
Rumah Clara Hamilton
Heilen dan Clara baru saja tiba di rumah. Suasana rumah sudah sangat sepi.
"Heilen, maaf sebelumnya. Bukannya aku mencampuri masalah pribadimu, sebenarnya apa yang membuatmu sangat sedih dan terlihat kacau malam ini. Aku melihat dan merasakannya, kamu tak bisa menyembunyikan itu dariku," cicit Clara sembari menghempas tubuh di sofa dan melepas sepatunya.
"Aku..., aku.. ,haaah.. Clara aku belum bisa menceritakannya sekarang," jawab Heilen mengikuti gerakan Clara, menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.
"Ada hubungan apa antara dirimu dengan Mr G? Dia pergi meninggalkan kami begitu saja saat aku menyebut namamu, " selidik Clara curiga.
"Kenapa aku? Bukankah dia dekat dengan Rossie, kamu yang bilang kalau mereka bersama," Ketus Heilen.
"Hmm, setahuku Rossie yang melakukan pendekatan padanya selama ini tapi dia tetap dingin dan tak merespon."
"Oh, begitu. Benarkah?" Heilen bereaksi bagai mendapatkan energy baru.
"Hanya saja kemarin Rossie bilang kalau hubungan mereke sekarang ada peningkatan. Arthur mengiriminya buket bunga yang indah beberapa hari yang lalu," cerita Clara sesuai dengan apa yang di dengarnya dari Rossie.
Jleb. Binar indah di manik Heilen kembali meredup. Clara tak sadar tengah menabur garam di atas rasa sakit Heilen. Rasa sakit yang tak bisa di jelaskan.
"Oh..," reaksi Heilen getir.
"Baiklah kalau kamu belum ingin menceritakan apapun padaku sekarang," ucap Clara akhirnya.
"Sekarang istirahat dulu, besok aku akan mengantarmu ke bandara dan Felix yang akan menjemputmu di Bandara San Diego," lanjut Clara lagi.
"Ok, Clara. Terimakasih banyak untuk malam ini yang begitu tak terlupakan. Benar-benar malam yang luar biasa. Aku tak akan pernah melupakan malam ini seumur hidupku. Sekali lagi aku sangat berterimakasih, Clara," gumam Heilen lirih, lalu berlalu ke kamar tidur yang telah disediakan untuknya.
Clara belum sempat menjawab Heilen. Ia hanya memandang gadis itu iba. Entah permasalahan apa yang membuat Heilen menjadi tak terbuka padanya, Clara belum bisa membacanya. Namun ia yakin ini ada hubungannya dengan Geon Arthur Yildiz aka Mr G, feeling Clara begitu tajam.
Clara menarik nafas berat, tak tahu bagaimana cara menghibur Heilen. Ia pergi mengecek Eve dan Douglas, keduanya sudah tertidur lelap. Begitu juga grandma dan grandpa-mereka.
Clara kemudian memutuskan untuk turut beristirahat dalam sebuah tidur yang lelap.
*
*
*
Tengah malam yang sunyi suara piano berdenting, mengiringi sebuah lagu sedih "Somewhere Only we know" dari Keane, namun lagu ini telah dicover oleh banyak penyanyi, mungkin karena lagu ini benar-benar mewakili hati yang sedih saat kehilangan seseorang yang sangat disayangi.
Heilen memainkan piano milik Douglas dengan piawai, suara indahnya mengalun lirih.
Clara terbangun oleh alunan pilu lagu yang dibawakan Heilen. Clara mulai menyadari kesedihan Heilen sangat dalam. Sekali lagi ia hanya bisa membiarkan gadis itu menghayati kesedihannya.
Saat ia siap ia pasti akan bercerita padaku, gumam Clara dalam hati.
...----------------...
ASTROGUN CORP,
Keesokan harinya,
"Arthur bisakah aku berkeliling Astrogun sebentar, anggap saja study banding. Siapa tahu aku bisa mengadopsi security sistem milik Astrogun untuk diterapkan di SINAGA Group, dengan bantuanmu tentunya, hehe..., " pinta Adam Sinaga membuka obrolannya pagi ini dengan si saudara sepupu berwajah datar yang ia punya.
"Kurasa perusahaanmu tidak memiliki ancaman keamanan sebesar Astrogun, itu hanya akan mengakibatkan pembengkakan anggaran,"sahut Arthur sembari membenarkan kerah kemeja dan letak dasinya.
" Oke,anda benar, tapi paling tidak wawasanku bisa bertambah mengenai dunia persenjataan modern dan futuristic,"
"Boleh,silakan. jangan lupa menutup mulut untuk apa-apa yang tak perlu diungkap ke luar. Dan maaf aku hanya bisa menemanimu berkeliling hanya sebentar, karena aku banyak urusan yang lain."
