
Virginia, Amerika
Robert Kanumba, Seorang pria kulit hitam berdarah Afrika yang dulunya ditemukan Barbara Clarkson pada awal karirnya di DARPA, ditengah kelaparan dan perang saudara di Somalia pada tahun 1991.
Barbara yang kala itu masih berstatus petugas lapangan dan sering dikirim ke berbagai negara konflik, menemukan Robert kecil tengah mengais makanan sisa dari tempat sampah dan minum dari air kubangan lumpur. Sisi kemanusiaan Barbara terkoyak sehingga ia memutuskan untuk mengadopsi Robert dan membawanya pulang ke Amerika. Memberikan Robert kehidupan yang terbilang mewah juga pendidikan terbaik. Perkembangan Robert sangat luar biasa , selalu membuat Barbara bangga dan kesetiaan Robert padanya tak bisa di ganggu gugat oleh siapapun.
Pada 2011, yakni tahun kedua puluh karirnya di DARPA , Barbara Clarkson membentuk sebuah tim khusus yang bertujuan untuk mengerjakan misi-misi rahasia informal. Misi-misi yang muncul dari ambisi pribadinya. Yang sudah pasti sangat rahasia dan tidak ada kaitan dengan jabatannya sebagai salah satu petinggi DARPA. Tim ini diwajibkan bekerja dalam senyap dan tuntas tanpa jejak , menghilang begitu saja seperti bayangan. Sebab itu Barbara menamai mereka “The Shadows”, Dimana Robert Kanumba ditunjuk sebagai pucuk pimpinannya.
Para personil tim diseleksi dengan sangat ketat dari para eks agen berkualitas tinggi . Syarat utama untuk menjadi seorang Shadow adalah loyalitas yang tinggi kepada Barbara Clarkson, memiliki ketahahan dan ketangkasan fisik luar biasa , smart dengan IQ di atas rata-rata dan terampil menggunakan segala jenis senjata . Baik senjata jenis klasik seperti pedang dan tombak hingga persenjataan modern dengan teknologi paling mutakhir. Seluruh personil mendapat gelar yang sama ‘’Shadow’’.
Beberapa waktu lalu mereka berhasil mengoperasikan robot warrior yang dikirim Barbara dari Proyek rahasia di Palmyra Atoll. Alhasil penyelesaian misi mereka menjadi lebih mudah dan mengurangi resiko kehilangan banyak personil.
Robot warrior itu dapat dioperasikan dari jarak yang cukup jauh, sangat menghemat waktu dan biaya operasional. Tentu saja robot warrior mereka mirip seperti robot warrior yang dikembangkan DARPA dan ASTROGUN karena mereka berhasil meniru prototype yang mereka rampas dari Arthur saat menculiknya dua tahun lalu.
Dan untuk operasinya di Jakarta nanti the shadows akan membawa sebuah robot warrior type ” humanoid” untuk diuji cobakan secara langsung di lapangan, yakni robot yang penampilan keseluruhannya dibentuk berdasarkan tubuh manusia, mampu mengambil keputusan, melakukan gerakan dan interaksi seperti manusia. Dengan kata lain robot ini telah ditanami Artificial Intelegence yakni replika sistem saraf dan kerja otak seperti pada manusia.
Semua atas izin Barbara Clarkson tentunya. Barbara ingin melihat sejauh mana kemampuan robot ciptaan para ilmuwan yang bekerja untuknya di proyek rahasia Palmyra Atoll. Walaupun para ilmuwan itu telah memperingatkan kemungkinan gagal dan eror sebesar lima belas persen, Barbara tetap ingin menyusupkan "Hera” ke dalam misi The Shadows di Jakarta.
Robert Kanumba duduk menyilangkan kaki di kursi kebesarannya. Di sekelilingnya berdiri sekitar sepuluh orang personil The Shadows, tak ketinggalan sang partner Vivian Cecilia Benner. Di hadapan mereka ada sebuah kotak plat baja besar dengan cover terbuka. Robert menekan tombol biru pada sistem remot berbentuk gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tiiiiiit….tiiiiit…!
Terdengar start up sound (bunyi saat alat elektronik dihidupkan) bersamaan dengan bangkitnya sosok dari dalam kotak plat baja itu. Sosok yang awalnya tadi hanya duduk memeluk lututnya, kini sudah terlihat jelas. Sebuah robot warrior type humanoid dengan skin yang sangat cantik dan artistik.
