
‘’Istirahatlah dulu nak di kamar, biar om dan tante yang menjaga Uda-mu.”Ucap Reyhan Sinaga dengan haru melihat begitu perhatiannya Kamila pada Adam.
‘’Benar kata om-mu Mila. Sejak Sore kemarin hingga pagi ini kamu terus-menerus menjaga uda, jangan sampai kamu kelelahan.”Lanjut tante Ayana sembari membelai Pundak Kamila dengan lembut.
‘’Tapi, Uda sering mengigau memangil Mila, tante. Biarlah Mila tidur di sofa ruang perawatan ini saja, kalau nanti Mila mengantuk.”Sahut Kamila bersikukuh.
‘’Hmm…Iya, sayang. Tapi sarapan dan mandilah dulu, ini hampir pukul Sembilan. Uda-mu pasti tidak mau kalau sampai kamu jatuh sakit karena kelelahan menjagamu.’’
‘’Baiklah tante, Mila sarapan dan mandi dulu.” Kamila akhirnya mengikuti saran Om Reyhan dan tante Ayana. Ia menuju ruang makan seorang diri karena Irina telah pamit pulang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Di ruang perawatan yang luas terdapat sofa empuk king size, lengkap dengan mejanya yang berfungsi sebagai tempat menerima keluarga, kerabat atau sahabat yang berkunjung. Sedangkan di sisi kanan ranjang pasien terdapat dua kursi busa empuk yang biasa digunakan duduk oleh keluarga saat menjaga pasien. Disitulah Om Reyhan dan Tante Ayana duduk saat ini sambil memandangi wajah Adam yang mulai segar.
“Pa, perkembangan Adam sangat baik, Mama jadi lega.”Gumam tante Ayana lembut.
“Iya ma, kita akan terus disini sampai Adam benar-benar pulih. Semua urusan Adam di kantor sudah di tangani Pak Firman dengan baik. Dan papa bahagia ada Kamila yang benar-benar perhatian penuh pada Adam. Papa harap mereka akan selalu begini, tetap saling menyayangi sebagai saudara walaupun nanti sudah memiliki pasangan masing-masing.” Sahut Reyhan Sinaga penuh haru.
‘’Papa masih saja belum sadar juga. Atau memang beginilah laki-laki, tidak peka sama sekali.’’Desis tante Ayana terdengar sedikit kesal.
“Tidak peka bagaimana maksud mu, ma?Papa harus bagaimana lagi dalam menunjukkan kasih sayang papa kepada kedua anak kita ini. Iya ma, bagi papa Kamila juga anak kita , sama seperti Adam.”Sahut Om Reyhan apa adanya yang ia rasakan.
‘’Pa….., maksud mama kasih sayang antara mereka berdua tidak seperti yang papa pikirkan . Apa papa tak pernah perhatikan waktu luang Adam kebanyakan dihabiskan hanya untuk Kamila. Hampir dalam semua hal ia selalu memperioritaskan Kamila. Itu sama denganmu waktu mengejar cintaku pa. Ngerti kan sekarang?’’Lanjut tante Ayana mendetail.Sebenarnya Ia berharap suaminya faham hal ini tanpa ia harus banyak memberikan penjelasan.
“Maksud mama mereka saling mencintai layaknya pasangan seperti kita,begitu?Juga Ingin hidup bersama seperti kita, ma??Kok mama baru beritahu papa sekarang ??’’Tembak Om Reyhan beruntun. Ini benar-benar diluar perkiraannya. Tak pernah ia membayangkannya sekalipun. Tiba-tiba tumbuh bunga-bunga di hatinya. Ia terkejut sekaligus bahagia. Rasanya ia benar-benar telah jatuh cinta pada situasi ini.
“Lah kok jadi aku yang disalahkan.”Sahut tante Ayana tetap dengan suara dan senyumnya yang lembut. Keanggunannya sungguh tak lekang oleh usia.
“Mama, kita nikahkan mereka segera supaya kita cepat momong cucu. Papa sudah rindu suara bayi lagi.”Lanjut Om Reyhan menggebu-gebu sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya satu sama lain dengan antusias.
“Hush, papa rendahkan suaramu. Nanti istirahat Adam terganggu. Tidak baik terlalu terburu-buru, biarkan hubungan mereka berkembang alami. Mereka sudah dewasa pa, tau kapan saatnya untuk membuat keputusan besar.”
