
NASA FUTURE PLANS, Langley Research Center, Virginia
Suasana aula terus saja larut dalam nuansa hening.
Semua mata masih tertuju pada Geon Arthur Yildiz di atas panggung.
" Tuan Yildiz, selama ini anda lebih dikenal dengan nama Mr Genius atau Mr G. Nama yang mendeskripsikan kekaguman orang-orang pada reputasi anda, Bagaimana anda menyikapinya?"
“ Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal tidak pokok semacam itu. Namun aku sangat berterimakasih atas perhatian masyarakat kepada ASTROGUN secara umum.”
‘’Anda dikenal sangat private dan tertutup, dengan kata lain anda tidak menyukai popularitas individual, apakah ada alasan yang sangat kuat dibalik hal itu?’’
“ Tentu saja ada. Aku berusaha memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada diriku, keluargaku dan orang-orang yang kucintai dengan menjauhi publisitas yang berlebihan.”
‘’Wow, anda benar-benar seorang gentleman Tuan Yildiz. Baik, sebelum obrolan ini berakhir, bisakah anda memberikan pesan khusus untuk para tamu yang hadir?”
‘’Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kapasitas untuk membayangkan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang belum nyata dan masih berupa kemungkinan. Begitulah imajinasi, telah sedemikian besar andilnya sebagai pendorong utama kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Namun harus diingat bahwa secanggih apapun teknologi, jiwa manusia harus menang diatas teknologi. Itu kata-kata bijak dari Karen Armstrong dan Albert Einstein.”
‘’Terimakasih Tuan Yildiz atas kesediaan anda untuk terlibat dalam perbincangan ini.Mari, kita persembahkan penghormatan untuk CEO of Astrogun Corporations, Geon Arthur Yildiz.’’
Tepuk tangan para tamu kembali bergema.
‘’Dengan hormat, kami persilakan anda untuk menempati salah satu kursi utama di panggung ini bersama seluruh tim Astrogun.’’
Arthur mengikuti panduan sang MC, ia duduk disamping Smartbot Socrates dan Stefanie Astrosoul-1.
‘’Selanjutnya, kami mohon kesediaan seluruh Tim dari Astrogun dan NASA naik ke atas panggung untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian Kerjasama antara ASTROGUN dan NASA yang akan dilakukan secara simbolik.”
Sejumlah tamu dari area VVIP naik ke atas panggung bersamaan.
Tampak pimpinan tertinggi NASA yang didampingi oleh kepala Ilmuwan NASA beserta jajaran penting lainnya, termasuk Rossie Jane Jordan.
Dari pihak ASTROGUN ada Denzel, Chen Yuan, Melinda Greys dan beberapa orang dari jajaran inti yang lain, termasuk Dokter Morgan Aveiro Kepala Secret Project Division Astrogun.
Penandatanganan Kerjasama secara simbolik itu berlangsung sangat sakral.
Setelah acara penandatanganan usai, acara dilanjutkan dengan sambutan khusus dari Bapak Menteri Pertahanan Amerika yang sangat mendukung upaya peningkatan kualitas dan kuantitas robot astronot di ruang lingkup NASA.
Estafet setelahnya adalah sambutan dari pimpinan tertinggi NASA yang mengulas tuntas rencana jangka pendek dan jangka panjang NASA.
Tak terasa penghujung acara telah tiba. MC Nolan kembali mengumandangkan suaranya.
“Ladies and Gentleman, kita memasuki sesi terakhir dari acara kita, yakni sesi ramah tamah. Pada sesi ini kami memberikan kesempatan kepada para tamu untuk saling bertegur sapa satu sama lain, melakukan wawancara dengan para smartrobot maupun tim dari ASTROGUN dan NASA. Ingat untuk tetap disiplin dan tertib, santai namun damai, okay!.”
Clara baru sempat memperhatikan wajah Heilen yang terlihat pucat dengan netra memerah.
‘’Heilen, apakah kamu sedang sakit, wajahmu sangat pucat?’’ tanya Clara cemas dan penuh selidik.
