras suara kepada Reene yang sedari tadi memperhatikan robot warrior itu.
"Oh, aku??" tanya Reene sembari menunjuk dadanya sendiri dan menoleh ke kanan dan kiri kalau-kalau si pilot Robot warrior itu bukan berbicara padanya tapi pada orang lain.
"Iya kamu, " tegas Chen ,
"Zeus kapten Seals, kami izin berjalan-jalan sebentar, " Chen meminta izin Zeus.
Zeus hanya memberi kode jempolnya tanpa berkata apapun.
"Bagaimana?" ulang Chen pada Reene.
"Oke, aku sangat ingin. Yess! " jawab Reene antusias.
Chen membuka smartdoor dan mempersilakan Reene untuk naik.
"Duduklah di pangkuanku," pinta Chen pada gadis tentara itu.
"Ok, anda sangat baik dan luar biasa teman Mr G" sahut Reene sembari mendudukan diri di pangkuan Chen tanpa canggung.
"Apakah kamu sudah punya kekasih," tanya Chen begitu saja.
"Aku memang satu leting dengan Heilen tapi aku sudah menikah tahun lalu dan memiliki seorang putri, apa kau keberatan menikmati pemandangan indah bersama seorang ibu muda? " Reene berkata penuh selidik
"Oh , eh...Oh No, no!tentu saja aku tidak keberatan, hehheeehe..., "sahut Chen menutupi sedikit rasa kecewanya.
Ah, tak apa. Membahagiakan orang lain tak ada salahnya. Gumam Chen dalam hati menghibur diri. GOB biru itu pun melesat menyusul Heilen dan Arthur.
#bersambung
__ADS_1