“Hmmm, iya istriku cantik. Mmuah, muah,muah.’’Ujar Om Reyhan geregetan saking bahagianya sembari ia menciumi pipi sang istri bertubi-tubi.
“Ih,papa ….sudah, stop. Nanti dilihat Kamila, mama malu.’’Pekik kecil tante Ayana sembari sedikit mendorong tubuh sang suami menjauh.
Tiba-tiba…
‘’maa….papa…,ukhuk..ukhuk…”Adam terbangun dan langsung batuk-batuk karena terlalu lama berada diantara pingsan dan tertidur, hingga tak setetes airpun sempat masuk membasahi kerongkongannya. Terakhir kali tengah malam tadi saat ia tersadar sebentar, Kamila memberinya sedikit minum. Ia merasa itu adalah sebuah mimpi yang begitu nyata.
‘’Iya sayang, mama papa di sini. Sekarang minumlah dulu barang seteguk.”Sahut tante Ayana menenangkan Adam, sementara Om Reyhan dengan cekatan menyusupkan sedotan air minum ke bibir Adam yang sedikit terluka.
"Maaf, merepotkan mama dan papa. " Ucap Adam lirih sebelum menyedot air dari pipet yang disodorkan papanya.
"Hei anak ganteng, gak ada yang direpotkan. " Jawab Ayana Sinaga sambil membelai pundak Adam dengan penuh kasih sayang. Seketika menciptakan kedamain di hati Adam.
"Fokus saja dengan kesembuhanmu dulu. " Sela Reyhan Sinaga.
"Iya pa, ma terima kasih.Oh iya ma, apa aku tidak salah lihat semalam sepertinya ada Kamila di sini? "Tanya adam.Meskipun rasanya ia diantara tidak sadar dan terjaga namun ia yakin apa yang dilihatnya, hanya saja ia takut itu hanya mimpi.
" Benar, Mila menjagamu sejak sore hingga pagi tadi sampai ia tertidur di kursi ini semalam. Tapi mama memaksanya untuk sarapan dan mandi dulu."
"Benarkah, ma? Benarkan? " Tanya Adam seolah-olah tidak percaya.Ia tidak bisa menyembunyikan rona hatinya yang bahagia, terlihat jelas dari kilatan matanya yang berbinar-binar.
"Iya, benar. " Ayana menjawab sembari mengulum senyum manisnya. "Tunggulah sebentar. Sekarang mama suapi dulu, ya. " Lanjut tante Ayana.
"Tunggu sebentar ma, Adam masih mengantuk sekali".Ucap Adam sambil merencanakan untuk berpura-pura tidur. Jantungnya berdenyut tak biasa. Ia masih saja berharap Kamila membalasnya dengan perasaan yang sama karena ia tahu Kamila tentu saja menyayanginya, namun itu hanya sebagai seorang adik kepada kakak.
"Hmm, baiklah tapi sebelum pukul sepuluh kamu harus sudah bangun dan makan. " Tegas tante Ayana.
__ADS_1
"He, eh. " Jawab Adam singkat sambil memejamkan mata kembali dan berusaha memperbaiki posisi karena merasa pegal tidur dalam satu posisi terus menerus.
"Ya sudah ma, biarkan anak kita istirahat lagi. Sepertinya ia butuh istirahat lebih banyak. Mama juga istirahatlah dulu sana, biar papa saja, disini. " Sahut Om Reyhan.
Dari pintu ruang perawatan yang tak berdaun Kamila muncul dengan tampilan yang sudah rapi. Pasmina hitam yang ia kenakan semakin memancarkan kecantikannya yang unik, campuran darah Jepang-Turki-Indonesia.
"Om, tante, Mila sudah selesai. Mila saja yang di sini menjaga Uda. Mila sudah segar dan sudah kenyang. " Tukas Kamila dengan semangat dan senyum manisnya.
"Oh, iya nak, Mila saja yang duduk di sini. Ayo mari sini, nak. "Sambut Om Reyhan dengan senyum dan mimik bahagia yang berbeda dari biasanya. Ia menarik kursi jaga itu sedikit kebelakang agar Kamila mudah mendudukinya.
" Terimakasah , Om."Sahut Kamila sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Mari ma kita istirahat dulu, biar Kamila yang menjaga uda-nya di sini. " Kicau Reyhan Sinaga penuh maksud tersembunyi.