"Baik, anda dimaafkan," sahut Adam Sinaga lagi-lagi dengan gayanya yang selalu bossy.
Arthur hanya melengos. Ia sudah faham dan maklum dengan kelakuan putra tunggal Reyhan Sinaga ini.
Adam Sinaga mengikuti kemana saja kaki Arthur melangkah dengan beragam komentarnya yang kadang membuat panas telinga Arthur. Sesekali ia terheran-heran namun lebih sering ia berdecak kagum dengan semua kecanggihan yang ada di Astrogun.
"Arthur, aku tak menampik kalau semua kecanggihan teknologi sangat membantu pekerjaan manusia. Teknologi AI yang aku lihat di sini benar-benar wujud nyata dari semua ekspektasi kebanyakan umat manusia di luar sana. Tapi, aku pernah mendengar teori singularitas teknologi, dimana suatu masa ketika Artificial Intelegensi akan berkembang melebihi kecerdasan manusia , dapat mengubah peradaban dan umat manusia," cecar Adam Sinaga sembari menyelaraskan langkahnya dengan langkah Arthur.
"Teori itu hanya berupa hipotesa, bukan empiris," sahut Arthur singkat.
__ADS_1
"Pencipta menciptakan ciptaannya tidak lebih baik dari dirinya. Tapi sebaik apapun manusia sebagai pencipta mengatur dan mengontrol ciptaannya, pasti ada bug sistem yang akan terjadi. Menurutku,jika AI terus-menerus ditingkatkan tanpa batasan,suatu saat ia akan memilki kecerdasannya sendiri dan menolak semua perintah atau program yang kita berikan," cecar Adam lagi belum puas.
"Wow.., luar biasa," sela Chen yang berjalan di belakang kedua saudara sepupu itu. Chen sudah terbiasa melihat keduanya beradu argumen dan kali ini topik mereka sangat menarik menurut Chen.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?Pesanku jangan terlalu banyak membaca novel sci-fi, atau film sci-fi. Perbanyaklah membaca berita perkembangan ekonomi dan pasar," sindir Arthur.
"Arthur, aku mengawasi dengan jeli di lab kalian tadi, AI kalian tidak hanya di rancang untuk mematuhi program, tapi ada AI kalian yang dirancang untuk belajar dan beradaptasi sendiri seperti manusia, itu mengerikan. Aku pernah membaca berita kalau Mark Zuckerberg menghentikan fungsi dua chat bot berbasis AI yang diciptakan Facebook, karena kedua chatbot itu mulai berbicara satu sama lain menggunakan bahasa kode dimana hanya mereka berdua yang mengerti, para chatbot itu menolak menggunakan bahasa Inggris yang telah diprogramkan. Arthur, aku lebih condong ke Elon Musk kalau AI itu berbahaya" pungkas Adam Sinaga serius.
"Itulah sebabnya, bila kau meracik racun jangan lupa meracik penawarnya," sahut Arthur lugas untuk menutup perdebatan dengan Adam Sinaga yang tak kan ada habisnya.
Sungguh manusia paling pelit bicara, racau Chen Yuan di kepalanya.
Setelah pemaparan Adam Sinaga yang panjang lebar, Arthur menjawabnya hanya dengan beberapa kata.
"Adam, ikutlah dengan Chen ada hadiah untukmu. Chen akan mengurus semua keperluanmu selama di sini. Aku harus ke San Diego sekarang," tukas Arthur.
"Jauh sekali, ada urusan apa? bertemu Heilen ya? Rachel bilang rumahnya di San Diego," selidik Adam.
"I.. ya!" ketus Arthur.
"Setelah mencintai wanita aku baru sadar, sebenarnya bukan wanita yang memperbudak kita, tapi perasaan kita sendiri," Adam kembali bermain kata, kali ini Arthur benar-benar mual dibuatnya.
"Kalau kamu ingin melanjutkan bicara, sebaiknya cukup dalam hati, saja.Chen temani dia, kurasa kalian serasi," pungkas Arthur kemudian berlalu dari Adam dan chen diikuti oleh Alexus dan para bodyguard-nya.
...----------------...
Amphibious Naval Base (NAB), Little Creek, Coronado, San Diego, California
Kedatangan Arthur ke NAB bukan hanya untuk mengunjungi Heilen dan meminta maaf, melainkan juga ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Laksamana Spencer.
Laksamana Spencer dan beberapa orang pejabat tinggi Navy Seals lainnya menyambut Arthur dengan hangat.
Kedatangan Arthur dan timnya yang begitu gamblang tentu saja membuat kehebohan di NAB. Penghuni NAB sudah sering mendengar nama Mr G sebagai CEO Astrogun, namun jarang yang pernah melihatnya secara langsung.
