The Athena Code

The Athena Code
55. Proyek Rahasia


__ADS_3

San Diego, Present time


Heilen baru saja selesai membantu Darren dan murid-murid senior karate academy untuk membereskan semua pernak-pernik sisa pesta kecil penyambutannya.


Pekerjaan yang tampak sepele namun ternyata cukup menyita waktu dan tenaga. Frans juga turut membantu mereka hingga beres, rumah dan halaman pun tampak kembali rapi. Beruntung si baby Lala sedang tertidur pulas jadi Heilen bisa berkegiatan dengan lebih leluasa.


Heilen duduk beristirahat di bangku taman belakang sambil menyeka peluh yang jatuh di pelipisnya. "Darren, papa dan mama kemana? " Tanyanya. Ia tak melihat papa dan mamanya sejak pesta usai, begitu juga baby Lala tidak terdengar celoteh lucunya sedari tadi.


"Mama dan papa bilang tadi mereka sedang bersiap-siap untuk pergi." Frans berinisiatif menjawab sambil turut duduk di salah satu bangku taman.


"Dokter Frans, pulanglah atau kembali ke kantormu. Kasihan pasienmu menunggu. " Tukas Heilen.


"Kamu tau aku bisa datang dan pergi ke kantor kapan saja, seharusnya kita berdua yang mengurus rumah sakit itu sekarang." Sahut Frans berusaha mengembalikan ingatan Heilen pada impian mereka berdua di masa lalu.


"Sudahlah Frans, aku muak melihatmu seharian di sini dan mendengarmu mengoceh. " Jawab Heilen ketus. Seharusnya liburannya menyenangkan tapi Frans terus-menerus mengganggunya dan merusak mood-nya.


"Heilen, kenapa tak ada kesempatan kedua buatku? Aku akan memperbaiki semuanya. " Lanjut Frans gusar.


Ponsel Heilen bergetar.


Drrrrrttttt,


Heilen sudah tak ingin mendengarkan apa-apa lagi dari Frans, ia beranjak dari bangku taman seraya memainkan ponselnya , sambil berjalan masuk ke dalam rumah ia mengharapkan sebuah pesan dari sosok yang mulai ia rindukan, Arthur.


Heilen membuka kunci layar ponselnya dengan antusias dan menemukan sebuah pesan dari nomor Mr. G, wajahnya berubah datar. Benar-benar keterlaluan , setelah semua perlakuan manisnya di Swiss Arthur belum menghubunginya sama sekali. Ia kesal.


Ia membuka pesan dari Mr. G.


Gadis hijau, bagaimana dengan paket yang aku kirimkan? (Mr.G)


Sangat luar biasa, dari hati yang paling dalam aku ucapkan trimakasih. Tapi robot humanoid itu aku tak pernah memintanya dan itu terlalu mahal, aku tak mau merugikanmu walaupun aku menyukainya :). (Athena-1609)


Kalau kamu menyukainya, kamu boleh memilikinya. (Mr.G)


Heilen tersenyum manis, ada kesejukan yang mengalir di ruang hatinya membaca pesan terbaru dari Mr G.


"Heilen, dipanggil papa sama mama tuh. " Teriak Darren dari ruang tengah saat Heilen baru saja akan membuka pintu kamarnya.


Heilen menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati sang adik. "Dimana mereka? " Tanya Heilen.


"Di taman belakang bersama baby Lala dan Frans. " Sahut Darren sambil merebahkan tubuhnya di sofa dengan malas.

__ADS_1


"Mengapa Frans selalu di rumah ini sepanjang hari? Apakah dia saudara kita?! " Ketus Heilen kesal.


"Apa salahnya, dia calon kakak ipar yang baik. " Sahut Darren sesuka hatinya.


"Cihh.... " Heilen bersungut kesal sembari melemparkan bantal sofa dengan tepat ke wajah daren yang tengadah sambil tiduran.


"Owh, sial." Pekik Darren kaget.


"Rasain tuh. " Balas Heilen sambil berlalu.


"Ishhh... Kakak bandel! Ingat janjimu untuk mentransferku, aku butuh seribu dolar. " Cecar Darren.


