The Athena Code

The Athena Code
42. NEVER FAIL Fall in Love with You


__ADS_3

Perlahan Arthur menekan tombol untuk mengaktifkan smartphone-nya. Membawa smartphone itu ke pembaringan sembari terlentang malas.


Ia mengangkat gawai itu cukup tinggi tepat di depan wajahnya.


Hanya beberapa notifikasi yang masuk secara bersamaan baik dari beberapa akun media sosialnya maupun layanan Short message Service (sms).


Sambil menguap menahan kantuk Arthur membuka notifikasi satu persatu. Tiga pesan whatsapp dari rekan bisnis utama telah dibacanya.


Arthur masih terlentang malas di pembaringan. Ia membuka icon sms , hanya ada tiga pesan masuk di sana. Satu pesan dari nomor tak dikenal, satu pesan dari pimpinan pusat DARPA, dan yang terakhir dari nomor operator seluler.


Arthur memilih membuka pesan dari pimpinan pusat DARPA terlebih dahulu.


Dear Mr. G


DARPA punya proyek baru yang sesuai dengan Visi dan misi ASTROGUN. Kami harap kita bisa bertemu secepatnya dan menjalin kerjasama kembali.


Sir Phil Anderson


Tersisa dua pesan, dari operator seluler dan dari nomor tak dikenal.


Arthur memilih pesan dari nomor tak dikenal.


Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu pria bodoh?


Athena-1609


Seperti halilintar yang menggelegar persis di telinganya, membaca sms itu spontan membuat Arthur bangkit dari posisi malas, terduduk di pembaringan dengan wajah shock.


Tubuhnya tiba-tiba beku. Seluruh syarafnya menegang. Jantungnya berdetak kencang.


Ia baca berulang-ulang pesan itu dengan jemari bergetar memegang gawainya. Ia TREMOR.


Siapa lagi di dunia ini yang memanggilku dengan sebutan pria bodoh selain Athena-1609. Dan dia satu-satunya wanita yang mendapatkan nomor khusus ini. It's her!!! Pekik Arthur dalam hati.


Ia tak perduli apa-apa lagi. Di tekannya nomor seluler itu untuk melakukan panggilan.


Nomor itu masih aktif. Cukup lama ia menunggu namun panggilan tak diangkat hingga akhir.


Netra Arthur tak bisa berpaling dari layar ponsel. Tremornya belum hilang, jari jemarinya masih sedikit bergetar menekan layar ponsel.


Stop, tunggu! Sepertinya aku kenal nomor ponsel ini. Ah, iya ini kode indonesia, enam dua. Gumamnya lagi dalam hati.


Bergegas ia menuju ruang kerja dimana ia tadi meletakkan ponsel utamanya begitu saja.


Tremor tetap menguasainya. Diraihnya ponsel itu dengan jemari masih sedikit bergetar.


Ya Tuhan, hatiku tak pernah sekacau ini!! Batinnya terus meracau tak menentu.

__ADS_1


Satu demi satu Arthur mengetik nomor tak dikenal tadi pada layar ponsel utamanya. Berharap mendapatkan lebih banyak petunjuk.


Kini waktu seakan terhenti dan terbelenggu dalam genggaman tangannya.


Bulir-bulir kristal bening jatuh begitu saja membasahi pipinya. Bulir - bulir bening itu mulai membanjiri wajahnya. Ia pria ia menangis. Ia pria punya air mata.


"Heilen... " Desisnya dengan bibir bergetar.


"Heilen... " Desisnya berulang-ulang sambil menyeka kristal bening paling langka miliknya. Kristal yang baru muncul setelah satu dekade.


Tak tertahankan lagi, seluruh rasa yang ia punya seakan tumpah meluap-luap.


Ia bersimpuh tak berdaya dihadapan perasaannya sendiri yang sedemikian besar.


Setelah badai di hatinya mereda, Arthur mengetik pada layar ponsel khususnya :


Aku baik-baik saja. Kemana saja selama ini kenapa menghilang? Aku mencarimu.


Arthur tetap setia menatap layar ponselnya, ia tak bisa berpaling. Menunggu sebuah jawaban dengan harap-harap cemas.


Ting! Heilen membalas :


Terlalu panjang untuk diceritakan. Apakah aku terlalu ngangenin? hehe... :)


Kemudian Arthur membalas:


Arthur menunggu, hening tak ada jawaban.


Telah lenyap segala letih dan rasa kantuk yang tadi mendominasinya. Sadar malam ini akan menjadi panjang dan ia tak kan bisa memejamkan matanya dengan cepat, Arthur menuju kamar mandi membersihkan diri. Malam ini juga ia ingin bertemu Laksamana Spencer.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Chen ia pergi ke Amphibious Naval Base menemui laksamana Spencer. Ada Bend Akiro dan timnya yang mengikuti Arthur dengan setia.


Laksamana Spencer menerima Arthur di bangku taman halaman depan Gedung. Di bawah cahaya lampu yang temaram dan hembusan angin laut yang cukup dingin.


"Tengah malam begini mencariku, sepertinya ada hal yang sangat penting." Ucap Laksamana Spencer berusaha tersenyum ramah melihat rahang Arthur yang mengeras.