Arthur telah memutuskan untuk terbuka mengenai profil profesionalnya sejak malam NASA FUTURE PLANS yang membuat Heilen sangat kecewa padanya.
Para Sealsman dan Sealswoman memperhatikannya dengan intens. Sementara ia berjalan dengan wajah datar dan tak perduli.
"Mr G, suatu kehormatan bagi kami atas kedatangan anda di NAB, kami sampaikan terimakasih atas semua ini," ucap Laksamana Spencer.
"Tiga hari dari sekarang. Armada dan personil Seals Team Five sudah siap."
"Kabar yang baik. Oya Laksmana aku sebagai pimpinan tertinggi Astrogun meminta izin untuk memberangkatkan armada khusus kami yang akan membantu tim kalian di Palmyra Atoll. Dalam hal ini kami akan berperan sebagai team cadangan yang akan bergerak jika team seal benar-benar membutuhkan bantuan,apakah laksamana setuju?"
"Kerjasama kita sudah sangat lama terjalin, kami percaya anda Tuan Yildiz. Kami menerima usul anda dengan senang hati tentunya dan semoga semuanya berjalan lancar," jawab Laksamana Spencer.
"Anda memang terbaik Laksamana. Kami tidak akan mengecewakan anda. O ya, bagaimana dengan Personil medis Seal team Five Heilen Putri Munaf, apakah aku bisa mengunjunginya secara pribadi?" lanjut Arthur lagi sembari mempertanyakan permintaannya kepada Laksamana Spencer melalui sambungan telepon pagi tadi.
"Oh, sebentar tunggu Dylan sedang memanggilnya,aku sudah mempersiapkan ruangan khusus untuk kalian berbicara secara pribadi seperti yang anda minta," tukas Laksamana Spencer.
"Permisi, Hormat Laksamana.lapor, aku sudah memanggil Heilen Putri Munaf."
"Bagaimana?" tanya Laksamana Spencer.
"Dia bilang dia masih letih karena baru tiba setelah tugasnya sebagai salah satu perwakilan SEALS ke NASA FUTURE PLANS. Dia juga bilang tidak mengenal Mr G atau Geon Arthur Yildiz, kedua nama itu bukan tamunya."
Oh, Sh*i*t!! batin Arthur spontan.
"Hei, Mr G. Aku tahu kisah kalian di Afghanistan. Jika hubungan kalian sedang diuji, bersabarlah, karena sabar adalah bentuk cinta yang paling lembut dan tinggi. Mungkin ada hal yang sedang mengganggunya, itulah sebabnya pria harus pandai merayu.Ku lihat anda terlalu sibuk dan sepertinya tak pandai merayu, hehehhehe... Sori Mr G," petuah Laksamana Spencer kepada Arthur sekaligus menilai Arthur secara jujur.
"Anda benar, Laksmana. Tapi bagaimana aku bisa merayunya jika dia tak mau bertemu."
"Hahaha... Tuan Yildiz mungkin anda terlalu banyak bergaul dengan piranti, robot dan AI. Merayu itu bukan hanya dengan ucapan atau buaian. Saat wanita bilang ia tak ingin apa-apa sesungguhnya mereka sedang berdusta. Anda bisa berikan sesuatu padanya, seikat bunga mungkin, atau hal lain yang dia suka," Laksamana Spencer terus menasihati Arthur dengan bijak.
Aku bahkan tak tahu benda kesukaannya, dia pantas memanggilku pria bodoh. Arthur merutuk dirinya sendiri di dalam hati.
"Baiklah, Laksamana, aku akan mencari Heilen kembali pada saat yang tepat," Arthur berpamitan.
Laksamana Spencer mengantarkan Arthur kembali ke bus mewah The Vantare Platinum Plus, yang didalamnya tersedia fasilitas ala hotel bintang lima. Semua disediakan Denzel yang mengurus cabang Astrogun di California.
Saat Arthur berjalan di sebuah koridor pada bagian bangunan NAB, ia melihat sosok remaja yang tak asing lagi baginya bersama seorang gadis tanggung di sisinya.
Spontan Arthur menghentikan langkahnya, "Darren..., " desisnya.
__ADS_1
"Laksamana, trimakasih atas sambutan anda. Cukup antarkan aku sampai di sini saja, aku ada perlu dengan teman kecilku, " jelas Arthur pada Laksamana Spencer.
"Hmmm, baiklah Mr G. Semoga semua urusan anda berjalan lancar. Kami akan selalu terbuka untuk kunjungan anda kapan saja. Dan aku akan mencoba berbicara dengan Heilen, karena kami cukup dekat." sahut Laksamana Spencer.
"Trimakasih, Laksamana, " ucap Arthur sebelum Laksamana Spencer berlalu meninggalkannya.
Kini tinggal Arthur diiringi Roboguard Alexus, Bend, dan timnya.