"Iya pa. " Jawab tante Ayana . Ia hanya bisa mengulum senyum dan menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kelakuan sang suami yang selalu tak bisa menahan diri.
Om Reyhan dan tante Ayana berjalan keluar dari ruang perawatan meninggalkan Kamila yang duduk termenung memandang wajah dan tubuh Adam Sinaga dengan perban di beberapa bagian. Kamila membenarkan selimut di tubuh Adam yang tampak tak beraturan. Ia duduk kembali sambil perlahan menyentuh jari-jemari Adam Sinaga yang sebenarnya sedang berpura-pura tidur.
Kamila memberanikan diri menggenggam jari-jemari itu sehingga menyatu dengan jari jemarinya. "Mila kangen Uda, Maafkan Mila Uda." Ucapnya dengan suara bergetar dibarengi penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Hampir-hampir airmata yang sedari semalam berjatuhan akan tumpah lagi.
Mendengar suara Kamila yang sedih membuat Adam tak sanggup meneruskan sandiwaranya. Spontan Ia membuka mata.
Lalu....
"Mila..... " Ucapnya dengan suara parau.
Kamila terkejut dibuatnya namun rasa terkejut itu langsung berganti dengan wajah bahagia. "Uda! Uda sudah bangun, eeemmm... Uda pasti lapar , kan?Mila suapin, ya. " Kicau Kamila kegirangan.
Kamila bangkit hendak mengambil makanan khusus yang disediakan untuk Adam pada baki di nakas. Namun Adam menahan genggamannya dengan seketika , membuat kamila menatap wajah sang kakak sepupu dengan pandangan tak mengerti. Jantungnya berdegup lagi dengan aneh. Akh, mengapa sekarang aku jadi kikuk begini, batinnya. Pandangan mereka beradu. Ada percikan hangat di hati mereka masing-masing. "Emmm, uda ada apa?" tanya Kamila akhirnya.
"Iya, uda lepasin tangan Mila dulu biar Mila bisa ambilkan makanannya. " Tukas Kamila menahan rasa panas di pipinya, rona merah terlukis indah di sana.
"Hmm... " Adam berdehem. Apakah ia sudah tak marah lagi padaku?Tanya Adam dalam hati. Ia justru merasakan kedamaian dari sentuhan, tatapan dan perlakuan Kamila sekarang. Tidak seperti beberapa hari yang lalu.
Kamila menyuapi Adam dengan hati-hati karena ada bagian bibir Adam yang terluka. Perlahan Adam mengunyah makanannya sambil sesekali mencuri pandang ke wajah cantik Kamila yang khas.Hmm, apakah aku harus sakit begini tiap hari? Pikirnya lagi.
Ayana dan Reyhan Sinaga muncul kembali di ruang perawatan. Senyum mengembang dan pandangan berbinar-binar menghiasi wajah keduanya. Ada yang meletup-meletup di dada Reyhan Sinaga yang rasanya sudah tak mampu ia kendalikan.
"Makanlah yang banyak nak, supaya tubuhmu lekas pulih. " Tante Ayana berbicara sembari duduk di sofa yang terletak dibagian kiri kamar perawatan. Sementara itu Om Reyhan meraih kursi yang ada disamping Kamila lalu duduk di sana.
"Iya ma, tentu saja. " Jawab Adam singkat namun penuh semangat.
"Ee, eeemmmm... Adam, sudah lama sekali papa dan mama mendambakan kehadiran seorang cucu. Papa dan mama berharap setelah kamu sudah sehat nanti segeralah kau bawa seorang wanita kepada kami. " Tukas Reyhan kepada sang anak tanpa tedeng aling-aling.
Nafas Ayana Sinaga seakan tertahan mendengarnya. "hee'uh... " keluhnya berat dengan kedua mata mmbulat namun tak ada lagi kata yang dapat ia lontarkan.
"Ukhuk.. ukhuk.. " Adam sedikit tersedak dan terbatuk.Kamila segera menyusupkan pipet air mineral ke bibir Adam Sinaga, Adam segera menyeruputnya "Pa, Adam belum siap , ee... maksudku.....belum ada calon pa. "Jawab Adam kelabakan.
" Nah, kalau dengan Kamila saja gimana? "Lanjut Om Reyhan dengan nada yang santai namun penuh semangat. " Bagaimana??"Desaknya lagi.
kamila menghentikan gerakannya. Tubuhnya mematung, seakan-akan terhipnotis dengan apa yang didengarnya. Ia tak mampu bergerak ataupun berkata-kata. Tubuhnya sesaat lumpuh dan lidahnya mendadak kelu.