"Aku hanya ingin satu jawaban yang sesuai fakta, jawab iya atau tidak. Kerjasama kita untuk proyek SPARTAN sebagai taruhannya jika aku masih saja mendapatkan jawaban yang tidak jujur." Tegas Arthur.


"Athena-1609 adalah nama kode dari Heilen Putri Munaf, saat ini masih hidup dan sedang bersembunyi di Jakarta. Katakan itu benar atau tidak" Lanjut Arthur lagi.


Laksamana Spencer tercenung sesaat. Tiba-tiba muncul kembali kenangan masa mudanya. Saat ia dimabuk cinta kepada wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Melihat Arthur kini seolah-olah melihat dirinya sendiri dimasa itu. Laksamana tersenyum simpul.


"Mr G, apa yang bisa saya sembunyikan lagi dari anda. Hhhhh..., Iya itu semua benar." Jawab Laksamana Spencer sembari menghembuskan nafas berat. "Selama ini aku tidak jujur hanya untuk melindunginya. " Tukas Laksamana Spencer lagi.


Arthur menelan Salivanya. Seharusnya aku mempercayai intuisiku sejak awal, batinnya.


"Semua bukti untuk menjerat Barbara telah lengkap, sudah pasti Athena akan dikirim kembali ke Palmyra Atol bersama The Team untuk menghancurkan proyek ilegal FWFP. Karena hanya dia yang sudah mengenal medan di pulau misterius itu." Laksamana Spencer memberitahukan hal kurang menyenangkan untuk Arthur.

__ADS_1


Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Tegas Arthur dalam hati dengan rahang yang terlihat mengeras dan jari mengepal.


Tanpa diminta, Laksamana Spencer memberikan biodata lengkap Heilen kepada Arthur. Laksamana memberikannya tanpa ragu. Ia telah yakin bahwa Arthur tidak akan berbuat hal yang bisa merugikan Heilen.


"Terimakasih Laksamana. "Ucap Arthur sebelum pamit pergi.


Semoga berhasil dan berbahagia anak muda. Sahut Laksamana dalam hati.


Malam semakin terasa panjang. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatian Arthur dari layar ponselnya. Ia duduk gelisah di kursi belakang Astro armoredcar Gen-Z01.


Rasanya ia tidak ingin terburu-buru memberitahu Heilen kalau Mr. G dan Geon Arthur Yildiz adalah satu orang yang sama. Arthur tersenyum curang.


Menunggu jawaban satu sms saja rasanya sudah sewindu berlalu. Ia tersenyum mengejek dirinya sendiri yang tiba-tiba begitu konyol.


Ting!


Sori, aku sedang ada kesibukan. Untuk sementara waktu mungkin nomor ponsel ini tidak aktif. Aku akan menghubungimu saat aku sudah di swiss. See U....pria bodoh :)


Hmmm, Kamila membawanya ke Swiss. Tunggu aku di sana. Desis Arthur dalam hati.


Arthur membalas :


Ok. Segera hubungi aku nanti. Aku menunggu. See U soon.


Kebahagiaannya tak bisa disembunyikan. Ia tersenyum setiap kali menatap layar ponsel karena membaca seluruh pesan dari Heilen. Begitu terus berulang-ulang, tak sadar kalau Bend Akiro memanggilnya dari tadi.


"Tuan, kita sudah sampai di ASTROGUN." Ucap Bend untuk yang ke sekian kalinya.


Bend hanya bisa bengong melihat Arthur yang begitu asyik dengan ponselnya hingga tersenyum-senyum sendiri. Sungguh sebuah pemandangan yang langka. Sampai akhirnya Arthur tersadar sendiri.


"Hei Bend, kita sudah sampai " Ucap Arthur. "Kenapa tidak memberitahuku?! " Lanjutnya lagi.


"Apa yang terjadi, Oh my god!" Bisik Bend dengan suara serendah mungkin.


Sesampainya di kamar, Arthur kembali merebahkan tubuhnya ke pembaringan dengan perasaan lega. Tak pernah ia selega ini. Akhirnya aku menemukanmu. Desisnya lirih.


Lalu hanya bermodalkan biodata Heilen dari Laksamana Spencer dan berselancar beberapa menit di dunia maya Arthur menemukan rumah Kedua orang tua Heilen di California.


Sebuah rumah cukup besar yang juga di gunakan sebagai pusat latihan Karate. Ayah Heilen Ahmad Rizal Munaf ternyata adalah seorang master karatedo yang juga aktif di media sosial. Arthur melihat foto profilnya adalah foto seorang gadis kecil yang sedang berlatih menggunakan pedang.


"Heilen.. " Bisiknya. Bagaimanapun tampilannya selalu tak pernah gagal membuat Arthur terpesona. "Gadis kecil yang lucu."Gumam Arthur gemas.



Arthur mengirim pesan suara ke whatsapp Chen :


"Maafkan aku Chen, aku harus pergi lagi. Besok aku ke California , selanjutnya aku ke Swiss. Setelah dari Swiss baru aku bisa fokus di ASTROGUN. Aku mengandalkanmu."

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2