‘’Oh, ini, aku hanya sedikit pening mungkin belum terbiasa di keramaian,’’ elak Heilen sembari menengadahkan wajahnya ke atas, menahan airmatanya yang lagi-lagi terasa akan tumpah. Yah, benar orang bilang terkadang orang menatap langit agar airmatanya tidak jatuh.
"Hmm, oke. Semoga benar kamu baik-baik saja karena kita masih harus di sini sampai acara berakhir,"
Sebagai salah satu pegawai dengan jabatan penting di Langley Research Center, Clara tak mungkin meninggalkan acara penting seperti ini sebelum usai. Namun, di sisi lain ia juga mengkhawatirkan kondisi Heilen yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
'Perubahannya sangat cepat dan drastis, ini sangat aneh. Entah apa yang terjadi? Dan sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.'Clara membatin.
Sementara itu Arthur duduk pada sebuah kursi di atas panggung. Di sekitarnya ada Menteri Pertahanan Amerika, Pimpinan Tertinggi NASA dan beberapa orang penting lainnya. Mereka sedang berbincang - bincang santai memanfaatkan sesi "ramah tamah".
Posisi Arthur tepat menghadap bangku para penonton. Seorang wanita yang duduk dan hanya tampak setengah badan menarik perhatiannya.Wanita itu mengenakan masker hitam sedang menatapnya.Tatapan mereka tak sengaja beradu, wanita itu buru-buru memalingkan wajahnya dari Arthur.
Aku tak pernah lupa garis rambut dikening itu. Apakah itu orang lain yang hanya mirip dengannya. Bisik Arthur dalam hati.
Arthur kehilangan fokus, ia mulai menatap wanita dengan jaz blazer warna krem tadi dengan intens. Beruntung Menteri Pertahanan dan Pimpinan tertinggi NASA sudah beranjak dari hadapannya dan kini terlihat sedang mengobrol dengan smartbot Socrates, smartbot Stefanie Astrosoul-1 dan Chen Yuan.
Heilen mendadak gelisah, ia tak mau Arthur mengenalinya. Apalagi sekarang ia melihat Arthur tak henti menatapnya. Apakah ia menandaiku?Lirihnya dalam hati.
Heilen menoleh ke arah kiri dan ia menemukan Clara sedang sibuk selfie untuk dikirimkan kepada Eve dan Doughlas. Tatapan Heilen kembali lagi ke arah semula, dimana Arthur juga masih memperhatikannya penuh selidik.
Tepat di saat itu Rossie Jean Jordan mendatangi Arthur bersama beberapa orang temannya. Heilen melihat buket bunga besar yang indah di tangan Rossie Jean Jordan.
Arthur masih tak mengalihkan tatapannya dari wanita yang ia pikir terlalu mirip dengan Heilen, meskipun Rossie sudah berdiri di hadapannya.
"Mr G, terimalah ucapan selamat dariku karena kerjasama ini akhirnya berhasil ditandatangani," lantun Rossie.
"Hmm, iya thank you," sahut Arthur singkat, tatapannya masih terpaku pada gadis bermasker hitam, ia tak bisa berpaling namun ia masih ragu itu Heilen.
Cup! Sebuah ciuman singkat mendarat di pipi sebelah bawah Arthur, nyaris mengenai bibirnya.
Arthur terkesiap seketika, refleks ia bangkit dari kursi yang sedari tadi di dudukinya. Ia pun mengambil jarak dari Rossie Jean Jordan.
Heilen melihat dan merasakan semuanya, terpampang nyata dan jelas di hadapannya, dengan seluruh indranya. Hati dan pikirannya menjadi gelap gulita, kecemburuan besar menguasainya.
__ADS_1
Jika sebelumnya ia sangat kecewa atas ketidakjujuran Arthur, ia masih bisa berpura - pura kuat.
Lain halnya dengan ini, melihat Rossie Jane Jordan mencium Arthur di bibirnya, Heilen merasa terbakar hingga hangus tak bersisa.
Sudut pandang Heilen yang sempit membuatnya melihat seolah-oleh Rossie Jane Jordan sedang mencium bibir Arthur.
"Heilen, itu Rossie dan Mr G. Mari kita menyapa Rossie sebentar saja," ajak Clara riang sambil meraih lengan Heilen.