"Papa! Tolong papa jaga perasaan Mila. Adam takut Kamila marah mendengar perkataan papa yang aneh ini. Bisakah kita bicarakan lain waktu. " Tukas Adam sedikit kesal dengan sikap papanya yang over acting.
"Ah, papa kan hanya memberi saran. Benarkah kamu marah atas perkataan Om tadi Mila? Apakah Mila keberatan kalau Om berharap kalian menikah dan menjadi pasangan yang bahagia? Om yakin kalian saling menyayangi dan mencintai ." Ujar Om Reyhan penuh selidik. Ia sudah tak tahan ingin tahu bagaimana perasaan Kamila terhadap Adam.
__ADS_1
"Pa... pa.... "Desis Adam tanpa mampu melanjutkan lagi kalimatnya. Ingin rasanya ia pergi dari ruangan perawatan saat ini juga.
" Mila tidak marah , Om. Mila......sebenarnya tidak keberatan , tapi mungkin Uda sudah ada wanita pilihan sendiri. "Kamila akhirnya memberanikan diri menunjukkan perasaannya walau dengan irama jantung bagaikan deburan ombak di tepi pantai.
Wajah Kamila menunduk tak berani menentang tatapan Adam yang tajam dengan netra membulat dan mulut ternganga mendengar jawaban Kamila yang tak mungkin menurutnya.
"Hahahahaa..., Uda mu ini hari-harinya hanya disibukkan mengurus perusahaan dan mengurusmu, mana ada waktu dia melirik wanita lain. Kau dengar itu Adam, Mila tidak marah dan tidak keberatan. Papa akan segera bicara dan atur acara pertunangan kalian dahulu supaya tidak kaget Om Alex dan tante Stefanie-mu nanti, Hahahaha..., hari ini papa bahagia sekali. "Reyhan Sinaga bangkit dari kursinya lalu melangkah mendekati sang istri yang hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap sang suami yang selalu ingin cepat-cepat mewujudkan apapun keinginannya.
Adam Sinaga masih tak percaya dengan semua yang didengarnya walau hatinya berjingkrak-jingkrak kegirangan. Seolah-olah hari ini untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada Kamila. Bukit saja bisa berbunga apalagi hati yang jatuh cinta.
Sungguh ia tak bisa menahan perasaan bahagia yang meluap-luap setelah penantian yang panjang. Setelah semua hal yang ia lakukan untuk menjaga dan membuat Kamila bahagia.Namun tetap saja ia masih ragu dan ingin menanyakan secara langsung tentang perasaan Kamila padanya. Ia memandang Kamila yang masih tertunduk walau sesekali mencuri pandang padanya. Wajah cantik itu sedikit memerah.
"Mila maafin papa, semua yang papa ucapkan itu tidak perlu dan tidak akan terjadi kalau Mila merasa terpaksa. Nanti Uda bicarakan lagi dengan papa. " Gumam Adam hati-hati dengan suara lembutnya.
Hening sementara seakan -akan membelenggu waktu. Sampai akhirnya terdengar suara Kamila yang lembut berirama seperti sebuah lagu.
"Tapi Mila tidak merasa terpaksa, Mila baru sadar ternyata Mila tidak bisa hidup tanpa Uda. Mila sayang Uda dan ingin bersama Uda selamanya. Semoga Uda maafin kesalahan Mila yang telah lewat. "Ucap Kamila dengan suara bergetar. Hatinya begitu lemah tak mampu menahan haru. Bulir bening menetes begitu saja di pipinya.
Adam Sinaga menyentuh pipi Kamila dengan lembut dan mengusap airmatanya. Kemudian dengan penuh cinta dan kasih sayang ia mengelus kepala Kamila yang terbungkus pasmina hitam. Kamila tersenyum dan akhirnya berani menatap mata Adam Sinaga kembali. Keduanya merasakan kelegaan yang sama. Tak perlu lagi banyak kata untuk mereka mengungkapkan apa yang dirasakan hati masing-masing. Masing-masing bisa saling merasakan satu sama lain.
Adam Sinaga meraih jemari Kamila dan menggenggamnya erat. "Stay with me forever! " Gumamnya sambil memandang wajah Kamila dengan lembut dan intens dari tempatnya bersandar.