Heilen hanya mendengar dari kejauhan teriakan Darren. Adik yang sangat ia rindukan ketika ia jauh, namun saat sudah berdekatan Darren sangat pandai membuatnya kesal. "Buat apa uang sebanyak itu, dia masih SMU, ishh!! " Gerutu Heilen. Ia memang menjanjikan sejumlah uang untuk Darren setelah menerima honor seratus ribu dolar dari Arthur yang ditransfer oleh Kamila.


"Halo momi.., halo momi... "


"ayomi.. ayomi.. "


"Halo momi.., halo momi... "


"ayomi.. ayomi.. "


"Lala, kamu lucu sekali, iiih. " Tukas Heilen gemas. Ia sangat suka pada bayi, balita dan anak-anak yang lucu. Heilen sangat senang menggoda mereka, hanya saja ia belum mahir dalam merawat dan mengasuh mereka. Bagaimana tidak? Sebagian besar waktunya dihabiskan dimedan peperangan yang keras.


Sambil mengelus-elus pipi baby Lala, sudut mata Heilen menangkap tampilan papa dan mamanya yang sangat rapi luar biasa.


"Heilen, Papa dan mama harus pergi siang ini juga ke Virginia. Ada urusan bisnis yang sangat penting dan mendadak. " Ujar Ahmad Rizal Munaf sebelum Heilen mulai bertanya.


"Oh, urusan bisnis. Tapi pa, Virginia jauh sekali , bagaimana dengan baby Lala? " Tanya Heilen bingung karena memang mereka tidak memiliki baby sitter dan Heilen merasa kecewa ditinggalkan oleh papa dan mamanya di saat ia berada di rumah, setelah setahun lebih harus jauh berada di Jakarta.


"Mama sudah menyiapkan semua catatan untukmu di kamar Lala tentang bagaimana menangani dan merawatnya. Saatnya belajar menjadi ibu. Hehehhehe.. " Ucap Antonia menertawakan kepanikan Heilen.


"Bisnis apa yang papa mama jalankan? Sepenting itukah sehingga harus meninggalkanku di saat sisa liburku yang hanya satu hari?" Cicit Heilen merajuk dengan mengembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya.


"Ini proyek dengan nilai yang sangat besar, sayang. Papa bisa mengambil pensiun lebih cepat jika proyek ini berhasil. Sudahlah jangan banyak mengeluh, sejak kamu mengadopsinya kamu sudah menjadi seorang ibu, sekarang kesempatanmu untuk belajar menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Papa sudah beritahu Frans untuk membantumu. Dia pamit kembali ke kantornya dulu, sore nanti ia akan kembali kemari. "Tutur Ahmad Rizal Munaf lagi.


" Papa, kenapa harus melibatkan Frans. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak suka dia selalu berada di rumah ini, dia bukan siapa-siapa lagi pa!" Ketus Heilen kesal.


"Heilen, kalian masih muda. Masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Papa lihat dia sangat menyayangimu dan sangat menyesali kesalahannya. Kita semua manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Berikanlah kesempatan pada Frans." Lanjut Ahmad Rizal Munaf.


Heilen menciumi pipi baby Lala yang masih berada digendongan Antonia berulang-ulang, lalu ia duduk pada bangku taman sembari menghela nafas berat.

__ADS_1


"Papa aku sudah menemukan orang lain." Ucap Heilen ragu.


"Maksudmu, sebuah hubungan yang baru? Apakah hubungan kalian serius? " Tanya sang papa antusias. Ahmad Rizal Munaf adalah tipe orang tua Indonesia garis keras yang selalu khawatir akan jodoh anak gadisnya yang dirasa sudah cukup umur. Berbeda dengan Antonia, sangat santai tentang hal itu, Ia type orang tua Barat pada umumnya.


"Hmm.. bisa dibilang begitu. Hanya saja kami belum punya banyak waktu untuk sering bertemu saat ini. " Kilah Heilen sambil berpaling menyembunyikan wajahnya dari sang papa, karena ia sendiri masih ragu mengenai hubungannya dengan Arthur.