Heilen hanya menunduk sambil menahan sesuatu yang hendak tumpah, ia tak berani beradu pandang dengan Clara, "Aku harus ke kamar kecil, aku tak tahan lagi Clara, " sahut Heilen dengan suara nyaris bergetar.
Kali ini ia hanya butuh tempat untuk menumpahkan airmatanya yang tak terbendung lagi.Tanpa menunggu jawaban Clara , ia berlari pergi meninggalkan Clara yang terpaku tak mengerti.
Clara merasa Heilen sedang tidak baik-baik saja, namun Clara berusaha menepis pikiran negatifnya itu. Ia pun memutuskan untuk menyapa sepupunya Rossie yang sedang berbincang-bincang dengan tim Astrogun.
Clara berjalan seorang diri menuju panggung.
"Halo, Ross."
"Hei! Clara." pekik Rossie.
"Mmwah, mmwah.., "
Keduanya berpelukan dan bercupika-cupiki riang.
"Clara, perkenalkan ini Mr G, yang pernah ku ceritakan padamu," ujar Rossie sembari melepaskan pelukannya pada tubuh Clara.
"Halo Clara, senang bertemu denganmu," sahut Arthur berusaha ramah sambil mengulurkan tangannya kepada Clara.
"Halo, Mr G aku juga sangat senang bisa bertemu pemuda hebat seperti anda di sini," balas Clara dengan sebaris senyum manis, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Hei..Clara, mana teman Seals-mu. Bukankah kamu bilang akan datang berdua dengannya?" tanya Rossie karena melihat Clara hanya sendirian saja sedari tadi.
"Dia sedang ke kamar kecil sebentar," jawab Clara singkat. Ia masih ingin berbincang-bincang dengan Arthur sang CEO muda yang sudah lama ingin ia kenal.
"Oh ya Mr G temanku bilang kalian pernah bertemu saat ia bertugas di Afghanistan. Dia seorang Seals woman, namanya Heilen. Apakah anda mengingatnya?" celoteh Clara. Sebenarnya ia hanya bermaksud berbasa-basi dan mencari bahan pembicaraan. Ia sama sekali tak tahu apa yang bisa terjadi dari kalimat yang baru saja ia ucapkan.
Arthur terdiam beberapa detik, menelan salivanya sendiri, menggigit bibirnya dengan pandangan mata yang sangat tajam menyapu seluruh aula.
Aaaaaah....Ternyata benar itu dia. Bisiknya dalam hati dengan diliputi perasaaan bersalah yang dalam.
Kini Heilen tahu semuanya, di momen yang tak seharusnya, pada waktu yang tak sesuai dengan yang ia rencanakan. Arthur cemas.
Ia meraih ponselnya, mengusapnya beberapa kali dan dengan cepat menemukan posisi Heilen. Tanpa sepatah katapun ia meninggalkan Rossie, Clara, Chen dan yang lainnya.
Chen Yuan yang sedari tadi ada di sisi Arthur, juga telah mendengar semuanya.
"Rossie, maafkan.Sepertinya Arthur ada keperluan mendadak. Aku harus menyusulnya, kami akan segera kembali," pamit Chen tak enak hati.
Arthur melewati jalur setapak yang tercipta di antara dua lajur kursi penonton sambil terus memperhatikan titik merah pada layar ponselnya yang menunjukkan posisi Heilen.
"Perfect."
"Arthur!"
"Wow, aku bisa melihatnya sedekat ini. "
"Ternyata dia lebih tampan dari Chris Evans."
Suara-suara itu bertebaran di udara, mereka hanya berani berkata dari kejauhan karena Arthur dikelilingi penjagaan yang sangat ketat.
Di Powder room
Di sudut powder room kamar kecil ini, Heilen duduk bersandar, membiarkan semua airmatanya bebas mengalir semaunya. Sesekali ia sesenggukan seperti anak kecil, tak perduli beberapa wanita lainnya yang juga berada di sana sedang menggunakan wastafel.
Para wanita yang datang dan pergi dari kamar kecil itu memandang Heilen dengan iba, seolah - seolah berkata, "aku pernah berada di posisimu."