Sementara itu Darren sedang menunggu Heilen bersama Freya yang tak mau jauh-jauh darinya.
Darren yang tak sempat bertemu Heilen saat hari Heilen meninggalkan rumah, merasa bersalah dan rindu pada Heilen sehingga ia memutuskan untuk mengunjungi Heilen di NAB.
Perhatian Darren dan Freya tertuju pada pria dengan visual luar biasa megagumkan yang berjalan diiringi sebuah roboguard dan pengamanan ketat para pengawalnya.
"Pria itu seperti papa, kemana-mana selalu dalam pengawalan. Sungguh hidup yang membosankan, " keluh Freya.
"Tapi dia kelihatan kren Freya. Disamping para pengawalnya, dia juga dikawal sebuah roboguard. Itu pasti harganya sangat mahal, mungkin dua atau tiga juta US dolar," tanggap Darren.
"Papa juga punya roboguard," pungkas Freya.
Darren tak menjawab Freya karena ia mulai sadar kalau pria yang mereka bicarakan sedang menuju ke arah mereka.
"Freya, sepertinya pria itu sedang mendatangi kita, " bisik Darren.
"Hei, iya! Apa kau mengenalnya?" tanya Freya.
"Tidak sama sekali, mungkin dia..., " ucapan Darren terputus karena sosok pria tinggi proporsional itu kini tepat berdiri di hadapannya.
"Ekhem.., Darren bagaimana kabarmu?" tanya Arthur sok kenal sok dekat walaupun dia hanya mengenal Darren lewat mata camera roboguard Athena yang mengawal Heilen saat berusaha menyelamatkan Darren di rumah Gerald Gremio.
"Aku baik-baik saja, tapi bagaimana kau tahu namaku?Kita baru pertamakali bertemu," sahut Darren tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia memandang kagum pria dihadapannya. Sangat ekslusif, kharismatik dan berkuasa menurutnya.
"Tentu saja aku tahu dari Heilen, perkenalkan aku Mr G atau Geon Arthur Yildiz," ucap Arthur hangat sambil mengulurkan tangannya pada Darren.
"Woww, aku bertemu tokoh keren! Bukannya anda founder ASTROGUN perusahaan robotics dan persenjataan militer terkenal itu, Amazing! Aku Darren," Pekik Darren tak kuasa menahan kegirangannya.
"Perkenalkan, Aku Freya Gremio. Ayahku juga orang yang hebat," Tukas Freya Gremio tak mau kalah sembari mengulurkan tangannya kepada Arthur.
Arthur tersenyum kecut melihat kedewasaan Freya Gremio yang belum tepat waktu.
"Geon Arthur Yildiz," sahut Arthur sembari menyambut uluran tangan Freya Gremio.
"Tuan Astrogun, bagaimana bisa kau mengenal kakakku Heilen? Dia sulit ditemui dan susah bergaul. Aku takut anda adalah salah satu korbannya karena dia sering menghajar orang sembarangan," ujar Darren masih tak percaya kalau Heilen bisa berkenalan dengan pria keren.
Arthur menahan tawa kecilnya mendengar Darren memanggilnya Tuan Astrogun.
"Dia pacarku, yah kurang lebih begitu, hanya saja dia sedang marah saat ini. Darren, bisakah kamu beritahu aku barang-barang kesukaan Heilen?" tanya Arthur frontal.
"Whooat??!! Pacar??" Netra Darren mendelik, maniknya berotasi aneh.
"Kenapa?"ucap Arthur santai sambil duduk sesukanya disisi Darren pada kursi besi panjang tempat Darren dan Freya menunggu Heilen.
" Heilen tak pernah bercerita kalau dia punya pacar baru yang keren, dia pasti sengaja merahasiakannya,"
"Sssttt...,orang dewasa tak suka publikasi dan mengumbar hubungan mereka," ucap Arthur lagi.
Freya menyeringai kesal mendengarnya. Ia merasa pria itu menyindirnya.
"Darren, dengar. Kalau kamu bisa diajak kerjasama dengan baik, aku akan berikan salah satu drone kesayanganku untukmu," bujuk Arthur.
"Tenang saja, aku pasti bisa diandalkan," sambut Darren antusias.
"Ini simpan kartu namaku, dan segera kirimi aku nomor ponselmu nanti."
"Oke, segera,"Darren makin bersemangat.
"Aku berencana memberi hadiah untuk Heilen, tapi aku tidak tahu barang kesukaannya.Kamu pasti tahu jadi beritahu aku sekarang," tanya Arthur serius.
"Kemari, mendekatlah..., aku beritahu,"
Arthur mendekatkan telinganya ke wajah Darren. Kemudian Darren membisikkan sesuatu di telinga Arthur.
"Whooaat???!! " Kini giliran Arthur yang harus terperanjat.
__ADS_1
#bersambung