"Papa tetap mengembalikan semua keputusan padamu. Papa yakin kamu tahu siapa yang terbaik buatmu. Kapan-kapan kenalkanlah pria itu pada papa dan mama. Oya , papa ingin tahu apa pekerjaannya sehingga ia begitu sibuk?" Tanya Ahmad Rizal Munaf tanpa tedeng aling-aling. Baginya pekerjaan yang baik adalah salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan. Ia ingin anak gadis kesayangannya hidup dengan layak.


"Mmmm... dia anu pa, dia seorang pelukis." Jawab Heilen sekenanya.


"Apa? Kedengarannya itu bukan pekerjaan yang menjamin. " Sela Antonia. "Mama akan kenalkan padamu pria yang lebih dari seorang pelukis. " Tukas Antonia lagi.


Heilen mendengus kesal dengan sikap papa dan mamanya yang lebih sering menilai seseorang dari strata ekonominya.


"Dia juga seorang Hardware engineer. " Lanjut Heilen, mengingat Arthur juga pernah bekerja di kemenhan RI sebagai Hardware engineer seperti yang didengarnya dari Rachel. "Pelukis itu pekerjaan sampingannya. Tapi aku sedang tidak ingin membahas hal ini sekarang. Aku sedang memperioritaskan karirku yang terancam di Navy Seal. " Tegas Heilen menutup pembicaraan yang membuatnya merasa tidak nyaman tersebut.


"Oke, Papa dan mama berangkat sekarang. Tolong rawat bayimu dengan baik. Jangan lupa ganti popoknya sebelum dia menangis. " Pesan Antonia kepada Heilen sembari menyerahkan baby Lala ke dalan pelukan Heilen.


"Iya ma, tentu saja. Mari sini baby lucu, cup.. cup.. " Sambut Heilen hangat membuat baby Lala tertawa hingga terlihat lesung pipinya yang mengingatkan Heilen pada gadis gurun Larmina.


Sebuah mobil mewah menunggu Antonia dan sang suami di depan gerbang rumah. Heilen dan Darren yang mengikuti mereka saling memandang heran. Bahkan Astro Air-bus telah disiapkan untuk menjemput mereka secara khusus di bandara, Arthur benar-benar ingin menjalin kedekatan dengan kedua orang tua gadisnya.


"Darren, apa kamu tahu apa proyek baru papa?" Tanya Heilen penasaran sembari menimang-nimang sikecil Lala dalam gendongan kain praktis.


"Papa tidak pernah mau menceritakannya padaku. Papa dan mama bilang itu proyek rahasia. " Jawab Darren datar sambil berlalu dan menguap menahan kantuknya.


Heilen mengerutkan kening heran mendengar jawaban Darren.


Sementara itu Arthur baru saja keluar dari Laboratorium robotic Astrogun. Ia kembali ke ruang kerjanya menggunakan lift khusus.


Ia membuka pintu ruang kerjanya yang langsung terkunci otomatis dan hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka yang juga diketahui oleh Chen Yuan.


Arthur duduk dengan tenang lalu mengambil ponsel utama miliknya. Ia sudah sangat merindukan Heilen. Rindu yang semakin hari semakin membesar. Sudah dua hari ini ia berada di Virginia, dimana seusai acara pertunangan Adam dan Kamila ia langsung terbang ke Virginia.


Arthur mencoba menunggu Heilen menghubunginya. Karena ia tidak tahu kapan jam sibuk atau istirahat Heilen di kesatuannya. Sudah dua hari ini ia menunggu namun tak juga muncul satu pesanpun dari Heilen, akhirnya ia melacak keberadaan Heilen melalui microchips yang sudah ia suntikkan ke dalam tubuh Heilen. Dan ia kaget menemukan Heilen sedang berada di rumahnya di San Diego.


Arthur mengirim pesan kepada Heilen dengan ponsel khususnya sebagai Mr G. Namun itu terasa tak cukup. Ia ingin melihat dan mendengar suara gadisnya.


Arthur meraih ponsel utamanya, menekan nomor ponsel Heilen , mencoba sebuah panggilan video dengan harap-harap cemas.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2