‘’Halo Robert Nakumba the Shadow. Aku Hera, Partner terbaik anda. Aku telah diprogram untuk membantu anda menjalankan misi’’ Ucap sang robot dengan suara yang tak kalah merdu dari suara wanita sebenarnya.
“Wow ..Amazing!’’ Pekik kecil Robert.” Halo juga Hera. Selamat datang di the Shadows. Ku harap kamu mempelajari misi dengan baik sebelum kita beraksi.”Lanjut Robert .
Dia sudah beberapa kali mengikuti Barbara untuk menguji kemampuan Hera, namun dia tetap saja takjub setiap kali melihatnya.
“Perkenalkan wahai The Shadows sekalian, ini robot warrior "Hera" salah satu partner terbaik kita. Ucapkan selamat datang.” Perintah Robert kepada para personil the Shadows.
“Selamat datang Hera, Senang mempunyai partner seperti anda.’’Sambut para Shadow berbarengan.
“Terimakasih. Tolong sebutkan nama kalian bergantian sambil aku memindai kalian satu persatu.” Ucap Hera . Lalu masing-masing personil menyebutkan nama bergantian untuk kemudian dipindai oleh Hera menggunakan third eye (mata ketiga) berbentuk lingkaran yang ada di bagian keningnya. Third eye tidak hanya berfungsi sebagai scanner (pemindai), melainkan juga bisa mengeluarkan tembakan laser berkekuatan tinggi.
“Hera, tunjukkan target utama kita di Jakarta.”Perintah Robert setelah Hera selesai memindai semua personil the shadows.
Tanpa suara , lempengan skin dibagian dada Hera bergerak membuka dan memunculkan sebuah monitor yang langsung menyala. Kemudian monitor menampilkan gambar seorang pria berseragam DARPA “Geon Arthur Yildiz aka Mr. G.’’ Sebut Hera. Selanjutnya layar monitor menampilkan sosok gadis tentara lengkap dengan helm dan body armor baja.”Athena-1609 aka Heilen Putri Munaf.’’ Ucap Hera lagi sebelum lempengan skin baja di dadanya menutup perlahan.
__ADS_1
“Bagus.programmu berjalan dengan baik. Tapi bagaimana kau akan mengenali gadis itu saat dia tidak mengenakan kostum navy seals-nya? Sejauh ini kami belum mendapatkan foto wajahnya secara jelas. "Tanya Robert .
" Saat kita bertemu target nanti, aku tinggal menunggu perintah anda King Shadow. Anda hanya perlu tunjukkan saja orang yang bernama Athena-1609 aka Heilen Putri Munaf tersebut.Program terbaruku memerintahkan aku untuk membunuhnya."Jelas Hera mulai menunjukkan tingkat penyelesaian masalahnya.
"Baik.usulan yang bagus. Selanjutnya silakan beristirahat dulu sebelum keberangkatan kita besok ke Jakarta. Aku ingin memastikan energy bateraimu full sebelum keberangkatan kita. " Ucap Robert lagi.
"Baik, Robert Kanumba the Shadow of the darkness" Jawab Hera setuju.
Robert menekan tombol off pada remot gelangnya. Seketika terdengar bunyi bip dua kali bersamaan dengan padamnya light indicator yang melingkari third eye pada kening Hera. Tubuh robot warrior itu merunduk dan kembali ke posisi semula seperti sebelum dihidupkan.
"Apakah kamu sungguh-sungguh mempercayai benda ini king Shadow? " Tanya Vivian ragu.
"Aku memang belum bisa percaya sepenuhnya, tapi tak ada salahnya kalau kita memberikan kesempatan padanya. " Sahut Robert tenang
"Hmmm, cara bicaramu seolah-olah benda itu memilki emosi." Celetuk Vivian lagi. Sementara para Shadow lainnya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing di ruangan rahasia itu. Ruangan bawah tanah yang dibangun Barbara dibawah rumah pribadi Roberto Kanumba. Kini digunakan sebagai markas rahasia the Shadow.