Beberapa diantara mereka dengan suka rela mengambil tissu dan memberikannya pada Heilen yang masih duduk, tak berdaya dan berderai air mata di sudut ruangan itu. Tak sepatah katapun terucap dari bibir mereka, Heilen hanya memandang mereka sesaat dengan tatapan yang kosong dan hampa. Lalu ia melanjutkan tangisnya kembali.
Arthur telah berdiri di depan toilet wanita sekitar lima belas menit lamanya. Ia menunggu dengan resah. Ia tak ingin Heilen marah atau salah faham atas semua yang dilihatnya, ataupun karena ia masih menyembunyikan identitasnya. Ia memiliki alasan yang kuat dan ia harus menyampaikannya pada Heilen sekarang juga.
Di belakang Arthur Roboguard Alexus dan para pengawal lainnya berdiri dengan setia menemani Arthur yang mematung. Chen yang baru tiba ditempat itu juga ikut mematung.
Seorang ibu paruh baya terlihat keluar toilet dengan tatapan heran melihat barisan para pria tampan di depan toilet khusus perempuan ini.
"Maaf nyonya, apakah anda melihat seorang gadis yang mengenakan stelan blazer berwarna krem di dalam?" tanya Arthur.
"Hmmm, apakah dia pacarmu??Dia sedang menangis di dalam!" Jawab wanita paruh baya itu dengan sangat ketus, seolah-olah menyalahkan Arthur.
Arthur tak bisa berkata-kata. Ia akan menunggu sampai kapanpun hingga Heilen keluar.
Tik
Tik
__ADS_1
Tik
Waktu terus berdetik, terasa lamban berjalan bagi Arthur. Jika mengikuti kata hatinya tentu ia sudah masuk ke dalam bilik kecil para wanita itu.
Pintu kembali terbuka untuk ke sekian kalinya dan kini Heilen yang berdiri di sana menatapnya.
Arthur melihat mata indah itu masih basah.
Heilen tersentak melihat Arthur tiba-tiba ada di hadapannya, ia terdiam lelah dengan kekecewaan yang membuncah, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis lagi.
Arthur mendekat, yang ia pikirkan hanya menghapus airmata itu. Ia tak rela ada airmata di wajah wanita yang sangat dicintainya. Terlebih lagi itu airmata yang jatuh karena Heilen kecewa padanya.
Orang bijak bilang airmata wanita diciptakan agar laki-laki terlupa pada airmatanya sendiri. Kali ini Arthur mengakuinya. Rasanya ia sanggup untuk melakukan apapun dan memberikan apa saja agar Heilen kembali ceria.
Jarak mereka begitu dekat. "Heilen, maafkan aku," bisik Arthur lirih.
Jemari kanannya mengusap pipi Heilen dengan lembut sementara tangannya yang lain meraih tangan gadis itu.
Heilen masih diam membisu memandang wajah yang ia rindukan, wajah yang telah menyembunyikan banyak hal darinya.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Arthur lagi, menarik tubuh Heilen perlahan dan membenamkannya ke dalam pelukannya.
Heilen tak kuasa menolaknya, meski kekecewaannya belum lagi sirna,namun kerinduannya juga tiada duanya. Ia tenggelam dalam aroma tubuh Arthur yang khas. Dibenaknya berputar kembali slide demi slide kebersamaan mereka, begitu banyak yang telah mereka lewati bersama. Afghanistan, Jakarta, Swiss, Amerika.... lalu tiba-tiba wajah Rossie Jane Jordan juga hadir dikepalanya..., seketika kecemburuan kembali merajai hatinya.
"Lepaskan aku!"
"Heilen..,ikut aku. Kita harus bicara. Aku akan jelaskan semuanya," ucap Arthur lembut masih memeluk erat tubuh gadis itu untuk mengurangi beban rindunya.
"Tidak! lepaskan aku. Tinggalkan aku sendiri!" Pekik Heilen meninggi.
"Aku tak kan pernah meninggalknmu," Gumam Arthur berusaha meredam emosi Heilen yang sepertinya tak terkendali. Ia berusaha menahan Heilen di dalam pelukannya lebih lama, namun Heilen terus meronta.