"Yes." Sahut Kamila tegas dan keduanya saling melempar senyum bahagia.
Tak mereka sadari ada Arthur sudah berdiri di pintu ruang perawatan dengan beberapa bodyguardnya. Lalu ia memberi kode agar para bodyguard itu tidak ikut masuk.
"Maaf, aku terlambat. Terlalu banyak kesibukan yang tak bisa ditinggalkan."Ujar Arthur mengagetkan Om Reyhan dan tante Ayana yang tengah khusyuk memperhatikan Adam dan Kamila. Arthur sudah pasrah kali ini jika Adam memukulnya pun itu akan ia terima, ia pikir pantas mendapatkannya setelah apa yang terjadi pada Adam. Semua tak lepas karena dirinya.
"Hei, Arthur, kemarilah nak. Om dan tante belum sempat menghubungimu untuk menyampaikan terimakasih karena dirimu telah menyelamatkan adikmu Adam. Kamu memang luar biasa, kebanggaan kami semua. " Sambut Om Reyhan dengan hangat.
"Arthur , temuilah saudaramu. Dia sudah mulai pulih. Tante sangat berterimakasih padamu. " Lanjut Tante Ayana dengan kelembutannya.
"Baik tante. " Jawab Arthur singkat. Waktunya tak banyak kali ini. Chen Yuan telah mengirim Astro Air-bus untuk menjemputnya. Pukul 03.00 dini hari ini mereka harus sudah take off dari bandara Soekarno-Hatta menuju Virginia USA.
"Adam, maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan kata-katamu sejak awal. Kejadian ini semua salahku. " Tukas Arthur lirih sesampainya di sisi Adam dan Kamila.
"Tak perlu meminta maaf. Aku yang harusnya berterimakasih, karena kejadian ini banyak memberiku pelajaran. Pertama aku bisa merasakan bagaimana diperlakukan buruk dan dihajar oleh orang lain tanpa alasan seperti yang kerap aku lakukan, kedua aku belajar bahwa kesabaran itu akan memberikan hal yang indah pada akhirnya." Jawab Adam tenang namun Arthur tak bisa mengerti sepenuhnya.
"Tetaplah menjadi Adam yang kuat, aku titip Kamila sekali lagi.Mila, dini hari nanti pukul 03.00 abang harus terbang kembali ke Virginia. Maafkan abang jika ini terlalu mendadak. Jaga diri baik-baik di sini. " Lanjut Arthur lagi. Beginilah kehidupannya, jalan yang telah dipilihnya, membawanya kepada hal-hal yang tak pernah bisa diprediksi.
"Hemmm, menjaganya sudah jadi tugasku dan akan selalu begitu. " Jawab Adam tegas dan penuh perasaan.
Kamila bangkit dari tempat duduk. Ia meraih punggung Arthur dan memeluknya. "Abang jangan khawatir, pergilah dengan tenang. Kamila bahagia di sini dan akan selalu mendoakan kebahagiaan abang. " Sahut Kamila. Kini ia merasa lebih tegar dan kuat. Tak seperti biasanya, kali ini tak ada air matanya yang mengiringi kepergian Arthur.
Selanjutnya Arthur berpamitan kepada tante Ayana dan Om Reyhan. Sekali lagi ia berpesan untuk menitipkan adik kesayangannya. Om Reyhan dan tante Ayana menjawabnya dengan senang hati dan senyum bahagia.
...****************...
...----------------...
5 Februari 2022, Pukul 03.00 dini hari
Di pesawat Astro Air-bus bermesin jet
Arthur dan seluruh timnya berhasil melakukan take off. Segala sesuatunya telah mereka persiapkan dengan baik tak ada yang tertinggal kecuali sebagian hati Arthur. Iya , Arthur tak bisa mengingkari perasaannya pada Heilen namun ia memilih untuk melupakannya perlahan. Ia masih tak yakin akan perasaannya karena mungkin saja semua itu muncul dari adanya kemiripan antara Heilen dan Athena-1609.
Arthur menarik nafas berat. Ia pergi tanpa sepatah kata pada Heilen sama seperti perpisahannya dengan Athena-1609.
__ADS_1
Pikiran Arthur pun melayang mengembara pada kejadian-kejadian yang telah lalu, mulai di Bulan Desember akhir tahun 2019.
#bersambung