Robert tak bisa menahan senyumnya"Apa kau khawatir kalau Droid itu akan lebih baik darimu, hah? "Goda Robert. Ia tahu sifat Vivian yang penuh kompetisi dan selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik.
"Tidak, Tentu saja dia bukan levelku. Tapi aku ingin melihat bagaimana ia akan mengoyak tubuh Heilen Putri Munaf nantinya. Hmm... " Sahut Vivian mulai tertarik.
"Heilen , Athena-1609, wanita cerdik yang berhasil lolos dari cengkeramanku di Palmyra Atoll. Sampai akhirnya aku akan membunuhnya namun Barbara melarang dan lebih memilih menjadikan dia sebagai kambing hitam .Tak lama tersiar kabar kalau dia sudah tewas dan kasusnya tak bisa dilanjutkan. Sungguh cerdik, dia berpura-pura mati untuk menghindari hukuman. Dan ternyata kini dia bersama Mr. G di jakarta. Aku yakin mereka punya rencana. "Gumam Robert seraya menggertakkan rahangnya . Ia sungguh kesal pernah gagal menghabisi salah satu prajurit Navy Seal yang sangat berbahaya itu. Karena Heilen menyimpan banyak informasi tentang proyek rahasia Barbara di Palmyra Atoll.
" Dia bagianku. "Bisik Vivian di telinga Robert.
...****************...
Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu membuyarkan semua ingatan Arthur yang mengembara.
" Bolehkah aku masuk? Aku diminta bibi Farah membawakan makan malammu."Suara Heilen terdengar jelas ditelinga Arthur.
"Masuklah, pintu tak dikunci. " Balas Arthur singkat.
Arthur masih memegang kuas dan tetap fokus pada kanvas dihadapannya.
Heilen masuk dan meletakkan nampan berisi makan malam di atas meja yang memang disediakan khusus untuk bekal makan Arthur saat ia berada di galery-nya.
"Hei, makan siangmu masih utuh?! " Pekik Heilen kaget melihat makanan yang dibawa bibi Farah siang tadi tak disentuh sama sekali oleh Arthur.
Arthur hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Ketika ia sedang melukis ia biasanya lupa waktu dan tak ingat makan, terlebih lagi hatinya sedang kalut setelah mendengar kabar tentang Athena yang terbunuh di Palmyra Atoll.
Heilen mulai prihatin melihat wajah Arthur yang terlihat letih dan pucat. Heilen menghampiri pria yang tak banyak bicara itu. "Arthur, makanlah dulu kalau tak mau cepat mati. Apa kamu cukup kenyang dengan memandang lukisan itu! " Ketus Heilen sambil memandang guratan-guratan cat minyak yang belum berbentuk jelas di atas kanvas. Sekilas lihat Heilen bisa menyimpulkan sepertinya itu bayangan sosok seorang gadis, hanya saja lukisan itu belum selesai jadi Heilen kurang yakin. Di sudut atas kanvas sudah tertulis "l miss you forever".
Sontak Arthur terperanjat mendengar kata-kata Heilen yang menurutnya kasar. Ia tak pernah di kasari siapapun selain gadis gurun Athena-1609. "Apa kamu tak punya kosa kata yang lebih baik? Seorang sarjana Ekonomi tapi bicara seperti manusia yang biasa tinggal di gurun dan hutan." Sahut Arthur tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Rasanya ia ingin merem*s-rema* bibir Heilen. Semakin ia dibuat marah energy purba-nya semakin meningkat. Arthur bangkit dan berdiri di hadapan Heilen dan mulai menatap wajah Heilen dengan intens. Namun tiba-tiba Kekesalannya mulai mereda mengingat semalam Heilen memeluknya dan berhasil menenangkannya.
__ADS_1
"Dasar penguntit. " Gumam Heilen rendah. Ia kembali ingat Arthur pernah menggeledah kamarnya , tentu Arthur sudah membaca biodata palsu rekayasa Rachel itu, pikir Heilen.
Heilen mulai jengah melihat Arthur yang terus menatapnya tajam.
"Hmm, terimakasih sudah begitu peduli padaku " ucap Arthur tulus.
"Jangan salah faham.Siapa yang peduli padamu?!Saat kakiku sakit kamu membawakan makanan ke kamarku, aku hanya balas budi. " Ketus Heilen lagi yang membuat Arthur di satu sisi merasa kesal dan ingin marah namun di sisi lain merasa tertantang untuk menaklukan sikap gadis dihadapannya yang angkuh dan seenaknya.