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku dimaafkan," sahut Arthur masih menahan tubuh Heilen dalam pelukannya. Ia takkan membiarkan Heilen pergi dengan kesalahfahaman dan kebencian.
Heilen yang terbakar cemburu dan merasa dihianati sepertinya sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Ia mendorong tubuh Arthur dengan keras hingga tubuh besar itu tertahan tembok di belakangnya.
Kini Heilen berdiri dengan pistol Sig Sauer P226 sudah ditangannya, mengarahkannya ke tubuh Arthur.
"Jangan pedulikan aku, urus saja wanitamu, Rossie Jane Jordan itu!" desis Heilen dengan netranya yang masih memerah dan basah.
Bend dan kelima belas personilnya dengan sigap mengeluarkan senjata mereka dan dalam sekejap Heilen telah berada dalam kepungan senjata api paling canggih, Astro-XXX-Gun cal-11.
Tak ketinggalan Alexus yang bergerak untuk meraih pistol Sig Sauer P226 dari tangan Heilen.
"Alexus, don't touch her!!" bentak Arthur keras.
Spontan Alexus membeku ditempat. Ia telah diprogram untuk mengikuti semua perintah dari pemilik suara itu.
Chen Yuan memandang drama di hadapannya tak bergeming, tak berkedip dan tak mampu berkata-kata. Ia ikut larut dalam ketegangan kisah dua anak manusia yang masih semrawut seperti benang kusut itu.
'Heilen hanyalah anak gadis yang sedang cemburu. Beri dia waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri.'
Kalimat itu bermain-main di kepala Chen, namun tak sempat ia ucapkan karena melihat keadaan yang sedikit kacau.
"Nonaktifkan kembali senjata kalian,kembalikan ke posisi semula!!" perintah Arthur kepada Bend dan anak buahnya.
Bend dan timnya melakukan perintah Arthur dengan patuh.
"Beri dia jalan!"perintah Arthur lagi.
Arthur tak ingin menahan Heilen , ia tahu gadis nya terkadang sangat keras kepala. Ia berusaha bersikap bijak, mungkin Heilen butuh waktu untuk memaafkannya.
Heilen menguatkan dirinya. Ia tak sudi terlihat lemah di hadapan pria yang menyakitinya. Ia berpaling dari Arthur lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Ia berpapasan dengan Bend dan Chen, lengkap sudah kepingan-kepingan puzzle yang berserakan yang selama ini membuatnya bingung.
Kini Heilen faham kalau mereka semua kaki tangan Arthur yang begitu setia, sehingga tak ada satupun rahasia Arthur yang tercecer dari bibir mereka. Heilen menyeringai geram memandang keduanya.
"Ouch!" pekik Chen tak sadar. Ia merasa ngeri melihat seorang gadis Seals sedang marah di bakar cemburu dengan senapan laras pendek canggih di tangannya.
Arthur tak berpaling hingga tubuh Heilen menghilang dari pandangannya. Ia selalu ingat kalau Heilen tak kan pernah ragu melakukan apa yang ingin ia lakukan. Sama seperti saat Heilen membagi darah untuknya.
Chen menghampiri Arthur untuk melontarkan kalimat yang ia simpan semenjak tadi.
"Heilen hanyalah anak gadis yang sedang cemburu. Beri dia waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri."
"Hmmm..., tapi aku tak tenang melihatnya seperti itu."
"Paling tidak kamu bisa tahu kalau kalian sama-sama posessif.Aku baru sadar kalau kamu telah menyuntikkan microchips GPS ke tubuh Heilen, sehingga kamu selalu tahu dimana dia berada. Entah bagaimana kamu melakukannya tapi aku yakin dia sendiri tidak tahu di tubuhnya ada microchips itu. Anda memang luar biasa bos, hahahahaa... " kekeh Chen.
Arthur cukup terhibur dengan keusilan Chen yang sedikit bisa mengalihkan kekalutannya. Ia membiarkan saja Chen mengoceh semaunya.
#bersambung
__ADS_1