"Oh, oke. Kalau begitu aku akan makan tapi suapi aku. Hari itu aku menyuapimu dengan telaten. " Balas Arthur mengingatkan.
Heilen menelan salivanya mendengar kalimat Arthur, lalu berpikir bagaimana menghindari permintaan Arthur itu. "Sebaiknya aku keluar sekarang, aku tidak mau mengganggumu. Bukannya kamu benci perempuan dan lebih suka di dekat pria. Jadi aku pergi. "Ujar Heilen seraya berjalan ke arah pintu dan tak lupa menyindir Arthur yang rumornya adalah seorang gay.
Arthur bergegas menahan langkah Heilen, menarik tubuh Heilen dan mendesaknya ke tembok disamping pintu" Iya aku benci perempuan, tapi kamu pengecualian. "Bisik Arthur tegas ditelinga Heilen.
Heilen bisa saja memberontak namun seluruh tubuhnya menginginkan perlakuan absurd dari Arthur. Jantung Heilen berdetak lebih cepat saat wajah Arthur mulai mendekati wajahnya. Ingin rasanya ia menampar wajah tampan di hadapannya ini sekali lagi, namun gejolak di dalam dirinya justru mendambakan sentuhannya.
Sedikit lagi bibir Arthur mencapai bibir indah gadis cantik dihadapannya, tiba-tiba ia teringat Anastasya dan ketakutannya mulai muncul. Ia pun berhenti dan hanya memandang netra Heilen yang seolah pasrah menunggu.
" Kenapa berhenti, apa kamu tak sanggup melakukannya. Jujur saja kalau rumor itu benar. "Gumam Heilen datar.
Akh sial.Jadi gadis ini hanya menguji orientasi seksualku, pekik Arthur dalam hati. Lagi-lagi Heilen berhasil meningkatkan gairahnya dengan membuatnya kesal.
" Itu tidak benar dan sekedar rumor. Aku hanya takut. "Jawab Arthur dengan tak merubah posisinya. Wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Heilen sehingga nafas mereka saling menyapu.
" Kau pandai membuat pengalihan. Apa yang kamu takutkan?kamu seorang pria dewasa . "Tantang Heilen.
" Aku takut , setelah ini kamu akan Jatuh cinta padaku dan tidak bisa melupakanku. "Jawab Arthur jujur.
Heilen yang mendengar jawaban itu justru merasa Arthur begitu sombong dan terlalu percaya diri. " Hahahahahahaahaa.... . "Tawa Heilen menggema di ruangan itu.
Akhirnya Arthur menjauhkan diri dari tubuh Heilen. " Pergilah. "Ucapnya lirih. Mendengar tawa Helen Ia kembali teringat Athena. Tawa yang sama persis, membuatku gila. Pekik Arthur dalam hati. Apakah aku sudah tertular Chen Yuan yang mudah jatuh cinta. Aku tak bisa melupakan Athena tapi aku juga sepertinya menginginkan Heilen. Oh sial! Umpat Arthur lagi dalam hati. Ia benar-benar bingung.
" Baiklah, aku keluar. Ingat habiskan makan malammu. "Ucap Heilen kali ini lebih lembut.
" Hmm, iya. "Sahut Arthur yang sudah kalem. Ia tak ingin berdebat lagi dan setelah kekacauan kecil barusan kini ia merasakan lapar. Ia memandang Heilen pergi sampai Heilen menutup kembali pintu galery. Segera ia menuju meja makan karena nafsu makannya sudah kembali.
...----------------...
Virginia , Amerika
Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 waktu Virginia, Robert Kanumba dan timnya sudah menaiki pesawat jet pribadi milik Barbara Clarskon. Tentu saja sangat mudah bagi Barbara Clarkson memiliki apa saja yang diinginkannya karena warisan melimpah ruah dari ayahnya yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di Amerika.
Robert Kanumba dan timnya telah melakukan persiapan matang dan mereka optimis semua misi akan berhasil.
__ADS_1
Pesawat jet pribadi jenis Falcon itu mengudara dan akan menuju Jakarta, Indonesia.
#Bersambung